Seberkas profil berada dalam genggaman tangannya, di baca dengan teliti setiap detail ketikan yang menunjukkan identitas seseorang. Sepasang maniknya fokus pada selembar kertas yang dirasa cukup menjadi misteri.
"Gadis ini berasal dari sekolah yang sama dengan ku?"
Di baliknya lembar selanjutnya, dan benar saja. Tanggal lahir, beserta fotocopy ijasah menunjukkan bahwa gadis yang berada di profil yang ia pegang berasal dari SMA yang sama dengannya. Tak hanya gadis ini, salah satu profil yang sudah ia baca pun berasal dari satu SMA dengannya.
Jadi, ada tiga anggota instalasi rawat inap yang berasal dari satu SMA dengannya, termasuk Andre.
"Alessa Divanka Gunawan dan Refa Grahita. Menyenangkan sekali bertemu alumni SMA di sini, meskipun berbeda satu tahun kelulusan."
Frans merasa ada yang aneh, ada sesuatu tak asing yang begitu menarik matanya untuk terfokus pada nama 'Alessa', lebih tepatnya gadis yang membuatnya malu karena harus tercebur di kolam. Kembali membaca profil milik Alessa, Frans menemukan sesuatu yang ia cari.
Beranjak dari sofa, Frans mengambil dompet yang ia simpan di laci kamar. Bergegas ia mengambil sesuatu dari dalam dompetnya. Setelah mendapatkan, Frans mencocokkan dengan apa yang ia lihat. Sobekan kertas berwarna pink pucat yang telah memudar, Frans sesuaikan dengan nama lengkap Alessa.
Entah bagaimana bisa semua ini terjadi, sobekan kertas yang Frans simpan ternyata sesuai dengan nama lengkap Alessa. Frans tidak menyangka, bahwa Alessa adalah pengagum rahasianya.
Dimana, ketika dulu ia selalu mendapat kiriman surat berwarna pink lengkap di dalam amplop berwarna-warni. Surat ini berisi curahan hati sang penulis-Alessa, mengenai dirinya-Fransciso, apa yang ia sukai, apa yang tidak ia sukai, kegiatan yang ia gemari bahkan favoritnya yang tak luput si penulis tulis dalam surat ini. Frans mengingat kembali, masa-masa SMA dimana ketika ia selalu mendapat surat setiap paginya.
Semua ini berawal ketika Frans selalu menjadi pentolan sekolah, dan memiliki penggemar di dalam maupun luar sekolah. Beberapa bulan terakhir, Frans mendapati surat rahasia dari seseorang yang mengatakan bahwa ia adalah salah satu penggemarnya. Bahkan saking penasarannya, Frans datang ke sekolah pukul setengah enam pagi setiap harinya, tapi tetap saja. Surat ini sudah ada, menunggu Frans dengan manis membuka loker.
Tanpa banyak berkata, ia mengambil surat tersebut dan di masukkan ke dalam tasnya. Berlalu dari loker dan menuju lantai dua, dimana kelasnya berada.
Dari seberang kelas, sepasang mata menatap penuh binar surat yang diambil sang pujaan. Bibirnya merekah penuh senyuman. Gadis itu turun dengan perlahan ke bawah lantai. Tak lupa ia menurunkan kursi dari atas meja yang ia pakai mengintip seseorang yang baru saja pergi ke lantai dua.
Penuh semangat tangannya mengambil buku berisi lembaran kertas warna pink kesukaannya. Kemudian jemarinya menulis kalimat kagumnya untuk esok hari. Besok, ia harus datang lebih pagi lagi. Sepertinya, siswa kelas dua belas akan memasuki waktu ujian dan diadakan les pagi dari pihak sekolah.
Selesai menulis surat, gadis itu merobeknya, tak lupa di bawah surat ia tulis 'Pengagum Rahasia' sebagai identitas samaran. Diva melipat dengan rapi dan memasukkan suratnya ke dalam amplop warna-warni yang telah ia buat sebagai pemanis.
"Semangat ujian Kak Ken! Diva selalu mendukung cita-cita dan mimpi Kak Ken agar terwujud!" Doanya dalam genggaman amplop tersebut.
Keesokan paginya, ketika gadis bernama Diva itu akan meletakkan suratnya ia terkejut. Tak pernah Diva sangka akan ada sepucuk kertas putih di lipat tapi berada dalam loker milik pria yang ia kagumi.
Tertulis,
Untuk kamu, sang pengagum rahasia penulis surat
Tak salah lagi, surat ini di tujukan untuk Diva. Gadis itu segera mengambil surat tersebut dan meletakkan surat miliknya di loker pria itu. Lantas, ia bergegas pergi sebelum siswa kelas dua belas berdatangan.
Jantungnya berdetak begitu cepat, senyuman manis tak luntur dari bibirnya. Diva tak sabar membuka surat balasan yang tak pernah ia duga sebelumnya. Sekuat hati, ia menahan keinginan membuka surat balasan.
Diva berencana akan membaca surat balasan dari Kak Ken-nya setelah pulang sekolah. Di lihatnya baik-baik surat balasan itu, Diva berkata, "Kak Ken, jantung Diva marathon setelah nerima surat dari Kak Ken. Kira-kira, Kak Ken tau apa enggak ya? Kalo si penulis surat ini, Diva?"
"Rasanya jantung Diva mau copot! Jedug jedug enggak karuan!"
Gadis itu salah tingkah sendiri hanya karena sepucuk surat yang entah apa isinya. Ekspektasi manis, sudah membuat pipinya memerah malu.
Di hari selanjutnya, setelah membaca isi surat dari Kak Ken yang Diva temukan kemarin. Diva merasa jantungnya kian berdetak kencang. Kak Ken-nya meminta pada si penulis surat untuk menuliskan nama yang sebenarnya. Bukan 'Pengagum Rahasia' lagi.
Dan Diva menuliskan nama lengkapnya di bawah surat. Diva berharap Kak Ken tidak merasa malu jika memiliki pengagum rahasia seperti Diva. Mungkin juga, ini saat yang tepat Diva menunjukkan siapa dirinya.
Waktu untuk siswa kelas tiga SMA tersisa beberapa bulan, dan Diva tak ingin rasa kagumnya tinggal sebagai kenangan. Diva ingin, Kak Ken melihatnya, melihat sosok Diva yang secara diam mendukung dan memberinya support lewat surat.
Baru saja, Ale memasukkan surat balasan darinya untuk Kak Ken. Ale menemukan sesuatu menarik dari keranjang sampah yang berada tak jauh dari jajaran loker siswa kelas dua belas. Ale mendekati keranjang sampah tersebut karena merasa familiar dengan isi sampah di dalamnya.
"Ini? Bukannya surat dari Diva?"
"Kok ada di tempat sampah?"
"Kak Ken gak suka ya? Kenapa suruh Diva nulis nama lengkap Diva? Buat apa?"
Di ambilnya salah satu isi surat dari amplop tersebut, Diva merasakan sesak luar biasa di dadanya. Rasa tangis tertahan menyiksa batinnya. Tak hanya satu amplop yang berisi surat, namun puluhan amplop yang berisi surat darinya berada di keranjang sampah.
Tanpa berlama-lama meratapi nasib surat-suratnya, Diva mengambil kembali suratnya di dalam loker. Di bukanya dengan kasar amplop tersebut, Diva merobek dan meremas suratnya tak karuan. Lantas membuangnya di keranjang sampah.
"Sakit! Rasanya sakit!"
Diva memukul dadanya yang terasa sesak. Tanpa berlama-lama, Diva pergi meninggalkan ruang penyimpan loker.
Dari arah belokan tangga lantai dua, seseorang baru saja menuruni tangga. Sekilas ia melihat ada seorang gadis yang berlari menjauhi loker. Entah ada apa dengan gadis itu.
Kemudian, tatapan matanya mengarah pada sobekan kertas yang berhamburan di lantai, dekat keranjang sampah. Sepasang kaki jenjangnya bergegas mendekati kertas tersebut.
"Kenapa bisa ada di tempat sampah?"
Sosok lelaki itu tak menyangka surat-surat miliknya berada di tempat sampah. Ia memeriksa loker miliknya, berharap ada surat yang ia nantikan. Sayangnya, tak ada apapun di sana.
Sepasang maniknya tertuju pada hamburan kertas di lantai, ia mengambilnya. Sobekan itu tepat mengenai nama si pengagum rahasianya. Lantas, ia melihat lorong dimana ia melihat seseorang baru saja pergi.
"Sial!"
Lelaki itu menggeram kesal. Nyaris saja ia mengetahui siapa penulis dari surat yang ia terima. Namun, melihat banyaknya surat di keranjang sampah. Dan sobekan surat yang tercecer, dapat ia pastikan jika seorang gadis yang baru saja pergi adalah penulis surat yang ia tunggu.
"Sial! Sial! Sial!"
Semenjak itulah, Frans tak pernah mendapatkan surat dari pengagum rahasianya lagi. Seolah semuanya musnah tanpa jejak. Bahkan, Frans tak bisa menemukan siapa gadis yang sekilas ia lihat sebelum pergi meninggalkan loker penyimpanan barang milik kelas dua belas.
"Sosok Pengagum Rahasia itu, adalah kamu, Alessa?"
***
Sepasang kelopak mata yang terpejam, perlahan bergerak. Pertanda si empu akan sadar sebentar lagi. Lenguhan kecil terdengar dari bibirnya yang kering, di susul kesadarannya telah kembali menguasai tubuh. Menghempas kegelapan yang sempat memeluknya erat-erat.
Ia melihat sisi kanannya yang terasa berat, kepalanya berusaha menoleh, memastikan sesuatu yang menindih tangan kanannya.
Refa, gadis itu tertidur dengan kepala menelungkup. Ia pasti tidak sadar telah tertidur dan menindih lengannya hingga terasa kram. Tak ingin membangunkan sahabatnya, Alessa mengamati sekitar. Sepertinya ia berada di ruang rawat inap yang bersekat tirai.
Terdengar suara obrolan lirih dari sisi kirinya yang Alessa yakini terdapat pasien yang menjalani perawatan. Entah karena sakit apa.
"Wah, Mbaknya sudah sadar?" Suara sapaan dari brankar sebelah kirinya terdengar.
Tirai yang tadinya terbuka sedikit guna mengintip, kini ia buka setengah. Wanita paruh baya yang menyapa Alessa itu bangkit dan menghampirinya.
"Saya panggilkan dokter jaga, ya Mbak? Tadi di suruh panggil dokter kalo Mbaknya sudah sadar."
Tanpa menunggu balasan dari Alessa, wanita paruh baya itu dengan senang hati memanggilkan dokter untuk memeriksa keadaan Alessa. Di atas brankar, Alessa terbaring lemas membiarkan wanita paruh baya itu bersusah payah membantunya. Sahabatnya pun terlihat sangat kelelahan.
Tak berapa lama, seorang pria datang dengan wanita paruh baya tadi. Di ikuti satu suster dengan membawa nampan stainless steel.
"Halo, Mbak Alessa." Sapa Dokter dengan name tag Aditia itu.
"Halo, Dokter." Balas Alessa lirih.
Dokter Aditia melirik Refa yang tertidur di sisi kanan brankar, melihat gadis itu terlihat sangat lelah. Apalagi keributan ini tak membangunkannya, Dokter Aditia geleng-geleng kepala.
"Bagaimana bisa Refa tidur dengan nyenyak seperti itu? Padahal kau yang sakit, bukan Refa." Alessa tersenyum mendengar celutukan Dokter Aditia.
"Temannya itu kelelahan, Dokter. Makanya saya membantunya dengan memanggil Dokter."
"Wah, terima kasih Ibu. Mereka berdua ini, rekan saya. Tapi karena merantau dan jauh keluarga, jadi ya begitu."
Wanita paruh baya itu mengangguk mengerti, "Ah, baiklah. Kalau begitu saya permisi ke kantin dulu, Dokter, suster dan Mbaknya, cepet sembuh."
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Dokter Aditia memeriksa Alessa, "Alessa, saya periksa dulu ya? Maaf karena malam ini, tidak ada Dokter jaga wanita."
"Tidak apa-apa Dokter Aditia, justru saya yang berterima kasih sama Dokter."
"Okay, sama-sama." Balas Dokter Aditia dengan senyum ramah.
Dokter Aditia mengisyaratkan pada suster yang datang bersamanya untuk membangunkan Refa. Terlihat gadis itu menindih lengan Alessa, dan Alessa membiarkannya. Dengan sigap, si suster membangunkan Refa dan gadis itu terkesiap dalam tidurnya.
"Suster ngagetin saya aja!"
Tanpa membalas, suster itu melirikkan matanya ke arah Dokter Aditia. Spontan Refa melihat ke sampingnya, dan tersenyum manis ketika Dokter Aditia menatapnya dengan tatapan penuh kesabaran.
"Eh, Dokter Adit udah di sini?"
"Refa... Refa... Padahal saya sudah bilang untuk segera menghubungi dokter jaga ketika Alessa sadar. Tapi malah kamu yang tidak sadar."
"Hah? Alessa udah sadar?" Matanya melarikan tatapan ke atas brankar, dimana Alessa tersenyum manis dengan bibirnya yang pucat dan kering.
"Ale!"
Langsung saja Refa memeluk tubuh Alessa yang masih terbaring lemah. Alessa tak kalah senangnya membalas pelukan Refa. Bahkan Dokter Aditia terpaksa mundur beberapa langkah karena tingkah agresif Refa.
"Hei! Hei! Sudah pelukannya! Saya harus memeriksa sahabat kamu."
"Eh, iya... Silahkan Dokter, silahkan..." Refa cengengesan.
Dokter Aditia melakukan pemeriksaan terhadap Alessa, di rasa tidak ada keluhan yang mendalam, Alessa sudah baik-baik saja.
"Semuanya sudah membaik. Tidak ada yang perlu di khawatirkan."
Alessa tersenyum, begitu pula Refa yang ikut bahagia mendengar sahabatnya sudah membaik. Kemudian, Dokter Aditia mengisyaratkan untuk suster agar kembali ke tempatnya. Dirasa tugasnya selesai dengan patuh suster itu menuruti perintah Dokter Aditia.
"Besok udah boleh pulang kan, Dok?"
"Sudah. Tapi tunggu Alessa benar-benar membaik ya?"
"Sip."
"Ah, iya... Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan." Alessa dan Refa menatap bingung dokter Aditia.
Dokter Aditia tersenyum ramah, "Secara fisik, kamu memang baik-baik saja. Tapi, secara mental kamu memiliki suatu beban dimana saya tidak bisa mengatakan baik-baik saja."
"Baiklah, saya rasa itu saja. Saya permisi. Cepat sembuh Alessa." Kemudian Dokter Aditia mengalihkan perhatiannya pada Refa, "Jaga Alessa dengan baik ya? Usahakan dia tidak sendirian."
"Baik Dokter, terima kasih."
"Sama-sama."
Dokter Aditia meninggalkan keduanya yang termenung dalam diam. Terlebih Alessa, di tatapnya lama kartu nama di genggaman tangannya.
"It's okay, Alessa. It's okay."
Tak banyak berkata, Refa memeluk tubuh Alessa. Memberikan support pada sahabatnya yang kembali merasa trauma. Alessa belum sepenuhnya sembuh.
***