Frans menyenderkan bahunya lelah. Duduk berselonjor di sofa, dengan suasana tenang sang malam. Suara bising kendaraan berlalu lalang di bawah sana tak mampu mengganggu Frans yang asyik menyelami dunianya sendiri.
Memilih tinggal di apartemen tak membuatnya menyesal. Meskipun Mama Claria selalu membujuk Frans agar tinggal di rumah mereka, Frans menolak. Dirinya masih belum sanggup tinggal di rumah penuh kenangan almarhum Papanya yang meninggal sepuluh tahun lalu.
Frans sudah terbiasa hidup sendirian. Tinggal di apartemen, tak membuatnya kesusahan. Dan lagi, Mama Claria mulai mengerti alasan Frans yang memilih tinggal di apartemen dari pada rumah mereka. Frans masih belajar mengikhlaskan Papanya yang telah pergi.
Suara bel apartemen yang berbunyi nyaring membuyarkan keheningan malam. Pria itu mengernyitkan kening, siapakah yang datang malam-malam begini. Apakah Mama?
Bangkit dari duduknya, Frans berjalan mendekati pintu apartemen. Mengintip ke dalam lubang kecil yang berada di tengah pintu guna mengetahui siapa yang datang bertamu. Begitu mengenali sosok di balik pintu apartemennya, Frans menekan password di samping pintu. Mempersilahkan sosok tersebut untuk masuk.
"Lama banget bukain pintu." cerocos sosok tersebut melenggang masuk.
Frans selaku pemilik apartemen hanya menggelengkan kepala, tak habis pikir. Bagaimana bisa ia memiliki sahabat seperti Andre.
"Salam gitu, biar tambah ganteng." celutuk Frans membuat Andre tertawa.
"Lupa. Assalamualaikum." ujarnya lagi.
"Wa'alaikummussalam."
Tanpa banyak bicara, Andre duduk merebahkan diri di sofa empuk. Menyamankan diri dengan menutup mata, menikmati suasana apartemen sahabatnya setelah sekian lama tak berpenghuni.
"Kenapa malam-malam datang?" Frans ikut mendudukkan diri. Menyalakan televisi guna mengusir rasa sunyi diantara keduanya.
"Tadi gue denger Lo renang di kolam."
Mendengarnya, membuat Frans merasa gondok. Berita mengenai dirinya tercebur kolam meluas begitu cepat di kalangan rumah sakit. Tak dapat Frans tolak jika ia merasa kesal, di permalukan oleh bawahannya sendiri sungguh penghinaan untuk Frans.
"Gue gak renang, yang ada dipermalukan. Ada gadis ceroboh yang di terima menjadi staf rumah sakit."
Andre menoleh pada Frans, "Kirain nyemplung ke kolam saking stresnya Lo di balik ke Indo." Andre tertawa di akhir kalimatnya.
"Cewek itu siapa?" Andre penasaran.
Ia hanya mendengar jika sahabatnya itu tak sengaja tercebur karena bertabrakan dengan seorang gadis di lorong rumah sakit. Soalnya gadis itu malah menabrak Frans yang posisinya seorang Presiden Direktur yang baru menggantikan Bu Claria.
Frans menatap Andre lama, "Anak buah Lo sendiri."
"Hah?"
"Anak buah gue?! Siapa?!" Andre terkejut.
"Mana gue tau!" jawab Frans sengit.
"Dilihat dari seragam yang gadis itu kenakan, dia jelas anak buah Lo!"
Andre baru mengetahui perempuan yang menabrak Frans hingga masuk kolam adalah salah satu anak divisinya, bagian instalasi farmasi rumah sakit. Setiap anggota divisi memang memiliki seragam yang khas. Setiap seragam yang dipakai mengindikasikan dari divisi mana mereka mengabdi.
"Lo yakin?"
"Mata gue masih sehat."
Merasa tak percaya anak buahnya membuat ulah, Andre mengambil ponselnya. Membuka galeri, mencari foto anak instalasi farmasi yang sempat diambil ketika perpisahan anak magang satu bulan lalu.
"Yang mana?" Andre menunjukkan layar ponselnya yang menunjukkan potret bersama anak instalasi farmasi.
Frans menajamkan penglihatannya. Pandangan matanya tertuju pada gadis berparas cantik yang mengenakan hijab biru muda tersenyum manis. Frans merasa tak asing pada sosok tersebut, ia merasa pernah bertemu dengannya. Tapi dimana dan kapan? Entahlah, Frans tidak mengingatnya. Atau mungkin karena gadis itu yang menabrak Frans, maka dari itu Frans merasa pernah bertemu gadis itu sebelumnya.
"Gadis berhijab biru muda di sebelah kanan." ujar Frans lantas mengalihkan pandangan pada layar televisi yang menyala. Menayangkan acara berita mengenai keadaan ekonomi saat ini.
Andre melihat siapa sosok gadis yang Frans katakan, sepasang matanya membulat mengenal siapa gadis yang Frans bicarakan. "Lo gak salah?"
"Perlukah saya periksa ke dokter mata, memastikan mata saya sehat?" lama-lama Frans dongkol karena Andre tidak percaya padanya.
"Bukan gitu. Maksudnya, cewek itu, Alessa?"
"Alessa?" tanya Frans tak mengerti.
Andre menunjukkan layar ponselnya, tertuju pada sosok yang sempat Frans katakan. "Bener cewek ini? Dia namanya Alessa."
"Dia itu anak buah favorit gue." lanjut Andre.
Frans memandang sahabatnya curiga, "Lo suka sama gadis itu?"
"Bukan, gue bukan suka yang mengarah ke cinta. Tapi dari sekian banyak anak buah gue, cuma Ale yang bisa bikin gue respect ke dia. Dia udah banyak lewatin masa sulit sendirian, dan gue salut sama kegigihan dia bisa melewati dan bertahan dari masa sulit itu." Andre menjelaskan.
"Gue tau, Alessa anaknya gimana. Dia nggak sengaja bikin Lo malu di rumah sakit,"
"Sebagai atasan Alessa, gue mewakili buat minta maaf sama Lo."
Frans menatap Andre tak percaya, demi gadis itu Andre meminta maaf atas nama Alessa. Frans tersenyum miris.
"Gue gak mau maaf dari Lo, Andre. Tapi dari gadis itu sendiri." kata Frans.
"Frans... Gue mohon sama Lo kali ini, jangan ganggu Ale. Dia cewek baik-baik. Gue bisa jamin." Andre berkata serius. Tawanya yang sempat mencairkan suasana seketika menghilang.
"Kenapa Lo takut banget?" Frans bertanya dengan remeh, "--Gue cuma ingin maaf dari gadis itu, bukan mengganggunya."
"Lagi pula, gadis itu yang melakukan kesalahan. Jadi, dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya, dan Lo, Andre," Frans menatap Andre serius.
"Meskipun gadis itu adalah staf favorit Lo dan Lo sebagai kepala penanggung jawab instalasi Farmasi, Lo gak bisa selalu melindunginya." putus Frans.
"Gue pengen istirahat. Jika sudah tidak ada kepentingan, Lo bisa pulang." Frans bangkit dari duduknya. Berjalan menuju pintu kamar, meninggalkan Andre sendirian di sofa ruang tamu.
Andre menatap punggung Frans yang telah menghilang di balik pintu.
Semenjak insiden di ruangan Frans setelah acara peresmian. Sahabatnya itu semakin tak tersentuh, Andre yang berusaha menghilangkan sikap kecanggungan nyatanya sulit. Frans bagai manusia dingin yang acuh. Berbeda jauh ketika mereka bersekolah satu SMA dulu.
Memang benar, setiap waktu berlalu mampu membuat sifat manusia berubah. Entah karena lingkungan yang salah atau karena keadaan yang memaksanya untuk berubah. Dan Andre merasakan perubahan signifikan pada Frans.
Tanpa berpamitan Andre melangkah keluar dari apartemen Frans. Tujuan Andre mengunjungi sahabat SMA-nya berakhir tidak kondusif. Mulai sekarang, Andre harus berhati-hati pada Frans serta menjaga semua anak buahnya agar terhindar dari masalah.
Frans adalah sahabat Andre, dan Andre tahu betul apa yang akan Frans lakukan ketika ada seseorang yang mengusik ketenangannya.
***
Di dalam kamar yang sunyi dan temaram, Frans masih terjaga. Jam berdentang menimbulkan kebisingan sesaat. Jarum panjangnya berhenti di angka dua belas, dan jarum pendeknya berada di angka dua.
Pikirannya berkelana beberapa jam yang lalu, dimana Andre begitu membela si gadis ceroboh yang mempermalukannya di rumah sakit. Bahkan Andre meminta maaf mewakili gadis itu, dan Frans tidak suka.
Frans merasa gadis ceroboh itu di istimewakan oleh Andre. Memang tidak ada larangan hubungan antar staf rumah sakit, Frans membebaskan mereka untuk bekerja maupun menemukan pasangan. Asal mereka mengetahui batasan pribadi dan bersikap profesional ketika bekerja. Frans akan sangat menghargai mereka yang mampu melakukannya dengan baik.
Tapi, ada yang aneh.
Mengapa Frans tidak suka Andre memperlakukan gadis ceroboh itu dengan istimewa. Seakan-akan, Andre menjaga gadis itu seperti wanitanya. Menjadi tameng dan penjaga untuk gadis ceroboh itu, dan Frans tidak menyukai tindakan Andre yang terlalu mengistimewakan gadis ceroboh tersebut.
"Apa yang membuat mu begitu di lindungi oleh Andre?" Frans bertanya-tanya.
"Jasa apa yang telah kau lakukan untuk Andre? Hingga Andre bersedia meminta maaf untuk kesalahan yang tidak dia lakukan." memejamkan mata, Frans mencoba menganalisa.
Tidak seperti biasanya, kepalanya menemukan jalan buntu. Otaknya tak dapat diajak berpikir jernih. Frans merasa kesal. Mengapa ia harus uring-uringan seperti ini?
Berbalik memasuki kamar, Frans mengambil ponselnya. Pria berusia nyaris tiga puluhan itu sengaja membiarkan angin malam memenuhi kamar apartemennya. Melarang suasana hangat untuk menetap di kamarnya yang temaram.
"Halo, dengan Rumah Sakit Santa Claria. Ada yang bisa saya bantu?" suara di seberang telepon menyapa.
"Aku ingin kau memberikan semua data staf rumah sakit setiap instalasi padaku besok."
"Pak Presdir?"
"Ya."
"Ah, baik Pak. Semuanya Pak?"
"Semua tanpa terkecuali. Saya ingin data berupa dokumen maupun file berada di ruangan saya besok pagi."
"Kau mengerti?"
"Mengerti Pak. Segera saya siapkan."
Segera Frans mengakhiri sambungan telepon dan menuju kamar mandi. Ia memerlukan mandi air dingin untuk membersihkan tubuhnya dan mendinginkan kepalanya yang terasa sakit.
***
"Siapa?" tanya pria di sampingnya yang sibuk mengunyah kacang rebus.
"Si Bapak!"
Merasa bingung, pria tersebut menatap temannya yang baru saja menerima telepon. "Bapak siapa?"
"Pak Presdir lah!" sewot pria yang baru saja menerima telepon.
"Hah? Kok bisa?"
"Ya bisa lah! Lo lupa kalo Presiden Direktur nya udah bukan Bu Claria? Kan udah di alihkan ke putra semata wayangnya, Pak Frans."
Si pria yang tadinya menguyah kacang spontan meletakkan sisa kacang di meja, "Si Bapak ngapain telepon admin malem-malem?!"
"Si Bapak minta semua data staf setiap instalasi."
"Buat apa?"
"Gak tau gue. Si Bapak cuma nyuruh ngumpulin semua dokumen maupun file setiap staf. Dan pagi ini harus ada di mejanya beliau."
"Apa mungkin ini ada kaitannya sama lowongan pekerjaan di rumah sakit ini? Mungkin si Bapak lagi pemilihan buat gantiin staf lama sama calon yang baru?" kata pria yang tadinya memakan kacang rebus.
"Bisa jadi."
"Wahh! Gila! Posisi gue bisa terancam!" ujarnya panik.
"Berdoa aja enggak." si pria yang menerima telepon tadi berusaha menenangkan rekan jaganya.
Di lain hati, ia pun ikutan gelisah. Pak Frans adalah sosok tegas dan disiplin selama pimpinannya dua bulan ini, perkembangan rumah sakit pun sedikit maju dengan sistem baru yang Pak Frans tetapkan.
"Buruan kita kumpulin. Waktunya udah gak banyak!" seru si pria pada temannya yang memikirkan nasib posisinya di rumah sakit.
"Iya iya! Gue nyusul!"
***