Ponsel Bima terus berdering di dalam saku. Mungkin saat ini sudah kebasahan akibat rintik-rintik gerimis. Bima tak peduli, yang ia inginkan hanya cepat-cepat sampai ke stasiun dan bertemu dengan Aluna. Setidaknya, ia ingin menyampaikan beberapa kalimat perpisahan. Dua tahun menjalin hubungan bersama. Suka duka dirasakan berdua. Bima tak bisa melewatkannya begitu saja. Bima tak sanggup kehilangan Aluna begitu saja. Tanpa sadar, air matanya menggenang di pelupuk, membuatnya terasa perih akibat terpaan angin. Bima memarkirkan motornya. Berlari menuju ruang informasi. Atensinya celingukan, mencari sosok Aluna. Mata Bima menatap sesosok perempuan dengan rambut panjang berjalan menuju ruang tunggu. Perempuan itu menarik koper, melenggang anggun membelakanginya. Segera Bima berlari menghampiri

