"Maksudnya apa nih, Lo punya apartemen? Sejak kapan?"
Andre bertanya pada pria yang tengah mengaca di cermin. Mengambil salah satu jam koleksinya di laci, ia mencocokkan dengan kemeja yang terpasang di tubuhnya. Lalu memakai dengan begitu elegan di pergelangan tangannya.
"Sejak gue balik ke Indo." Jawabnya.
"Lo gak cerita ke gue."
"Ngapain?"
"Ya elah, Frans! Gue sahabat Lo bukan sih?!"
"Bukan."
Jawab Frans membuat Andre berdecak kesal, lantas pria itu berlalu dari Andre yang masih duduk di sofa kamar. Andre mengikutinya dari belakang, ia mengambil duduk di kursi meja makan depan pantry.
"Ada makanan gak Lo?"
"Cuma mie instan. Kalo mau, bikin sendiri." Jawab Frans membuka lemari dapur dan mengambil sebungkus roti tawar lengkap dengan selai.
"Roti aja deh, gak mungkin gue bikin mie instan di jam mepet kayak gini." Tanpa menunggu persetujuan Frans, Andre mengambil roti lalu mengolesinya dengan selai dan memakannya.
"Berangkat sekarang."
Andre menatap tak terima, "Gue belum kenyang!"
"Woi, Frans!"
"Sialan gue di tinggal!"
Andre bergegas menyusul Frans keluar dari apartemen, pria itu memang mengesalkan. Sifat dan tingkah Frans sama sekali tak berubah, justru kian menjadi dengan sikapnya yang acuh.
Terpaksa Andre berangkat ke rumah sakit tanpa berganti pakaian, rasanya risih sekali. Frans memang pelit. Pria itu tak merasa kasihan pada Andre yang telah membantunya pulang. Setidaknya, biarkan Andre meminjam salah satu kemejanya.
"Ini yang punya mobil gue apa dia sih! Serasa gue yang jadi sopir." Dumel Andre menyusul Frans yang telah menuju lobi.
Tiba di parkiran, Frans terlihat menunggu Andre dengan menyender di pintu penumpang mobil. Lalu, Andre membuka pintu mobil di susul Frans yang mengikutinya.
"Tau gini, gue suruh Lo nyetir sendiri!"
"Jalan."
Andre mengambil napas dalam, kelakuan sahabatnya benar-benar membuatnya kesal. Seenaknya sendiri memberi perintah.
"Lain kali gue suruh Lo nyetir sendiri! Sekalipun Lo mabuk! Nyesel gue bantuin Lo semalem."
"Bangunin gue kalo udah di rumah sakit."
Frans tak mendengarkan, justru pria itu menyamankan posisi dengan tiduran sambil memejamkan mata. Andre yang melirik dari samping berdecak kencang.
"Sialan! Gue beneran jadi sopir pribadi Lo!"
Frans tersenyum miring sekilas, lantas menyamankan posisi dan kembali tidur.
***
"Hari ini kamu shift apa sih Re?"
"Jaga malem."
"Pantes leha-leha di kamar orang."
Refa tertawa renyah, dengan stoples keripik kentang kiloan dari pasar tradisional milik Ale. Gadis itu menikmatinya dengan tatapan menggoda terarah pada Ale yang sibuk bersiap.
Dengan kemeja batik khas rumah sakit, kaos kaki berwarna krem serta rambut yang acak-acakan. Hal itu sudah menjadi pemandangan Refa ketika ia berkunjung pagi ke kamar Ale. Refa yang rebahan dengan santai sambil menikmati camilan yang selalu Ale sediakan di atas meja dan Ale yang sibuk wara-wiri bersiap untuk masuk kerja.
"Aku lagi sibuk. Mending kamu keluar deh!" Kata Ale sambil menyisir rambutnya yang panjang. Mencepolnya rendah, tak lupa mengambil ciput rajut andalannya, lalu memakai jilbab persegi empat berwarna biru polos dan terakhir memberinya jarum pentul berkarakter bunga agar terlihat cantik.
Penampilan sederhana Ale selalu menjadi inspirasi Refa untuk berpenampilan lebih baik ke depannya. Meski Refa baru saja memutuskan untuk berhijab. Semua itu berkat Ale, teman semasa SMA nya yang kini menjadi sahabat Refa.
Kerasnya hantaman kenyataan sosok Ale begitu Refa kagumi dan menjadi panutannya sebagai seorang muslim. Bertemu dalam kondisi hancur, dengan sisa tenaga mencoba untuk bangkit. Itulah kali pertama Refa bertemu dengan Ale setelah lulus SMA.
"Refa!"
"REFA!"
Si empu nama tersentak mendengar suara Ale yang berteriak. Di lihatnya Ale masih sibuk bersiap dengan bibirnya yang mendumel karena dirinya.
"Malah bengong pagi-pagi di kamar aku!"
"Kalo mau bengong, di kamar kamu sendiri sana!" Usir Ale.
"Galak banget sih, masih pagi juga." Kata Refa melanjutkan kegiatan rebahan sambil memakan camilan.
"Kalo gak mau denger suara galak punya aku, sana balik ke kamar kamu sendiri!"
"Barengan sama Lo aja." Kata Refa santai.
"Aku mau berangkat sekarang."
Tampak Ale sudah bersiap dengan sepatu pantofel hitamnya, tas ransel kecil berbandul boneka beruang lucu terpasang di belakang punggungnya. Rasanya Refa selalu tertawa melihat tampilan Ale setiap akan berangkat kerja dengan tas lucunya itu.
Bagaimana tidak, bandul boneka yang terpasang berukuran besar dan ada tiga buah. Sesuai dengan resleting tas yang ada. Rasa-rasanya, Ale bukanlah anak kecil namun tingkahnya masih saja, tak ingat umur berapa Ale sekarang.
"Gak pake tas yang itu?" Tunjuk Refa pada tas ransel yang tergantung di tembok samping lemari baju.
"Enggak. Minggu kemaren udah pake, sekarang giliran yang ini." Jawab Ale dengan memamerkan tas ranselnya.
Refa bangkit dari rebahannya, lantas berjalan menuju tas ransel itu di gantung. Ia mengelusnya pelan, "Bubu sabar ya, Mami lagi sama Baba."
Mendengarnya sontak membuat Ale tertawa, Refa tau kebiasaan Ale menamai semua barang-barangnya yang berkarakter lucu. Seperti tas misalnya, jika terdapat karakter hewan yang menggemaskan lengkap dengan bulu-bulu lembut, dan raut menggemaskan. Ale akan memberi nama yang lucu.
"Jangan gangguin Bubu, Re. Biarin dia istirahat dulu setelah kerja seminggu sama Maminya."
Menghentikan kegiatannya, Refa berbalik. Melambaikan tangan pada tas ransel berkarakter kucing itu. "Dadah Bubu, Tante pergi dulu ya!"
Semakin hari, Refa tertular virus Ale yang berbicara dengan barang-barang berkarakternya. Ale merasa kasihan, mana Refa belum pernah menikah. Takutnya Mas Calon syok melihat tingkah Refa.
***
Mobil Avanza putih terparkir rapi di lobi rumah sakit, berjajar rapi dengan mobil petinggi rumah sakit lainnya. Membuka pintu penumpang, dan keluar dari mobil dengan elegan. Tanpa mengucapkan terima kasih, Frans berjalan lurus memasuki rumah sakit.
"Woy Frans!"
"Sial! Gue beneran jadi sopir!"
Andre menatap kesal kepergian Frans. Pria itu benar-benar menguji kesabarannya sebagai sahabat. Menutup pintu mobilnya dengan kencang, Andre menghirup napas dalam-dalam. Mengontrol kekesalannya agar mereda.
"Sabar Ndre, sabar. Lo harus sabar."
"Buang sisi negatif dari apartemen Frans. Jangan sampek image Lo sebagai Kepala Divisi anjlok karena aura kemarahan dari diri Lo." Andre menutup mata dan men-sugesti dirinya sendiri.
Setelahnya, ia membuka mata. Andre masih merasakannya, "Sialan aura negatif Frans nempel di gue."
Masih berusaha menetralkan emosinya, Andre berjalan masuk menaiki lift menuju lantai satu. Tak menunggu waktu lama, kotak besi itu membawa Andre dengan selamat.
"Pak Andre!"
Baru saja Andre melangkah keluar, suara ceria menyapanya. Membuat Andre menghentikan langkah dan berbalik.
"Alessa?" Katanya.
Si empu pemilik nama tersenyum manis begitu Andre, Kepala Divisi Instalasi Farmasi, mengenalinya. Jilbab biru polos menutupi sebagian atas dari kemeja batiknya, rok span panjang berwarna hitam menjadi pasangan stelan dari kemeja batiknya.
Tak seperti pegawai lainnya, pakaian Ale di mulai dari jilbab, baju dan rok selalu sopan tanpa memperlihatkan lekuk tubuhnya. Terlebih kaos kaki senantiasa terpasang di kakinya yang terbalut sepatu pantofel berheels rendah.
"Baru dateng, Pak?" Ale berbasa basi ramah, Andre menanggapi dengan santai.
"Iya. Baru saja, saya datang. Alessa sendiri?"
"Sama Pak. Saya juga baru dateng."
"Naik angkot?"
Ale mengangguk malu, "Bapak tau aja."
Andre mengulas senyum tipis, "Lain kali kalo kamu butuh bantuan, kamu bisa hubungi saya."
"Siap, Pak. InsyaAllah, saya bisa!"
"Bagus jika seperti itu. Ya sudah, ayo masuk bersama."
"Silahkan Pak."
Andre mendahului Ale, yang berjalan di belakangnya. Gadis itu selalu tak mau jika Andre mempersilahkan untuk berjalan lebih dahulu. Ada alasan di balik penolakannya, dan Andre memaklumi.
"Bapak tidak pakai seragam rumah sakit?"
Ale baru menyadari bila Andre hanya memakai kemeja polos yang untungnya berwarna sama. Aturan rumah sakit memang di perkenankan untuk memakai seragam sesuai ketentuan yang berlaku.
"Ah, ini?" Ale mengangguk.
"Saya lupa kalo hari ini harus pakai seragam batik."
Ale menatap bingung, "Tidak biasanya Pak Andre lupa. Kemarin juga kemejanya Pak Andre warnanya sama."
Andre tersedak air liurnya sendiri, ia mengelak dengan mengibaskan tangan. "Kemeja saya yang memiliki motif dan warna yang sama banyak!"
Ale mengangguk, "Benar juga sih."
Kemudian Ale menatap Andre, "Hehe... Maaf Pak, saya terlalu sok tau."
"Tidak apa, Alessa. Santai saja."
Dalam hati Andre merutuk kelakuan sahabatnya. Rasanya ia malu karena tertangkap basah oleh anak buahnya sendiri. Apalagi Ale mengetahui jika kemeja yang ia pakai adalah kemeja kemarin. Untung saja, Andre pandai membuat alasan untuk menyelamatkan harga dirinya yang nyaris jatuh.
Frans benar-benar membuat Andre tak berwibawa, secara tak langsung lebih tepatnya, sejak pria itu datang kembali ke Indonesia.
***
"Pastikan pasien mendapat hak yang sama. Urus keperluan mereka dan layani sesuai aturan rumah sakit."
"Baik Pak."
"Ingat! Dahulukan lansia, wanita dan anak-anak."
"Baik."
"Maaf, Pak. Ijin menyela."
Langkah mereka terhenti, Frans berbalik menatap salah satu staf yang ikut berkeliling rumah sakit.
"Ya?"
"Untuk pembayaran rumah sakit bagi pasien bagaimana ya, Pak? Selama ini pihak rumah sakit hanya menerima cash, namun untuk obat-obatan masih di berikan keringanan dengan menggunakan kartu layanan seperti Kartu Sehat, BPJS dan sebagainya."
"Saya masih mengurusnya dan akan saya sampaikan pada pertemuan selanjutnya. Mengerti?"
"Baik Pak, dimengerti."
"Kita lanjutkan pemeriksaan lingkungan rumah sakit. Saya akan melakukan pengawasan kinerja dari seluruh staf rumah sakit."
"Baik, Pak!"
Seorang Kepala Divisi salah satu instalasi memimpin jalannya pemeriksaan, Frans melihat dengan cermat dan teliti. Ia tak ingin meninggalkan secuil informasi untuk rumah sakitnya. Baru pertama kali datang, dan Frans mengetahui ada sistem di belakang pihak rumah sakit yang tidak beres. Frans harus segera melakukan tindakan sebelum rumah sakit Santa Claria hancur dan tercoreng atas kesalahan dari salah satu staf rumah sakit.
"Sebelumnya ini ruang radiologi. Karena pihak rumah sakit ingin memperluas dan semakin meningkatnya pasien. Ruangan ini di perbaiki dan di jadikan ruang rawat umum."
Salah seorang staf menunjukkan ruangan dalam masa perbaikan. Banyak puing-puing dan peralatan bangunan yang berserakan.
"Dan, untuk ruang radiologi kami memindahkannya di sisi barat rumah sakit. Sedikit jauh, namun masih terjangkau."
Frans mengangguk paham, "Larang anak-anak memasuki kawasan rumah sakit yang sedang dalam masa perbaikan."
"Baik Pak."
"Jika perlu berikan pembatas agar lebih aman."
"Baik Pak."
Kemudian Kepala Divisi mempersilahkan Frans, untuk mengikutinya. "Mari, Pak. Kita lanjutkan, masih ada lantai satu harus Bapak lihat."
Frans mengangguk, lantas keduanya berjalan menuju ke arah kanan, dimana lift berada. Begitu keduanya menghilang di belokan, bertepatan dengan seorang gadis berjalan menuju belokan lift, membawa troli berisi obat-obatan menuju ruang rawat pasien.
"Alessa?"
***