Aluna baru saja sampai di kubikelnya selepas kembali dari pantry. Menenteng secangkir teh manis hangat di tangan kanan dan menaruhnya di atas meja, bersisian dengan setumpuk kertas yang tersusun apik. Aluna lantas duduk untuk menghidupkan layar monitor seraya bersendang dagu.
Sejak pertengkaran malam tadi, Aluna sama sekali tak menghubungi Bima, begitu pun sebaliknya. Aluna berpikir hal terbaik untuk saat ini hanya merenungi kesalahan masih-masing seraya menguasai waktu untuk diri sendiri. Bukan ide bagus untuk saling bertemu tatap dengan Bima pada saat ini—dalam waktu dekat ini—mengingat pertengkaran malam tadi di mana emosi keduanya sama-sama tersulut, sama-sama ingin menang sendiri, sama-sama tak ada yang mau mengalah.
Saat otaknya merasa buntu, kadang Aluna berpikir; Apakah segala yang dilakukannya sejauh ini adalah salah satu cara untuk mempertahankan hubungan mereka? Atau mungkin hanya ... menunda perpisahan semata?
No. Aluna menggeleng pelan selagi menunggu komputernya menyala dengan sempurna. Kacau sudah agenda hari ini. Masih pagi saja pikirannya sudah nge-lag, memorinya penuh dengan urusan pribadi.
“Semangat buat hari ini, ya. Buat para jomlo, semoga kalian dapat pacar pas makan siang nanti.” Gery yang merupakan leader dari team-nya berseru riang seraya bertepuk tangan. “Yuk, ah. Kerja, kerja, kerja!” lanjutnya. Sedikitnya, Aluna terkekeh pelan melupakan segala kekesalan yang bertumpuk.
“Gue masih ngantuk, Ger!” sahut Sesha dari balik kubikelnya.
“Makanya ngopi! Pagi-pagi tuh ngopi, jangan minum s**u. Ya iya, lah, molor!” sahut Gery kesal sendiri. Pria dengan perawakan jangkung yang dianugerahi bacot hobi ceplas-ceplos itu mengangkat sudut bibirnya. “Lagian elo tuh jomlo, malem gak sibuk-sibuk banget, kan? Jadi kalau malem tuh dipakai tidur jangan dipakai ngedrakor!”
Sialan. Apa yang dikatakan si Gery salut malkis yang satu ini memang selalu benar.
“Eh, lo sendiri jomlo, Ger. Nyadar, please!” ejek Sesha bertingkah defensif.
“Sebentar lagi gue bakal jadian sama anak baru di divisi sebelah. Emangnya elo, gebetan juga gak punya, 'kan. Iya kan?”
Anak baru?
Sesha melemparkan tutup pena hingga mengenai ubun-ubun Gery. “Kalista? Anak baru bagian HRD? Emang dia mau sama lo?” Sesha tertawa sarkastik. “Woy, dia cantik banget, bos kita juga bakal suka. Lo bakal kalah. Bego!”
Kalista?
Ah, iya. Sesha sudah bercerita.
Gery mengusap bagian atas kepalanya. “Sakit, bego!”
Selanjutnya, pertikaian antara Gery dan Sesha seakan melebur tertiup angin. Aluna mematung di tempatnya, lantas menghela napas sedalam mungkin.
Kenapa segala kebetulan ini seakan memperkuat keretakan hubungannya?
Perihal karyawan magang baru, Sesha bercerita pada Aluna bahwa seseorang itu adalah Kalista—yang untungnya bekerja di lain divisi. Aluna perlu bersujud syukur di tempatnya, kalau perlu mengadakan acara pengajian untuk merayakan ....? Merayakan keinginan busuknya yang terkabul? Menginginkan Kalista untuk tak menampakan wajah di hadapannya? Bayangkan saja, bagaimana nasib Aluna andai kata Kalista menjadi rekan satu team-nya dalam beberapa hari ke depan? Mungkin ... di minggu selanjutnya ... otaknya hanya sisa separuh.
***
Aluna sengaja pergi lebih awal untuk menyendiri, menghindari segerombol rayap—begitu Aluna menyebut sekelompok teman rese-nya—pada jam makan siang itu. Sadar tidak, sih, kalau sekelompok rayap di sekelilingnya begitu menyebalkan? Mereka berkerumun saat Aluna mempunyai sedikit makanan dan menghabiskannya tanpa memedulikan pemilik sesungguhnya? Ya, memang rayap adalah julukan paling cocok untuk kelompok teman rese-nya itu. Sialnya, mereka tak menyadari bahwa sikapnya itu bisa membuat batin Aluna tertekan.
Siang ini Aluna sengaja pergi ke Festival Citylink, berjalan jauh menuju lantai dua, bersembunyi di sebuah restoran bakmi. Aluna duduk di bangku paling pojok, di area luar restoran yang bersinggungan langsung dengan pemandangan kota Bandung. Ia membuka menu beberapa kali, sekali pun kebingungan memilih makanan apa yang akan ia santap pada jam makan siang ini.
Aluna duduk sendirian di pojok ruangan, di sebuah meja yang terhimpit empat kursi. Salah satunya ia duduki, sementara tiga lainnya dibiarkan kosong. Untunglah suasana restoran saat ini terbilang sepi. Sehingga ia tak perlu iri hati melihat kehangatan pengunjung lain yang makan bersama ... partner? Pasangan? Keluarga?
Salahnya sendiri menghindari segerombolan geng rayap. Iya, kan?
“K-kak ... Aluna?” Seseorang mengejutkannya secara tiba-tiba. “Kakak di sini juga?”
Dia Kalista. Kenapa dia tahu namanya?
Aluna memutar bola matanya sarat kesal. Keluar dari kandang buaya, menuju kandang singa kalau begini caranya. Dewi batin Aluna menggerutu.
“Ah, iya.” Aluna memaksakan senyum, jatuhnya jadi meringis.
Kalista berjalan mendekat, menaruh kedua tangannya di atas meja yang Aluna tempati. “Kebetulan sekali, ya?”
Ini anak mau ngapain, sih?
Aluna mengangguk pelan, masih memperhatahankan senyumnya yang palsu. “Benar. Kebetulan sekali.”
“Boleh aku ikut duduk di sini? Kita makan siang bareng aja, kak. Kemarin kita belum berkenalan, kan?”
Sebelah alis Aluna naik. Heran. Bukannya tadi dia udah tau nama gue? “Oh iya boleh.”
Keduanya duduk berhadapan. Kalista menopang dagunya mengenakan tangan kanan seraya memandang Aluna dengan senyumnya yang palsu.
Tentu saja Aluna risih, setiap geraknya seolah diperhatikan oleh gadis yang bahkan tak dikenalinya. Lantas Aluna menutupi wajahnya dengan buku menu, tak sudi bertemu tatap dengan gadis menyebalkan di seberangnya.
“Kakak pesan apa?” tanya Kalista. Secara serampangan ia menarik buku menu dari genggaman Aluna.
Aluna menggeram, si anjing ini.
“Aku pesan yamin dan air mineral,” jawab Aluna. Mengembuskan napas kasar.
Kalista mangut-mangut tak jelas. “Aku mau kopi aja.”
Kopi? Di restoran bakmi?
“Eh, lupa. Ini restoran Bakmi,” ralat Kalista, tersenyum dibuat-buat. “Aku sering ngopi bareng seseorang, lho,” lanjutnya.
Apa ini? Mau pamer?
Sepertinya Aluna lelah berpura-pura normal di depan gadis sialan ini. “Seseorang siapa, Bima?” tembak Aluna, menopang dagunya dengan tangan kanan.
“Kakak kenal?”
Sudut bibir Aluna terangkat satu. Menurut lo? “Kelihatannya?” Aluna memperhalus ucapannya. Berbanding terbalik dengan batinnya yang menyimpan beribu sumpah serapah.
“Serius, Kak. Kakak kenal?” Kalista masih sok polos, bahkan gadis itu menggenggam tangan Aluna. “Dia perawat mamaku, Kak.”
“Oh gitu?”
Kalista mengangguk seraya tertawa kecil. “Dia baik banget, Kak. Beberapa kali kita ngopi bareng di luar.”
Aluna menatap kalista tanpa ekspresi, melepas halus tangan mereka yang bertaut. “Mau tau dia siapa?” tanya Aluna, menaikan sebelah alisnya.
Kalista mengangguk. “Dia siapa?”
“Dia ... pacarku.”
“Astaga!” Kalista menutup mulutnya rapat-rapat menggunakan telapak tangan. Dari gurat wajahnya, sangat kentara bahwa semua itu hanya sandiwara. “Kakak ... maaf banget, aku nggak tahu.”
Aluna mengibaskan kedua tangannya di udara. “Tidak apa-apa. Bima memang care ke semua orang. Baik itu perempuan ... atau pun laki-laki,” tekan Aluna. Ia menyeret kursinya sedikit lebih maju, tersenyum seraya menopang dagu. “Tak heran banyak di antaranya ... yang sering salah paham.”
Kalista tertawa sumbang mendengarnya. “Benarkah?”
Aluna mengangguk. Mengacungkan jari telunjuk di udara. “Satu lagi,” ucapnya masih belum berhenti. Ia menegakan tulang punggungnya kemudian mengulurkan tangan tangan. “Namaku Aluna. Walau pun kamu tahu namaku ... tapi kemarin kita belum berkenalan, 'kan?”
***
Aluna berjalan menyusuri trotoar menuju halte. Suasana kota Bandung sore itu cukup ramai oleh lalu lalang kendaraan, terlebih pada jam-jam tersebut merupakan jadwal pulang kerja. Ia celingukan ke kiri kanan, lantas menyebrang melewati zebra cross.
Aluna duduk di bangku paling sisi, bersama dua orang lain yang duduk saling berjauhan. Gadis itu terbengong-bengong, menatap lurus suasana kota, sejauh mata memandang. Ingatannya mengenai Kalista membuat tangannya terkepal kuat.
Gadis sialan.
Aluna penasaran, penyakit apa yang diderita Kalista sehingga terlihat doyan mengganggu kekasih orang? Apa dia tidak laku? Rasanya tidak mungkin. Kalista mempunyai paras yang sangat cantik, pipinya tirus, wajahnya oval, tubuhnya tinggi semampai. Berbanding terbalik dengan Aluna yang memiliki pipi bulat, hidung sedikit pesek, d**a rata dan tinggi badan pas-pasan itu.
Kok malah muji-muji dia, sih?
Secara tiba-tiba segerombolan laki-laki bertato, bertopi, berponi lempar datang menghampirinya yang kini duduk sendirian. Mereka berjalan sambil bersiul-siul.
Tunggu.
Ha? Sendiri?
Ke mana dua orang tadi yang duduk bangku ujung? Apa sudah ada yang menjemput?
“Cewek. Kenalan dong!” Segerombol pemuda itu berdiri tepat di hadapannya.
Aluna menengadah memandang ke arah mereka. “Ngapain lo siul-siul?”
Para lelaki itu tertawa-tawa. “Woah, galak amat. Bagi nomor, dong.”
“Ogah. Dasar jamet!” Aluna mendesis. Suasana hatinya semakin buruk.
“Sok cantik pisan, euy, si teteh.”
“Emang cantik. Emangnya lo yang kumel.”
Mereka—segerombolan lelaki itu—tertawa semakin kencang. Masih tetap berdiri seraya menggoda Aluna. “Nyadar tah s**u rata,” ucap salah satunya.
Apa?
Aluna mendongak dengan mata berapi-api. “Bilang apa lo barusan?”
“s**u rata,” ucap mereka serempak, diakhiri dengan gelak tawa.
“Anjing.” Aluna berdiri, lantas melayangkan bogeman pada salah satu di antaranya. “Kurang ajar lo!”
“Woooaahhh,” sorak mereka serempak. “Kalau gak mau digodain pakai baju yang tertutup, Neng. Kita juga nggak buta. Nyari calon istri mah yang solehah. Modelan begini mah buat main-main doang,” sahut pemuda dengan telinga penuh tindik. Diakhiri gelak tawa lagi. Anjing, sok bener.
Aluna mendesis sebal. “Ngaca, lo. Mana ada istri solehah mau kawin sama jamet macam kalian ini?” ucapnya sarkas, kembali melayangkan bogeman ke udara untuk sekadar mengancam. Mereka mengangkat tangan, berpura-pura takut. “Bukan gue yang harus ubah penampilan, tapi mata lo pada yang harus dijaga,” lanjut Aluna masih berapi-api.
Suara klakson membuyarkan pertikaian. Aluna menoleh dan melihat seseorang menurunkan kaca mobil. Sepasang alis Aluna bertaut saat seseorang itu melongokan kepala ke luar. “Lun, masuk!” Seseorang itu mengendikan kepala meminta Aluna masuk ke mobilnya.
“Kak Yudistira?”
“Hem. Masuk cepetan.”
Aluna melangkah melewati para jamet yang kini menatapnya serentak. “Apa lo pada?” tanyanya galak seraya mengacungkan bogem di udara. Para jamet itu terjengat mundur, saling senggol satu sama lain, lantas berlalu pergi.
Dalam langkahnya, Aluna menyeringai, merasa menang. Ia menghampiri Yudistira dan berhenti di depan pintu mobil. “Habis dari mana, Kak?”
“Kerja, lah.”
“Oh iya.” Aluna menggaruk kepalanya seraya nyengir polos. Lantas membuka pintu mobil dan duduk di samping bangku kemudi. “Kebetulan banget. Aku lagi diganggu para beruk dekil itu, lho, Kak.”
Gerimis mengguyur kota Bandung saat Yudistira melajukan kembali mobilnya seraya terkekeh. “Beruk dekil? Ada-ada aja kamu.”
“Iya ngeselin banget. Mana ngatain dadaku rata lagi,” cerocosnya polos.
Mendadak Yudi menjadi salah tingkah. Ia melempar muka ke jendela seraya terbatuk kecil. Sumpah, ya. Gimana sih rasanya ngomongin t***k sama calon adik ipar?
“Padahal aku pakai beha yang busanya gede, lho, Kak,” lanjut Aluna. Sialan memang. Kepolosan Aluna berada di level langit ke tujuh. Dekat dengan surga.
Yudistira kembali terbatuk, lantas mengusap wajahnya seraya meringis kecil. Kali ini ia menatap wajah Aluna seraya tertawa sumbang. “Gitu, ya?”
Aluna mengangguk. “Harganya lumayan mahal lagi.”
Yudistira terkekeh, antara lucu dan aneh. Apakah pembicaraan Bima dan Aluna sering sejauh ini? Sialan, Yudi jadi penasaran. “Berapa ... harganya?” tanya Yudi seraya menggosok hidung. Tanda gugup.
KAN KAN KAN! Penasaran juga dia.
“Enampuluh ribu.”
Enampuluh ribu? Mahal? “Murah, dong?”
Aluna mengibaskan tangannya di udara. “Aku biasa beli beha seharga duapuluh ribu, Kak. Enampuluh ribu itu tiga kali lipatnya. Bisa-bisanya Kakak bilang murah.”
Yudi tertawa kencang dibuatnya. “Iya maaf.”
Aluna mendengkus. “Ini lagi. Adik kakak sama saja.”
Sepasang alis Yudi bertaut. “Sama saja bagaimana?”
“Sedikit-sedikit maaf. Bima selalu meminta maaf, tapi sering mengulang kesalahan. Seperti tadi malam contohnya.” Aluna menyandarkan punggungnya di balik kursi. Wajah ceria itu berubah berganti gurat kekesalan.
Yudistira melirik Aluna sekilas dengan mimik penasaran. “Apa kalian sedang bertengkar?”
hayolohhh... kalian suka Bima atau Yudistira?