Kak Farrel ...?
"Jangan pergi, Kak ... aku nggak bisa kalau nggak ada Kak Farrel."
Jemari mungil itu mencengkeram ujung jas hitam Farrel dengan keputusasaan yang menyayat hati.
Di bawah rintik hujan pelataran rumah mewah keluarga Rivanno, malam perayaan ulang tahun Asmara yang keenam belas itu berubah menjadi panggung penyiksaan paling kejam bagi Farrel Adrian Rivanno.
Farrel menunduk, menatap wajah gadis remaja di hadapannya yang basah oleh air mata. Aroma vanila manis yang menguar dari tubuh Asmara bercampur dengan dinginnya udara malam, menusuk langsung ke sisa-sisa kewarasan Farrel.
Ada dorongan gila di dalam dadanya, hasrat liar untuk merengkuh tubuh bergetar itu, menyembunyikannya dari dunia, dan memilikinya seutuhnya.
Namun, akal sehatnya berteriak nyaring. Asmara adalah putri kandung Andre Rivanno. Pria yang memungutnya dari panti asuhan, memberinya nama yang dihormati, memberinya keluarga utuh yang mencintai dan menyayanginya setulus hati, juga mendidik dan menjadikannya manusia seperti hari ini.
Mencintai Asmara adalah sebuah dosa dan pengkhianatan paling j*****m yang akan dia berikan pada kedua orang tua angkatnya, dan itu yang Farrel hindari sebagai balasan atas utang budi keluarga ini.
Dengan rahang mengeras dan napas yang tertahan, Farrel mengangkat tangannya yang sedikit gemetar. Bukan untuk membalas pelukan Asmara, melainkan untuk melepaskan paksa cengkeraman tangan gadis itu dari jasnya secara perlahan, tetapi pasti.
"Kakak harus pergi, As. Masa depanku ada di London," ucap Farrel. Ia memaksakan suaranya terdengar sedingin es, membunuh setiap getar emosi di pita suaranya agar terdengar rasional.
"Tapi kenapa tiba-tiba? Kakak bahkan nggak pernah bahas ini sama aku!" Asmara terisak, dia melangkah maju mencoba meraih tangan Farrel lagi.
"Kak …."
Farrel mundur satu langkah. Menciptakan jarak yang terasa bagai jurang pemisah ribuan kilometer. Ia menatap Asmara untuk terakhir kalinya, membiarkan pandangan terluka gadis itu menghancurkan hatinya hingga tak bersisa.
"Berhentilah bersikap kekanak-kanakan. Belajarlah hidup tanpa aku."
Tanpa menoleh lagi, Farrel berbalik dan masuk ke dalam kabin mobil BMW hitam yang sudah menunggunya. Ketika pintu mobil dibanting tertutup dan mesin menderu membelah badai hujan, Farrel menyandarkan punggungnya ke jok, memejamkan mata erat-erat saat dadanya terasa hancur lebur.
Ia melarikan diri. Bukan demi takhta atau karier, melainkan demi menyelamatkan Asmara dari perasaannya sendiri.
Setidaknya, berilah aku waktu untuk membunuh perasaan terlarang ini, batin Farrel nanar.
Enam tahun kemudian ....
"Bro, gue jemput lo dari bandara bukan buat liatin muka lo doang."
Farrel Adrian Rivanno tidak langsung merespons. Jarinya yang panjang mengetuk permukaan gelas kaca berisi air mineral dengan ritme tenang, amat kontras dengan gemuruh di sekitarnya. Dia mengangkat gelas itu, menyesapnya tanpa minat.
"Aku juga nggak minta dijemput," sahut Farrel, suaranya bariton, rendah, dan sedingin es.
"Tetap aja." Reno menyandarkan tubuh ke sofa kulit VIP yang empuk, menatap sahabatnya dengan gelengan kepala. "Enam tahun di luar negeri ternyata nggak mengubah apa pun. Lo makin sedingin kulkas, Rel."
Dentuman musik bas yang berat menghantam udara. Lampu-lampu neon fuchsia dan biru safir menari liar di langit-langit klub malam eksklusif di Jakarta Pusat itu. Tawa bersahutan, aroma alkohol premium yang pekat bercampur dengan wewangian parfum mahal yang menguar memusingkan bagi Farrel.
Dia membuang napas pelan, melonggarkan kancing teratas kemeja hitam yang membungkus tubuh tegapnya.
Kesalahan terbesarnya malam ini adalah mengiyakan ajakan Reno. Pria itu adalah sahabatnya sejak awal kuliah hukum, satu-satunya orang yang tahu bagaimana Farrel berdarah-darah meniti enam tahun di London. Dan satu-satunya yang nekat menyeret seorang corporate lawyer yang baru menempuh penerbangan dua belas jam ke tempat bising ini.
"Lo yakin nggak mau minum? Sekali-kali lepas kontrol, Rel. Hidup lo terlalu lurus," Reno memprovokasi, mengangkat gelas whiskey-nya.
"Nggak."
"Cuma sekali. Just one shot."
"Nggak, Reno." Farrel menatap Reno dengan sepasang mata elang yang tajam. Dingin dan tak tersentuh.
Reno mendengus menyerah. Tatapan Farrel kini beralih jatuh pada layar ponsel di atas meja kaca. 11.24 malam. Ada lima panggilan tidak terjawab dari Papa.
Sudut bibir Farrel bergerak membentuk senyum sinis. Enam tahun berlalu, dan Andre Rivanno tetaplah penguasa visioner yang protektif. Jika belum memastikan anak kebanggaannya berada di bawah jangkauan radar, pria paruh baya itu tak akan bisa tidur.
Belum sempat Farrel mengalihkan pandangan, ponselnya kembali bergetar.
Farrel mengusap pelipisnya yang berdenyut sebelum menjawab, "Papa."
"Farrel." Suara berat berwibawa itu terdengar lega. "Kamu di mana? Sopir bilang kamu sudah keluar dari bandara tiga jam lalu."
"Masih di luar, Pa. Ada teman yang menjemput."
"Kamu baru pulang setelah enam tahun malah keluyuran. Pulang sekarang. Papa sama Mama nunggu di rumah."
"Iya, aku pulang sebentar lagi."
Tepat sebelum Andre menutup kalimatnya, terdengar suara kresek pelan, digantikan suara lembut Meilani Rivanno. "Farrel? Ini Mama, Nak."
Suara hangat itu seketika meruntuhkan ketegangan di bahu tegap Farrel. Tatapan sedingin esnya melunak. "Iya, Ma."
"Suaramu kedengaran lelah sekali. Kamu pasti belum makan nasi, kan? Di luar negeri kamu kurus, ya, Nak?"
Farrel mengembuskan napas kecil, binar geli tersembunyi di balik wajah datarnya. "Masa baru dengar suara aja Mama udah tahu?"
"Tentu aja. Ibu mana yang nggak hafal tabiat anaknya?"
Kalimat itu ‘Ibu mana’ menyentil sudut sunyi di hati Farrel. d**a pria itu berdenyut nyeri.
Sejak bayi, Andre dan Meilani mengasuhnya tanpa pembeda dengan si kembar yang lahir belakangan. Namun, kasih sayang tulus itulah yang menjadi beban tak kasatmata di pundaknya. Ia terikat utang budi mutlak pada keluarga Rivanno.
"Cepet pulang, ya," sambung Meilani. "Alzaki juga sampai ketiduran nungguin kamu. Terus, adikmu juga—"
Meilani tiba-tiba berhenti karena dipanggil oleh Andre. Jeda singkat itu sanggup membuat atmosfer di sekitar Farrel mendadak mencekik. Ada ingatan yang sengaja ia kunci rapat di London. Ingatan yang menjadi alasan utamanya melarikan diri enam tahun terakhir.
Rahang tegap Farrel mengeras. Cengkeramannya pada ponsel mengerat hingga buku-buku jarinya memutih. "Iya, Ma," sahut Farrel, menetralkan suaranya yang serak. "Aku pulang sekarang."
Telepon berakhir. Farrel meletakkan ponselnya dengan sedikit hentakan.
Reno di depannya menurunkan gelasnya. "Masih sama? Keluarga lo dari luar kelihatan sangat hangat. Kadang gue iri."
Farrel menatap kerumunan manusia di lantai dansa. ‘Hangat.’ Keluarga Rivanno terlalu hangat dan sempurna, hingga kehangatan itu seperti kobaran api yang membakar oksigen di sekitarnya, membuat Farrel lupa cara bernapas untuk dirinya sendiri.
"Lo bakal balik permanen ke Indonesia?" tanya Reno serius.
“Iya, ada kerjaan dari Papa yang dikasih ke aku,” jawab Farrel santai.
"Nggak nyesel ninggalin karier mapan lo di London? Lo hampir jadi partner di firma hukum terkenal di sana, Rel."
Tanpa diminta, pikiran Farrel melayang pada malam-malam panjang penuh kerja keras di London. Ia sengaja menjadi workaholic agar otaknya terlalu lelah memikirkan rumah.
Namun, sekeras apa pun mencoba, sebagian hatinya tetap tertinggal di Jakarta.
"Rel," panggil Reno. "Lo pernah nyesel nggak? Pergi enam tahun lalu secara mendadak?"
Sesaat, emosi kelam terlihat bergerak di manik mata Farrel. Kilatan gairah, rasa bersalah, dan ketakutan bercampur menjadi satu. Namun topeng dinginnya dengan cepat terpasang kembali. "Nggak."
Bohong. Kebohongan terbesar yang pernah ia ucapkan.
Farrel langsung berdiri, membenarkan letak jas hitam di tubuh tegapnya. "Aku capek, Ren. Aku pulang."
Tanpa menghiraukan protes Reno, langkah panjang Farrel membelah area VIP, meninggalkan dentuman musik di balik pintu kedap suara.
Udara malam Jakarta langsung menyambut begitu ia keluar melalui pintu samping klub yang sepi. Panas dan lembap, tetapi lebih melegakan dari atmosfer pengap di dalam.
Farrel mengendurkan dasi dan membuka dua kancing kemeja teratasnya. Ia mengeluarkan ponsel, mendapati tiga pesan beruntun dari Andre yang menyuruhnya cepat pulang dan memberitahu kalau besok ada makan malam keluarga.
Lagi-lagi sudut bibir Farrel bergerak tipis. Dominan dan tak sabaran. Masih sama.
Ia baru hendak memasukkan ponselnya saat pendengarannya menangkap sesuatu.
BRAK!
Suara bantingan ke tempat sampah besi menghentikan langkah Farrel. Pintu darurat di lorong klub terbuka kasar. Seorang perempuan melangkah sangat goyah di atas sepatu hak tingginya.
Tubuh mungilnya terbalut gaun malam satin marun dengan bolero pendek yang mengekspos lekuk tubuhnya. Rambut panjang menutupi sebagian wajah. Di belakangnya, dua pria berpakaian necis, tetapi berwajah m***m mengikuti sambil tertawa.
"Santai aja. Masih kuat jalan, kan? Lanjut di hotel depan, yuk.” Salah satu pria meraih lengannya lancang.
"Aku mau pulang ... lepas …." suara perempuan itu lirih, serak, penuh keputusasaan.
Insting hukum dan protektif Farrel menyala tajam. Perempuan itu jelas berada di bawah pengaruh sesuatu—alkohol atau obat—dan kedua pria itu berniat memanfaatkannya.
Pria tadi mencoba meraih pinggang perempuan itu secara paksa. Perempuan itu mendorong lemah, kehilangan keseimbangan, dan tubuhnya limbung ke belakang. Siap menghantam aspal keras.
Refleks Farrel bekerja lebih cepat dari otaknya. Dengan beberapa langkah lebar, ia menerjang maju. Lengan kekarnya terulur, menangkap pinggang ramping itu tepat satu detik sebelum menyentuh aspal.
Dan pada detik itu juga ... segalanya berhenti.
Waktu seolah membeku. Aroma vanila manis yang bercampur dengan kehangatan tubuh yang sangat familier menyeruak ke indra penciuman Farrel.
Kulit lembut di balik gaun satin yang bersentuhan dengan telapak tangannya mengirimkan sengatan listrik mematikan ke dadanya.
Farrel membeku. Tidak mungkin. Ini pasti halusinasi akibat kelelahan. Enam tahun di belahan bumi lain seharusnya cukup untuk melupakan rasanya mendekap tubuh ini. Dia tidak habis pikir, kenapa dari jutaan manusia di kota ini, ia harus menemukannya di detik pertama menginjakkan kaki kembali di Jakarta?
"Kak …."
Perempuan di pelukannya bergerak gelisah. Merasa aman dalam dekapan kokoh Farrel, ia mengangkat wajah meronanya perlahan. Rambutnya tersingkap, menampilkan sepasang mata bulat yang kini sayu berair, menatap lurus ke dalam manik gelap sang pria.
Tatapan mereka bertemu di bawah pendar temaram lampu jalanan. Dan detik itu juga, pertahanan enam tahun Farrel runtuh total. Dunianya hancur berkeping-keping hanya karena satu tatapan.
"Kak Farrel ...?" bisik suara parau itu, sebelum seluruh bobot tubuhnya jatuh sepenuhnya ke d**a bidang pria yang diam-diam telah menguasai hatinya.