FransAle VI | Tentang Alessa

1644 Words
"Alessa?" Pandangannya terpaku sejenak pada sosok yang memanggilnya dari depan, tepat dari depan lift yang akan tertutup. Dirinya terkejut, ia tak menyangka akan bertemu dengan sosok itu di rumah sakit, tempat ia bekerja. Perasaan cemas seketika melanda. "Mbak Yati ada di sini? Siapa yang sakit Mbak?" Nama itu membuat Frans menoleh, seperti tak asing. Ia mencoba melihat, namun tertutup oleh punggung yang membelakangi pandangannya. Mengabaikan perasaannya, Frans menggeleng. Lantas menekan tombol lantai dua, membiarkan pintu lift menutup. Menghalangi pandangannya pada dua wanita yang mengobrol di depan lift. "Mbak kirain salah ngenalin orang. Itu, Radit sakit tifus." "Ya Allah, Mbak. Udah berapa lama di rawat di sini? Kalo gitu kan, Mbak bisa kabarin Ale. Nanti Ale bantuin jagain Radit." "Duhh, gapapa Le. Mbak jadi ngrepotin pekerjaan kamu." "Enggak kok, Mbak. Sama sekali enggak ngrepotin buat keponakan sendiri." "Radit di rawat di ruang berapa, Mbak? Setelah ini, nanti Ale nyusul kesana." "Ada di lantai dua, ruang anggrek nomor lima." Ale mengangguk paham, "Yaudah, Mbak. Nanti selesai shift, Ale mampir dulu jengukin Radit." "Boleh Ale. Anak itu pasti seneng banget ketemu sama Tantenya." "Ale lanjutin pekerjaan Ale dulu ya, Mbak. Udah jamnya pasien minum obat." "Silahkan Ale. Mbak mau ke kantin, beliin Papanya Radit makanan." "Iya Mbak. Ale duluan ya." Ale melanjutkan pekerjaannya, mengantar obat ke ruang rawat inap pasien. Sisa lima kantong kresek putih berukuran sedang berisi kebutuhan tambahan pasien, dan enam obat dalam resep yang harus segera Ale antar. Bersamaan Ale berbelok menuju lift, ternyata lift telah menutup. Terpaksa, Ale harus menunggu beberapa saat lagi hingga lift selesai mengantar orang di dalamnya. Karena ketika Ale berpapasan dengan Mbak Yati, salah satu saudara Mamanya. Ale sekilas melihat dua orang pria yang memasuki lift, setelah Mbak Yati keluar. Tanpa Ale sadari, jika salah satu dari dua pria itu adalah cinta semasa SMA-nya yang sempat Ale lupakan. *** Sinar senja menyorot di area koridor rumah sakit, pancaran yang hangat dengan warna oranye-nya yang khas sangat memanjakan mata. Apalagi udara sejuk yang rindang di taman rumah sakit, merupakan tempat terbaik untuk menyembuhkan segala penat pikiran yang menggelayuti. Ale masih duduk di bangku taman rumah sakit, di sampingnya terdapat sekantong kresek makanan ringan dan roti untuk keponakannya. Selepas jam shift-nya habis, Ale keluar dari kawasan rumah sakit mencari makan mie ayam terdekat. Dilanjutkan mampir ke swalayan membeli makanan ringan untuk Radit. Sebelum Ale ke ruang rawat Radit, ia menyempatkan diri untuk duduk santai di taman rumah sakit menghirup aroma senja yang menenangkan. Sesaat aroma senja mampu menjadi metode penyembuhan untuk kembali menyegarkan pikiran. Ale mengangkat pergelangan tangan kirinya. Pukul lima sore sekarang, dan Ale harus segera ke ruang rawat inap Radit. Ia sudah berjanji akan menjenguk keponakannya itu. Diambilnya kresek putih berlogo swalayan yang ia datangi, Ale berjalan meninggalkan taman. Melangkah lurus menuju koridor penghubung antar lorong rumah sakit dan taman, menuju dimana Radit di rawat. Di lantai dua, ruang anggrek nomor lima. Tak butuh waktu lama, Ale tiba di lantai dua. Langsung saja, Ale menuju ruang anggrek nomor lima sesuai apa yang Mbak Yati katakan tadi siang. Sebelum masuk, Ale mengetuk pintu beberapa kali. Setelah mendapat respon dari dalam, Ale membuka pintu dan di sambut senyum sumringah dari bocah yang duduk di atas brankar. "Tante!" "Halo Radit! Tante kangen banget sama Radit!" Ale memeluk bocah berusia delapan tahun itu, "Lama gak ketemu, sekalinya ketemu pas Radit sakit." Radit mengangguk, "Tante tau dari Mama ya, kalo Radit sakit?" Ale mengelus rambut tebal Radit, "Iya, Tante tau dari Mama. Makanya, Tante langsung jengukin Radit sekalian bawain Radit makanan sama mainan!" Ale melepaskan pelukannya, dan memberikan sekresek penuh makanan ringan lengkap dengan roti kesukaan Radit. "Makasih Tante!" Bocah itu menerima dengan antusias. Mengobrak abrik isinya, dan semua makanan adalah kesukaan Radit. Tentu saja dengan beberapa mainan yang Ale bawa. Mbak Yati menyentuh pundak Ale, "Kamu tidak perlu repot-repot bawain Radit makanan segitu banyaknya, Ale. Nanti malah dia jadi males makan nasi." "Gapapa kok, Mbak. Ale seneng liat Radit antusias kayak gitu." "Ya udah, duduk dulu yuk. Kita ngobrol sebentar, ada Papanya Radit juga." Bisik Mbak Yati di akhir kalimat. "Boleh Mbak." Lalu Ale menatap Radit yang masih asyik dengan pemberiannya, "Tante ngobrol sama Papa Mama dulu ya, Radit. Nanti Tante ajak kamu main setelah Tante selese ngobrol." "Iya Tante!" Bocah itu menjawab dengan semangat. Kemudian Ale duduk di sofa panjang yang di sediakan di kamar tersebut. Mbak Yati dan Mas Yufa duduk bersisihan, berhadapan dengan Ale. "Alessa gimana kabarnya?" "Baik kok, Mas." Mas Yuda mengangguk, "Mas denger, Alessa belum pulang ke Madiun ya?" Raut wajah Ale sejenak berubah sendu, namun Ale kembali memasang senyum baik-baik saja. "Belum sempet Mas." Jawab Ale sekadarnya. Mas Yuda dan Mbak Yati mengetahui, meskipun Ale sebaik mungkin menyembunyikan raut sendu tak nyamannya. "Mas tau, ini bukan hak Mas untuk bilang atau mengajari Ale. Tapi, Mas kasihan sama sama orang tua kamu. Setiap Mas pulang, Mama dan Papa kamu selalu nyariin kamu. Suka kesal ke Mas, karena Mas gak ngajak kamu untuk pulang bareng sama Mas dan Mbak." Mbak Yati menyentuh tangan Ale, "Mbak Yati sama Mas Yuda mohon sama kamu, sesekali kamu ambil cuti ya? Pulang ke Madiun. Kasihan Mama sama Papa kamu, mereka selalu rindu sama kamu." "Mas tau, Alessa bukannya tidak mendapat libur dengan alasan pasien. Tapi karena Alessa memang tidak ingin pulang ke rumah." Ucapan Mas Yuda membuat Ale kian merasa bersalah. Ale diam, lidahnya tak mampu berkata apapun lagi. Sudah lama sekali ia tak pulang ke kampung halamannya. Tinggal di Surabaya pun, Ale memilih untuk kost dari pada menginap di rumah Mas Yuda dan Mbak Yati. "Beberapa bulan lagi, Dyah akan melahirkan. Mbak harap, kamu pulang ya. Ketemu sama calon keponakan." Bujukan halus dan tatapan lembut Mbak Yati membuat Ale semakin tak berkutik. Nyaris saja, Ale memutuskan untuk tak pulang meskipun adiknya akan melahirkan sebentar lagi. "Jangan dengarkan omongan orang yang tidak mengetahui kehidupan mu. Mereka hanya bisa memandang dari luarnya saja, tapi kehidupan mu, hanya kamu sendiri yang menjalani. Jadi Mas mohon, tahun ini kamu pulang ya. Ketemu sama keluarga di Madiun." "Kamu tidak sendirian Alessa, kami semua sayang sama Alessa. Mendukung Alessa, kasih support ke Alesa, jangan biarkan omongan tidak bermoral orang lain buat kamu menjauhi keluarga kamu sendiri." Kalimat panjang Mas Yuda serta bujukan Mbak Yati benar-benar membuat hatinya luluh. Selama ini, Ale selalu memikirkan dirinya sendiri. Mencoba menjauhkan diri dari keluarga tercinta agar mereka hidup bahagia tanpa kehadiran Ale yang membuat malu. Nyatanya, keluarga Ale tak pernah menganggap keberadaan Ale sebuah hal yang memalukan. "Pikirkan apa yang Mas dan Mbak katakan." Kalimat penutup Mas Yuda mengakhiri pembicaraan mereka. "Ma, Papa keluar sebentar ya. Mau beli rokok." Mbak Yati mengangguk, "Papa hati-hati. Cepet balik ya, takutnya Radit nyariin Papanya." "Bukan Mama, yang nyariin Papa?" Mbak Yati tergelak, "Iya! Mama yang nyariin Papa bukan Radit. Takut kangen." Mas Yuda ikut tertawa mendengar jawaban dari istrinya, "Ya sudah Papa keluar dulu." Mas Yuda mengalihkan pandangannya pada Ale, "Mas, keluar dulu ya. Alessa bisa lanjut ngobrol sama Mbak dan Radit." Ale mengangguk, "Iya Mas." Selepas kepergian Mas Yuda, Radit mengajak Ale bermain. Dengan senang hati Ale menemani Radit bermain. Mbak Yati mengawasi dari sofa sekaligus mengerjakan pekerjaan di balik laptop. *** Pukul sembilan malam, Ale baru tiba di kost. Gadis itu langsung membersihkan dirinya di kamar mandi dan berganti pakaian rumahan agar nyaman. Tak ada sosok Refa yang selalu rebahan di kamarnya setiap waktu. Menandakan gadis itu sudah berangkat bekerja ke rumah sakit. "Tumben banget Refa gak ngabarin kalo udah berangkat." Heran Ale melihat ponselnya tanpa ada notif dari Refa. Apalagi motor yang selalu terparkir di halaman kost tidak ada. Biasanya Refa selalu mengabari jika dirinya akan berangkat ke rumah sakit. Jadwal shift antara Refa dan Ale yang berbeda membuat keduanya tak bisa berangkat ke rumah sakit bersama. Kecuali ketika Ale dan Refa mendapat giliran di instalasi rawat jalan. Tentu keduanya akan lebih mudah berangkat bersama. Karena instalasi rawat jalan memiliki satu shift, yakni pukul tujuh pagi hingga pukul empat sore setiap hari aktif, kecuali hari Sabtu dan Minggu. Berbeda dengan instalasi rawat inap, dimana dalam satu hari akan ada tiga shift setiap harinya. Shift pagi dimulai pukul tujuh hingga pukul dua, shift sore dimulai pukul dua hingga sembilan malam, dan yang terakhir shift malam pukul sembilan malam hingga pukul tujuh keesokan harinya. Jika tadi Ale mendapat shift pagi, berbeda halnya dengan Refa yang mendapat jatah shift malam. Jangan membayangkan jika shift malam paling mudah, nyatanya shift malam hanya berjaga seorang diri. Dimana pasien membutuhkan obat darurat, seperti kasus kecelakaan, dan kondisi pasien yang membutuhkan tambahan obat-obatan. Menepis perasaan gelisah, Ale mencoba mengirim pesan untuk Refa. Belum sempat Ale menekan tombol kirim, satu panggilan masuk bertuliskan nama Refa terpampang di layar ponselnya. Ale mendial tombol hijau untuk menerima panggilan. "Halo, assalamualaikum Re?" "Wa'alaikummussalam. Sorry banget Le, gue lupa gak ngabarin. Tadi ada temen gue yang kecelakaan deket rumah sakit, ngabarin gue karena dia anak rantau. Cuma kenal sama gue, karena panik gue langsung cabut ke rumah sakit." Ale menghembuskan napas lega, "Santai, Re. Gue tadinya mau chat Lo. Tapi Lo udah telepon gue duluan." "Gue lupa karena panik." "Iya Re, gue juga udah nyampek kost kok. Lo hati-hati jaganya, bilang ke temen Lo. Semoga cepet sembuh." "Sip. Yaudah, gue tutup dulu ya. Assalamualaikum." "Wa'alaikummussalam." Perasaan lega melingkupi hatinya begitu mendengar jika Refa baik-baik saja. Ale merebahkan diri di sofa. Sepasang manik matanya mengitari kamar, fokusnya terpaku pada pigura foto di atas meja rias. Foto yang berisi Mama, Papa Dyah dan dirinya di salah satu taman bermain ketika mereka liburan. Foto beberapa tahun lalu yang menyimpan banyak kenangan untuk Ale. Saat-saat dimana Ale masih merasakan indahnya bermain tanpa memikirkan gunjingan orang mengenai dirinya. Lama Ale menatap foto tersebut, Ale teringat pembicaraannya dengan Mas Yuda dan Mbak Yati sore tadi. Adik kecilnya yang suka meminta es krim potong keliling depan rumah, kini calon seorang ibu. "Maafin Mbak Diva, Dyah. Mama, Papa, maafin Diva. Diva janji, Diva akan pulang. Melepas rindu Diva pada kalian semua." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD