Hari ini adalah hari tersibuk setiap minggunya. Bagaimana tidak? Sejak pagi, dirinya bahkan tidak beranjak dari kursi kebanggaannya di ruang praktek karena pasien terus saja berdatangan. Keluhan silih berganti bersamaan dengan pasien yang datang lalu pergi.
Jam menunjukkan pukul dua siang, antrian yang menunggu masih lima orang. Berbagai macam keluhan, beraneka ragam pula tulisan yang ia tulis di kertas putih kecil berlogo rumah sakit Santa Claria.
Melepas kaca mata, ia mengucek matanya yang sudah terasa lelah, perih dan berair. Setiap harinya, aktivitas melelahkan ini menjadi rutinitasnya semenjak dirinya menjadi Presiden Direktur menggantikan sang Mama.
Satu perawat yang menjadi asisten pribadinya mengetuk pintu pelan. Mengalihkan dunia sang Dokter yang berkelana sejenak.
"Ya?"
"Siang Dokter." Sapa suster bernama Siska tersenyum ramah.
Namun, Dokter itu melanjutkan kegiatannya tanpa membalas sapaan dari suster Siska. Dirinya terlalu lelah sekedar membalas sapaan selamat siang.
"Apakah Dokter Frans ingin istirahat sebentar? Saya akan menjeda pemeriksaan sementara Dokter bisa beristirahat."
"Tidak perlu. Lanjutkan pemeriksaan hingga selesai, setelah itu saya akan pulang."
"Baik Dokter."
Setelahnya suster Siska pamit undur diri. Kembali duduk mendata pasien selanjutnya yang akan melakukan pemeriksaan. Seperti yang sudah-sudah, Dokter Frans akan menolak tawaran istirahat darinya. Padahal suster Siska mau-mau saja bila harus membelikan makan siang untuk Dokter Frans.
Anggap saja, sebagai pendekatan antara dirinya dengan Dokter Frans selama satu bulan karena Dokter sebelumnya mengambil cuti. Namun, Dokter Frans terlalu cuek dan dingin padanya. Meskipun suster Siska bersikap manis, lengosan wajah Dokter Frans yang ia dapat.
"Apa Dokter Frans suka makan es batu? Mengapa sifatnya dingin sekali!" Gerutunya sembari bersiap menulis data pasien di buku catatan.
Lantas suster Siska segera menyelesaikan pekerjaannya sesuai perintah Dokter Frans. Tersisa lima pasien yang menunggu giliran di panggil ke ruang pemeriksaan.
Menit demi menit berlalu, tak terasa jam di dinding mulai menunjukkan pukul tiga lebih dua puluh menit sore. Sudah lebih waktu pulang bagi Dokter Frans.
Suster Siska bersiap membereskan kertas-kertas pemeriksaan pasien. Merapikannya dalam sebuah map, dan meletakkan di lemari file sesuai urutan hari, tanggal dan tahun.
Suara sepatu pantofel berbenturan dengan lantai terdengar, diikuti pintu yang terbuka lantas tertutup. Dokter Frans keluar dari ruangannya dengan tas kerja di tangan kirinya.
Suster Siska kembali menyapa, "Sore Dokter."
"Dokter mau pulang ya?"
"Ya. Saya duluan."
Tanpa berlama-lama, Dokter Frans keluar dari ruangan salah satu rumah sakit Santa Claria. Di belakangnya suster Siska, menggerutu kesal. Sikap dingin Dokter sekaligus Presdir Santa Claria tersebut sulit sekali di luluhkan.
"Konsepnya emang gitu ya? Orang ganteng harus cuek-cuek dingin biar bisa bikin cewek meleleh." Kata suster Siska sembari mengunci pintu ruangan.
***
Suasana sore di rumah sakit sedikit lenggang, tidak banyak orang yang berlalu lalang seperti suasana ketika pagi hingga siang. Hanya orang-orang yang menunggu keluarga sakit yang masih berada di rumah sakit, sebagian berada di kantin mengisi perut. Beberapa pasien duduk di taman menikmati udara segar.
Frans yang baru satu bulan berada disini masih merasa asing dengan suasana di rumah sakit ini. Meski dirinya terlahir di Indonesia, beberapa tahun kuliah di Belanda membuat Frans mulai terbiasa suasana khas negara Kincir Angin tersebut.
Karena permintaan sang Mama yang mengharuskan dirinya kembali pulang ke Indonesia. Menggantikan Mamanya sebagai pemimpin di Rumah Sakit Santa Claria. Rumah sakit swasta milik keluarga yang di urus secara turun temurun oleh kakek dan neneknya dahulu.
Tidak hanya Frans yang memimpin rumah sakit ini, ada beberapa sepupu dan anggota keluarga lain yang ikut mengelola. Keputusan tidak boleh diambil sepihak dari Frans, harus melalui berbagi pertimbangan dan persetujuan, terlebih untuk kelangsungan Rumah Sakit Santa Claria.
Tidak seperti kisah Presdir dalam drama Korea yang membebaskan sang pemimpin memiliki segalanya di atas uang. Di dunia nyata, sangat berbeda jauh. Tidak ada sikap semena-mena seorang pemimpin pada bawahannya, semuanya harus pas sesuai porsi.
Begitu juga dengan Frans, pria berkemeja abu-abu bergaris itu masih belajar bagaimana cara mengurus kepemimpinan rumah sakit. Karena sebelumnya Frans hanya bekerja sebagai dokter spesialis jantung pada salah satu rumah sakit di Belanda. Itu pun atas rekomendasi pihak kampus karena melihat potensi Frans yang begitu memukau.
"Byurrrr!"
Suara debuman benda berbenturan dengan air di rumah sakit terdengar di suasana yang sepi. Kertas putih berhamburan memenuhi lorong, beberapa map jatuh dengan isi yang mencuat kemana-mana. Membuat lantai lorong penuh dengan kertas, bahkan diantaranya ada yang jatuh di kolam ikan. Mengambang basah, melunturkan tinta.
"Awwhhh... Sakit!"
Suara ringisan dari seorang perempuan yang jatuh terduduk itu terdengar di telinga Frans. Dirinya yang di tabrak pun tak luput ikut terjatuh, bahkan masuk ke kolam ikan. Membuat ikan terkejut yang menimbulkan suara kecipak air beruntun. Frans yang kewalahan, segera bangkit dan keluar dari kolam ikan. Nyaris seluruh tubuhnya basah dan bau amis. Lumut kolam menempel di baju Frans, mencetak warna hijau yang menggelikan diantara warna abu-abu kemejanya.
"Ya Tuhan!"
"Pak Frans!" Gadis berhijab biru muda itu terkejut melihat Frans yang keluar dari kolam. Apalagi karena dirinya yang ceroboh.
Frans menatap nyalang gadis di hadapannya yang melotot kaget melihat dirinya, keadaan Frans sungguh kacau. Jauh dari kata baik-baik saja. Sisa-sisa air kolam menetes jatuh membasahi lantai. Menandakan betapa basahnya Frans sekarang.
"Kau!"
"Saya minta maaf Pak! Saya sungguh tidak sengaja." Gadis itu mendekati Frans, berusaha membantunya.
"Jangan menyentuhku!" Bentak Frans.
Gadis itu-Alessa, terkejut mendengar suara Frans yang keras. Wajahnya memerah, air matanya siap tumpah membasahi pipinya yang tirus. Ia benar-benar tidak sengaja membuat pimpinan rumah sakit mandi di kolam bersama ikan.
"Ta-tapi, Pak! Saya--"
Alessa menghentikan ucapannya, ketika Frans mengangkat telapak tangannya ke atas. Wajah, rambut, pakaian, semuanya basah kuyup. Terlihat berantakan dan kotor. Sangat tidak mencerminkan seorang Presiden Direktur sebuah rumah sakit ternama.
"Siapa yang berani mempekerjakan seorang wanita ceroboh di rumah sakit ini!" Sentak Frans dengan menatap tajam Alessa.
Kobaran api kemarahan tercetak di kedua manik kelamnya, menambah tatapannya semakin mengerikan. Beberapa perawat rumah sakit yang secara tidak sengaja melintas ikut merasakan ketegangan dari sang Presdir. Mereka pun tak kalah syok dan terkejut. Sebagian diam mematung tanpa berani menyela kemarahan Presdir.
"Kau!" Tunjuknya pada Alessa.
"Sikap mu sangat tidak mencerminkan seorang staf rumah sakit Santa Claria!"
"Bagaimana bisa kau bekerja di rumah sakit ini!"
"Wanita ceroboh!" Ujar Frans begitu kejam.
Lantas Frans berlalu meninggalkan Alessa dan beberapa perawat yang masih setia berada di sana. Frans tak buta, ia melihat gadis itu menangis karena ucapannya. Namun, Frans tidak akan mentolerir kesalahan sekecil apapun. Apalagi kesalahan salah satu pegawainya yang ceroboh hingga membuat dirinya harus tercebur ke kolam ikan.
Sedangkan Alessa, gadis itu masih berdiri mematung di tempatnya. Kalimat sang Presdir terekam jelas di otaknya, berputar secara berulang-ulang. Lelehan air mata tak mampu ia sembunyikan. Mengucur deras tanpa bisa Alessa hentikan.
"Ale!"
Refa datang tergopoh-gopoh menghampiri Alessa yang menangis di pinggir kolam ikan. Di sekitarnya berdiri, hamburan kertas memenuhi lantai lorong. Tanpa perlu bertanya Refa memeluk sahabatnya erat.
"Gapapa Le, it's okay."
Refa mencoba menenangkan Alessa yang menangis dalam diam. Tatapannya kosong menatap ke depan. Pelukan Refa pun tak Alessa hiraukan. Sesekali sesenggukan terdengar kecil. Alessa menahan tangisnya.
"Hei! Gapapa. Semuanya akan baik-baik aja, it's okay Le. It's okay."
Alessa memang menatap tak merespon pelukan Refa, namun ia mendengar suara Refa yang menenangkan tubuhnya. Seketika Alessa meluapkan perasaannya yang sesak. Menangis tersedu di pundak Refa, membalas pelukan sahabatnya tak kalah erat.
Kalimat Frans yang menusuk dirinya sangat sakit, Alessa tak mampu menahan lebih lama lagi. Meskipun ia tau, saat ini dirinya menjadi bahan tontonan beberapa perawat rumah sakit, Alessa tidak peduli. Ia ingin mengobati sesak di hatinya dengan menangis, setidaknya hatinya akan terasa lebih lega.
"Sa--sakit Re, sakit!"
"Ra-rasanya sakit!"
***
Frans. Sosok pria tampan dan peduli ketika SMA berubah seratus delapan puluh derajat menjadi pria bermulut pedas tak berperasaan. Alessa tau dirinya bersalah, ia memang ceroboh. Sifat itu yang selalu melekat pada dirinya, namun Alessa tak menyangka jika kecerobohannya berujung petaka yang membuatnya merasakan kalimat pedas dari bibir pria yang dulu ia kagumi.
Frans. Hanya dengan menyebut namanya mampu membuat hatinya bergetar. Jantungnya berpacu dengan cepat, hingga debarannya membuat Ale takut ia mengalami serangan jantung di usia yang terbilang masih muda.
"Minum dulu Le." Refa menyodorkan sebotol air minum yang telah ia buka tutupnya.
Sejak beberapa jam lalu, Alessa diam termenung di meja dokumentasi ruang instalasi rawat inap. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam, pekerjaannya tak kunjung usai. Terlebih, Alessa harus membuat ulang dokumen yang tadi terjatuh dan tercebur kolam.
"Bakso yuk! Lo belum makan." Refa mengambil duduk di sampingnya.
Alessa menghembuskan napas lelah, "Rasanya aku nggak nafsu makan."
Refa berdecak pelan, "Gue gak mau tau! Lo harus makan! Anak-anak tadi keluar, gue pesenin juga buat Lo." kata Refa memaksa.
"Ayok!" ajak Refa kembali.
"Habis kerjaan ini selese ya?" tawar Alessa.
Karena kecerobohannya, semua dokumen penting harus Alessa kerjakan ulang. Seharusnya, Alessa sudah rebahan di kasur dengan drama Korea yang menemaninya begadang. Namun, realitanya tak sesuai ekspektasi. Ale harus lembur untuk malam ini.
"Gak ada! Kita makan sekarang!" Refa bangkit dari duduknya, memaksa Alessa mengikuti Refa agar makan bakso bersama. Alessa pasrah dengan paksaan Refa padanya.
Begitu baik dan perhatiannya Refa pada Alessa. Di meja dekat pembuatan obat racikan dua mangkuk bakso telah siap disantap. Refa menyodorkan satu mangkuk padanya. Alessa menerima baksonya, tak lupa mengucapkan terima kasih karena perhatian Refa pada Alessa.
"Habis ini, gue mau pulang." ujar Refa di sela makannya.
Alessa menoleh, "Nggak mau nginep sini aja?"
Refa menggeleng, "Engga. Makanya gue nyuruh Lo makan sebelum gue pulang. Kalo gue pulang dulu dan Lo belum makan, yang ada gue yang kepikiran."
Alessa tersenyum, "Refa tenang aja. Nanti pasti makan."
"Tapi nanti. Nantinya seorang Ale itu sampek maag Lo, kambuh tau gak?!"
Alessa tertawa kecil melihat Refa begitu perhatian padanya. "Iya, aku minta maaf kalo sering nyusahin Refa." kata Alessa.
Refa yang tadinya kesal pada Alessa, seketika mereda. Sahabatnya ini memang terlalu abai pada dirinya sendiri, hingga membuat Refa ketar-ketir.
"Mulai sekarang, jangan mengabaikan diri Lo sendiri. Kesehatan Lo lebih penting. Gue nggak mau sampek Lo sakit," Alessa mengangguk mengiyakan perkataan Refa.
"Dan gue minta tolong sama Lo, jangan nyari masalah sama Pak Presdir ya," Alessa menoleh, menatap Refa tak mengerti.
"-Gue tau kalo kejadian tadi itu engga sengaja, dan bukan kesalahan Lo sepenuhnya. Tapi sebisa mungkin, jauhi Pak Presdir. Gue nggak mau Lo terperosok masuk ke dalam kehidupan Pak Presdir lebih jauh dari seorang staf rumah sakit." tambah Refa.
"Jangan mengulangi masa lalu. Lo udah terlalu hancur untuk kembali dihancurkan lagi."
Alessa terdiam mendengar kalimat Refa. Benar, Alessa sudah hancur. Pelan-pelan Alessa merangkak bangkit dari kehancuran di masa lalu. Dan Refa lah yang menemani Alessa, membantunya melewati masa-masa sulitnya. Tak salah jika Refa begitu menjaganya. Karena, hanya Refa lah saksi bisu perjuangan Alessa untuk kembali menemukan semangat hidup.
Alessa mengangguk dan memeluk Refa, "Thanks Re. Aku tau, kamu selalu peduli sama aku."
Refa membalas pelukan Ale, "Lo sahabat gue satu-satunya. Dan gue nggak mau kehilangan sahabat gue lagi."
***