Sheila terbangun sewaktu mendengar suara deru mobil milik Gasendra. Sewaktu melihat jam waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Perlahan Sheila melongok melalui jendela kamarnya yang memang mengarah langsung ke garasi.
Benar saja. Gasendra terlihat baru saja keluar dari mobil. Lelaki itu terlihat lelah dengan lengan kemeja yang digulung sampai ke siku. Penampilan Gasendra tak sesegar pagi tadi. Entah apa yang dilakukan Gasendra sampai selarut ini.
Terhitung sudah seminggu Gasendra dan Liliana perang dingin. Awalnya Liliana berniat untuk meminta maaf terlebih dahulu, namun melihat sikap Gasendra yang dingin dan seakan menjauh membuat nyali Liliana menciut.
Sheila yang merupakan orang luar tentu saja tidak dapat ikut campur terlalu banyak.
Karena sudah kepalang bangun maka Sheila memutuskan untuk mengambil wudu dan solat. Di saat rakaat terakhir Sheila dapat mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Begitu ibadahnya selesai Sheila dengan inisiatif membuka pintu.
Gerakannya begitu cepat sehingga Gasendra yang berada di balik pintu dibuat terkejut.
“Ya, ampun!”
“Oh, ya ampun!”
Keduanya berteriak secara serentak.
“Kenapa kamu pakai jubah putih-putih seperti itu?” tanya Gasendra heran usai mampu menguasai diri.
“Ini mukena, Pak. Saya habis solat tahajud. Bapak ngapain ke sini?”
Gasendra terlihat tak nyaman sewaktu mengatakannya. “Bisa tolong kamu hangatkan makanan untuk saya?”
Mak Darsiah yang biasanya bertugas untuk melayani Gasendra tentu saja sudah lelap jam segini. Sementara itu, Gasendra yang terbiasa dilayani tentu saja tak terbiasa untuk melakukan pekerjaan rumah tangga sederhana seperti itu.
Sheila buru-buru mengangguk. “Boleh, Pak. Tapi ….”
“Tapi apa?”
“Kalau lagi mumet saya, sih biasanya makan mi instan pake cabe rawit yang banyak sama telor. Itu sih kebiasaan orang-orang dari kelas menengah ke kelas menengah ke bawah ya, Pak. Nah, kalau orang dari kelas menengah ke atas kayak Bapak saya enggak tau mi instan pake cabe rawit sama telor bakal mempan atau enggak.”
“Memangnya saya kelihatan seperti sedang mumet?”
Tanpa ragu Sheila mengangguk. “Di jidat Bapak aja ada tulisannya ‘orang ini sedang mumet jiwa raga’ begitu.”
Gasendra mendengkus geli mendengarnya, namun tak ayal dia tetap menyetujui ide dari Sheila. “Tapi minya janga terlalu lembek. Kalau bisa al dente saja. Lalu, telurnya harus setengah matang.”
Sheila tersenyum senang mendengarnya. “Saya juga mau ya, Pak.”
“Memangnya tadi enggak makan malam?”
“Saya masih lapar, Pak.” Sheila jadi salah tingkah karena Gasendra menatapnya dengan penuh selidik. “Kalau Bapak keberatan karena mi dan telurnya dimakan sama saya, besok saya ganti, deh.”
“Memangnya saya kelihatan sepelit itu sampai sekadar mi dan telur saja harus diganti?”
Sheila menggerakan tangannya bagai mengusir lalat. “Bukan, saya takutnya Bapak marah karena saya makan double.”
“Kenapa harus marah?”
“Karena takut rugi.”
Sheila bisa saja mengatakannya dengan nada jenaka, namun Gasendra dapat menemukan keseriusan dari ucapannya. Pasti sikapnya selama ini membuat perempuan itu berpikir kalau Gasendra adalah tokoh antagonis jahat.
“Saya tunggu di meja makan,” kata Gasendra pada akhirnya.
Sheila tentu saja tidak dapat menolak permintaan Gasendra. Buru-buru perempuan itu membuat semangkuk mi yang sesuai dengan permintaan sang majikan dan semangkuk lagi yang sesuai dengan seleranya sendiri.
Tujuh menit kemudian, Sabitah datang membawa dua mangkuk mi. Satu dia letakkan di atas meja makan, satu lagi ia bawa.
Gasendra betulan menunggu di meja makan. Bahkan di malam yang sudah selarut ini Gasendra masih terlihat sibuk mengutak-atik ipad-nya.
Melihat Sheila yang hendak berlalu usai meletakan mi membuat Gasendra menurunkan ipad-nya.
“Mau makan di mana?” tanya Gasendra bingung.
“Saya mau makan di kamar aja, Pak.”
Gasendra melirik sekitar. Tidak ada seorang pun di sini yang akan memergoki interaksinya dengan Sheila.
“Duduklah, makan di sini.”
Yang mengejutkan adalah nada bicara Gasendra terdengar lembut. Seandainya peristiwa di parkiran seminggu lalu tidak terjadi sudah pasti Sheila tidak akan menduga jika lelaki di hadapannya bisa marah bagai banteng yang siap menerjang siapa saja.
“Nanti Bapak terganggu sama saya, lho.”
“Enggak akan,” sahut Gasendra pendek.
“Saya kalau habis makan suka sendawa lho, Pak.”
“Itu manusiawi.”
Menyerah. Pada akhirnya Sheila memilih untuk duduk. Dia kursi tepat di hadapan Gasendra.
Awalanya mereka makan dengan tenang sampai kemudian Gasendra mengatakan sesuatu yang sukses membuat Sheila berhenti menyendok mi.
“Saya bukan ayah yang baik sebagaimana ucapan kamu tempo hari.” Suaranya terdengar lesu seakan Gasendra sedang menanggung beban sebesar gunung di kedua pundaknya.
“Kalau ini gara-gara kejadian minggu lalu, ya … bukan berarti Bapak bukan ayah yang baik.” Sheila berusaha untuk menilai dengan kepala dingin tanpa keperpihakan kepada siapapun. “Bapak marah dan Bapak belum tau cara meregulasi rasa marah tersebut dengan baik. Makanya, Bapak meledak kayak banteng yang siap menyeruduk.”
“Harus perumpamaannya banteng?”
“Seandainya Bapak bisa liat, waktu itu kayak ada tanduk samar-samar yang muncul di kepala Bapak. Menurut Bapak kenapa Nona Lili sampai nangis kejer kayak waktu itu? Karena dia sedih? Oh, itu cuma 30% aja. Sisanya karena dia takut sama Bapak.”
Gasendra termenung mendengar penuturan dari Sheila. Perlu Gasendra akui dia memang buruk dalam menahan amarah. Terlebih sejak bercerai dan merawat Liliana seorang diri. Tuntutan pekerjaan yang menggunung ditambah kewajiban untuk mengawasi Liliana jelas terasa begitu berat.
Sheila mengetuk pelan permukaan meja makan membuat suara pelan yang berhasil menarik kembali fokus Gasendra.
“Saya kasih tau ya, Pak. Anak yang takut sama orangtua bukan sesuatu yang baik. Kenapa? Karena orangtua sepatutnya jadi tempat ternyaman dan paling aman bagi anak. Kalau si anak merasa takut maka, hilang sudah keinginannya untuk mendekatkan diri ke orangtua.”
“Kenapa begitu? Bukannya dengan rasa takut tersebut anak malah akan jadi menghormati orangtuanya? Karena dia jadi memiliki bayangan akan mendapatkan konsekuensi berupa amarah dari orangtua.”
“Itu menurut Bapak. Kalau menurut saya justru sebaliknya.” Sheila meletakan garpunya. Mi di dalam mangkuknya untuk sementara waktu terlupakan. “Kalau anak merasa takut ketika dia melakukan kesalahan yang ada di dalam pikirannya pertama kali adalah bagaimana caranya supaya kesalahan tersebut enggak diketahui. Biar apa? Ya, biar dia enggak kena omel. Sedangkan, kalau anak tersebut mengenal orangtua sebagai tempat yang mampu memberikan rasa nyaman maka, si anak akan dengan terbuka cerita tentang masalahnya dan minta solusi.”
“Kamu bahkan belum punya anak. Jadi, bagaimana mungkin kamu tau?”
“Lho, Layla itu bukan hanya adik buat saya, Pak. Tapi, juga anak sekaligus separuh dari jiwa saya. Saya memang enggak pernah melahirkan Layla, tapi ada darah saya yang mengalir di tubuhnya.”
Gasendra mengaduk mi tanpa minat. Sejujurnya dia lapar sekali, tetapi percakapan malam ini membuat nafsu makannya hilang. Walaupun demikian, Gasendra merasa cukup nyaman membicarakan masalah ini dengan Sheila.
Perempuan itu mendadak menjadi teman bercerita yang menyenangkan. Teman bicara yang belum pernah Gasendra temui sebelumnya.
Selama ini Gasendra banyak berpikir sendirian tentang cara mendidik Liliana. Bukan tanpa alasan. Satu-satunya sahabat dekat Gasendra, yaitu Kadit bahkan belum memiliki anak. Kadit jelas tidak dapat dijadikan teman untuk bertukar pikiran perihal anak.
Lalu orangtuanya juga sama saja. Bagi mereka kehadiran Liliana merupakan sesuatu yang tak terlalu diharapkan sehingga berdiskusi tentang Liliana tak akan pernah menarik minat mereka.
Tetapi di sinilah Gasendra berada. Mendengarkan petuah dari seorang perempuan yang bahkan baru beranjak dewasa.
“Kamu mengetahui banyak hal yang belum saya ketahui,” jawab Gasendra pada akhirnya. “Dari mana kamu mempelajarinya? Siapa yang mengajarimu?”
“Saya belajar sendiri aja, Pak.” Sheila kembali menyendok mi yang mulai mengembang. “Bapak juga baru pertama kali jadi ayah. Wajar kalau ada salah-salah. Yang terpenting adalah Bapak mau berubah jadi pribadi yang lebih baik.”
Gasendra hendak membalas ketika sesuatu yang hangat melintas di philtrum untuk kemudian turun ke dagu dan menetes ke dalam mangkuk mi miliknya.
Sheila terperanjat. “Bapak berdarah!”
Secara naluriah Gasendra mengusap hidungnya. Betapa terkejutnya dia melihat darah di kulit tangannya. Bersamaan dengan itu pula tetesan darah terus mengalir dari salah satu lubang hidungnya.
“Tunggu, Pak. Tunggu!” Sheila memerintahkan dengan panik. “Duduk tenang.”
Sheila buru-buru berjalan meninggalkan Gasendra. Sambil menunggu Sheila kembali Gasendra mengangkat pandangannya menjadi memandang langit-langit. Tadinya dia berniat untuk membiarkan darah mimisannya kembali masuk, namun dengan cepat Sheila kembali dan mendorong kepalanya secara kasar supaya menunduk.
Sewaktu menunduk Gasendra sudah melihat tangan Sheila yang menggengam handuk bersih.
“Biarkan darahnya keluar, Pak. Jangan menengadah. Percaya deh sama saya. Saya dulu anggota UKS pas SMA,” jelas Sheila.
Tadinya Gasendra berniat untuk protes, namun urung manakala dia melihat Sheila yang sudah sibuk mengelap sisa bercak darah yang mengotori meja makan.
“Bapak pasti kecapean itu.” Sheila berkata sambil merapikan mangkuk mi milik Gasendra. Mangkuk itu sudah terkena tetesan darah. Sudah tak layak untuk dimakan. “Saya pernah denger katanya, waktu kita melakukan aktivitas secara berlebihan dan mengalami kelelahan, pembuluh darah di dalam hidung mengalami tegang lalu akhirnya pecah. Akibatnya Bapak mimisan, deh.”
“Saya kerja sampai larut malam supaya enggak ketemu dengan Liliana.”
“Lho, kenapa begitu?”
“Saya belum siap untuk minta maaf.” Gasendra merasa agak pening. “Kamu tau keluarga Tanoewidjaya enggak pernah diajarkan untuk meminta maaf. Alasannya sederhana karena sejak dulu kami terlahir sebagai majikan, seorang atasan, atau raja yang harus dipatuhi. Sulit bagi saya untuk mengatakan maaf bahkan pada anak sendiri.”
Sheila geleng-geleng kepala. “Ribet juga ya, Pak jadi orang kaya. Kalau di keluarga miskin kayak saya, justru kami harus sering-sering minta maaf buat terhindar dari masalah. Tapi, setelah saya pikir lagi baiknya minta maaf, bilang tolong, dan ngucapin makasih tuh enggak kenal status sosial. Itu ‘kan sudah jadi basic manner.”
Pada situasi tersebut Gasendra merasa lucu. Dia bahkan sempat terkekeh membuat Sheila heran.
“Hayo, kesurupan telor ayam kampung ya?”
Gasendra menggeleng sambil mengelap hidungnya. Aroma amis khas darah tercium. “Bukan. Bagi saya lucu sekaligus menakjubkan karena kamu tau banyak hal. Seandainya kamu terlahir di dalam keluarga dengan kondisi ekonomi yang jauh lebih baik, sudah dapat saya bayangkan kalau kamu akan tumbuh menjadi perempuan yang luar biasa hebat, Sheila.”
“Oh, ya?”
“Iya.” Lelaki itu membayangkan Sheila versi baru. Sheila yang lahir dari keluarga yang kedudukan status sosialnya sejajar dengan Gasendra. “Di usiamu saat ini setidaknya sekarang kamu sedang sibuk mempersiapkan studi S2 ke Massachusetts Institute of Technology.”
Sheila tersenyum mendengar ucapan Gasendra tentang dirinya. Baru kali selama Sheila hidup ada seseorang yang membayangkan jika Sheila bisa menjadi seorang sarjana.
“Itu juga udah cukup, Pak. Seenggaknya di dalam bayangan Bapak, saya adalah orang terpelajar yang punya gelar dan kegigihan untuk belajar setinggi mungkin. Makasih sudah membayangkannya, Pak.”
[]