Seumur-umur baru pertama kali di dalam hidupnya Sheila memegang uang sebanyak itu. Tepat dua hari setelah operasi dan dokter menyatakan kondisi Liliana stabil, Gasendra datang ke ruang rawatnya sambil membawa amplop cokelat.
“Ternyata uang sepuluh juta tuh bentuknya kayak gini,” gumam Sheila sambil mengusap-usap uang yang baru dia terima. “Paling gede saya pegang uang sebanyak UMR Sukabumi, sih, Pak.”
Luka bekas operasinya masih terasa sakit luar biasa apalagi ketika efek pain killer yang diminumnya telah habis. Hanya saja, melihat 100 lembar uang berwarna merah cukup mengobati perih yang menjalar di tubuh Sheila.
“Ini 990 juta sisanya saya simpan di buku tabungan. Saya tau tak mungkin untuk kamu membawa uang sebanyak itu secara tunai.” Gasendra mendorong sebuah buku tabungan di atas meja lipat tepat di atas ranjang pasien. “Kamu bisa menariknya kapan pun yang kamu mau.”
Sheila tanpa malu langsung menerimanya. Mata Sheila membelalak melihat jumlah angka nol di belakang angka sembilan. Perempuan itu bahkan berulang kali memastikan jika dirinya tidak salah lihat.
“Makasih ya, Pak.” Sheila menatap Gasendra dengan pandangan berkaca-kaca. Diraihnya tangan Gasendra dan tanpa diduga Sheila mencium punggung tangan Gasendra. “Ini kali pertama bagi saya nerima uang sebanyak ini. Sumpah. Kayaknya kalau pun saya kerja di pabrik sepatu sebagai buruh, saya baru bisa nerima uang segini banyak sekitar 100 tahun kemudian. Itu pun saya harus kerja sampe roh saya ditarik keluar dari tubuh.”
Gasendra buru-buru menarik tangannya dari jangkauan Sheila. Dia cukup terkejut menerima perlakuan tersebut. Gasendra bahkan tak sampai hati untuk melayangkan protes begitu melihat sorot mata Sheila yang tulus.
Perempuan itu sungguh-sungguh berterima kasih kepadanya.
“Uang itu layak untukmu. Saya juga memberikannya bukan karena kasihan atau sebagai bentuk donasi. Kita sedang melakukan hubungan mutualisme di sini,” jawab Gasendra datar.
“Iya, sih. Tapi, ini berarti banget buat saya.” Sheila tersenyum ceria. “Sampai mati pun saya enggak akan melupakan ini, Pak.”
Gasendra mengangguk saja. Pada saat itu pula Gasendra ingat tujuan lain dari kedatangannya. Diraihnya selembar kertas dari dalam tas jinjing yang Gasendra bawa. Kertas itu lantas Gasendra letakkan di samping buku tabungan milik Sheila.
“Ini apa, Pak?” Kali ini giliran Sheila yang dibuat keheranan oleh Gasendra. “Kontrak Perjanjian. Kontrak buat apa?”
“Bisa kamu baca detailnya. Yah, intinya di dalam kontrak itu memuat aturan-aturan yang harus kamu patuhi selama kamu menumpang tinggal bersama saya. Salah satu poin pentingnya adalah tidak mengusik kehidupan pribadi saya dan Liliana. Apapun yang kamu lihat dan dengar di rumah nantinya, jadikanlah itu sebagai rahasia. Seandainya saya mendengar sesuatu yang buruk keluar dari mulut kamu tentang keluarga saya, maka saya akan pastikan kamu tidak bisa menyentuh sepeser pun uang yang ada di dalam tabungan tersebut.”
Sheila dibuat merinding mendengar peringatan dari Gasendra. Akan tetapi, dia tidak protes. Sheila sadar betul posisinya. Jadi, perempuan itu memilih untuk setuju saja.
“Ini harus saya tanda tangani, Pak?”
Gasendra menyodorkan sebuah pulpen kepada Sheila sebagai jawaban. “Janji manusia tidak bisa dipegang.”
Sheila kemudian membubuhkan tanda tangannya di atas kertas.
“Bapak tenang aja. Saya enggak akan jadi benalu kok. Sebagai gantinya, selama nyari kerja nanti saya rela jadi ART gratis. Asal dikasih makan yang layak aja, Pak.”
“Memang kamu bisa?”
Sheila menepuk pelan bahunya sendiri. “Bapak jangan meremehkan saya. Gini-gini saya di kampung lumayan multi talent. Saya biasa dipanggi buat bantu warga masak di acara hajatan. Pernah kerja juga di tempat laundry. Terus potong rumput, nebang pohon, masang gas elpiji, nangkep musang yang nyuri ayam. Serba guna saya ini, Pak.”
“Jangan terlalu memaksakan diri. Kamu harus mementingkan kesehatan terlebih dahulu dan segera pulih.”
“Bapak perhatian banget,” balas Sheila merasa terharu.
“Supaya kamu bisa cepat pergi dari rumah saya.”
Kali ini ekspresi Sheila langsung berubah dengan keruh. “Ya ampun, ada udang di balik batu ternyata. Tenang, Pak. Dari dulu saya paling cepet sembuh kok kalau lagi sakit. Operasi ginian mah bukan apa-apa.”
“Sungguh?”
Sheila meringis sambil mengusap pelan bagian ulu hatinya. Dari balik seragam pasien Sheila dapat merasakan tekstur kulitnya yang dijahit. “Sakit, sih, Pak. Beneran kayak digigit megalodon. Saya jadi penasaran soal kondisi Liliana. Dia enggak banyak nangis ‘kan?”
“Liliana banyak menangis,” balas Gasendra sambil mengingat reaksi putrinya ketika untuk pertama kalinya efek obat bius hilang. “Dia bahkan menjerit kesakitan. Tapi, berulang kali saya katakan kalau rasa sakit yang dia terima akan menjadi yang pertama dan terakhir.”
“Saya pengen deh jadi anak Bapak.”
Kali ini giliran Gasendra yang menatap Sheila heran. “Kenapa?”
“Soalnya Bapak adalah sosok ayah yang baik. Bapak bukan hanya membesarkan Liliana, tapi juga menyayanginya. Saya iri, sih, Pak.”
“Memangnya ayahmu dulu tidak begitu?”
Sheila memandangi tangannya yang diinfus. “Saya hanya ingat kalau ayah saya bukan sosok yang penyayang.” Dia lantas kembali menatap Gasendra. “Liliana beruntung terlahir sebagai anak Bapak.”
Ucapan Sheila hari itu tanpa sengaja tersimpan di dalam hati Gasendra untuk waktu yang lama.
Betulkah Gasendra merupakan sosok ayah yang baik untuk Liliana dan bukan sebaliknya?
***
“Jadi, kamu datang dari kampung?”
Pertanyaan itu meluncur dari bibir Darsiah. Perempuan dengan rambut yang sudah sepenuhnya putih itu bertugas untuk menemani Sheila dan Layla selama menuju ke kediaman Gasendra.
Pada hari kepulangan Sheila dan Liliana pasca operasi, Gasendra mengerahkan supir pribadinya untuk menyetir mobil yang akan membawa rombongan Sheila menuju rumah. Sementara itu, dengan mobil yang berbeda Gasendra menyetir hanya ditemani oleh Liliana dan pengasuh barunya.
Di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan konstan itu Sheila mengangguk mantap. “Iya, Bu. Ini baru kali pertama saya pergi ke Jakarta.”
“Jangan panggil Ibu.” Darsiah mengibaskan tangannya di depan wajah seakan sedang mengusir lalat yang datang untuk mengganggu. “Panggil saja Mak. Mak Darsiah. Pak Gasendra dan pegawai lainnya biasa manggil aku begitu. Kalau kamu panggil aku Ibu, rasanya aku yang jadi majikan.”
“Oh.” Sheila mulai paham. “Iya, Mak Darsiah. Saya dan Layla original lahir di kampung.” Sambil mengedarkan pandangannya keluar kaca mobil Sheila bercerita. “Ternyata tempat ini indah ya kalau diliat dari mobil bagus. Sewaktu masih luntang-lantung di jalan, saya merasa kalau Jakarta ini sama saja … ya, berisik dan orang-orangnya banyak yang suka berteriak.”
Bertepatan dengan itu pula mobil yang mereka naiki mulai memasuki sebuah kawasan perumahan elit di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya Sheila serta Layla berdecak kagum memandangi deretan rumah yang berdiri dengan megah di sepanjang jalan.
“Orang-orang yang tinggal di sini punya pekerjaan apa ya, Kak?” tanya Layla tanpa sadar.
Darsiah yang mendengarnya tersenyum. “Kebanyakan orang yang tinggal di sini memiliki pekerjaan yang mapan. Entah itu pengacara, jaksa, pengusaha, atau punya jabatan tinggi seperti majikanku, Pak Gasendra.”
Layla menoleh dengan ekspresi malu karena ternyata Darsiah menguping pertanyaannya.
“Pak Gasendra itu wakil direktur ‘kan ya, Bu?” Kali ini Sheila ikut bertanya. Dia ingat beberapa jam sebelum mengajukan diri sebagai calon pendonor Sheila sempat melakukan stalking pada akun LinkedIn Gasendra.
Melalui hasil pencariannya ternyata Gasendra menjabat sebagi wakil direktur dari sebuah perusahaan terkemuka di negeri ini.
“Iya. Kamu sudah tau, ya.”
Sheila mengangguk sebagai jawaban. Di dalam benaknya, Sheila sedang memabayangkan sosok Gasendra ketika sedang bekerja. Bagaimana kiranya Gasendra ketika sedang berlakon sebagai seorang pimpinan besar? Apakah dia sombong sebagaimana kebanyakan orang kaya yang pernah Sheila temui di pabrik sepatu di kampung halamanannya?
“Biar aku tambahkan, Sheila. Ketika mobil kita melintas tadi, apakah kau melihat gedung tinggi bertuliskan The Tanoewidjaya?”
Lagi-lagi Sheila hanya memberikan anggukan.
“Pak Gasendra adalah salah satu pewaris perusahaan The Tanoewidjaya,” sambung Darsiah kemudian.
Sheila dibuat terpukau mendengar penjelasan Darsiah. Sheila jadi ingat cerita Gasendra tentang ketidakmampuannya dia memberikan keturunan laki-laki sehingga kini Liliana bahkan diasingkan oleh kakek neneknya.
Mungkin karena keluarga Tanoewidjaya masih mengharapkan cucu laki-laki sebagai pewaris dari kekayaan yang nilainya miliaran rupiah itu.
***
“Ini kamarmu dan Layla.”
Gasendra mendorong pintu jati di hadapannya dan membuat ruangan di dalam sana tampak. Tanpa mampu dicegah Sheila dan Layla berjalan masuk dan sama-sama dibuat takjub atas apa yang sedang mereka lihat.
Ruangan seluas 8x10 meter ini memiliki furnitur yang terbilang mewah bagi Sheila dan Layla. Ada sebuah spring bed ukuran besar, meja rias, pendingin ruangan, dan kamar mandi dalam. Sesuatu yang tak pernah Sheila bayangkan akan menjadi miliknya—walaupun hanya untuk sementara waktu—kini berada di dalam genggaman.
“Di dapur nanati kamu akan bertemu dengan beberapa karyawan saya salah satunya adalah Darsiah,” lanjut Gasendra. “Dia akan menjelaskan aturan untuk setiap penghuni di rumah ini.”
Sheila menoleh dengan perasaan gembira. Tak sia-sia dia mempertaruhkan nyawanya. “Makasih banyak, Pak. Saya janji enggak akan makan banyak-banyak. Enggak akan pakai air dengan boros dan akan hemat listrik juga.”
Gasendra mengangguk saja. “Kamar saya dan Liliana ada di lantai dua. Jangan naik ke sana seandainya tidak ada perintah.”
Sheila membentuk gestur hormat yang ditunjukkan kepada Gasendra. “Siap, Pak.”
Esok paginya tanpa perlu menunggu lebih lama, Sheila sudah mulai bekerja. Dia tau dari Darsiah kalau Gasendra memiliki taman dekat kolam renang yang tidak terawat. Selama ini mereka belum merekrut tukang kebun sehingga dengan senang hati Sheila yang mengambil alih tugas tersebut.
“Wow, kalau ditanami jagung pasti untung banyak,” decak kagum Sheila begitu memasuki taman yang dimaksud.
Area terbuka itu memiliki luas sekitar lima ratus meter persegi. Terdapat sejumlah tanaman yang terlihat tidak terawat seperti mawar rambat yang memenuhi dinding pembatas dengan dunia luar, cemara kipas, semak boxwood, dan tamana hias lainnya yang layu.
Perhatian Sabitah teralihkan ketika ia mendengar suara debur air. Kepalanya menoleh guna mencari sumber suara. Sekitar lima meter dari tempatnya berdiri terdapat sebuah kolam renang. Seekor katak tampak asik berenang di atas permukaan airnya yang jernih.
“Nah, Layla kalau tempat ini enggak dibersihkan bisa-bisa katak-katak di sini mengira kalau kolam renang tersebut sebagai empang. Jadi, kamu janji ya bantuin Kakak untuk bersihkan kebun?” Sheila menunduk sedikit sewaktu bicara dengan adiknya.
Sama seperti Sheila, Layla juga semangat untuk menyalurkan tenaganya demi membalas kebaikan hati Gasendra.
“Siap, Kak,” jawab Layla mantap.
Keduanya lantas mulai bekerja. Meskipun butuh waktu lama untuk merapikan taman seluas ini, tetapi Sheila dan Layla tak akan menyerah. Pertaama Sheila mulai menyapu daun-daun yang berguguran dan mengumpulkannya ke dalam satu titik. Setelah itu, Sheila mengumpulkan ranting besar yang telah patah dan menumpuknya bersama daun kering.
Sementara Sheila sibuk dengan daun yang berguguran, Layla sibuk mencabuti rumput liar yang tumbuh dan merusak keindahan taman. Tangan kecilnya bergerak dengan cekatan.
Kegiatan tersebut terus berlanjut sampai suara langkah kaki terdengar mendekat. Ketika menoleh, Sheila menemukan tubuh tinggi Gasendra yang berdiri di belakangnya. Pria itu berdiri dengan tangan terlipat di depan d**a.
Pagi itu Gasendra hanya mengenakan bathrobe yang dibiarkan terbuka sehingga perutnya yang rata tampak jelas oleh mata Sheila. Selain itu, Gasendra hanya mengenakan celana renang pendek.
“Sedang apa kalian?” tanya Gasendra tanpa perlu basa-basi.
“Bu Darsiah bilang kalau Bapak punya taman yang enggak dirawat. Jadi, saya berinisiatif untuk merawatnya, Pak. Kebetulan juga saya masih nganggur.”
“Jangan terlalu memaksakan diri. Taman ini luas dan saya enggak mau kamu sampai sakit lalu semakin lama meninggalkan rumah ini.”
Ouch! Kata-kata Gasendra terdengar lembut sekaligus kejam secara bersamaan. Tetapi, Sheila berusaha untuk tidak mengambil hati.
“Tenang aja, Pak. Tugas kayak gini mah gampang. Pekerjaan saya dulu di desa jauh lebih susah. Lagian saya udah agak sehat kok. Kalau Bapak minta saya buat bangun candi sekarang juga saya bisa, Pak.”
Gasendra mengacuhkan ucapan Sheila dan mulai berjalan mendekati kolam renang. Pertama-tama ujung jari kaki Gasendra menyentuh air kolam. Lelaki itu berusaha mengecek suhu air. Barulah setelah dirasa aman Gasendra mulai melepas bathrobe dan meletakkannya secara sembarangan di atas branch. Begitu lepas, Gasendra lantas menceburkan dirinya ke dalam kolam.
Riak air terdengar dengan jelas disusul dengan katak yang meloncat keluar karena takut akan guncangan air yang ditimbulkan oleh Gasendra.
“Apakah Layla bisa berenang?” tanya Gasendra setelah beberapa saat larut di dalam kegiatan berenang.
“Bisa, Pak. Di dekat rumah kami dulu ada sungai kecil. Layla biasa mandi di sana kalau lagi kemarau dan sumur kering.”
“Dia belajar secara otodidak?”
Sheila berjongkok sambil menata kerikil. Perlahan taman Gasendra mulai tampak rapi. “Iya, Pak. Hampir semua anak di desa saya pada bisa berenang. Sudah mirip ikan sepat mereka kalau ketemu air.”
“Liliana belum bisa berenang padahal saya sudah merekrut guru yang ahli.”
Sheila tampak terkejut mendengarnya, namun dia berusaha untuk mencari benang merah dari masalah tersebut. “Mungkin Liliana belum punya koneksi dengan airnya, Pak. Kalau dia merasa nyaman dan yakin dengan air dan orang yang mengajarinya, secara perlahan Liliana akan bisa. Dia hanya perlu percaya kalau dia aman di dalam air.”
Sesaat Gasendra terlihat ragu, tetapi akhirnya dia bertanya, “Apa Layla mau membantu Liliana?”
Sheila tersenyum senang. “Bisa, Pak. Tapi, nanti aja kalau luka bekas operasinya Liliana udah sembuh. Saya takut kalau kelamaan di dalam air, luka jahitannya bisa kebuka.”
[]