3 : Pengasuh Liliana

1741 Words
“Lili, c’mon. Makan dan minum obatnya. Papa enggak bisa menemani kamu terus-terusan. Beberapa menit lagi Papa harus berangkat kerja.” Sewaktu naik ke lantai dua untuk mengepel, tak sengaja Sheila mendengar suara berat milik Gasendra. Dari balik pintu kamar Liliana yang sedikit terbuka Sheila dapat melihat Gasendra yang duduk di tepi ranjang Liliana. Sementara Gasendra terlihat resah, Liliana justru memilih untuk memunggungi ayahnya. Gadis kecil itu tampak tak ingin bicara sepatah kata pun kepada Gasendra. “Lili, jangan manja begini, dong!” Kali ini Gasendra menaikan nada suaranya. “Bulan ini saja kamu sudah membuat seorang perawat mengundurkan diri. Bisa-bisa Papa kena blacklist karena membuat banyak perawat mengundurkan diri dalam sebulan.” Intonasi yang lebih tinggi itu membuat Liliana terlonjak kaget. Liliana dengan pipi yang sudah basah oleh airmata itu membalik tubuh dengan lemah. Ekspresi wajahnya terlihat terluka seakan ucapan Gasendra tak hanya menyakiti hatinya melainkan juga tubuh rapuhnya. Sambil memegangi dadda Liliana berkata lirih, “Aku enggak mau makan. Di sini sakit sekali, Pah. This unbearable pain make me dizzy. I even lost my apettite. Jangan salahin aku juga kalau susternya resign. Mereka emang enggak bisa kerja!” “Iya, karena itu Papa minta kamu untuk makan lalu kamu bisa minum obat pereda nyeri.” “Papa bohong.” Liliana mengubah posisinya dari rebah menjadi duduk. “Papa bilang rasa sakitnya hanya sekali, tapi kenapa aku justru kesakitan setiap kali efek obatnya habis? You are such a liar!” “Liliana!” Tak tahan mendengar Liliana yang merengek membuat Gasendra secara tak sadar kembali membentak. Lelaki itu bangkit dan menatap putrinya dengan tatapan marah. “Papa bukan pembohong, tapi kamu memang harus belajar menerima rasa sakit supaya bisa sembuh.” Liliana menggelengkan kepalanya. Sepasang matanya berkaca-kaca dan setiap gerakan yang dilakukan Liliana selalu berhasil meloloskan bulir bening ke pipinya yang pucat. “Papa itu pembohong. Dulu Papa bilang kalau Mama akan datang, akan menjemput aku, dan kembali ke rumah ini. Tapi, mana? Mama enggak pernah datang. Aku benci sama Papa!” Gasendra kehilangan kata-katanya. Otaknya seakan tak mampu diajak bekerja sama untuk memproduksi kalimat balasan. Satu-satunya hal yang bisa Gasendra lakukan saat ini hanyalah melarikan diri. Tanpa mengatakan apapun lagi Gasendra berlalu pergi dari hadapan Liliana. Di ambang pintu kamar, Gasendra bertemu dengan Sheila. Sheila tentu saja merasa terkejut sekaligus malu karena tanpa sadar dia ikut menguping percakapan majikan barunya. “Saya disuruh naik buat ngepel sama Mak Darsiah ….” Semula Sheila berpikir jika Gasendra akan memarahinya karena sudah bersikap tak sopan. Akan tetapi, dugaan Sheila meleset. Lantaran terlalu marah, Gasendra bahkan tak memiliki tenaga lagi untuk menegur Sheila. Lelaki itu melangkah begitu saja berlalu menuju lantai bawah. Tak lama dari itu suara dari mesin mobil milik Gasendra terdengar meninggalkan rumah. Seiring dengan perginya Gasendra bersamaan dengan itu pula Sheila dapat mendengar suara isak tangis Liliana yang semakin kencang. Tadinya Sheila ingin memanggil Mak Darsiah, namun suara tangis pilu Liliana membuat Sheila tak sampai hati untuk meninggalkan gadis kecil itu. Jadi, secara hati-hati Sheila meletakkan ember dan masuk ke dalam kamar Liliana. Dilihatnya Liliana sedang meringkuk bagai janin di atas spring bed. Tubuhnya yang mungil tampak tenggelam di antara luasnya kasur dan banyaknya boneka berbulu lembut. “Nona Liliana,” panggil Sheila lembut. Seluruh pegawai di rumah ini memanggil Liliana dengan panggilan nona, begitu pula dengan Sheila. Yang dipanggil namanya menoleh. Airmata masih meleleh dan menggenang di pelupuk. Dari jarak dekat begini Sheila baru menyadari betapa kurus dan kecilnya Liliana. “Ada apa? Kenapa menangis?” Sheila bertanya dengan hati-hati sambil duduk di tepi ranjang. Persis di tempat di mana Gasendra sempat duduk. Liliana menjawab dengan bibir yang bergetar tipis. “Di sini … sakit sekali.” Dia menunjuk bagian daddanya. Sheila dapat menebak jika sakit yang Liliana maksud adalah sakit yang ditimbulkan dari bekas operasi. Operasi cangkok hati merupakan tindakan besar. Sheila harus mengakui jika tubuhnya seringkali masih merasakan nyeri tepat di bagian kulit dan daging yang terkena pisau bedah. Karenanya Sheila dapat memahami perasaan Liliana. “Coba lihat lukanya boleh?” Sesaat Liliana terlihat ragu, namun akhirnya gadis itu menurut dan membuka empat kancing teratas piyamanya. Diperlihatkannya luka bekas jahit yang memanjang. “Sakit sekali ya?” tanya Sheila retoris. Liliana mengangguk. “Kamu juga sakit?” Giliran Sheila yang mengangguk. Tanpa diminta dia membuka kaus lengan pendek yang sedang dikenakannya. Pada saat itu pula Liliana dapat melihat bekas luka jahit di tubuh Sheila. Lukanya tampak sedikit lebih lebar dan panjang daripada milik Liliana. “Mengerikan sekali lukanya,” komentar Liliana sambil bergidik ngeri. “Pasti punyamu jauh lebih sakit.” “Iya. Rasanya memang sakit banget. Tapi, kalau makan enak dan minum obat nanti sakitnya hilang.” “Kalau efek obatnya habis nanti sakitnya kembali lagi,” balas Liliana murung. “Percuma saja.” “Nona Lili,” panggil Sheila lembut membuat Liliana memfokuskan pandangannya pada netra kecokelatan milik Sheila. “Obat dari dokter hanya membantu kita untuk terbiasa dengan rasa sakit. Sedangkan, sisanya kita harus menerima rasa sakit itu sendirian.” “Maksudnya?’ “Begini ….” Sheila mulai menjelaskan sambil mengancingkan kembali piyama Liliana. Jari-jemarinya bergerak hati-hati sekali seakan takut menyenggol luka di tubuh Liliana. “Luka yang Nona Liliana miliki adalah simbol dari perjuangan. Nona Liliana berjuang untuk melawan penyakit supaya bisa sehat dan panjang umur. Tapi, supaya bisa sehat dan panjang umur Nona Liliana harus melawan rasa sakitnya dulu. Nanti … ketika lukanya mulai kering rasa sakitnya akan berkurang lalu hilang tanpa bantuan dari obat dokter.” “Betulkah itu?” Sheila mengangguk dengan mantap. “Kalau saya bohong, nanti hidung saya panjang kayak pinokio, lho.” “Tapi, hidungmu memang enggak semancung milik Papa.” “Nah, itu dia. Artinya, saya orang yang jujur, Non. Kalau Papa Gasendra ya … bohong dikitlah.” Liliana menatap wajah Sheila dan luka di tubuh perempuan itu secara bergantian. Liliana terlihat jelas sedang menimbang-nimbang ucapan lawan bicaranya. “Jadi, aku harus minum obat terus sampai lukanya kering dan rasa sakitnya hilang permanen?’ “Iya.” Sheila menjawab dengan semangat. Dia lalu meraih bubur yang diletakkan di atas nakas. “Makan dulu ya? Habis itu minum obat. Kalau Nona Liliana sudah sembuh nanti saya ajak ke ….” Sheila terlihat berpikir. “Nona Liliana mau pergi ke mana setelah sembuh nanti?” “Mau ke kebun binatang!” Sheila mengangguk sebagai jawaban. “Boleh. Nanti saya bilangin sama Pak Gasendra supaya Nona Liliana diajak ke kebun binatang.” “Aku enggak mau sama Papa. Maunya sama kamu aja.” “Yaudah nanti Pak Gasendra enggak usah diajakin. Nanti kita berdua aja yang ke kebun binatang terus naik gajah. Nona Liliana sudah pernah naik gajah?” Sheila bertanya sambil menyuapi Liliana. Mendengar nada suara Sheila yang lembut membuat Liliana merasa nyaman. Tanpa sadar gadis itu makan walaupun secara perlahan. “Belum. Memangnya kamu sudah pernah?” “Belum juga, sih. Tapi, dulu di kampung saya pernah naik kerbau. Pasti mirip-miriplah rasanya.” “Aku juga mau naik kerbau!” Sheila menaruh mangkuk yang telah kosong lalu meraih obat dan meletakannya di atas telapak tangan Liliana. “Iya, boleh. Naik kerbau, naik onta, naik gajah. Naik megalodon juga boleh kalau sudah sembuh.” “Kamu janji ya, Sheila?” “Janji!” Sheila mengacungkan jari kelingkingnya ke udara dan langsung disambut oleh Liliana. Gadis kecil itu cukup terhibur sampai efek obat membuatnya mengantuk. Dengan sabar Sheila mengusap-usap puncak kepala Liliana sampai gadis itu terlelap. Lama-lama Sheila juga ikut mengantuk. Tadinya Sheila berniat untuk menutup mata selama 5 menit. Namun, Sheila baru bangun ketika Gasendra datang. *** “Bangunlah.” Suara itu berhasil menarik Sheila dari alam mimpi. “Pak—” Dengan cepat Gasendra membuat gestur tubuh supaya Sheila tidak berisik. Seakan baru menyadari situasi, Sheila langsung bungkam. Dia sempat melirik Liliana yang masih lelap di atas kasur. “Keluar,” kata Gasendar dengan suara pelan nyaris berbisik. Sheila mengangguk dengan patuh. Dia berjalan mengekori Gasendra sampai keduanya tiba di lantai bawah. “Apa-apaan tadi itu?” Gasendra bertanya dengan nada menuntut. Tepat pada jam makan siang Gasendra memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Tadinya dia berniat untuk memastikan kondisi Liliana terlebih untuk saat ini Gasendra belum menemukan suster pribadi yang dapat diandalkan untuk menjaga sang anak. Akan tetapi, alih-alih menemukan Liliana seorang Gasendra justru melihat pemandangan yang mengejutkan. Dia melihat dengan jelas Sheila yang tidur sambil memeluk tubuh Liliana. Anehnya, putri kecilnya tampak nyaman berada di dalam dekapan orang asing seperti Sheila. Hal tersebutlah yang berhasil memadamkan rasa marahnya dan menggantinya dengan rasa pemasaran. Sheila tampak gugup. Perempuan itu seperti baru saja ketahuan mencuri sebatang emas milik Gasendra. Sambil memilin ujung bajunya Sheila berusaha untuk menjelaskan, “Tadi Nona Liliana nangis terus, Pak. Karena enggak tega, ya saya ajak ngobrol. Dari situ Nona Lili mau makan dan minum obat. Tadinya saya mau merem aja 5 menit. Eh, tapi bablas. Maaf ya, Pak. Biasa tidur di kasur kapuk terus sekalinya ketemu spring bed badan saya langsung enggak tau diri.” Sementara Sheila menjelaskan dengan nada suara bergetar Gasendra justru mendengarkan dengan tenang. Dipandanginya wajah Sheila walaupun berulang kali perempuan itu mengalihkan pandangan ke lantai. “Dia enggak mendorong kamu menjauh?” tanya Gasendra kemudian. “Enggak, Pak. Kita bahkan sempat janji buat ke kebun binatang kalau Nona Lili sudah sembuh, tapi katanya Bapak enggak boleh ikut.” Gasendra berkacak pinggang. Entah apa saja yang Sheila dan Liliana bicarakan, namun melihat Liliana yang tampak nyaman tidur dalam pelukan Sheila sudah cukup menjelaskan situasi yang ada. “Kenapa saya enggak boleh ikut dengan kalian?” “Bapak tanya sendiri aja sama Nona Lili.” “Jadi, dia merasa nyaman berada dekat dengan kamu ya?” Sheila mengangkat pandangan. “Hah? Iya, kali, Pak.” “Kira-kira sampai kapan situasinya akan seperti itu?” “Aduh, saya mana bisa nebak, Pak?” Sheila mengusap keningnya yang sama sekali tidak gatal. “Mungkin karena dari dulu saya sudah terbiasa merawat Layla, jadi saya terbiasa menghadapi anak kecil yang tantrum. Nona Lili pun merasakan itu.” Gasendra merasa harus memanfaatkan kehadiran Sheila dengan baik di rumah ini. “Kalau begitu selama kamu memulihkan diri, jadilah perawat pribadi untuk Liliana,” kata Gasendra mantap. “Tugasmu hanya menemaninya dari dia bangun sampai tidur.” “Eh?” Sheila cukup terkejut mendengar tawaran tersebut. Kedengarannya tidak buruk-buruk amat. Lagi pula Sheila juga merasa tidak enak hati untuk menolak Gasendra setelah semua kebaikan yang diberikan kepadanya. “Boleh, deh, Pak.” Sheila menyetujui. “Saya pakai seragam gitu enggak, Pak?” []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD