4 : Bayangan Mantan Istri

1751 Words
“Wah, anaknya sudah besar tapi mamahnya masih keliatan awet muda, ya. Memang dulu menikah umur berapa, Bu?” seorang perawat yang sedang mengukur tensi darah Liliana bertanya dengan ramah. Sheila dan Gasendra saling pandang untuk beberapa saat. Detik berikutnya mereka baru mencerna maksud dari perkataan tersebut. “Oh, bukan … bukan,” jawab Sheila buru-buru. Dia sedikit tidak enak hati karena sempat dikira sebagai istri Gasendra. Padahal ‘kan penampilannya mirip gelandangan. “Bapak ini majikan saya.” Perawat yang bertugas di balik meja rapid medical check up itu terlihat terkejut sebelum akhirnya tersenyum malu. “Mohon maaf. Saya kira Ibu ini orangtuanya mengingat Ibu sangat cantik. Sama seperti anak ini.” Gasendra berdeham dengan canggung, sedangkan Sheila hanya menanggapi dengan senyuman seadanya. Hari ini Gasendra dan Sheila datang menemani Liliana untuk melakukan kontrol ke dokter ahli bedah. Kebetulan jadwal kontrol Liliana dan Sheila berbeda jadilah secara khusus hari ini Sheila hanya datang untuk menemani gadis itu. “Maaf ya, Pak. Harusnya saya pakai seragam aja dan bukannya baju bebas kayak gini.” Sheila buka suara saat ketiganya berjalan menjauh dari meja rapid medical check up. Gasendra terbatuk. “It’s okay. Bukan salahmu.” “Padahal saya kalau disandingkan sama Bapak sudah kayak gelandangan, lho. Kenapa malah dikira istri Bapak, ya?” Sesaat Gasendra memperhatikan penampilan Sheila. Perempuan itu sebetulnya tidak terlihat seperti gelandangan tanpa rumah, melainkan lebih terlihat sederhana saja. Pagi itu Sheila hanya mengenakan kaus lengan pendek tanpa kerah dan celana kulot. Sedangkan, rambutnya dibiarkan kuncir kuda. Walaupun demikian, harus Gasendra akui jika Sheila memiliki wajah yang cantik. Rambutnya panjang berwarna hitam, sedangkan kulitnya kuning langsat. Lalu fitur wajah Sheila juga memesona dengan caranya sendiri. “Kamu cantik, Sheila. Jangan memandang rendah diri sendiri,” balas Gasendra dengan nada suara netral. Tentu saja dia tidak mau terdengar seperti sedang memuji Sheila. “Masa sih, Pak?” Sheila menoleh dengan tatapan penasaran. “Bapak enggak perlu menghibur saya begitu kok, Pak.” “Lho, betul. Kamu cantik dengan caramu sendiri. Memangnya belum pernah ada yang memuji kamu?” Sheila tersenyum masam. “Belum, Pak.” “Pacarmu belum pernah mengatakannya?” “Ye, Pak … sebaiknya tanya dulu saya pernah punya pacar atau enggak. Itu jauh lebih sopan.” Sambil menggandeng satu tangan Liliana, Gasendra terus bertanya sampai ketiganya duduk menunggu tepat di depan ruangan dokter. “Jadi, kamu belum pernah berpacaran?” “Belum,” jawab Sheila sambil cemberut. “Dulu, sih saya pernah naksir sama cowok di kampung. Tapi, ya gitu … status sosial kami beda. Dianya juga sudah punya pacar. Jadi, apalah saya ini.” “Someday you will find someone who love you the way you are, Sheila,” ucap Gasendra berusaha untuk menghibur Sheila. Mendengar itu membuat Sheila tersenyum cerah. “Makasih, lho, Pak. Tapi, saya jadi penasaran. Gimana rasanya dicintai? Maksud saya … sebelum saling berpisah kalian ‘kan sempat saling sayang.” Mendadak Sheila merasa bodoh karena melemparkan pertanyaan seperti itu. Cepat-cepat dia meralatnya. “Eh, maksud saya … aduh, maaf, Pak. Salah ngomong.” Gasendra tidak langsung menimpali. Kendati demikian, dia paham ke mana arah pertanyaan Sheila. Sambil mencari jawaban yang tepat pandangan Gasendra fokus pada para orangtua yang datang berlalu-lalang bersama anak mereka. Kebetulan tak jauh dari ruang praktik dokter bedah terdapat ruang praktik pediatri. Jadi, pemandangan tersebut sangatlah wajar. Pandangannya tertuju pada seorang balita yang sedang belajar berjalan. Di sisi kanannya sang ayah tampak menggenggam dengan lembut, sedangkan di kirinya sang ibu terlihat hati-hati memegangi. “Dulu saya dan Rin juga pernah begitu,” jelas Gasendra sambil