1 : Sheila dan Ceritanya

1643 Words
“Jangan stres. Jangan buat kondisi tubuhmu memburuk dan ikut berpengaruh terhadap operasi nanti. Saya enggak mau ya kalau sampai jadwal operasinya diundur dan Lili harus menunggu lebih lama.” Untuk ketiga kalinya Gasendra mengingatkan Sheila mengenai hal yang sama. Di ruang rawat VIP itu Sheila menggaruk keningnya yang sama sekali tidak gatal. Dia sudah mulai puasa sejak sore mengingat operasi akan dilakukan besok pagi. Selama itu pula Gasendra belum lelah bolak-balik ke kamar rawatnya hanya untuk mengatakan hal serupa. “Saya, sih enggak stres ya, Pak. Tapi, kalau Bapak ngingetin saya mulu yang ada saya jadi stres betulan,” balas Sheila jujur. Gasendra mengembuskan napas berat. “Maaf. Saya gugup. Besok Liliana akan menjalani operasi besar pertama di dalam hidupnya. Saya khawatir sesuatu yang buruk terjadi.” Sheila menganggukan kepalanya. “Santai aja, Pak. Enjoy. Kata dokter, kondisi saya sehat. Kondisi Liliana juga memungkinkan. Harusnya Bapak enggak usah terlalu khawatir. Dulu Layla juga pernah operasi amandel, Pak. Saya bawa santai aja.” Gasendra tidak lantas merasa terhibur mendengar cerita Sheila. Bagaimana mungkin operasi kecil bisa disandingkan dengan cangkok hati? “Kakak enggak akan mati ‘kan?” Di tengah percakapan itu Layla ikut menimbrung. Sheila mengusap lembut puncak kepala Layla. Tahun ini adiknya berusia 10 tahun, namun Layla tidak seperti kebanyakan anak seusianya. Layla tidak bisa membedakan arah dengan baik. Belum fasih membaca dan berhitung. Serta belum bisa membedakan sisi luar dan dalam ketika mengenakan baju. Apa jadinya Layla jika Sheila mati? “Enggak, dong. Kakak ‘kan kuat. Lagian operasinya enggak sakit kata suster. Katanya, kayak digigit semut,” jawab Sheila berusaha menghibur adiknya yang mulai terlihat muram. “Semutnya sebesar apa?” Sheila tampak menimbang. “Sebesar megalodon.” “Sakit banget, dong!” Layla mulai cemberut. Dia menggenggam tangan erat Sheila seolah apabila genggaman tersebut dilepaskan Layla akan kehilangan sang kakak untuk selamanya. “Sakitnya bisa dikurangi enggak, Kak?” “Nanti Kakak coba nego ya ke dokternya supaya sakitnya dikurangi.” Pada saat itu Sheila menoleh pada Gasendra yang sedari tadi hanya diam memperhatikan. “Pak, inget ‘kan poin di dalam kontrak waktu itu? Kalau saya meninggal, Bapak yang jadi walinya Layla. Enggak perlu Bapak sekolahin sampai kuliah kok. Cukup sampai Layla lulus SMA dan dapat kerja aja,” kata Sheila mengingatkan. Dengan berat hati Gasendra mengangguk dan mengakui bahwa ia mengingat poin perjanjian yang dimaksud. “Iya, akan saya lakukan.” “Makasih ya, Pak. Anggap aja sedekah ke anak yatim piatu. Rezekinya besar.” “Sejak kapan kedua orangtuamu meninggal?” Sheila mencoba untuk meraba-raba ingatannya. Momentum ketika kedua orangtuanya meninggal seringkali menjadi peristiwa yang terlalu menyakitkan untuk dikenang sehingga sebisa mungkin Sheila berusaha untuk melupakannya. “Bapak saya meninggal waktu umur saya 14 taunan. Sedangkan, kalau ibu saya meninggal waktu umur saya 18 tahun.” “Masih terlalu kecil untuk kehilangan sosok orangtua.” Sheila tersenyum pedih. “Nasib mana kenal usia, sih, Pak? Makanya, kalau nanti saya meninggal pasca operasi, saya harap Bapak beneran pegang janji buat merawat Layla. Kalau sampai bohong nanti saya gentayangin, lho.” Gasendra tidak menimpali. Pandangannya tertuju kepada Layla yang sedang memainkan boneka beruang seukuran telapak tangan yang telah usang. Gasendra jadi ingat di ruang rawat Liliana terdapat banyak sekali mainan baru yang jauh lebih cantik daripada milik Layla. “Layla,” panggil Gasendra ragu. Namun, melihat Layla yang menatapnya dengan sorot penasaran membuat Gasendra menelan kembali keraguannya. “Di kamar Liliana ada banyak mainan. Saya rasa dia enggak akan keberatan untuk berbagi kepada kamu.” Ekspresi Layla berganti cerah. Gadis kecil itu tersenyum dengan rasa antusias yang tinggi. Dipandanginya sang kakak seolah menunggu persetujuan. “Boleh, Kak?” “Eh? Boleh aja.” Layla bersorak senang. Dia sudah berjalan menyusul Gasendra ketika lelaki itu kembali berbalik sebelum sempat menyentuh kenop pintu. “Kamu mau ikut tidak? Di sini sendirian hanya akan membuat bosan.” Tentu saja Sheila menerima tawaran tersebut dengan senang hati. Sambil mendorong tiang infus Sheila berjalan berdampingan bersama Layla, sedangkan Gasendra memimpin jalan di depan. “Kamu takut?” Di tengah perjalanan mereka Gasendra bertanya tanpa menoleh sedikit pun. Sheila yang langsung memahami arah pembicaraan menjawab dengan tenang, “Takut, dong. Apalagi ini operasi besar pertama yang pernah saya lakuin, Pak. Cuma ya … gimana? Saya lebih takut melihat Layla meninggal karena kelaparan di jalan daripada membayangkan saya yang meninggal di meja operasi.” Gasendra dibuat terperangah oleh Sheila. Sebetulnya Sheila bukan orang pertama yang menawarkan diri sebagai pendonor hati. Namun, dari semua calon pendonor yang gagal hanya Sheila seorang yang menempatkan kepentingan orang lain di atas nyawanya sendiri. Selama ini orang-orang yang Gasendra temui berkata hanya ingin mengubah gaya hidup, ingin liburan ke luar negeri, dan melakukan hal-hal yang tak sebanding dengan nyawa mereka. “Untuk ukuran orang seusiamu, kamu cukup berani,” komentar Gasendra jujur. Sheila mengendikan bahunya acuh tak acuh. “Semua orang punya ketakutannya masing-masing, Pak. Cuma yang berbeda adalah ketakutan mana yang akan kita pilih.” Bertepatan dengan itu pula mereka bertiga tiba di depan pintu rawat Liliana. “Hai, My Little Princess.” Gasendra membuka pintu di ruang rawat VIP khusus anak dengan disusul oleh Sheila dan Layla. Kakak beradik itu dibuat takjub oleh dekorasi kamar rawat milik Liliana. Tak seperti kamar rawat pada umumnya, kamar rawat milik Liliana terlihat lebih hangat dan ceria. Ada banyak boneka cantik yang diletakkan di atas karpet beludru, bunga mawar warna pink di dalam vas kaca, tirai berwarna pink terang, dan beberapa balon hati yang menempel di dinding. “Hai, Papa,” sapa Liliana balik. Gadis kecil itu melirik Sheila dan Layla yang berjalan di belakang punggung ayahnya. “Who’s there, Papa?” “Ini ….” Gasendra memperkenalkan Sheila dan Layla. “Kakak ini akan menjadi pendonor kamu besok. Lalu adik kecil ini adalah adiknya.” Ekspresi mendung di wajah Liliana seketika berganti cerah begitu mengetahui identitas tamunya. “Jadi, kamu yang namanya Sheila?” Sheila mengangguk bingung. “Iya. Ini adikku Layla.” Ketiga saling bersalaman tanpa dicegah oleh Gasendra. Sisa sore itu lantas dihabiskan di ruang rawat Liliana. Ruangan yang biasanya terasa dingin dan menyesakkan seketika terasa menjadi lebih hangat. Liliana bahkan sesekali tertawa mendengar celotehan Sheila. “Layla kamu kelas berapa?” tanya Liliana saat keduanya lelah bermain. “Aku enggak sekolah, Li,” jawab Liliana malu. “Lho, kenapa? Kamu ‘kan sudah besar. You are older than me.” Layla melirik Sheila, berusaha meminta bantuan dari kakaknya. Memahami kode tersebut Sheila lantas mewakili untuk menjawab, “Layla butuh sekolah khusus, Li. Sekolah yang bukan tempat untuk belajar, tapi juga tempat di mana Layla bisa tumbuh dan menerimanya dirinya sendiri.” “Maksudnya?” Gasendra tak bisa menahan rasa