FransAle III | Kehidupan Jauh Berbeda

1618 Words
"Bagaimana kunjungan ke rumah sakit hari ini? Lancar?" Pertanyaan itu, terlontar begitu saja ketika Frans baru membuka pintu utama. Bahkan kakinya belum memasuki rumah, Mama menodongnya dengan pertanyaan yang tidak Frans harapkan. "Ma, Frans baru aja sampek rumah. Mama gak tanya keadaan Frans?" Frans mendekati Mamanya yang duduk di sofa. Mendudukkan pantatnya di sofa, Frans melepas jas hitam yang sejak tadi melekat di tubuhnya. Tas kerjanya terlempar begitu saja, Frans acuh. "Memangnya kamu kenapa? Ada staf Mama yang berani sama kamu? Atau ada pasien yang bikin kamu risih saat kamu melakukan kunjungan ke rumah sakit?" Frans tercengang, kalimat dari Mama sangat tidak Frans harapkan. Bukan rumah seperti ini yang Frans ingin, bukan. "Kunjungan hari ini lancar kok Ma. Semuanya sesuai standart rumah sakit pada umumnya, dan semua staf welcome sama Frans." Katanya mengambil napas, "--Mungkin nanti Frans akan menerapkan sistem kerja baru untuk seluruh staf rumah sakit." Mama Claria meletakkan majalah yang sejak tadi menemaninya. "Sistem kerja yang sekarang ada masalah?" "Tidak ada. Tapi Frans ingin rumah sakit maju dengan sistem yang baru dan lebih efisien waktu." Ujar Frans. "Asal untuk kebaikan rumah sakit, Mama setuju saja. Ingat Frans, Papa mu sejak dulu mempertahankan Rumah Sakit Santa Claria. Ketika semua saudara Papa menolak untuk membantu dan membiarkan Papa mengurus rumah sakit keluarga kita yang nyaris bangkrut," Mama Claria memulai perbincangan. "--Hanya Papa seorang diri yang pontang panting mencari donatur untuk rumah sakit kita. Mama ingin kamu meneruskan apa yang telah Papa pertahankan sejak dulu. Sungguh, Mama tidak rela jika saudara mu yang merebut posisi Presdir." Frans mengangguk tanpa kata. Bahkan, hingga Papanya menghembuskan napas terakhir. Papa masih memikirkan kondisi semua karyawannya. Frans pun terpaksa di kirim ke luar negeri untuk mengambil spesialis jantung atas dorongan Mamanya. Kehidupan Frans di atur sedemikian rupa oleh Mama Claria agar Frans mendapat gelar dokter dan memiliki ikatan relasi sesama petinggi rumah sakit, untuk kejayaan Rumah Sakit Santa Claria ke depannya. Tanpa Mama Claria sadari tekanan darinya membuat Frans semakin stres dan menolak pulang ke Indonesia setelah gelar S2 yang telah Frans dapatkan. Keadaan yang terdesak membuat Mama Claria mau tak mau, memaksa Frans pulang dengan menjemputnya langsung dari Belanda. "Frans capek, Ma. Mau langsung istirahat." "Makan dulu." Cegah Mama Claria sesaat setelah Frans bangkit dari sofa. "--Makanannya Mama simpan di lemari dapur. Tinggal kamu panaskan saja." Sambung Mama Claria. Frans terdiam dalam posisi berdiri, mengumpulkan suaranya yang tiba-tiba saja menghilang. "Nanti Frans panaskan sendiri." Mama Claria mengangguk dan kembali membaca majalahnya. Mengacuhkan Frans yang masih diam berdiri di sampingnya. Tak kuasa menahan, Frans segera berlalu menuju kamarnya. Menghempaskan sesak dalam hati yang selalu ia rasakan ketika kembali pulang. Frans merindukan keluarganya yang harmonis seperti dulu. Mamanya telah berubah semenjak Papanya pergi. Semuanya tak lagi sama, dan Frans yang hanya mampu bersembunyi dalam sosok kaku dan keras. *** "Capek banget!" Keluh Refa. "Rasanya tuh kerjaan gak ada selesenya! Ada aja yang orang sakit tiap hari." Ale menggeleng mendengar keluhan Refa, selepas pulang dari rumah sakit Ale dan Refa melipir mampir ke Mamang batagor untuk menyantap makanan kesukaan mereka. Dan mereka langsung pulang, karena saking capeknya. "Ternyata capek ya jadi tulang punggung, mau jadi tulang rusuk aja biar selalu di lindungi." Ale tertawa mendengar kekesalan Refa. Gadis itu selalu saja mengeluh jomblo, ingin pacar lah, pengen nikah lah. Tapi giliran ada yang deketin, kabur duluan. "Si Rendy kemana? Suruh jadi tulang punggung gih!" Balas Ale dengan sisa tawa yang belum sirna. "Ya kali sama berondong! Gak!" Rendy, cowok berusia dua puluh lima tahun yang bekerja sebagai staf laboratorium mulai menunjukkan rasa tertariknya pada Refa, si gadis pecinta drakor. Bermula ketika Refa yang membantu Rendy ketika cowok itu kesulitan menemukan ruang interview yang berada di lantai dua. Refa yang notabenenya ramah, berhasil memikat hati Rendy hingga cowok itu mendekati Refa. Sayangnya, Refa mengatakan jika ia menganggap Rendy sebatas rekan kerja. Dan tidak memungkinkan untuk Refa menyukai Rendy sebagai kekasihnya. Apalagi Refa menyukai pria berusia matang, bukan pria berumur lebih muda darinya. Meskipun jodoh tidak terpaku soal umur, selera setiap orang memang berbeda. Dan Ale tidak menyalahkan Refa karena menolak perasaan Rendy. Hanya saja, Ale suka kesal melihat Refa yang mengeluh soal pasangan. "Gapapa loh sama berondong. Rasanya lebih manis." Ujar Ale menaik-turunkan alisnya. "Yeeehhh, kamu kira pop corn! Rasanya manis! Gak sekalian rasa seblak!" Kekesalan Refa memang mampu menjadi moodboster untuk Ale. Teman pertama untuk Ale yang baru saja menetap di kota Surabaya, yang kini telah menjadi sabahat baiknya. "Lagian kamu tuh lucu deh!" Ujar Ale saking gemasnya. "Ngeluh pengen punya pasangan tapi nolak setiap cowok yang pdkt." Ale berkata dengan kesal. "Selera ku tuh kaya Song Joong-Ki. Tanpa pdkt, hayuk dah langsung nikah!" "Halu! Dasar!" Refa tergelak, "Sayangnya aku sama Mas Joong-Ki beda agama, beda negara, dan beda perasaan. Akunya suka Mas Joong-Ki, mas Joong-Ki nya suka sama yang lain. Nasib!" Ale terbahak mendengarnya, "Belum deket sama cewek lain ya, setelah cerai beberapa tahun lalu?" Refa mengangguk, "Masih sendiri. Bertahan sama status Duda." "--Para fans sih mendukung kalo Mas Joong-Ki cinlok sama Jeon Yeo-been." "Pengacara Hong Cha-young?" Tebak Ale. "Yes! Tapi lebih baik pertahanin status dudanya deh! Biar tambah menggoda." Ale mengangguk paham, "Kalo aku? Menggoda gak?" "Kamu tuh cantik! Ya, pasti menggoda lah." Kata Refa spontan. Hingga Refa menyadari sesuatu, ia menatap Ale yang mengalihkan pandangan darinya. "Sorry Le, maksud aku bukan mau nyinggung. Seriusan gak kepikiran sama sekali, aku minta maaf, Le." Ale tersenyum tenang dan menggeleng, "Santai kali Re, gue biasa aja kok. Gak masalah, karena kenyataannya... Gue emang berstatus janda." "Le..." Refa berujar lirih. Di tatapnya lekat-lekat Ale yang berkata begitu santai, tak banyak yang bisa Refa ucapkan. Ia langsung memeluk sahabatnya erat, dalam keheningan tanpa adanya suara diantara mereka. "Jangan ngomong gitu... Semua orang sama kok, kenapa harus berpatokan sama status?" Ale diam dalam duduknya. "Bukan keinginan kamu menyandang status janda. Semua karena keadaan yang memaksa seorang Alessa ada di posisi ini. Tuhan sayang sama kamu, jangan anggep kamu sendirian. Ada aku, ada orang tua mu, ada Dyah, ada semua orang-orang yang sayang sama kamu, Le." "Kita semua sayang Ale." Lirih Refa meneteskan air mata. Ale yang tadinya menahan untuk tidak menangis, menumpahkan air matanya. Ia membalas pelukan Refa tak kalah erat. Hanya Refa, satu-satunya sahabat yang ia miliki sekarang. Hanya Refa, satu-satunya yang mensupport dirinya ketika Ale tak mampu mencurahkan bebannya. Hanya Refa, yang mengerti dirinya saat ini. "Makasih Re, makasih... Kamu udah ada buat dukung, nguatin, di saat aku rapuh." "Bahkan disaat aku enggak mampu berkata, sahabat aku ini dengan mudahnya menebak kegelisahan ku. Nenangin aku ketika aku bener-bener butuh tempat bersandar. Makasih untuk selalu ada Re," Refa mengelus punggung Ale, "Sama-sama Ale. Kita saling support, jangan anggep kamu sendirian. Ada aku--sahabat kamu yang selalu ada buat kamu. Kalo kamu disakitin, bilang sama aku." Ale mengangguk dalam pelukan Refa. "Aku, yang akan maju di barisan pertama buat lindungin kamu." Selepasnya, Refa melepas pelukan Ale. "Udah jangan nangis. Ntar tuh muka jelek!" Ale tertawa di sela tangisnya, "Gapapa jelek." "Jangan. Ntar aku gak ada saingannya. Gak mau lah cantik sendirian." Lagi lagi Ale tertawa. Refa memang bukan berasal dari keluarga mampu sepertinya, namun Ale kagum pada Refa. Meski hidup dalam kesulitan ekonomi, Refa tidak pernah menunjukkan kesulitannya. Hanya senyuman ceria dan topeng judes yang selalu Refa pasang untuk menghiburnya. "Aku pengen mandi. Gerah." Ale bangkit dari duduknya. "Udah merasa jelek ya, Le?!" "Sembarangan kalo ngomong!" Ale melempar handuk bersih yang baru saja ia ambil dari lemari. "Gue selalu cantik!" Sombong Ale. "Dih! Sok cantik!" Mengabaikan Refa, Ale berjalan menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar kost-nya. Refa merebahkan tubuhnya di kasur lantai kostan Ale, menunggu Ale selesai membersihkan diri. Belum sempat Refa menikmati waktu rebahannya, suara teriakan Ale mengangetkan Refa. "REFA!" "HANDUK AKU!" Teriak Ale dari dalam kamar mandi. Terlihat di pangkuannya selembar handuk berwarna putih, Refa tertawa, "Keluar! Ambil nih!" "REFAAA!" Merasa kasihan, Refa mendekatkan handuk ke pintu kamar mandi, "Iya-iya, tuh! Ambil! Gue taro di gagang pintu." "MAACIHHH!" "Iya! Sama-sama." Setelahnya hanya terdengar suara gemericik air di dalam mandi. Refa merebahkan tubuhnya kembali. "Gue rela menyingkirkan masalah hati demi Lo, Le. Gue gak mau, gue bahagia bersama cinta gue, sedangkan Lo tertatih bangkit dari kesedihan masa lalu sendirian." *** Kepulan asap mengudara di tengah dinginnya udara malam. Sejauh mata memandang, hanya perumahan tanpa kerlap kerlip lampu perkotaan. Dari atas balkon kamarnya, ia menikmati waktu santai dengan sebatang rokok di sela jemarinya. Rokok bukanlah teman yang baik untuk manusia, terutama untuk dirinya yang bergelar Dokter. Namun, di saat-saat tertentu rokok lah yang membantunya menghilangkan stres dari beban yang ia alami. Kekecewaan, pengkhianatan serta rasa sakit atas cinta masa lalu membuatnya harus bersahabat dengan rokok. Tak setiap hari memang, hanya ketika pikirannya benar-benar kacau, ia membutuhkan sebatang rokok untuknya hisap. Efek tenang dan damai sesaat yang ia butuhkan untuk membuatnya kembali berpikir logis. Hingga saat ini, belum ada yang mampu menggantikan rokok sebagai penenang dalam hidupnya. Jangan terpaku pada sosok luar yang sempurna, nyatanya setiap manusia memiliki sisi rapuh yang memang tak ingin di lihat semua orang. Bersembunyi di balik kata 'sempurna' adalah jalan terbaik bagi sebagian orang sebagai pertahanan dan perlindungan diri. Tak jarang, bersikap bodoh, cuek, dan acuh karena sikap tersebut sebagai bentuk pelampiasan rasa sakit di masa lalu. Entah masih menyisakan luka atau pun membentuk pribadi baru. Dering telepon memecah kesunyian malam, bergetar dengan suara berisik mengganggu telinga. Hembusan napas kasar terdengar, tak ingin mendengar suara yang berisik lagi. Pria itu beranjak masuk ke dalam kamar. Sepertinya ia lupa mengaktifkan mode diam dalam ponselnya. Membaca nama di layar ponsel, ia menerima panggilan dengan malas. "Hm?" "Anak-anak lagi di klub Starla, gabung gak?" Tanpa menjawab, ia mematikan ponselnya. Mengambil jaket kulit hitam serta kunci motor, pria itu bergegas keluar. Menghiraukan malam yang kian larut, ia membutuhkan tempat untuk menyalurkan beban pikiran yang kian menumpuk. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD