"Maamaaa." Peluk Arsya begitu Syafira mengucap salam dari arah pintu.
Syafira yang sudah tiga hari tidak bertemu putra bungsunya itu membalas pelukan Arsya dengan ciuman bertubi-tubi di kedua pipi. Tentu saja, Syafira sudah mencuci tangannya sebelum masuk.
Di teras, ia menyediakan wastafel khusus cuci tangan. Bahkan sebelum virus C-19 menyerang, ia sudah memiliki kran kecil di depan.
"Kakak mana?" tanya Syafira mendapati putranya hanya seorang diri di ruang tamu sibuk menyusun bentuk dari lego.
"Di kamar," jawab Arsya melepas pelukannya menoleh ke arah Nurul.
"Hai, Tante," sapa Arsya menoleh pada sahabat mamanya dan mengulurkan tangan untuk salim.
salah satu perilaku baik yang diajarkan Syafira kepada kedua anaknya jika bertemu orang yang lebih tua, terutama keluarga dan teman mama, papa yang mereka kenal. Sedangkan untuk orang yang tidak dikenal, Syafira sudah mewanti-wanti dan mengingatkan keduanya agar waspada dan hati-hati.
Syafira belajar banyak tentang banyaknya kasus pelecehan dan penculikan anak yang marak beredar karena itu ia merasa perlu membekali anaknya dengan banyak pengetahuan tentang itu.
Syafira tak segan-segan mengingatkan dan menceritakan apapun yang membuatnya khawatir kepada kedua anaknya.
"Hai, ganteng," balas Nurul mengulurkan tangannya pada Arsya.
"Lagi bikin apa?" Toleh Nurul pada bangunan yang dirancang Arsya. Setelah bocah cilik itu melepas jabatan tangannya.
"Bikin benteng, Tan." Arsya kembali duduk di karet melanjutkan kegiatan rancang bangunnya.
"Sebentar lagi ada perang soalnya," lanjut Arsya menceritakan fantasi yang ia ciptakan di dunia bermainnya.
Bagitulah salah satu ciri anak cerdas, berhasil menciptakan fantasinya sendiri. Bermain peran. Menciptakan kecerdasan anak.
"Wah, hebat," puji Nurul mengamati pola bangunan yang disusun Arsya.
Arsya sejak usia tiga tahun sudah memiliki hobi mengoleksi lego berukuran mungil, berhasil menumpuk hingga puluhan jumlahnya.
Lebih kerennya lego-lego itu masih tersimpan rapi di dalam box mainan. Bocah cilik itu membelinya secara bertahap sebab sang mama mengira mainan itu tidak akan bertahan lama dan cepat bosan.
Ternyata dugaan Syafira salah, lego itu masih menjadi mainan istimewa Arsya. Putranya itu menyimpan dengan baik mainan kesayangannya di box tersendiri.
Saat ini Arsya sudah tidak pernah ada keinginan menambah koleksi legonya, tetapi masih memainkannya dengan hati-hati.
Nurul duduk di salah satu sofa ruang tamu, menunggu Syafira yang masuk ke kamar. Jika dulu sebelum menikah ia sering keluar masuk kamar syafira, tetapi sejak menikah Nurul tahu diri. Begitupun Syafira saat berkunjung ke rumahnya. Mereka memberi privasi pada kamar yang ditempati bersama sang suami.
Tangan Syafira baru saja meraih gagang pintu, saat satu notif pesan masuk ke ponselnya.
"Bun, sampai mana?" sebuah pesan dari Aryan masuk ke ponsel Syafira.
Wanita itu membaca tepat setelah masuk kamar meletakkan ransel yang ia gunakan ke Jakarta.
"Alhamdulillah, sudah di rumah," balas Syafira dengan cepat kebetulan ponselnya sedang on.
"Alhamdulillah," pesan dari Aryan.
"Iyan, udah makan?" tanya Syafira mengingat pola makan kekasih virtualnya itu sedikit bermasalah.
"Udah, Bun," balasnya.
"Besok masuk jam berapa?" Tulis Syafira supaya besok tidak kepikiran Aryan saat di kantor.
"Siang, Bun," balas Aryan.
Syafira membalas pesan Aryan dengan satu emoticon lengan sebagai kode untuk tetap semangat.
"Makasi, Bun." Tulis Aryan.
"Bun, Iyan main game dulu, ya!" pamit Aryan sebelum mengakhiri percakapan virtualnya dengan syafira.
"Oke." Tulis Syafira meletakkan ponselnya di atas nakas untuk bersih-bersih di kamar mandi sebelum kembali menemui Nurul di ruang tamu.
Syafira memang tidak ada niatan mencegah kegemaran Aryan sebab ia tahu kekasih virtualnya itu juga butuh waktu untuk dirinya sendiri.
***
"Dek, makan yang banyak." Syafira meletakkan piring berisi nasi ke hadapan Arsya yang masih enggan menyentuh makanannya.
Hari ini Syafira mendapat giliran work from home, sehingga ia bisa meladeni kedua anaknya dengan baik. Cilla yang duduk di samping Arsya tampak menikmati menu sarapannya dengan lahap.
Gadis cilik itu memang tidak pernah memilih makanan yang dihilangkan Syafira, berbeda dengan Arsya yang pemilih.
Pagi ini, Syafira memasak sambal goreng tahu tempe dan sayur asam. Sebagai pelengkap ada sambal terasi. Aroma wangi yang menguat dari masakan Syafira sangat menggugah selera untuk dinikmati.
Sayangnya, di ruangan itu hanya ada mereka bertiga. Anton sudah berangkat sejak pagi.
"Kak, enak gak, sih?" bisik Arsya yang sejak tadi memainkan sendoknya.
"Enak. Makan aja," balas Cila.
Dengan ragu Arsya menyendok makanannya. setelah satu suap, Arsya bisa merasakan sendiri masakan mamanya.
"Jam berapa mulai kelas, Kak?" tanya Syafira setelah menyelesaikan makan.
"Jam delapan," jawab Cila yakin.
"Kalo adek?" Syafira beralih ke Arsya yang masih mengunyah suapan terakhirnya.
"Sama," sahut Arsya singkat.
"Ya, udah abis ini kalian siapkan peralatan sebelum kelas daringnya mulai," titah Syafira.
***
Dari ruang tengah Syafira mengamati keberadaan dua anaknya yang menyimak penjelasan gurunya masing-masing di depan ponsel.
Syafira terpaksa membelikan masing-masing ponsel sejak diberlakukan sekolah daring setahun yang lalu. Entah sampai kapan sekolah on line ini akan berlangsung. Ia menyadari anak-anak mulai bosan dengan sistem pembelajaran jaraj jauh ini.
Selain sering luput dari pantauan, sekolah daring yang masih diterapkan masing-masing sekolah menjadikan anak kecanduan gadget. Padahal sebelumnya sudah dikampanyekan agar orang tua membatasi pemakaian gadget untuk anak.
Lalu, saat pelaksanaan sekolah on line, mana bisa terjadi?
Semua materi, soal, absen hingga nilai dikirim via ponsel. Tugas pun terkadang tidak kira-kira. Apalagi yang kelas besar.
Andaikan bisa protes, sebagai perang tua Syafira ingin menyampaikan bahwa dampak sekolah jarak jauh menjadikan anak-anak tidak bisa jauh-jauh dari gadget.
Anak yang sebelumnya tidak mengenal gadget, sekarang malah dipaksa untuk menggunakannya. Melalui zoom meeting, g-meet dan aplikasi lain yang mendukung pembelajaran bapak ibu guru menyampaikan pembelajarannya.
Satu jam Arsya selesai menyimak penjelasan via aplikasi teams berlanjut dengan mengerjakan tugas yang dikirim menggunakan link. Sedangkan Cila baru saja selesai g-meet dengan guru bisang study bahasa Inggris dan IPA.
Masih menggunakan gadget mereka menyelsaikan tugas yang dikirim guru masing-masing.
"Nih, diminum dulu." Syafira menyodorkan es sirup kepada kedua anaknya.
Ada rasa kasihan melihat kedunya terlalu serius di depan monitor berukuran 7 inchi itu. Ia membayangkan betapa tidak enaknya sekolah tanpa bisa bercanda dan bermain dengan teman-temannya.
Mungkin bagi sebagian orang sekolah daring adalah keberuntungan karena lebih menghemat uang dan tenaga. Namun, bagi sebagian yang lain adalah petaka sebab tidak bisa bertemu teman.
Lebih parahnya mereka tidak mendapat uang saku. yang paling disukai anak sekolah adalah mendapat uang saku untuk sekolah. Sejak sekolah daring, tentu saja tidak uang saku.
Kehidupan mereka hanya rebahan ceria. Tidak ada acara lari-larian di kelas, menjahili teman dan mendengarkan omelan guru.
Yang ada mereka tersenyum kecil menatap monitor, bahkan tanpa tahu bentuk fisik sang guru. Apalagi bertengkar dengan teman.
Masa seperti itu rasanya akan sulit terlaksana saat ini. Entah setahun ke depan, sebulan ke depan atau bahkan seminggu lagi.
Keputusan sekolah daring atau tatap muka saat ini ditentukan pemerintah kota masing-masing. Sesuai level penyebaran covid.
***
Bersambung