penasarannya. “Adikmu butuh sekolah luar biasa?” Sheila tak membantah asumsi tersebut. Malah dia membenarkan. “Iya, Layla itu disleksia, Pak. Dulu pernah, sih waktu umur 7 tahun masuk SD reguler. Tapi, anak-anak seperti Layla dianggap sebagai anomali. Dia enggak bahagia di sana dan enggak merasa diterima juga. Jadilah saya putuskan buat enggak menyekolahkan Layla.” Disleksia. Gasendra cukup terkejut mendengar berita tersebut. Tentu saja Gasendra tidak lagi asing dengan istilah itu. Malah dia sangat akrab dengan kata disleksia. Liliana merupakan salah satu anak dengan disleksia. “Kenapa sampai sekarang belum disekolahkan juga?” “Kalau di kampung saya belum ada SLB, Pak. Fasilitas pendidikan di sana masih kurang banget. Makanya, saya niat untuk nabung dan bawa Layla ke kota dan menyekolahkan dia di tempat yang tepat. Cuma, ya gitu, deh … biayanya mahal banget. Belum uangnya kekumpul saya udah keburu dijodohin sama juragan kambing.” Semenjak mengenal Sheila seringkali Gasendra kesulitan membaca isi hati perempuan itu. Sheila tak jarang menceritakan peristiwa sedih yang menimpa dirinya dengan pembawaan santai seakan-akan pernikahan yang dipaksakan dan kabur dari tempat di mana ia lahir bukanlah sesuatu yang perlu dipusingkan. Sebagaimana hari ini. “Sayang sekali,” ucap Gasendra datar. Dia bingung harus mengatakan apa. Tak mungkin Gasendra memberikan afeksi berupa pelukan, bukan? “Tapi, yah ada hikmahnya. Saya jadi bisa ketemu Bapak, masuk ke ruang rawat VIP, makan enak, dan ada jaminan habis ini Layla bakal sekolah di tempat bagus. Terus, kalau saya meninggal pasti Bapak nguburinnya di Sandiego Hills dan kain kafannya dari katun. Saya ada senengnya, sih, Pak.” Gasendra tidak tahu harus menimpali apalagi. Lelaki itu terlalu terkejut mendengar pola pikir Sheila yang terkesan sangat sederhana. Padahal di situasi seperti sekarang Sheila pantas untuk merasa murung, khawatir, dan stres. Setelah memastikan Liliana tidur, Gasendra mengajak Sheila kembali ke kamarnya. Gasendra juga tanpa diminta menggendong Layla yang tertidur di sofa karena lelah bermain. Keduanya berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang sepi. “Omong-omong, saya mau tanya. Tapi, Bapak jangan marah ya?” Sheila membuka suara setelah keduanya hanya berjalan dalam sunyi. “Tergantung pertanyaannya.” Sheila berpikir sebentar, berusaha mencari padanan kalimat yang paling baik. “Istri Bapak ke mana? Maaf, apa sudah meninggal?” Yah, Gasendra sudah dapat menebak pertanyaan itu akan keluar dari mulut Sheila. Akan tetapi, Gasendra tidak menyangka akan secepat ini. “Kami sudah bercerai ketika Liliana berumur 1 tahun.” “Yah, sayang banget.” “Sayang kenapa?” Sheila tersenyum jahil. “Sayang duda kayak Bapak dianggurin. Saya bisa lho jadi istri Bapak.” Gasendra mempercepat langkah. “Sinting.” “Tapi, Pak ….” Sheila menyusul. “Kok enggak ada keluarga lain yang datang untuk menjenguk yah? Misal nenek atau kakeknya Liliana.” Gasendra sama sekali tidak merasa terpengaruh atas pertanyaan yang satu itu. Malah dengan enteng dia menjelaskan, “Mereka menginginkan cucu laki-laki, sedangkan sebagaimana yang kamu tau … anak kami adalah perempuan. Perceraian yang terjadi membuat saya tidak bisa memberikan harapan akan hadirnya cucu laki-laki bagi dua pihak keluarga. Jadi, ya … begitulah.” Sheila tidak menjawab. Lebih tepatnya dia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Fakta bahwa orang sekaya Gasendra bahkan menanggung bebannya tersendiri membuat Sheila yakin kalau di dunia ini memang tidak ada kehidupan yang sempurna. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD