FransAle XIII | Sosok Presdir yang Masih Misteri

2213 Words
"Maaf, Pak. Ada Bu Claria di dalam menunggu Bapak." "Mama?" Gumam Frans. Kemudian ia melihat sekretarisnya itu mengangguk, "Terima kasih Lani, lanjutkan pekerjaan mu." "Baik Pak." Selepas Frans kembali dari rapat para petinggi rumah sakit, Frans tak menyangka Mamanya akan datang menemuinya di rumah sakit. Mamanya tak mengatakan apapun, bahkan tak mengiriminya pesan jika beliau akan datang. Menghela napas lelah, sebenarnya Frans ingin beristirahat setelah ini. Namun, karena Mama yang datang, semuanya pasti tak akan berjalan lancar. Entah apa yang Mamanya inginkan. "Ma." Panggil Frans begitu pintu ia buka. Mama Claria yang duduk sofa seketika mengangkat pandangannya melihat ke arah pintu masuk. Putranya datang dan menghampirinya. Mama Claria bangkit dan menuntun putranya untuk duduk di sofa. "Mama dengar kamu bekerja keras sekali untuk rumah sakit ini." Frans diam dalam duduknya, mendengar apa yang akan Mamanya sampaikan. "Kamu tau kan, Frans. Betapa kerasnya usaha Papa dan Mama mempertahankan rumah sakit ini? Dan kamu sebagai penerus selanjutnya begitu gigih mempertahankan rumah sakit ini." "Sedikit Mama tau, kamu lagi usut kasus soal selisih obat yang mahal kan?" "Mama tau dari mana?" Frans bingung, pasalnya ia melakukan penyelidikan secara diam-diam. Tak hanya harga obat yang menyeleweng dari harga seharusnya, banyak penyelewengan harga yang tidak sesuai dengan barang yang di terima. Dan itu berjalan nyaris satu tahun. "Mama tanya Andre, sahabat kamu." Memutar bola matanya kesal, pria itu memang tak bisa diajak kerja sama. Ia meminta penyelidikan ini dilakukan secara rahasia, karena masih menjadi asumsi. Dan mereka harus menemukan bukti untuk mempererat asumsi Frans. Selagi Frans belum menyatakan menjadi Presdir secara resmi, Frans masih bisa melakukan penyelidikan kedua tangannya sendiri. "Ini masih asumsi Frans, Ma. Frans masih mencari bukti yang lebih akurat." Ujar Frans. Mama Claria tersenyum bangga, "Terima kasih Frans, kamu sudah bisa menjadi putra yang Mama banggakan. Papa pasti senang melihat mu menjadi putra kebanggaan keluarga." Mendengar pujian Mamanya, Frans hanya menampilkan senyum segaris yang hambar, tanpa rasa apapun. "Iya Ma, Frans akan berusaha menjadi yang terbaik." "Kalau begitu, segera Mama minta kamu untuk mengesahkan status kamu menjadi Presdir di rumah sakit ini." Frans menatap dengan tatapan protes, "Ma, tidak bisa secepat itu. Frans masih memerlukan bukti untuk asumsi Frans." "Kamu akan lebih memiliki banyak akses ketika semua staf rumah sakit tau jika kamu putra Mama, penerus rumah sakit Santa Claria." "Dan tentu saja, itu akan mempermudah kamu menangkap siapa yang telah melakukan kecurangan dalam rumah sakit keluarga kita." "Mama sudah menjadwalkan acara pengangkatan kamu menjadi Presdir secara resmi." Frans terkejut, "Ma!" "Kenapa Mama tidak bilang ke Frans dulu?!" "Kamu masih banyak pekerjaan, Frans. Jadi Mama mau meringankan pekerjaan putra Mama." Mati-matian Frans menahan emosi yang ingin keluar. Mengontrol sekuat tenaga agar ia tak mengeluarkan kalimat yang menyakiti Mamanya. Hingga akhirnya keterbungkaman Frans yang pria itu pilih. "Terserah Mama." Kata Frans pada akhirnya. "Frans ada urusan, kalau sudah selesai Frans akan minta seseorang mengantar Mama pulang." "Tidak perlu Frans, Mama bisa naik taksi." Cegah Mama Claria. Melihat putranya yang begitu sibuk, Mama Claria memilih untuk pergi. "Mama pulang dulu ya, untuk urusan pengangkatan Presdir secara resmi nanti Mama akan kabari kamu secepatnya." Frans mengangguk dalam diam. Menerima apa yang Mamanya lakukan padanya. Setelah Mamanya keluar dari ruangannya. Frans meninju tembok melampiaskan kekesalannya. "ARGHH!! SIAL!" Rasa emosi tertahan yang begitu menyiksa Frans. Ia membenci sikap Mamanya, namun ia berusaha tidak menyakiti perasan Mamanya. Posisinya sungguh menyakitkan untuk Frans. *** Pintu terbuka dengan tergesa dari luar, hal tersebut tak mengalihkan pandangan Frans dari berkas di tangannya. Pria yang baru saja datang itu langsung menghampiri Frans. Tak perlu menunggu instruksi atau ijin dari sang pemilik ruangan, ia duduk di kursi. "Ini di luar rencana gue." Mendengar perkataan dari sahabatnya, Frans meletakkan berkas yang belum selesai ia periksa di atas meja. "Tetep cari informasi." "Lo mau kita selidiki kasus ini secara diam-diam?!" Kata Andre. Pria itu datang dengan raut terkejut, ketika ia mendengar acara pengangkatan Presdir yang baru akan di laksanakan secara resmi. Andre tidak menyangka, keputusan diambil begitu cepat. Situasinya sungguh berbeda dengan awal kedatangan Frans di rumah sakit. Jika kemarin-kemarin Frans masih bisa menunggu dengan santai, kini ia dan Frans harus memutar otak untuk mencari pelaku atas hilang dan melonjaknya harga obat. Status Frans tentu akan menyulitkan rencana yang Andre susun untuk mendapat data yang sebagian hilang. Mungkin disana Andre menemukan sesuatu hilang yang ia cari. "Ya. Gue mau Lo selidiki kasus ini hingga tuntas." "Terus Lo?" "Jangan pikirin gue. Selesein pekerjaan yang gue kasih ke Lo," "--Dan gue mau, penyelidikan masih tetap di lakukan secara rahasia. Jangan melibatkan banyak orang, tidak akan aman." Tambah Frans. "Gue paham." "Bagus." Kini ekspresi Andre lebih lega dari sebelumnya, ia hanya khawatir dengan apa yang nanti akan terjadi begitu penyelidikan dilakukan secara terbuka. Akan banyak pertentangan terjadi, terlebih lagi, beberapa anggota keluarga besar Frans terlibat dalam masalah ini. Semalam, Andre yang terpaksa memeriksa semua data harus begadang hingga mati. Dengan mata terkantuk-kantuk, Andre membaca satu persatu kertas yang ia buka selembar demi lembar. Satu nama yang tertera sebagai penerima obat mengagetkan Andre, dimana seharusnya tertulis petugas gudang di ganti dengan Kepala Penanggung Jawab Unit Gawat Darurat. "Ini beneran?" Andre benar-benar tak percaya dengan apa yang ia temukan. Frans mengalihkan perhatian begitu mendengar suara tak percaya Andre, "Kenapa?" "Frans..." Andre mengangkat pandangan, memberikan tatapan terkejut di matanya. "Apa yang Lo temuin?" "Sepupu Lo pernah nerima obat sebagai penanggung jawab penerima." "Apa?" Frans kian yakin, tak hanya satu. Mungkin beberapa saudara besarnya terlibat dalam masalah ini. Ia tak bisa mengungkap pelaku dengan cara gegabah. Frans harus menyusun rencana, semakin sedikit orang yang menyelidiki, tentu masalah tak akan bocor keluar. Frans menatap Andre, mengisyaratkan sesuatu dalam tatapan matanya. "Gue mau minta satu hal sama Lo." Frans menjeda kalimatnya. Andre menunggu dengan sabar. "Jangan sampai si pelaku tau ada yang mencurigai. Cari lebih banyak lagi dan selidiki berapa banyak mereka menghabiskan dana yang mereka korupsi." Andre mengangguk, "Oke. Gue akan selidiki masalah ini diam-diam." Perbincangan semalam tertunda karena waktu yang begitu cepat, Andre meminta tidur sebentar dan Frans yang melanjutkan pekerjaan Andre. Pikirannya tak tenang meninggalkan pekerjaan yang belum selesai. "Btw, Tante Claria nuntut Lo mempercepat peresmian?" Tanya Andre memecah ingatan Frans semalam. "Bukan nuntut, tapi emang Mama ngelakuin semuanya sendiri. Gue tinggal terima beres." Ujar Frans. "Enak banget sih jadi Lo." Frans mengangkat pandangan, "Balik ke divisi Lo." "Ck! Ngobrol bentar aja suruh balik!" "Ini jam kantor, Andre." Kata Frans memperjelas. "Gue gak mau Lo makan gaji buta." Tambah Frans. Andre merengut kesal, "Tau aja sih Lo! Gue pengen makan gaji buta! Capek gue kerja ngintil orang." "Andre, keluar." "Iya, iya. Bawel banget sih Lo!" Andre keluar dari ruangan Frans. Pria itu sama sekali