6 : Belajar Meminta Maaf

1295 Words
“Lili.” Panggilan itu membuat Sheila dan Liliana menoleh. Pagi itu Sheila sedang sibuk mengepang rambut Liliana menjadi dua. Rencananya hari ini Liliana akan kembali masuk sekolah setelah izin sakit cukup lama. Melihat absensi Liliana yang mengkhawatirkan Sheila ragu Liliana akan naik kelas tahun ini. Hanya saja, melihat semangat Liliana untuk kembali ke sekolah membuat Sheila tak tega untuk mengatakan kemungkinan tersebut. Sementara itu, di ambang pintu kamar berdiri Gasendra. Lelaki itu terlihat agak pucat di dalam balutan kaus lengan pendek berkerah dan celana panjang bahan. Rambut Gasendra yang biasanya ditata rapi menggunakan pomade kali ini disisir secara asal saja. Penampilan Gasendra yang kasual membuatnya terlihat 5 tahun lebih muda. “Ada apa, Papa?” Liliana bertanya dengan bingung. Mereka belum baikan sampai hari itu. Suasana canggung masih terasa kental di udara yang Sheila hirup. “Hari ini yang antar sekolah biar Papa saja ya?” Sepasang mata Liliana membola dengan gemerlap antusias. Gadis kecil sejenak melupakan perang dingin yang semula terbentang di antara dirinya dan sang ayah. “Betul Papa yang akan antar?” tanya Liliana ingin memastikan kebenaran dari ucapan Gasendra. Maklum saja selama ini bisa dihitung dengan jari berapa kali Gasendra mengantar dan menjemput Liliana di sekolah. Jabatannya sebagai wakil direktur membuat Gasendra terlalu sibuk sekadar untuk menyisihkan waktu bagi keluarga. Jadilah tawaran tersebut sangat berharga bagi Liliana. Gasendra tidak dapat menahan senyum yang mengembang di bibirnya. Secara perlahan kebekuan yang membatasi dirinya dan Liliana mencair. “Betul. Papa tungguin juga ya sampai jam pulang. Habis itu ….” Gasendra berpikir sebentar. “Kita beli gelato kesukaan kamu. Sudah lama ‘kan kamu enggak makan gelato?” Tanpa mampu dicegah Liliana bersorak senang. Gadis kecil itu melompat dengan gembira seakan baru saja mendapatkan hadiah yang selama ini dinantikan. Sheila dan Layla yang melihatnya ikut tersenyum senang. “Kamu dan Layla juga harus ikut makan gelato bareng aku dan Papa ya,” kata Liliana usai merayakan kebahagiaannya. Sheila mengangguk senang. Pagi itu mereka berempat pergi naik mobil yang sama. Dan untuk pertama kalinya suasana mobil yang Gasendra kendarai terasa begitu ramai dan sarat akan keceriaan. Sepanjang perjalanan Liliana tak henti-hentinya menceritakan tentang tempat dia menimba ilmu kepada Sheila dan Layla. “Nanti kamu akan aku ajari, Layla,” ucap Liliana setelah menunjukkan salah satu buku dongeng berbahasa Inggris. “Supaya kamu bisa lebih pandai.” Layla menatap Liliana dengan harapan yang besar. “Kamu janji yah?” Liliana mengamit jari telunjuk Layla dan berkata dengan riang, “Janji. Asal kamu dan Sheila jangan pergi dari hidupku.” “Emang kenapa kalau nanti aku sama Kakak pergi?” “Aku senang karena Sheila dan kamu datang. Aku jadi enggak kesepian lagi.” Liliana bersandar pada bahu Sheila yang kebetulan duduk di tengah. “Kalau Sheila dan kamu pergi, aku bisa kesepian lagi.” Sheila menyandarkan pipinya pada puncak kepala Liliana dan mengusap lembut lengannya. Gadis sekecil itu pasti melewati banyak rasa kesepian sendirian. Gasendra sebagai satu-satunya wali yang dimiliki agaknya tidak bisa memberikan rasa kasih yang cukup. Gasendra sendiri mendengarkan dengan perasaan campur aduk. Rasanya dia begitu malu sekaligus bersalah karena telah membuat anaknya merasa kesepian. Padahal selama ini Gasendra merasa sudah berusaha untuk memenuhi kebutuhan Liliana. Mainan, kamar yang mewah, dan pakaian yang cantik lagi mahal. Sayangnya, semua hal itu tampaknya tak cukup bagi Liliana. “Kalau Sheila dan Layla pergi masih ada Papa, Lili.” Gasendra menimpali. Dia sempat melirik melalui rear view mirror. Melalui pantulan cahaya itulah Gasendra dapat melihat Liliana yang tampak nyaman melakukan kontak fisik dengan Sheila. “Papa sibuk bekerja. Sheila menganggur dan enggak sibuk apa-apa. Jadi, dia bisa menemani aku.” “Suatu saat nanti Sheila akan punya pekerjaan dan meninggalkan rumah kita.” Liliana terlihat terluka mendengar berita tersebut. Dia menatap Sheila dalam-dalam. “Betul suatu saat nanti kamu akan meninggalkan aku dan Papa?” Sheila mengusap lembut pipi Liliana. Hal yang selalu dia lakukan setiap kali berusaha untuk menenangkan Layla. “Kalau pun nanti saya dapat pekerjaan, saya pasti akan sering-sering datang untuk main sama Nona Lili. Pokoknya saya dan Layla janji enggak akan ninggalin Nona Lili.” Perlahan Liliana tampak tenang. Tanpa diduga dia memeluk Sheila. “Kamu harus memegang janji itu ya, Sheila. I hate liars.” “I promise.” *** “Hati-hati, Layla. Kamu bisa jatuh kalau mengayunnya terlalu cepat.” Gasendra sedikit berteriak ketika mengatakannya. Menjelang siang Gasendra memutuskan untuk menunggu sampai jam sekolah Liliana selesai di taman bermain khusus siswa. Dia tak menunggu sendirian sebab Sheila dan Layla juga ikut bergabung. Sejumlah baby sitter juga ikut menunggu. Sekolah Liliana merupakan sekolah khusus bagi anak-anak yang dianggap tidak bisa memungkinkan untuk mengikuti kegiatan belajar di sekolah reguler. Karena ekslusifitasnya tempat ini juga tidak terlalu ramai. Dari jauh Layla mengacungkan ibu jarinya membentuk gestur tanda setuju. Sementara Layla sibuk bermain ayunan di taman Sheila ikut duduk menemani Gasenda di bench tak jauh dari taman. “Bapak enggak apa-apa?” Sheila mulai bertanya karena merasa tak nyaman hanya diselimuti oleh kesunyian. “Memangnya saya kenapa?” Gasendra menyerngit sewaktu matanya memandang hamparan langit di atas sana. Entah bagaimana cahaya matahari kala itu terasa seperti membakar matanya. Rasa tak menyenangkan kemudian ikut menyusul. Padahal biasanya Gasendra terbiasa terpapar cahaya matahari begini. Apalagi ketika dia harus turun ke lapangan dan mengecek situasi perusahaan di pabriknya secara langsung. “Bapak ….” Sejenak Sheila merasa ragu. “Keliatan sakit. Bibirnya jadi lebih kering. Mukanya juga pucat, Pak.” “I’m fine. Hanya kelelahan saja karena seminggu terakhir saya bekerja terlalu keras.” “Omong-omong sekarang ‘kan weekdays, Pak. Kok Bapak enggak ke kantor?” “Saya ingin meminta maaf pada Liliana. Tapi, yah … rasanya kok susah sekali bilang secara langsung. Jadilah ini bentuk permintaan maaf saya untuk dia, yaitu dengan menyisihkan waktu.” “Lho, gampang kok, Pak. Tinggal bilang, Lili, Papa minta maaf karena sempat membentak dan menarik tangan kamu secara kasar. Papa janji enggak akan begitu lagi. Kalau Papa bohong nanti Papa mimpi buruk terus, deh.” “Haruskah diucapkan juga?” Gasendra bertanya seraya memijit keningnya. Sejak mimisan semalam Gasendra jadi merasakan pening yang datang hilang timbul. Tadinya dia mengambil cuti dengan niat untuk istirahat. Hanya saja, begitu mengingat jika hari ini hari pertama Liliana masuk sekolah lagi setelah izin sakit yang panjang Gasendra mengurungkan niatnya. Sheila mengangguk dengan mantap. “Gini, lho, Pak. Menurut saya cara supaya orang yang kita cintai merasa dicintai salah satunya adalah dengan bilang kalau kita sayang sama dia. Kalau kita enggak pernah mengatakannya, yang ada mereka cuma akan menebak-nebak. Makanya ‘kan dari 5 bahasa cinta salah satunya adalah words of affirmation. If you love them then tell them ‘cause they never know.” Gasendra membuang pandangan. Egonya setinggi langit terlebih lagi dia lahir sebagai anak laki-laki. Pantang bagi keluarga Tanoewidjaya untuk menempatkan anak lelaki yang merupakan lambang kebanggaan pada situasi semacam itu. “Sulit.” Sheila berdecak dengan gemas. “Gampang, Pak. Bapak turunin deh itu ego yang setinggi Gunung Everest. Bilang maaf dan I love you enggak akan bikin harga diri Bapak terinjak kok. Nanti saya ajarin deh pelan-pelan.” Gasendra tidak langsung menjawab karena pada saat itu pula dia melihat Liliana baru saja keluar dari kelas. Liliana melambaikan tangan ke udara. Semula Gasendra mengira jika anaknya sedang melambai ke arahnya sampai akhirnya Liliana berteriak girang. “Sheila! Layla! Aku dapat nilai seratus!” Mendadak Gasendra khawatir posisinya akan digantikan oleh Sheila dan Layla. Sewaktu Gasendra bangkit untuk menyambut Liliana pada saat itu pula Gasendra melihat cahaya di sekitarnya bergerak. Mendadak orang-orang di sekitar bergerak dan membelah diri menjadi dua. Entah apa yang terjadi pada tubuhnya. Hal yang Gasendra ingat adalah sejauh matanya memandang dia hanya cahaya buram sebelum akhirnya gelap lalu tubuhnya lemas. Gasendra kehilangan kontrol atas dirinya sendiri dan jatuh di taman. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD