"Pencitraan Lo, bagus juga ternyata." Komentar Frans.
Begitu keduanya tiba di ruangan Frans, Andre langsung tiduran di sofa. Sedangkan Frans memeriksa semua berkas yang telah ia bawa dari ruang instalasi rawat inap.
"Ya kali gue petakilan di depan bawahan gue."
"Kan emang Lo petakilan."
"Sialan Lo!" Andre melempar bantal sofa yang dengan mudah Frans menghindar.
"Lagian kenapa sih?! Malem-malem ke rumah sakit? Buat lembur!"
"Besok kan bisa!"
"Kayak gak ada hari lain aja!"
Andre mendumel karena kelakuan Frans. Pria itu terlalu gila dengan pekerjaan hingga seluruh waktunya ia habiskan untuk bekerja dan mengasah potensi diri. Tak ada kata puas untuk Frans dengan segala gelimang harta yang ia miliki.
"Gue gak bisa nunda. Nungguin Lo, lama."
"Serah Lo, deh. Gue mau tidur!"
Mendengar Andre akan tidur, sementara dirinya begadang, Frans bangkit dari kursi kebesarannya. Membawa setumpuk berkas, dan membantingnya di meja.
Andre terlonjak kaget, pria yang baru saja menyelami alam mimpi itu terbangun dengan tatapan protes. "Lo apa-apaan sih?!"
"Periksa data yang ada di sana."
"Apa?!"
"Frans, Lo yang bener dong! Kalo begadang jangan ngajak - ngajak kek. Lo sendirian kan bisa, gue capek."
"Sekarang Andre, gue gak ada waktu buat main-main."
Merengut kesal, Andre bangun dari tidurnya dan memeriksa semua berkas yang Frans berikan. "Lain kali jangan ngajak gue buat begadang."
"Gue atasan Lo. Terserah gue." Ucap Frans telak.
"Sialan!"
Andre mati kutu tak bisa menjawab, sudahkah Andre mengatakan jika Frans sangat menyebalkan? Andre akan sangat merasa kasihan dengan wanita yang akan menjadi pendamping Frans. Apakah wanita itu nanti akan betah dengan sikap Frans yang menyebalkan ini?
"Periksa dengan benar Andre!" Perintah Frans yang melihat Andre tampak malas-malasan.
"Baik, Pak Frans."
***
"Le, gue pulang dulu ya." Katanya begitu melihat kedatangan Alessa.
"Iya, Mbak. Hati-hati di jalan."
"Iya. Kamu juga hati-hati."
"Farah, yuk pulang."
"Mbak Alessa, Farah pulang dulu ya."
"Okay Farah, hati-hati di jalan sama Mbak Uni ya!"
Alessa melambaikan tangan pada gadis yang baru saja bekerja di rumah sakit sekitar satu bulan itu. Lulusan D3 Farmasi yang memutuskan mengikuti jejak kakaknya, Mbak Uni. Seorang lulusan D3 yang telah bekerja selama enam tahun di rumah sakit Santa Claria.
Instalasi farmasi rawat inap terasa sepi begitu keduanya pulang. Lorong rumah sakit pun sama, tak ada orang sama sekali. Biasanya pengunjung berjalan pulang melewati lorong, namun kali ini berbeda.
Tak ingin berpikiran yang membuatnya takut, Alessa bergegas mengunci pintu. Kemudian menutup kaca dengan tirai yang tersedia. Setelah selesai, Alessa duduk santai di kursi plastik dengan televisi yang menyala.
Alessa terkejut begitu mendengar suara pintu yang berusaha di buka dari luar. Di susul suara seseorang yang mengetuk pintu, meminta untuk di bukakan.
"Alessa!"
"Minta tolong pintunya di buka!"
Alessa mengernyit heran, seseorang di luar sana membuatnya takut. Apalagi lorong rumah sakit sepi malam ini, nyaris tak ada pasien selama dua jam terakhir.
"Alessa!"
"Ini saya! Andre!"
Kali ini suara bel di bunyikan berbarengan dengan menyebutkan nama, Alessa bergegas menuju pintu kemudian membukanya.
"Eh? Pak Andre?"
Andre masuk begitu pintu di buka, menghela napas lega. Baru saja Alessa akan menutup pintu, seseorang menahannya. Alessa mendongak, sepertinya ia mengenal pria di hadapannya.
"Alessa!" Suara Andre membangunkan Alessa dari lamunannya.
"Iya, Pak?"
"Lama banget kamu bukain pintu, kamu lagi tidur?" Tanya Andre.
Gadis itu menggeleng, "Enggak Pak, tapi saya takut. Tiba-tiba ada yang maksa buka pintu dari luar. Apalagi dari tadi lorongnya sepi."
Andre merasa tak enak, "Maaf ya, Alessa. Harusnya saya bilang sama kamu dulu. Tapi ini mendesak, makanya saya langsung datang."
Alessa mengangguk-angguk saja, kemudian ia ingin menanyakan siapa pria yang datang bersama Andre ke instalasi rawat inap. Pria itu selalu saja datang ke rumah sakit dan berada dimana-mana. Alessa heran dibuatnya.
"Ini siapa,--"
"Kamu gak sibuk kan?" Andre bertanya dengan tergesa, memotong ucapan Alessa.
"Enggak sih, Pak."
"Bantuin saya cari berkas pemasukan sama pengeluaran obat oleh petugas gudang, bisa?"
"Eh? Bisa, Pak."
Andre mengangguk, lalu melangkah ke ruang belakang, lebih tepatnya ke ruang penyimpanan berkas dan data-data terkait instalasi rawat inap. Di susul pria yang tadi bersamanya melewati Alessa.
Dalam hati ia bertanya-tanya, siapa pria yang dengan santainya memasuki ruang instalasi. Apalagi bersama Pak Andre yang berstatus kepala instalasi. Tingkah dan sikapnya terlihat sombong, tidak menyapa Alessa yang berada di dalam ruangan. Bukannya Alessa mengharapkan sesuatu, namun akan lebih sopan jika menyapa seseorang, meski tidak dikenal sekalipun.
"Tidak sopan." Celutuk Alessa.
Menutup pintu, Alessa menyusul Andre dan pria itu di ruang penyimpanan berkas. Entah kepentingan apa yang membuat atasan divisinya datang malam-malam begini.
"Minta tolong kamu cari data sekitar tahun lalu, ya. Ini penting." Perintah Andre pada Alessa yang baru saja masuk.
Tak ada pilihan selain mengiyakan, "Baik Pak."
Alessa sibuk memilah berkas, dan menjadikannya satu. Di satu sisi, Andre dan Frans ikut mencari data enam bulan terakhir. Entah apa yang kedua pria itu cari, Alessa hanya melaksanakan perintah yang Andre berikan padanya.
"Sudah selesai?"
"Belum Pak."
Begitu cepat Andre dan Frans menemukan dan memilah data berkas, Alessa masih sibuk mencari dan belum sepenuhnya selesai. Tanpa banyak bicara, Frans menghampiri Alessa dan membantunya dalam diam.
Sedangkan Andre merapikan kembali berkas yang sekiranya tidak ia butuhkan ke dalam lemari. Di lihatnya Frans membantu Alessa, Andre pun mengikuti.
"Udah selese." Kata Frans begitu Andre bergabung.
"Loh?"
"Buruan bawa!"
Frans membawa tumpukan berkas, Andre memutar bola matanya kesal mendengar perintah Frans. Alessa diam mengamati interaksi keduanya. Lantas membantu Andre yang kesulitan membawa tumpukan berkas.
"Makasih ya, Alessa. Udah bantuin."
"Iya, Pak. Sama-sama."
Meskipun banyak pertanyaan yang bercongkol di kepalanya, Alessa menahan agar ia tetap diam. Memendam pertanyaan dengan segala kemungkinan jawaban yang berseliweran di pikirannya.
Mengingat pria yang bersama Andre membantunya memilah data berkas, pria itu paham bagian mana yang harus di pilih dan bagian mana yang di tinggal.
"Dia staf baru rumah sakit?"
***
"Pak Andre baik-baik saja?" Tanya Alessa yang melihat wajah lesu kepala divisinya.
Andre mengangguk sebagai balasan. "Ya, saya baik."
Alessa mengangguk-angguk mendengar jawaban dari kepala divisinya itu. Tak ingin kembali bertanya, mungkin kejadian semalam menjadi jawabannya. Karena baru Andre yang datang, Alessa harus menunggu staf yang berjaga pagi agar ia bisa pulang.
Tak menunggu lama, beberapa staf datang. Ada Bu Liana, Bu Rima dan Bu Warni sebagai Apoteker, dan empat asisten apoteker yang baru saja datang, termasuk Refa. Melihat shift jaga pagi yang telah lengkap, Alessa memutuskan untuk pulang.
"Semuanya, Alessa pulang dulu ya."
"Iya, Alessa hati-hati."
"Iya Mbak, hati-hati di jalan."
"Baik-baik di jalan, Alessa."
"Okay." Alessa mengacungkan jempol, kemudian lekas pergi dari ruang instalasi rawat inap. Hari ini dan besok adalah jatah libur Alessa. Tubuhnya terasa pegal, dan lelah.
Mungkin besok selepas subuh, ia akan berlari-lari di taman sembari menikmati hijaunya daun tertimpa embun pagi. Hari ini Alessa akan beristirahat di kos, karena kemarin telah belanja bahan makanan. Jadi Alessa tak perlu repot-repot untuk mampir di minimarket.
Karena banyak melamun, Alessa melupakan satu hal. "Radit!"
Hari ini adalah jadwal bocah kecil itu untuk pulang setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit. Dan Ale belum sempat menjenguknya setelah beberapa hari lalu ia menjenguk.
"Kok gue bisa lupa sih!"
Memutar langkah, Alessa bergegas kembali memasuki rumah sakit menuju kamar dimana Radit dirawat. Setidaknya, Alessa harus mengantar Radit pulang atau menemani bocah kecil itu sebelum pulang.
***
"Tante Iva baru dateng?"
Pertanyaan itu terlontar begitu sosok Alessa berdiri di ambang pintu kamar Radit. Bocah itu tampak membaik setelah perawatan selama beberapa hari. Radit duduk anteng dengan mainan yang kemarin Alessa belikan berada di genggaman tangannya.
Sementara Mbak Yati yang tadinya sibuk membereskan barang bawaan Radit yang bercecer di sekitar ranjang menoleh begitu suara Radit menyapanya.
"Loh? Alessa? Kok kamu kesini?"
"Iya Mbak, Alessa keinget kalo hari ini Radit udah mau check out dari rumah sakit. Mau nemenin Radit sebentar."
Mbak Yati menggeleng heran, "Duh Alessa, harusnya kamu tidak perlu repot-repot datang kesini nemenin Radit. Radit juga sebentar lagi pulang."
"Gapapa Mbak, Alessa baru shift malem kok. Jadi sekalian mau pulang, jengukin Radit dulu."
"Kan, kamu malah mau pulang habis shift malem. Capek pasti. Harusnya kamu pulang, istirahat di kos. Malah mampir kesini."
"Gapapa Mbak. Alessa juga kangen kok sama Radit."
Alessa menghampiri Radit yang menantinya dalam diam. Lewat tatapan matanya, bocah itu terlihat senang dengan kedatangan Alessa. Sedikit terkejut dan bercampur bahagia.
"Masih sakit, gak?"
Radit menggeleng sebagai respon. Bocah itu tampak menggemaskan dengan pipinya yang gembul. "Tante kenapa baru kesini? Kemarin Radit nungguin Tante." Ujar Radit mengerucut kesal.
"Maafin Tante ya, kemarin Tante sibuk. Jadi tidak sempat jengukin Radit. Makanya tadi, Tante buru-buru ketemu Radit sebelum Radit pulang."
"Tante ikut Radit pulang ya? Main sama Radit."
Alessa diam, melirik ke arah Mbak Yati yang memperhatikan interaksi keduanya dalam diam. Mencoba tersenyum manis, Alessa mengelus rambut Radit penuh kasih sayang.
"Maaf Radit, Tante sibuk. Jadi Tante tidak bisa ke rumah Radit. Lain kali ya, Tante main ke rumah Radit."
Senyum penuh harapan seketika menghilang dari wajahnya yang menggemaskan. Radit tampak lesu mendengar jawaban dari Tantenya yang tidak ikut serta pulang ke rumahnya.
"Tante kenapa sekarang sibuk terus? Sampek ndak bisa main sama Radit?"
"Radit kangen sama Tante Iva. Radit jarang ketemu sama Tante Iva, selalu ketemu sama Tante Iyah. Di rumah Nenek adanya Tante Iyah, Tante Iva ndak ada. Di sini, ndak ada Tante Iyah, ada Tante Iva, tapi Tante Iva sibuk."
"Radit..." Alessa tercengang mendengar ucapan bocah kecil itu.
Mbak Yati mengambil alih situasi, ia mengelus punggung putra kesayangannya itu. Dengan kalimat lembut dan penuh pengertian, Mbak Yati menenangkan hati Radit.
"Radit, Tante Iva lagi sibuk persiapan hadiah buat dedek bayinya Tante Iyah, nanti kita main sama-sama ya, sama dedek bayinya Tante Iyah sama Tante Iva juga. Radit jangan kalah sama Tante Iva nyiapin hadiah buat dedek bayinya Tante Iyah. Nanti Mama bantuin cari hadiah yang paling bagus!"
Rautnya yang tertunduk lesu kini terangkat mendengar cerita dari Mamanya. Binar - binar di sepasang matanya yang lucu kembali bersinar.
"Bener Ma?"
"Iya dong! Nanti Mama bantuin Radit cari hadiah buat dedek bayinya Tante Iyah. Tante Iva juga lagi sibuk nyari hadiah buat dedek bayinya."
"Emang dedek bayinya udah keluar dari perutnya Tante Iyah?"
"Dedek bayinya belum keluar Sayang. Sebelum keluar, kita cari hadiah buat dedek bayinya sebagai ucapan selamat datang. Nanti Radit bisa main sepuasnya sama dedek bayi kalo udah besar."
Radit tampak berpikir dengan jari telunjuk di atas pelipisnya, "Dedek bayinya belum bisa main sama Radit ya, kalo udah keluar?"
Mbak Yati menggeleng, "Belum bisa dong Sayang, makanya nanti Radit ajarin cara bermain ya? Mainan Radit kan banyak, nanti bisa main bareng sama Radit."
Radit mengangguk semangat, "He'um! Mainan Radit banyak! Nanti Radit ajarin cara main!"
"Pinter Kakak Radit! Sekarang manggilnya Kakak, kan Radit mau punya dedek."
"Kakak Radit? Gitu, Ma?"
"Iya, Kakak Radit."
Alessa memperhatikan interaksi Mbak Yati dengan Radit. Begitu mudah Mbak Yati menenangkan Radit yang tadinya murung karena penolakan Alessa untuk bermain bersama Radit. Interaksi antara ibu dan anak yang selalu Alessa bayangkan akan ia rasakan nanti. Namun, semua hanya bayangan semu Alessa.
Radit tertawa penuh gembira, "Asyik! Radit punya dedek! Kira-kira dedeknya Radit cewek apa cowok ya, Ma? Radit pengennya cowok biar bisa main bola sama Radit!"
"Kan Radit biasanya main bola sama Papa."
Radit menggeleng tak suka, "No! Radit tidak suka! Papa payah!"
Mbak Yati tertawa mendengar penolakan Radit, memang Papanya Radit tidak bisa bermain bola. Hanya demi Radit, suaminya itu mau untuk menonton tehnik - tehnik memainkan bola agar Radit senang. Tapi, tetap saja, permainan bola antara Papa dan anak itu berakhir dengan Radit yang kesal karena Papanya tidak bisa bermain.
"Papa masih belajar Sayang. Radit kan udah jago, Papanya di ajarin. Gimana cara main bola yang benar, biar Papa tau cara mainnya."
"Harus! Papa harus bisa! Masa main sama Radit, Papa kalah terus! Gak asyik!"
"Ya sudah. Kita beres-beres pulang, yuk. Nganterin Tante Iva juga. Kasihan loh, Tante Iva abis kerja jengukin Radit."
Pandangan bocah kecil itu tertuju pada Alessa yang menatap dalam-dalam. "Tante Iva habis kerja?"
Alessa menunjukkan senyum manis, "Iya Radit. Makanya Tante cepet-cepet kesini buat jengukin Radit."
"Tante Iva pasti capek. Maaf ya, Tante, Radit ndak tau Tante Iva capek kerja."
Alessa mengelus surai lembut milik Radit, "Tidak apa-apa Radit. Capek Tante selalu hilang ketika Radit tersenyum."
"He'um! Radit tersenyum!" Bocah kecil itu menunjukkan gigi susunya yang masih utuh dengan senyum yang lebar. Alessa dan Mbak Yati tertawa melihat tingkah Radit.
"Halo! Semuanya! Sudah siap kita kembali ke rumah?" Suara penuh semangat yang baru saja datang mengalihkan perhatian ketiganya.
"PAPA!" Teriak Radit tak kalah semangat.
"Jagoan Papa susah sembuh ya? Siap untuk pulang, kapten?"
"Siap!"
"Baiklah! Kita meluncur!"
"Woaaahhhh!" Radit tertawa begitu Mas Yuda menggendong Radit layaknya pesawat. Bocah itu tampak senang dengan apa yang Papanya lakukan. Sebelum keluar dari kamar, Mas Yuda memberi tanda pada Mbak Yati untuk segera menyusul ke parkiran.
"Mbak,"
Alessa memanggil Mbak Yati penuh rasa tak enak hati. "Maafin Alessa ya Mbak, selalu ngrepotin Mbak Yati sama Mas Yuda."
"Alessa..." Mbak Yati mengelus pundak Alessa dengan lembut, "Mbak dan Mas tidak merasa direpotkan sama sekali. Justru kami senang bisa membantu Ale."
Ale menunduk dalam diam, "Soal tadi, Ale,--"
"Alessa... Tidak apa-apa. Jangan khawatirkan Radit, dia masih belum bisa mengerti. Pelan-pelan Mbak akan kasih pengertian ke dia."
"Terima kasih Mbak, Alessa gak tau gimana jadinya kalo enggak ada Mbak Yati disini."
Mbak Yati tersenyum, lantas memeluk Ale singkat. "Sama-sama Alessa."
Mbak Yati memberi jarak setelah melepas pelukan singkat keduanya, "Sesuai apa yang Mbak bilang ke Radit ya? Kamu harus pulang ke rumah." Ujar Mbak Yati dengan senyuman terpatri.
"Alessa akan coba, Mbak."
Mbak Yati mengangguk mengerti, "Ya sudah, ayo kita pulang. Mas Yuda sama Radit pasti udah nungguin di parkiran."
"Iya, Mbak."
"Nanti bareng aja ya? Kamu ndak bawa motor kan?"
Alessa menggeleng, "Enggak kok Mbak, Alessa gak punya motor."
"Loh? Yang kamu bilang itu?"
"Itu pinjem punya temen Alessa." Kata Ale meringis pelan.
"Kamu ini." Mbak Yati menggeleng sabar, "Lain kali, kalo kamu butuh motor, Mbak sama Mas Yuda bisa bantuin. Di rumah ada motor yang enggak di pakai, bisa kamu bawa jalan-jalan."
"Terima kasih Mbak, tapi Alessa lebih suka naik angkutan umum atau jalan kaki. Lagian kos-nya Alessa deket kok." Alessa menolak dengan halus.
"Iya, lain kali kalo butuh sesuatu bilang ya? Atau Alessa langsung dateng ke rumah aja."
"Pasti Mbak."
***