tak ingin di ganggu dalam jam kerja. Pria yang terlalu gila kerja, Andre akan sangat merasa kasihan pada wanita mana saja yang akan Frans sukai. Nyaris seluruh waktu yang Frans miliki, pria itu habiskan untuk pekerjaannya di rumah sakit. Bahkan Andre ragu, jika Frans memiliki kekasih di luar sana. "Bodo amat lah. Ngapain gue mikirin Frans, gue aja gak punya pacar!" Setelah mengatakannya, Andre melenggang pergi kembali ke ruang instalasi rawat inap. *** "Mana sih undangannya?" Gadis berhijab itu memberikan undangan persegi kepada Refa yang baru selesai mengantar obat dari kamar perawatan. Begitu ia tiba di ruang instalasi rawat inap, semua orang yang berada di sana heboh membicarakan pengangkatan secara resmi Presdir yang sampai saat ini belum terpublikasi. "Farah kepo deh, gimana Presdir kita yang baru? Yang katanya anaknya Bu Claria itu. Orangnya baik atau enggak ya?" Farah ikut nimbrung. "Apalagi undangan ini hanya di hadiri oleh perwakilan semua divisi, artinya privat banget." Rahayu menambahkan komentar. "Secara spesifik gue belum kenal sih, tau mukanya aja belum." Komentar Refa. "Orangnya baik kok." Celutuk Bu Liana. Celutukan Bu Liana membuat para gadis yang asyik mengobrol itu menoleh, "Seriusan Bu?" "Iya. Pak Presdir kita itu orangnya baik. Ibu pernah ketemu sama Pak Presdir. Selain ganteng, ramah juga. Tapi wataknya agak keras dan disiplin." Tambah Bu Liana. "Bu Liana dapet info dari mana deh. Kan baru ketemu sekali, siapa tau aslinya enggak begitu." Refa tak percaya mendengar pujian Bu Liana. "Untuk sifat asli, Ibu sendiri tidak tau ya, anak-anak. Tapi Ibu yakin, kalo kepemimpinan Presdir kita yang baru akan membawa dampak positif untuk rumah sakit. Semoga saja, dan jangan lupa untuk mendoakan yang terbaik." Rahayu dan Farah mengangguk, "Siap Bu Liana!" Berbeda dengan respon Refa yang diam. Ada sesuatu janggal yang ia rasakan, entah apa itu. Memikirkan perasaan hatinya yang sentimental secara tiba-tiba, membuat Refa gelisah. Senggolan di bahunya membuat Refa tersentak dari lamunannya, ia menatap bingung Farah yang tampak kesal. "Dari tadi Farah panggilin, diem aja sih!" "Apasih Bocil?" Kata Refa pada Farah. Karena Farah adalah staf terakhir yang masuk dan masih muda. Baru lulus sekolah D3 ia di terima bekerja langsung di rumah sakit Santa Claria, apalagi suaranya yang cempreng menggemaskan. Membuat Refa memanggilnya dengan sebutan 'Bocil'. "Farah bukan Bocil, Mbak!" Protes Farah. "Mbak Rahayu! Denger suara anak kecil lagi ngambek gak?" "Mbak Refa!" Refa tertawa lepas mendengar Farah yang kian kesal karena aksinya. Sedangkan Rahayu menggeleng kepala tak habis pikir. Kelakuan jahil Refa sangat berbanding terbalik dengan usianya yang berada di akhir dua puluhan. "Haduh! Sudah-sudah! Kalian kok malah ribut sih?" Rahayu menenangkan situasi jahilan Refa pada Farah. Kemudian Rahayu memberikan sekeranjang berisi kertas pada keduanya. "Tuh kerjain tugasnya! Bunda-bunda apoteker menunggu kalian!" Farah dan Refa menerima keranjang kecil itu, kemudian melihat Rahayu melengos melewati keduanya. "Mbak Rahayu mau kemana?" Tanpa membalas, Rahayu menunjukkan troli berisi kresek obat-obatan. Dengan santainya ia berjalan keluar instalasi. Melambaikan tangan, Rahayu berkata, "Bye-bye semua! Tungguin aku kembali ya?" "Dihh!" "Mbak Rahayu curang!" "Emang lagi nyari kesempatan aja tuh." Farah menatap Refa, "Mbak! Mbak Rahayu ngeselin banget. Tadi aja pas longgar gak mau keliling. Giliran resep udah pada dateng, keluar tuh jalan-jalan. Gayanya udah kayak Miss Universe." Farah mendumel dengan begitu cepat. Bukannya terdengar kesal namun nada bicaranya sangat lucu. "Lo tuh ngomong apa sih, Cil!" "Mbak Refa! Farah lagi kesel!" Tak kuat menahan tawa, Refa tertawa kencang. "Yaudah gih! Kerjain tuh resepnya. Cerewet mulu nih Bocil!" "Mbak Refa gak asyik!" "Biarin! Wlee!" *** "Kok mendadak banget sih?" "Bu Claria yang minta secara langsung untuk segera meresmikan putranya sebagai pengganti posisi Presdir. Jadi, mau tidak mau ya, kita sebagai bawahan harus ikut." "Perwakilan kan bisa?" "Iya emang perwakilan, Mbak. Makanya aku kesini." Alessa mengernyit bingung, kedatangan Rahayu ke kost-nya sungguh tak terduga. Rekan satu instalasinya ini tiba-tiba datang dan mengatakan mengenai acara peresmian Presdir baru, dimana kabar ini masih simpang siur beredar di kalangan rumah sakit. Tapi belum juga mendapat klarifikasi dari Bu Claria sendiri selaku Presdir rumah sakit. "Hubungan sama Mbak Ayu ke sini?" "Mbak, besok kan Mbak Ale libur. Perwakilan ya, sama Pak Andre ke tempat acara." "Hah? Aku? Sama Pak Andre?" Rahayu mengangguk, "Iya, sama Pak Andre." "Kok aku sih, Mbak. Besok aku libur loh, kan menikmati waktu libur." Protes Alessa tidak terima. "Iya, mau gimana Mbak? Yang rekomendasi Pak Andre sendiri, saya gak bisa nolak." "Kok bisa Pak Andre yang rekomendasi?" Rahayu menggeleng, "Kurang tau Mbak, intinya Pak Andre minta Mbak Ale buat nemenin di acara peresmian besok. Di gedung Graha Grahita." Ale menekuk wajahnya, "Aku seriusan males banget loh, Mbak. Gak ada yang lain, apa?" Rahayu tersenyum kaku, "Yang minta, Pak Andre selaku Kepala Instalasi, anak-anak pada gak berani menawarkan diri." "Lagian pas juga kan, besok Mbak Ale libur. Jadi bisa nemenin Pak Andre." Rahayu sedikit memaksa Ale di tengah ketidak-sukaanya. "Ini mendadak banget loh, Mbak." Alessa masih tak menyangka waktu liburnya akan ia gunakan untuk urusan rumah sakit, kenapa tidak sekalian pas Alessa masuk kerja? Kan enak, jatah libur Alessa tidak akan terpotong. "Semuanya juga kaget Mbak." "Bisa ya, Mbak? Pak Andre loh yang pilih Mbak Ale langsung." Alessa pasrah, mengambil napas panjang. Kemudian menghembuskan perlahan, mengurangi kekesalannya yang meronta-ronta untuk menolak. Dengan tertunduk lesu, Alessa mengangguk. Ia setuju untuk datang bersama Pak Andre ke acara peresmian Presdir rumah sakit yang baru. Rahayu mengeluarkan sesuatu dari tasnya, memberikannya pada Ale. Gadis itu menerima dengan wajah bingung. "Ini apa?" "Itu undangan. Harus bawa undangan soalnya tamu di batasi." Alessa menatap kertas tebal berwarna merah maroon dengan kerlip emas dan garis-garis hitam yang menghiasi undangan itu. Tertulis Bu Claria selaku Presdir Rumah Sakit Santa Claria mengundang staf rumah sakit untuk datang merayakan peresmian penggantian Presdir yang baru. Dimana nama dari calon Presdir yang baru masih di sembunyikan. "Iya Mbak, makasih ya udah mau repot-repot dateng ke kos." "Duh, gapapa Mbak. Lagian Pak Andre yang nyuruh saya secara exclusive. Jadi saya mau, soalnya setelah ini saya bisa pulang." Kata Rahayu dengan tawa di belakang kalimatnya. "Enak banget Mbak, bolos dua jam." "Ya gimana lagi, Mbak? Urusan penting." Kata Rahayu masih dengan tertawa. "Mbak Ale, aku pulang dulu ya, Mbak." Kata Rahayu tiba-tiba. "Eh, sampek lupa belum aku kasih camilan. Maaf ya, Mbak." "Gapapa Mbak, aku juga buru-buru. Mumpung bisa di ijinin bolos sama Pak Andre." "Aslinya alasan aja kan?" Rahayu tertawa mendengar tebakan Alessa benar adanya. "Sesekali Mbak." Alessa mengantar Rahayu hingga depan gerbang kosnya. Gadis itu memakai motor matic andalannya yang selalu ia bawa ke rumah sakit. Alessa melambaikan tangannya, "Hati-hati Mbak." Rahayu membalas dengan acungan jempol, kemudian gadis itu pergi meninggalkan pelataran kos. Alessa masih mengawasi dari depan gerbang hingga punggung Rahayu menghilang di belokan. Berbalik, Alessa menutup gerbang dan kembali memasuki kosnya. Ia ingin istirahat sekarang, menghabiskan waktunya untuk tidur sebelum besok ia tak mendapatkan jatah liburnya untuk tidur. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD