Hingar bingar lampu berkelip bersambut dengan musik beat bervolume tinggi. Suara berisik sangat mengganggu indra pendengaran bagi sebagian orang, tapi tidak bagi pria yang baru saja datang.
Langkah santainya memasuki klub malam yang penuh akan orang-orang mencari kepuasan. Entah itu minum-minum bersama wanita asing atau hanya menari lepas di lantai tari. Banyak sekali pria maupun wanita yang dalam malam ini. Rasa sesak ketika ia melewati dance floor membuatnya tak nyaman karena harus berdesakan dengan orang asing yang menari tanpa batas.
Mata tajamnya mengitar, mencari seseorang yang tadi meneleponnya. Tampak segerombol pria duduk di sofa dengan tawa dan candaan hingga membuatnya menjadi pusat perhatian.
Tak perlu pikir panjang, ia melangkahkan kakinya ke sana, ikut bergabung dalam obrolan yang terlihat menarik. Belum tiba ia di antara segerombol pria, seseorang menyapanya begitu semangat.
"Frans!"
Salah seorang pria diantara mereka melambaikan tangan, memberi kode untuk bergabung. Tanpa membalas, pria yang di panggil Frans segera mengambil duduk di sofa single yang tersedia di sana.
"Pak Presdir akhirnya gabung juga nih!"
"Sibuk sama kerjaan jadi lupa sama temennya!"
"Kalo gak sibuk mana mungkin bisa jadi Presdir! Lo gimana sih!"
"Wehhh iya juga nih!"
"Denger-denger nih, pulang ke Indo udah jadi Presdir!"
"Buat Bapak Frans apa sih yang susah?!"
Lantas mereka semua tertawa bahagia setelah mengejek Frans habis-habisan. Andre, salah satu dari mereka menyela pembicaraannya.
"Udah, udah! Kalian bahas apa sih? Have fun aja deh! Gak liat tuh muka temen kita mau nerkam Lo pada?!"
Sontak mereka semua menyorot sosok Frans yang duduk santai dengan sebatang rokok di sela jemarinya. Frans tampak acuh dengan obrolan teman-temannya yang mengusung topik mengenai kehidupannya.
"Tuh! Si Frans biasa aja!" Tunjuk salah seorang pria berkemeja biru dongker dengan dagunya.
"Diam-diam tapi mengerikan." Komentar Andre.
Mendengarnya, Frans tersenyum miring. Lalu semuanya diam, saling memandang satu sama lain. Bertanya dalam tatapan mata yang menunjukkan kegelisahan.
"Santai aja. Gue yang bayar." Ujar Frans.
Selepasnya, mereka semua bersorak sorai bahagia. Mereka meminta tambahan Bir, Wine dan Brendy, lantas mengusulkan satu permainan agar malam reuni menjadi lebih seru.
"Gimana kalo truth or dare?" Usul seorang pria berambut gondrong.
"Setuju."
"Boleh."
"Oke."
"Lanjut."
Sebagian besar menyetujui usulan, gerombolan pria yang berisi delapan orang beserta Frans itu memulai aksinya. Dengan sebotol alkohol kosong, mereka menidurkan botol tersebut di atas meja. Menyingkirkan gelas, kacang dan makanan lainnya agar permainan lebih leluasa.
"Untuk kejujuran, kalian harus jawab satu pertanyaan dari kita-kita. Begitu pula tantangan. Gak berani jawab atau gak menerima tantangan, Brandy satu gelas! Gimana setuju gak!?"
"Setuju!"
"Mantap! Gue setuju!"
"Deal!"
"Gak masalah."
Frans diam memperhatikan teman-temannya yang antusias. Dirinya tetap tenang menghisap rokok, menikmati musik beat yang begitu keras mengguncang dance floor.
Salah seorang dari mereka menyiapkan gelas dan sebotol Brandy. Bersiap untuk siapapun yang akan di tunjuk oleh ujung botol tersebut. Mempersiapkan diri dengan duduk secara tenang, botol di putar kencang. Tak sabar menunggu siapa yang akan di tunjuk oleh ujung botol.
Tak butuh waktu lama, ujung botol tersebut berhenti tepat pada pria berkemeja biru dongker. Sorak-sorai kian menggebu menyoraki pria tersebut.
"Truth or dare?"
"Dare!" Katanya lantang.
"Oke! Siapa yang mau ngasih tantangan?"
"Gue." Ujar seseorang berkaos hitam.
"Woaahhhh, Randy! Bakal jadi seru nih!"
"Terima, Gas!" Ujar seseorang pada Bagas, pria berkemeja dongker.
"Oke. Gue terima tantangan Lo!" Kata Bagas dengan nada sombongnya tanpa memikirkan tantangan yang akan Randy berikan.
Pria yang di sebut Randy itu, menampilkan senyum miring khasnya. Lantas berdiri, ia menunjuk segerombolan pria dan wanita yang menari di dance floor.
"Lo nyuruh gue nari?" Kata Bagas, "Gampang." Lanjutnya.
"Tanpa celana." Randy berkata dengan raut kemenangan.
"Hah?"
"Woaahhhhhh, seru nih!"
"Uhuyyyy, saatnya pertunjukkan di mulai!"
Frans duduk tenang menikmati permainan yang baru saja di mulai. Wajah Bagas tampak syok, yang benar saja. Menari di tempat umum tanpa celana? Dimana wibawa seorang pengusaha Bagas Aldicakza?
"Lo ngasih tantangan yang bener kek! Gila Lo!"
"Gak berani nih, Gas? Ayolah... Tunjukkan pesona seorang Bagas Aldicakza."
"Ini namanya bukan pamer pesona! Tapi jatuhin wibawa gue sebagai seorang Bagas Aldicakza!" Kata Bagas kesal.
"Lo nolak nih?"
"Katanya berani?" Goda teman-temannya yang lain.
"Cemen Lo!"
"Tau tantangannya apa, malah mundur!"
"Tau nih si Bagas!"
"Gak gentle Lo!"
Godaan dan bullyan dari mereka membuat Bagas semakin terpancing. Bagas yang tadinya ingin menyerah dan memilih minum Brandy akhirnya terprovokasi.
"Sialan Lo semua!" Bagas mengumpat kesal.
Tanpa berpikir panjang, Bagas melepas celana kain panjang berwarna hitam. Menyisakan celana pendek yang melekat.
"Tuh juga di lepas!" Kata Randy tersenyum penuh kemenangan.
"Lo nyuruh gue sempakan doang?! Yang bener dong Lo!"
"Kalo Lo gentle sih." Kata Randy santai.
Berat hati Bagas melepas celana pendeknya, menyisakan celana dalam yang tertutup kemeja biru dongker miliknya. Mereka yang melihat, tertawa terbahak melihatnya. Raut wajah Bagas kentara sekali pria itu di landa kesal. Tapi Bagas menahan, ada harga diri yang tak ingin Bagas jatuhkan hanya karena menolak tantangan dari Randy.
"Woaahhhhh jagoan kita nih! Ayokkk Gas!"
"Semangat!!"
"Gue dukung Lo, Gas!"
Kehebohan terjadi begitu Bagas bergabung dengan orang-orang yang menari di dance floor. Bermodalkan raut acuh tanpa dosa, Bagas berjoget mengikuti alunan musik beat yang sang DJ mainkan.
Hanya celana dalam, Bagas berjoget ria menebalkan muka menahan malu. Dalam hati ia merutuk Randy dan semua teman-temannya yang tidak waras.
Beberapa pasang mata menatap Bagas heran, aneh dan sedikit menjauh. Takutnya Bagas pria gila atau pria tak sadar yang hanya mengenakan celana dalam dan berjoget tanpa malu. Di seberang sana, Andre, Randy, Frans dan yang lain menyaksikan aksi gila Bagas yang memalukan.
Tak ingin menyiakan momen berharga, salah seorang dari mereka merekam aksi gila Bagas dengan kamera ponsel. Dengan sorakan semangat dari teman-temannya, kehebohan kian membuat Bagas meneruskan aksinya.
Ketika di rasa cukup, Bagas menyudahi jogetannya dan kembali pada teman-temannya. Memakai celana pendek, lalu celana panjang kainnya. Raut wajahnya sudah tak karuan, tatapan kesal penuh dendam Bagas lemparkan pada semua teman-temannya terlebih pada Randy yang menjebaknya dalam permainan konyol.
"Apa Lo semua! Cekikikan gak jelas!" Semprot Bagas.
"Santai dong Gas, jangan kesel gitu napa mukanya." Kata pria berambut gondrong bernama Alfi.
"Diem Lo, Fi!"
Alfi hanya tertawa sebagai balasan atas kekesalan Bagas. "Lanjut gak nih?"
"Lanjut!!"
"Lanjut lah!!!"
"Pantang mundur gue!"
"Yoi!!"
Mendengar suara semangat dari teman-temannya, otomatis Bagas menatap licik. Ia akan membalas atas kejadian memalukan yang baru saja ia alami.
Ketika ujung botol di putar lagi, sungguh, Bagas memikirkan ide paling memalukan untuk teman-temannya.
Ujung botol berhenti tepat pada pria gondrong bernama Alfi, dalam hati Bagas sudah merencanakan tantangan yang amat memalukan untuk Alfi, si pencetus permainan konyol ini.
"Gue pilih truth."
"Cupu Lo!" Semprot Bagas.
"Terserah gue."
"Oke. Karena si gondrong pilih truth, siapa yang mau ngasih pertanyaan?"
"Gue." Kata Andre.
"Oke, silahkan."
"Lo harus jawab pertanyaan gue dengan jujur."
"Pasti lah." Kata Alfi.
"Lo suka bawa tumbler gambar Spongebob di tas Lo, kan?"
"Sialan Lo!"
Andre terbahak di ikuti semua orang di sana. Mereka tak menyangka, salah satu isi dari tas ransel Alfi yang besar adalah tumbler minum berkarakter kartun Spongebob.
"Diem diem ternyata selera Lo unyu banget!"
Alfi memutar bola matanya, rahasianya terbongkar. Ia akan menjadi bahan bullyan teman-temannya.
"Tumbler punya siapa? Rere?"
"Cielah, udah jadi b***k cinta sekarang!"
"Pamit sama kesayangan Lo gak, kalo Lo ngumpul sama kita di klub?!"
"Jangan sampek Rere ngambek, takutnya Lo gak bisa tidur!"
"Makanya kalo cari cewek yang dewasa kek, ini masih bocil Lo pacarin!"
"Diem Lo!"
Alfi merengut kesal, ia tak bisa berkutik sama sekali. Pasalnya Rere, kekasih Alfi menyukai segala jenis kartun dan hal-hal yang berbau lucu. Gadis berusia sepuluh tahun lebih muda dari Alfi itu, memaksa Alfi agar membawa Tumbler berisi air minum.
Jika Alfi melupakan tumbler bahkan meninggalkannya di rumah, Rere akan mengamuk dan mendiamkan Alfi hingga Alfi harus meminta maaf. Barulah, Rere kembali bersikap manis padanya.
"Oke. Lanjut!"
Ujung botol kembali di putar, kini berhenti pada salah satu dari mereka. Tanpa basa basi pria bernama Didi itu langsung saja memilih.
"Gue minum Brandy aja."
"Oke."
"Payah Lo!" Amuk Bagas.
Didi tertawa, lantas menegak segelas Brandy. Setelahnya ia kembali ikut bermain. Memeriahkan permainan reuni mereka.
Satu persatu dari mereka terpilih oleh ujung botol, rata-rata dari mereka memilih untuk meminum Brendy. Menolak menerima tantangan atau menjawab pertanyaan kejujuran.
"Sialan Lo semua! Ngerjain gue!"
"Sabar, Gas." Ujar seseorang yang duduk di sebelah kirinya menepuk bahu Bagas.
"Lanjut gak nih?"
"Lanjut lah! Kalian semua banyak yang belum nerima tantangan dari gue!"
"Dendam amat sih Lo, Gas."
"Gue bukan dendam. Tapi gue menyelamatkan harga diri gue yang kalian jatohin!"
"Oke. Oke. Kita lanjut lagi ya."
"Cepet deh puter!"
Hingga ujung botol berhenti tepat pada sosok Frans yang menikmati sebatang rokoknya. Di liriknya ujung botol tersebut dengan raut datar.
"Waahhhh... Si Frans nih."
"Truth or dare?"
"Cupu Lo kalo pilih truth."
"Dare." Jawab Frans santai.
Bagas tersenyum menang, "Gue yang ngasih tantangan!"
Lantas Frans menggeleng, menunjuk sebotol Brandy dengan dagunya. "Gue minum Brandy satu botol."
"Waaahhh."
"Jagoan kita nih!"
"Lo yakin?"
Tanpa ragu, Frans mengangguk. Meminta sebotol Brandy untuk ia tenggak. Alfi memberikan sebotol Brandy berwarna gelap berjenis Pomace Brandy dengan label Hors D'age. Dimana merk Brandy tersebut di buat dari fermentasi anggur, seperti, ampas buah, biji, dan tangkai sisa pengambilan sari buah anggur dengan usia lebih dari sepuluh tahun dan berkualitas terbaik.
"Payah Lo pilih minum!" Kesal Bagas.
"Engga sebotol juga sih, Frans." Sahut Andre, teman sekolah sekaligus rekan kerja di rumah sakit miliknya.
Menenggak secara langsung dari ujung botol, Frans menghabiskan sebotol Brandy hingga tandas tanpa sisa. Semua teman-temannya menyoraki kelakuan Frans. Kecuali Andre yang menatap Frans dengan pandangan khawatir.
Bukannya apa, Andre akan sangat kerepotan bila Frans mabuk. Terlebih sebagian dari teman-temannya telah tak sadarkan diri karena kebanyakan minum alkohol.
Malam kian melarut, bagi mereka yang masih sadar membawa teman mereka yang mabuk berat. Takut menabrak jika menyetir, semuanya telah pulang. Menyisakan Andre dan Frans yang duduk di sofa.
Frans tampak sudah mabuk, pria itu berkali kali meminum Brandy. Andre mengajak Frans untuk kembali pulang, karena besok ia memiliki jadwal masuk di rumah sakit.
"Frans! Bangun Lo!"
"Woy! Bangun!"
Andre menepuk keras kedua pipi Frans, pria itu tak bereaksi sama sekali. Terpaksa Andre memapah tubuh Frans dengan bantuan seorang pelayan klub di sana hingga tiba di mobilnya.
"Nyusahin banget sih Lo! Tau gitu gue gak ngajak Lo, tadi!"
Begitu Frans telah berada di kursi penumpang, dengan Andre di balik kemudi. Frans terbangun dan menatap sekitar.
"Gue anter Lo pulang."
Sayup-sayup Frans mendengar Andre berbicara padanya. Frans menggeleng.
"Bawa gue ke apartemen."
"Apartemen? Sejak kapan Lo punya apartemen?"
"Gak usah bawel."
Frans memberikan secarik kertas bertuliskan alamat apartemennya, tanpa banyak bicara. Andre bergegas menuju apartemen Frans dan berencana menginap di sana sekaligus meminta penjelasan.
***