"Hari ini, Bapak memiliki rapat penting dengan beberapa donatur untuk membahas acara amal panti asuhan."
Frans mengangguk, "Minta Pak Wayan untuk menggantikan posisi saya dan laporkan hasilnya."
"Baik, Pak."
"Ah, Lani." Panggil Frans pada sekretarisnya.
Perempuan yang bernama Lani itu berbalik, menunduk sopan. "Saya, Pak?"
"Hari ini jadwal saya hanya rapat bukan?"
"Benar, Pak. Hanya rapat saja, setelah ini tidak ada jadwal." Lani kembali memeriksa catatan di bukunya.
"Baiklah. Jangan lupa ikut Pak Wayan dalam rapat ya, catat point pentingnya dan serahkan laporan hasil rapat. Saya tunggu nanti sore sebelum jam kerja selesai."
"Baik Pak. Akan segera saya selesaikan."
"Keluar lah."
"Permisi Pak."
Setelah kepergian Lani, Frans memijat pelipisnya pusing. Semalaman ia begadang membaca profil dari seluruh staf rumah sakit. Di rasa staf tersebut aman dan bekerja sesuai aturan yang sekarang Frans tetapkan selama dua bulan kepimpinannya, maka staf tersebut aman.
Ada beberapa profil yang Frans rasa tidak menyukai aturan yang ia tetapkan dan masuk dalam pengawasan Frans secara langsung. Termasuk saudara sepupunya yang semena-mena dalam menjalankan tugasnya sebagai salah satu staf di Santa Claria. Frans tak boleh gegabah, selama apa yang di lakukannya masih sesuai standar profesi, maka tak akan ada masalah ke depan.
Ada satu divisi yang belum Frans periksa, yakni divisi instalasi rawat inap yang di Kepalai oleh sahabatnya secara langsung, Andre. Meski begitu, Frans akan tetep memeriksanya nanti. Apalagi gadis ceroboh yang mendorongnya ke dalam kolam.
Frans bangkit dari kursi kebesarannya sebagai Presdir, kini waktunya Frans menjalani pekerjaan yang ia sukai. Sebagai seorang Dokter spesialis jantung menggantikan salah satu dokter yang cuti.
"Selamat pagi, Dokter Frans."
"Pagi."
"Pagi, Dokter."
"Pagi."
"Selamat pagi, Dokter. Semoga hari mu menyenangkan."
"Terima kasih."
Sepajang koridor, banyak perawat dan pekerja rumah sakit yang menyapa Frans. Sebagian besar mengenal sosok Frans sebagai Dokter spesialis jantung, bukan sebagai Presdir penerus Bu Claria. Kabar peresmian dirinya yang seorang Presdir membuat seluruh staf rumah sakit Santa Claria semakin memujanya.
Meski sebelumnya hanya beberapa perawat yang mengenal sosoknya sebagai Dokter, kini nyaris seluruh staf mengenalnya sebagai Presdir Santa Claria yang baru. Popularitasnya semakin baik dan di kenal ramah di kalangan anak-anak dan lansia. Tak segan Frans memberikan bantuan obat-obatan, dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.
"Pagi, Dokter. Sesuai dengan jadwal, hari ini pasien sudah menunggu Dokter untuk melakukan check up." Suster Siska menyambut kedatangan Frans dengan penuh semangat.
"Atur dan sesuaikan jadwal check up. Selain check up, saya tidak menerima."
"Baik Dokter." Kata Suster Siska dengan senyum ceria di wajahnya.
Begitu Frans masuk ke ruang Dokter di ruang pemeriksaan yang di batasi sekat. Suster Siska menghela napas pendek, sedikit mendengus karena sikap dingin Frans. Terlebih peraturan dan ketetapan Frans dalam bertugas sebagai Dokter tidak dapat di ganggu gugat.
Seperti hari ini misalnya, Frans meminta menjadwalkan kepada pasien yang ingin check up setelah melakukan pemeriksaan beberapa hari sebelumnya. Apabila ingin melakukan pemeriksaan, maka Frans akan memberikan hari dan ketentuan di waktu yang bersamaan agar berjalan lancar dan Frans bisa mengontrol pasiennya secara bertahap.
"Dokter Frans memang agak ribet, untung ganteng." Kata Suster Siska sebagai penyemangat harinya.
***
Instalasi rawat inap pagi ini ramai akan topik Alessa yang terkena masalah dengan Presdir mereka yang baru. Sosok dan pembawaan sang Presdir yang ramah seketika menjadi tanda tanya yang menghebohkan, namun juga tak jarang ada yang menyalahkan Alessa karena berani membuat masalah dengan Presdir yang baru.
"Anak instalasi sini, kan?"
"Iya, anak sini."
"Berani-beraninya bikin ulah sama Pak Presdir. Anak baru mungkin."
"Kayaknya enggak deh, gue sering liat dia wara-wiri nganter obat ke ruang rawat."
Pembicaraan tak mengenakkan terdengar hingga ke telinga Rahayu. Ruang instalasi rawat inap yang terbilang masih sepi membuat dirinya dan satu orang asisten apoteker shift malam yang berjaga menatap tak suka. Rahayu meletakkan sekeranjang resep yang di terimanya, kemudian menghampiri perawat tersebut.
"Udah Mbak, jangan di bahas lagi. Kasihan Mbak Alessa." Rahayu menengahi pembicaraan segerombol perawat yang mengantar resep dari kamar rawat.
"Mbak Rahayu tidak tau? Beritanya heboh sampek ke perawat, dan staf lain."
"Justru karena heboh, saya minta jangan di bahas lagi. Kasihan kan, Mbak Alessa. Dia juga tidak sengaja nabrak Pak Frans hingga jatuh ke kolam." Rahayu mencoba menjelaskan, ia tidak ingin terlihat pembicaraan lebih jauh lagi.
"Loh? Memangnya kenapa? Lagian kan, yang kita omongin gak ada di sini? Bebas dong." Sela seorang perawat berambut pendek dengan seragam putih.
"Salah satu anak instalasi farmasi terkenal buruk karena bikin masalah sama Pak Frans. Banyak yang udah nge-cap gitu, kok." Tambah salah satu perawat berhijab di sampingnya.
"Tolong yang sopan ya, kalian staf rumah sakit loh. Jaga attitude-nya, jaga juga bicaranya. Kalian anak magang? Enggak kan? Jadi harus tau batasan!" Refa yang baru saja datang ikut memanas mendengar perkataan gerombolan perawat yang membahas sahabatnya.
"Sorry ya, kita bicarain soal fakta." Kata seorang perawat berambut pendek.
"Kalian tuh gak tau apa-apa! Jadi diem deh! Gak usah nyebarin gosip murahan!" Sentak Refa.
Rahayu yang melihat rekan kerjanya terbawa emosi, mulai menenangkan gadis itu dengan mengusap punggungnya, "Udah Mbak, jangan di ladenin."
Refa melepas tangan Rahayu yang berusaha menenangkannya, "Gue gak bisa denger omongan gak bermoral mereka soal sahabat gue! Mereka gak tau apa-apa!"
"Iya Mbak, saya ngerti. Tapi Mbak Refa jangan terpancing emosi. Kita masih di rumah sakit, kasihan pasien kalo harus lihat pertengkaran ini." Rahayu membujuk Refa agar tak memperpanjang masalah.
"Mbak Refa masuk dulu, biar saya yang bilang ke mereka." Bujuk Rahayu membuat Refa pasrah.
Rahayu menatap tiga orang perawat yang baru saja membicarakan gosip masalah Ale dengan Pak Presdir. "Untuk kalian semua, bisa tolong menunggu di kursi tunggu depan saja? Setelah resep selesai, akan saya antar ke kalian."
"Pintu keluar ada di sana, silahkan." Rahayu menunjukkan pintu keluar masuk instalasi rawat inap.
"Sombong banget sih! Pantesan suka bikin masalah!" Sewot perawat berambut pendek pada Rahayu, kemudian mereka bertiga berjalan keluar.
Refa masih diam di belakang Rahayu, ia menatap tajam kepergian ketiga perawat yang membuat ulah di instalasi rawat inap. Bertepatan dengan hari ini, hari Sabtu. Apoteker termasuk Kepala Divisi, Pak Andre tidak datang karena libur. Hanya anak-anak asisten apoteker yang bertugas yang berjaga hari ini.
"Kesel banget gue sama kelakukan mereka!" Refa masih tidak terima sahabatnya di dipermalukan di tempat umum.
Mereka semua hanya berasumsi tanpa melihat fakta yang sebenarnya terjadi, mengatakan Ale membuat masalah padahal sahabatnya itu merasa bersalah dan mencoba memperbaiki kesalahan yang ia timbulkan secara tidak sengaja.
"Sabar Mbak Refa. Tidak usah di ladenin, buang-buang tenaga aja. Biarin."
"Resepnya udah numpuk, buruan kita siapin. Biar mereka cepet pergi."
"Setuju."
Baru saja Refa dan Rahayu berbalik, keduanya terpaku melihat sosok yang berdiri di depan mereka. Wajahnya yang pucat dan sayu masih berusaha memberikan senyuman manis di bibirnya yang tampak kering.
"Mbak Alessa."
"Ale."
"Hai." Ale berkata dengan senyuman manis di bibirnya.
Kemudian pandangan menatap keranjang kecil berisi kertas-kertas resep. "Pagi-pagi udah ada resep aja, gue bantuin ya?"
"Ale..."
Refa memanggil sahabatnya yang sibuk memeriksa resep. Namun Alessa mengabaikan panggilan Refa dan berkutat dengan resep.
"Ale."
"Kebanyakan obat injeksi sih, kayaknya stok di gudang masih deh. Coba gue cek dulu."
"Mbak Alessa." Rahayu mencoba menghentikan Alessa.
Alessa berhenti melangkah, menatap Refa dan Rahayu yang diam memandangnya. "Kalian kenapa diem aja? Ayok buruan, di tungguin perawatnya loh. Kasihan nanti pasiennya nungguin jadi lama."
"Alessa!"
Panggilan keras dari Refa membuat Rahayu tersentak. Begitu pula Alessa yang seketika diam di tempatnya. Kakinya terpaku sulit bergerak, pelupuk matanya terasa basah karena genangan air mata yang siap tumpah kapan saja.
Sekuat mungkin Alessa menahan bibirnya yang bergetar agar diam tak bersuara. Air mata jatuh mengalir membasahi pipinya. Napasnya sesak menahan isakan dengan kuat agar tak terdengar.
"Ale, liat gue."
Alessa diam bergeming tak mengindahkan perkataan Refa. Dalam keadaan seperti ini, sungguh Alessa merasa malu. Hatinya tak sekuat baja hanya untuk menahan hinaan mereka yang ditujukan untuknya. Perasaannya terluka.
Karena kecerobohannya, seluruh rekan kerja satu divisi terkena imbas dari kesalahan yang tak ia sengaja. Alessa tidak menyangka hidupnya yang dulu tenang kini harus mendengar cacian dari orang-orang, terlebih mereka semua menyangkutkan kesalahan Alessa dengan rekan instalasi. Semua ini adalah kesalahan Alessa. Lagi dan lagi, Alessa tak sengaja membuat kehidupannya yang tenang kini harus menjadi topik pembahasan.
"Mbak Alessa..."
Rahayu mendekati Alessa yang diam tak bergerak sedikit pun. Usapan lembut menyentuh pundak Alessa, di iringi kalimat penenang. Disusul pelukan hangat dari Refa. Alessa tak kuasa menahan Isak tangisnya, ia menangis sesenggukan di pelukan Refa.
"Aku Re, aku salah... Ini semua salah aku. Kalo aku hati-hati, semuanya gak akan terkena masalah."
"Semua ini salah aku. Aku yang ceroboh, harusnya aku yang kena imbasnya. Bukan kalian semua, aku minta maaf."
"Maaf karena aku, nama divisi ini jelek. Reputasinya buruk karena kecerobohan aku. Aku minta maaf, aku bersalah sama kalian semua."
Dalam tangisnya Alessa mengoceh, gadis itu ketakutan. Terbukti dari tubuhnya yang bergetar dan kalimat kesalahan keluar dari bibirnya berulang kali.
Refa semakin mengencangkan pelukannya, membisikkan kata-kata agar Alessa tenang. "Semua ini bukan salah Lo, Alessa. Bukan..."
"Tapi karena aku, nama divisi ini jadi buruk. Aku emang gak pantes berada dimana pun. Setiap ada aku, semuanya selalu kena masalah."
"Aku selalu bikin susah orang-orang di sekitar ku, aku minta maaf Refa... Aku minta maaf..."
Rahayu tak luput pandangan dari Alessa. Matanya ikut menggenang mendengar ucapan Alessa yang begitu putus asa. Kalimat permintaan maaf tak henti Alessa ucapkan.
Alessa melonggarkan pelukan Refa, menatap Rahayu di belakangnya, "Mbak, Alessa minta maaf Mbak... Alessa, Alessa akan tebus kesalahan Alessa. Alessa minta maaf bikin masalah disini."
"Ale! Lo ngomong apa sih!" Refa menarik lengan Ale yang di tepis gadis itu.
Rahayu menggeleng, "Enggak Mbak, enggak. Ini bukan salah Mbak Alessa, bukan."
"Apa yang harus Ale lakuin buat,--"
"Ale!"
"Mbak Alessa!"
"Mbak!"
Belum sempat Alessa menyelesaikan kalimatnya, gadis itu jatuh pingsan menghantam lantai. Refa dan Rahayu panik membangunkan Alessa, sementara seorang staf yang berjaga malam berlari keluar dan meminta bantuan untuk mengangkat tubuh Alessa.
***