menunjuk menggunakan dagunya. Sheila sontak saja mengikuti arah tunjuk Gasendra. “Rasanya mendebarkan. Saya seperti menggenggam dunia. Luar biasa ….” Gasendra mengalihkan pandangannya kepada Sheila. “Dicintai … walaupun singkat, tetapi rasanya luar biasa indah. Suatu saat kamu akan merasakannya.” “I wish someday you will find that kind of person, Pak. Someone who will love you enternality.” Gasendra cukup terkejut mendengar pengucapan Sheila yang fasih. “Kamu bisa bahasa Inggris rupanya.” “Bisa, dong, Pak. Dulu waktu SMA saya selalu masuk 10 besar ranking pararel. Bahkan keterima juga di top PTN lewat jalur undangan.” “Tidak kamu ambil ya kesempatan itu?” tebak Gasendra. Sheila mengendikan bahunya secara acuh tak acuh. “Enggak saya ambil, tentu. Kalau pun saya dapat beasiswa itu hanya akan menutupi UKT, tapi untuk biaya hidup dan lain-lain pasti sulit buat saya cover. Lagian, saya keterima di kampus luar kota. Artinya, saya harus ninggalin Layla.” “Kamu banyak mengorbankan dirimu untuk orang lain.” “Mungkin karena saya cinta sama Layla, Pak?” Sheila membuat pernyataan yang terdengar seperti sebuah pertanyaan. “Kalau soal cinta pada laki-laki, sih saya payah. Tapi, kalau cinta dan pengorbanan ke saudara saya juaranya. Bapak juga sama ‘kan? Bapak cinta sama Nona Lili makanya Bapak kerja keras sampai sekarang demi bisa membahagiakan Nona Lili.” Gasendra tidak sempat menanggapi karena pada saat itu pula nomor antrean Liliana dipanggil. *** Di lorong menuju lobi rumah sakit, mendadak tubuh Liliana kaku. Selama beberapa detik gadis kecil itu seperti baru saja melihat setan di siang bolong. Gasendra dan Sheila tentu saja merasa heran. Sayangnya, sebelum mereka sempat untuk bertanya Liliana sudah terlebih dahulu berlari. “Mama!” Teriakan Liliana terdengar menggema di lorong rumah sakit yang mulai sepi. Gasendra yang mendengarnya tentu saja tidak dapat menahan keterkejutannya. Degup jantung Gasendra secara cepat berpacu tak normal. Pada saat itu Sheila menyadari jika Rin, mantan istri Gasendra ada di sini. Tanpa aba-aba Liliana berlari menuju ke arah lobi, sedangkan Gasendra dengan cepat berusaha untuk menahan. Namun, langkah kecil milik Liliana jauh lebih cepat sehingga Gasendra jauh tertinggal sebanyak 3 langkah di belakang. “Mama!” Liliana meraih pergelangan tangan seorang perempuan dewasa. Perempuan itu menoleh dengan tatapan bingung sebelum akhirnya berganti menjadi risih. Dia hanya melihat Liliana sekilas sebelum matanya memindai sekeliling area rumah sakit. Begitu Rin menemukan eksistensi Gasendra, perempuan itu menghela napas panjang. “Kenapa di antara sekian banyaknya rumah sakit, kita justru harus bertemu di sini?” tanya Rin sarkas sewaktu Gasendra berhasil menyusul dengan diikuti Sheila di belakangnya. “Sejak awal Liliana memang berobat di sini. Seandainya aku tau kamu akan datang ke sini, sudah pasti aku akan memilih RS lain,” jawab Gasendra tak kalah pedas. Sheila memperhatikan dari jarak aman. Diam-diam dia meneliti penampilan Rin. Perempuan yang pernah menikah dengan Gasendra itu terlihat luar biasa cantik. Kecantikan Rin adalah tipikal cantik surgawi … seperti tak nyata. Perempuan itu tampak sedikit lebih tinggi daripada Gasendra. Rambutnya tergerai panjang dengan gelombang cantik yang berkilauan. Sementara itu, kulitnya putih mulus bagai porselen. Sepasang matanya yang lebar dengan bulu mata yang panjang menatap Gasendra sebal. Tak jauh dari Rin berdiri seorang pria yang tampaknya seusia dengan Gasendra. “Sudahlah. Sebaiknya aku yang ganti RS.” Rin berkata final sambil hendak berlalu. Akan tetapi, baru selangkah berjalan tangan Liliana sudah bergerak untuk menahan. “Mama, I miss you.” Rin menghentikan langkahnya. Dia menatap sang putri tanpa sorot kasih sayang sebagaimana kebanyakan ibu pada umumnya. Sebaliknya, Rin justru menatap Liliana dengan dingin seolah-olah gadis kecil itu tidak pernah lahir dari rahimnya. “Let me go,” perintah Rin dengan ketus. “Kembali pada papamu.” Liliana menolak untuk patuh. Perlahan airmata bercucuran membasahi pipinya. Ledakan rasa rindu menikam jantung Liliana bagaikan rasa sakit yang tak tertahankan. “Mama kapan pulang? Aku selalu menunggu.” Lelaki di samping Rin berdeham seakan memberi kode bahwa waktu mereka sudah habis. Rin yang paham tentu saja langsung menghempaskan tangan mungil Liliana sampai pegangannya lepas. “Mama enggak akan pulang lagi, Lili. Papamu belum memberi tau ya?” Rin membuka dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah. “Take this. Belilah mainan yang kamu mau.” Liliana membeku. Dia menatap uang yang disodorkan sang ibu dengan pandangan terluka. Gasendra yang melihatnya tentu saja tak diam. Gasendra dengan kasar menepis uang di tangan Rin sampai lembaran berwarna merah itu berhamburan di udara. “My daughter don’t need your fvcking money,” kata Gasendra penuh penekanan. Setelah mengatakan itu Gasendra menarik Liliana supaya berjalan bersamanya. Liliana berulang kali memberontak dan berusaha untuk kembali pada Rin, tetapi tak peduli sebanyak apapun Liliana melawan tenaganya tak sebanding dengan Gasendra. Pada akhirnya gadis kecil itu meraung memanggil sang ibu yang bahkan sudah membalikan tubuh dan berpura-pura tak pernah mendengar tangisan Liliana. Sheila yang melihat adegan itu tentu saja merasa tak sanggup. Dengan tak sabaran dia berlari mengejar Gasendra dan Liliana yang sudah tiba di parkiran. Lalu setelah keduanya berada dalam jarak dekat Sheila menarik tangan Gasendra sehingga pegangannya pada pergelangan Liliana terlepas. “Cukup, Pak.” Kata Sheila dengan napas tersengal. Dia menarik Liliana dan menyembunyikannya di balik punggung seakan takut Gasendra akan menyakiti Liliana lagi. “Kemari, anak itu harus diajari supaya tidak membuat malu orangtua.” “Apanya yang membuat malu, Pak?” Sheila bertanya dengan heran. “Nona Lili cuma terlalu kangen sama ibunya. Bapak seharusnya sebagai orang dewasa lebih paham.” “Tau apa kamu soal anak saya?” Gasendra bertanya dengan nada membentak. “Liliana ketakutan, Pak!” “Jangan ajari saya!” Suara Gasendra berhasil membuat tangis Liliana semakin kencang. Dengan khawatir Sheila membalik tubuh ke arah Liliana. Gadis itu terlihat luar biasa kalut. Setelah menerima penolakan dari Rin kini Liliana harus menelan amarah dari Gasendra. Membayangkan hal tersebut membuat Sheila merasa tak tega. Dalam sekali tarikan napas Sheila menggendong tubuh Liliana dan menepuk-nepuk punggungnya lembut. “It’s okay, Nona Lili. I’m here,” bisik Sheila bagai lullaby. “Papa Gasendra enggak sengaja marah, okay? Sttt … it’s okay, Little Princess.” Secara perlahan Liliana mulai tampak tenang. Gasendra yang melihat itu seakan baru saja ditampar oleh realita. Sheila betul. Seharusnya pada situasi seperti sekarang Gasendra menempatkan dirinya sebagai yang paling waras. Tindakannya tadi memang sangat kekanak-kanakan. “Lili, maafkan Papa ….” Gasendra berusaha mendekat, tetapi Liliana justru semakin mengkerut di dalam gendongan Sheila. Sheila dengan sigap memasang diri sebagai benteng pertahana. “Cukup, Pak. Biarkan Nona Lili istirahat dulu. Sekarang sebaiknya kita pulang saja.” Gasendra ingin membantah dan merebut anaknya dari Sheila. Pada satu sisi harga dirinya sebagai orangtua seakan dilukai sewaktu menyadari jika Liliana lebih nyaman bersama dengan Sheila. Hanya saja, pada sisi yang lain Gasendra tahu jika dirinya memang bukanlah orang yang dapat dipercaya oleh Liliana untuk saat ini. Jadilah Gasendra mengalah. Di sepanjang perjalanan itu tidak ada yang bicara. Liliana masih belum mau turun dari pangkuan Sheila. Suasana kala itu muram seandainya Sheila tidak bersenandung kecil. Suaranya lembut dan menenangkan membuat Liliana bahkan terlelap. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD