"Jadi ada guru yang menemani?" tanyaku tanpa berharap jawaban, karena itu tidak perlu ditanyakan, hanya penekanan saja dan rasanya sedikit lega, setidaknya ada yang bisa membantu Fikri menjelaskan pada orang tuanya.
"Iya ada, wali kelasnya. Jadi waktu kita kumpul di aula hari itu, mereka berlima sudah tidak di kampus lagi, melainkan dalam perjalanan pulang, bahkan mungkin si Rio uda sampe, kan dia anak Semarang" lanjut Kevin lagi.
"Itulah sebabnya, tidak ada siswa yang sempat pamitan sama teman-temannya bila dikeluarkan secara tidak hormat Rick" Reno mengambil alih, kelihatannya dia ingin meringankan Kevin yang sudah mulai capek bercerita.
Dan dari ucapan Reno mengandung arti yang dalam, agar aku tidak menyalahkan Fikri dan diriku sebab kami terpisah karena keadaan. Hmmmm, iya aku tahu Ren, tidak ada yang perlu disesali, meskipun berat, saat ini aku sudah mulai belajar ikhlas dan tabah, aku sudah mulai kuat, walaupun nanti ketika pulang ke asrama dan sendirian di kamar air mataku akan kembali menetes.
Seakan pintu kegelapan yang mengurungku beberapa hari ini akan membuka kembali, menarikku dalam suasana gelap gulita penuh kesedihan dan keputusasaan, tapi setidaknya kali ini aku membawa lentera, sebagai penerang dalam kegelapan itu, dan pada saatnya nanti aku akan bisa mengatasinya, menjalani kehidupanku seperti semula.
"Makan kak." ucap siswa SMP di seberang meja kami, dia baru duduk tepat di meja depan.
"Iya, kita baru aja mau makan" jawab Idris ramah. Hahaha, cepat tanggap anak ini sekarang.
Aku, Reno, Idris dan Kevin bangkit dari tempat duduk menuju meja prasmanan, aku tersenyum sama anak itu, dan terasa cukup akrab, setelah duduk dan makan baru ingat dia anak yang dulu rada sok, aku pernah ketemu awal tahun lalu, waktu itu dia cari temannya di asramaku, anak kelas 2 SMP kalau tidak salah. Aku berusaha mengingat namanya dan tidak berhasil. Sudahlah, nggak penting juga diingat sekarang, walaupun aku memandangnya sekali lagi sih, solanya good looking gitu. Udah, ah, aku mau makan dulu, ntar dibilang ganjen lagi.
***************************
Dengan satu komando barisan pembawa trompet membentuk formasi baru sambil memainkan nada-nada yang lumayan tinggi, seluruh unit mampu menampilkan performa terbaiknya. Tepuk tangan yang menggema di lapangan kampus menandakan berakhirnya atraksi yang kami tampilkan, diiringi suara drumb dan trompet aku memberi hormat kepada pembina lalu turun dari podium.
Lega rasanya sudah tampil, atraksi dan formasi-formasi yang kami peragakan cukup sukses meskipun hanya latihan seminggu, tepat setelah ujian akhir tahun dilaksanakan. Parade marching band kali ini sebagai penutup dari rangkaian kegiatan tahunan, dan besok adalah hari libur pertama tahun ajaran ini, artinya PULANG.
Akhirnya aku mampu bertahan, melewati hari-hariku tanpa Fikri, pacarku. Tidak ada kabar dan berita, perlahan aku mulai terbiasa, karena keterpaksaan dan kepasrahan, tak ada yang mampu ku perbuat, setidaknya bertahan dan bangkit adalah pilihan yang paling logis. Ujian telah usai, aku yakin naik kelas XI, meski belum tentu di kelas atas lagi. Tahun ini sungguh berat, kehilangan sahabat terbaikku Dion sudah cukup membuatku jatuh, apalagi badai itu ternyata belum usai, kurang dari satu tahun kehilangan itu kembali, seakan takdir ini mempermainkanku.
Kepergian Fikri tanpa kabar menghancurkanku, dengan susah payah dan berat aku mulai merangkak, sedikit demi sedikit untuk melanjutkan perjalanan yang tidak berujung. Bahkan setelah kepulangannya tidak ada selembar surat pun yang aku terima. Mungkin dia sudah melupakanku, atau mungkin dia belum siap untuk berbicara padaku, meski itu hanya lewat surat.
Entahlah, kepahitan yang aku telan dengan terpaksa sekarang telah mulai berkurang, aku masih selalu membayangkan dan mengingat pacarku, tapi aku sudah cukup kuat untuk merelakan dan mengikhlaskannya. Kalau dulu selera makanku hilang ketika mengingat Fikri, setidaknya saat ini aku masih tetap makan, meskipun tidak senikmat dulu.
Masa-masa saat kami bersama sangatlah menyenangkan, bahkan Fikri selalu memelukku usai tampil sebagai Gitapati, dengan penuh semangat dia memuji penampilanku, dan tentu saja kami hanyut dalam dunia kami, penuh petualangan dan indah. Dia akan menceritakan kembali bagaimana penampilanku, betapa sempurna gerakan-gerakan yang aku tampilkan, bahkan bila kami melakukan parade sambil berjalan Fikri selalu mengiringiku, membawa sebotol air mineral yang dia siapkan ketika aku dahaga. Oh, kalau ingat masa-masa itu, begitu romantis.
Kami biasa menghabiskan banyak waktu berdua, bercerita hal-hal kecil, menghayal tantang sesuatu yang mustahil, semua terasa begitu berkesan. Perlahan air mataku menetes, pada penutup tahun ini saat Marching Band tampil Fikri sudah tidak di sampingku, beberapa hari lalu ketika masa-masa ujian Fikri juga tidak lagi menemaniku, tak ada canda dan tawa, tak ada belaian, tak ada makanan dan minuman yang biasa dia siapkan untukku.
Padahal ujian tahun lalu Fikri menemaniku sepanjang waktu, apalagi saat itu masa ujian nasional. Dengan sabar dia mengajariku pelajaran yang tidak ku mengerti, kadang hingga aku tertidur di pundaknya. Memasuki dunia mimpi, begitu tenang dan nyaman.
Tahun ini semua tinggal kenangan, aku berusaha semampuku untuk belajar, selain itu aku berjuang dikit demi sedikit untuk bertahan, atas kenangan-kenangan yang tiada henti membayangiku, bagai tayangan-tayangan film. Menarikku dalam kisah itu, pada akhirnya membuatku jatuh ke dalam dunia yang gelap, penuh kesedihan dan kehampaan, ruang kosong tak berpintu, tempat jiwa-jiwa yang tersesat.
Fikri. Tidak mungkin bisa aku melupakanmu, tapi aku akan belajar untuk tidak mengingatmu, setidaknya untuk saat ini itulah yang paling masuk akal.
Aku menghapus air mata yang mentes di pipi dengan jubah biru yang aku gunakan. Dari kerumunan personel marching band Kevin berjalan ke arahku. Malu rasanya sampai sekarang masih sering nangis, terlihat begitu cengeng dan rapuh di sekitar sahabat-sahabatku. Belakangan ini aku tidak banyak membahas tentang Fikri dengan Kevin, dan dia juga tidak bertanya. Hati kami tampaknya bersepakat, biarlah semua itu jadi masa lalu, yang memberikan semangat bukan beban.
"Gitapati kita makin keren aja performnya" ucap Kevin seraya duduk di sampingku.
"Hmmmmmm, thanks" ucapku pelan. Aku menarik nafas panjang. Kebanyakan siswa sudah bubar, hanya beberapa pengurus marching band saja yang tersisa, membereskan alat-alat dan instrumen yang bertumpuk di sudut lapangan.
"Lu pulang besok?' tanya Kevin tanpa menatapku. Di tangannya masih ada stick drumb. Stick siapa yang dibawa anak ini, dia kan main terompet.
"Iya, papa dan mama yang jemput, sekalian mampir ke Jogja, kakakku nggak pulang soalnya, karena masih magang" jawabku. Kebetulan mbak Mita sekarang masih sibuk di kampus, jadi sebelum pulang ke Bandarlampung kami akan mampir dulu di Jogja, sambil jalan-jalan menikmati suasana kota yang sudah terkenal itu.
Kevin diam sejenak. Dia memainkan stik drumb di tangannya, iramanya tidak jelas, sesekali dia melantunkan lagu barat yang juga gak aku kenal.
"Malam ini lu sibuk apa?" tanya Kevin.
Aku menoleh, lagunya tadi sudah selesai tampaknya, stik drumb juga sudah diletakkan di samping kursi.
"Beres-beres barang lah, banyak pakaian yang mau dimasukin koper, buku-buku juga, biar besok nggak repot lagi." jawabku datar. Lagian masa Kevin nggak tau, semua siswa juga malam ini melakukan hal yang sama.
Ouch, kecuali kelas XII seperti Kevin, aku lupa. Siswa kelas 3 SMA kan belum pulang, karena masih ada pembekalan dan pengumuman kelulusan UN, sekitar sepuluh harian lagi. Waktu sepuluh hari cukup bikin boring juga, apalagi suasana kampus sudah sangat sepi, dengan pembekalan yang cukup padat tidak diragukan lagi hari-hari mereka akan sangat membosankan.
"Jadi ceritanya kamu kesepian kan mulai besok?" candaku. Kevin mengernyitkan matanya, hahahahaha, kelihatannya komentarku memang benar.
"Iya, semua siswa pulang kecuali kelas XII. Tapi elu juga ntar waktu kelas 3 SMA akan merasakan hal yang sama. Sepi dalam kesendirian" balas Kevin.
Aku hanya tertawa. Benar juga, 2 tahun lagi giliran kami merasakan hal serupa. Tapi setidaknya kan masih ada teman-teman seangkatan, masih ada Reno dan Idris, kami kan masih bersama.
"Malam ini aja, aku sudah sendirian." tambahku dengan rada kecewa, aku baru ingat teman-teman kamarku akan pulang malam ini.
"Emang teman kamarmu kemana?" selidik Kevin, dia menyipitkan matanya yang sudah sipit itu.
"Irfan, Cipto dan Zia akan pulang malam ini. Orang tuanya sudah nyampe dari kemaren" jawabku lesu. Aku menghela nafas, nggak enak juga sih sendirian di kamar, apalagi yang lain sudah pada pulang.
Itulah keuntungan bagi yang rumahnya dekat. Irfan asalnya dari Pati, jadi cuma butuh beberapa jam saja untuk sampai. Cipto dijemput pakde nya dari Kendal, juga sangat dekat dari sini. Hanya Zia yang agak jauh, dari Tsikmalaya, tapi bapaknya bawa mobil sendiri dan ngajak pulang malam ini, jadi besok siang sudah sampe Tasik. Artinya saat ini hanya aku saja yang belum dijemput.
Sebenarnya liburan secara resmi baru dimulai besok, tapi karena kegiatan pengarahan sudah dilaksanakan tadi pagi, dan dilanjutkan dengan Pentas Seni, lalu sore ini marching band sebagai penutup rangkaian kegiatan, jadi tahun ajaran 2011/ 2012 dianggap sudah selesai sehingga para siswa diperbolehkan pulang lebih awal.
Beberapa daerah malah sudah menyiapkan bus untuk kepulangan rombongan, biasanya para wali siswa akan mengadakan acara untuk menyambut mereka. Berhubung siswa dari lampung tidak terlalu banyak, jadi kami putuskan pulang masing-masing saja, selain itu jarak yang jauh menggunakan bus juga kurang efektif.
"Gue boleh nemenin lu malam ini Rick?" celetuk Kevin. Sesaat ku pandang wajahnya dengan ekspresi curiga.
"Nggak boleh!" jawab ku ketus.
Kevin langsug cemberut. Enak aja, cari-cari kesempatan, mentang-mentang aku sendiri malam ini. Tapi liat mukanya merana begitu kasian juga.
"Hahahaha, becanda kok. Nemanin ngapain?" sambungku. Kevin langsung girang, ngarep banget nih.
"Ngobrol-ngobrol aja, besok kan seluruh siswa pada pulang, jadi malam ini gue mau begadang, ngobrol, cerita-cerita. Daripada lu sendirian bete, ngeberesin barang-barang palingan juga sebentar kan?" ucap Kevin dengan nada lebay.
Anak ini pinter banget alasannya. Kalau dipikir-pikir sih Kevin ada benarnya. Sebenarnya aku sudah ada rencana ngajak Idris dan Reno menemaniku, tapi belum pasti, karena mereka juga pasti sibuk, Reno sampe sore ini saja masih di markas klub sepak bolanya, Idris juga masih di ruang teater nggak tau lagi ngebahas apa, untuk persiapan pentas tahun ajaran baru mungkin, biasanya mereka ketika pulang dikasih tugas cari-cari referensi. Dari pada nanti semua nggak bisa, sedangkan ada Kevin nganggur nawarin diri, mending diterima aja, dan nggak ada ruginya juga.
"Oke, kamu nemeninya mulai sekarang aja." pintaku seenaknya. Dengan begitu dia pasti nurut dan nggak bakal macam-macam.
"Terus pakaian gue gimana?" balas Kevin bingung.
"Kamu kan gak pulang, ngapain dipusingin? Mau beres-beres pakaian?" aneh saja, pulang masih sepuluh hari lagi mau beres-beres dari sekarang.
"Ngaco nih anak. Bukan beres-beres, ini masih pakai kostum, baju ganti maksud gue." jelas Kevin rada kesal, lucu liat mukanya begitu.
"Hahahahahaha, sory bro. Pakaian ku banyak, muat kok sama kamu, aku kan sudah hampir sama tinggi sama kamu." balasku santai.
"Emang tinggi lu berapa sekarang?" tanya Kevin pelan. Anak ini ada aja bahan candaannya, ngapain pakai nanya-nanya tinggi.
"170 centi, emang kamu berapa?" jawabku kesal.
"Serius lu, perasaan tinggi gue jauh di atas elu, gue aja 175, masa lu 170." balas Kevin sambil megang kepalaku.
"Ih, tangan nya." protesku sambil melepaskan tangan yang seenaknya saja ngucek-ngucek rambut indahku (lebay).
"Memang segitu, kalau nggak percaya ukur saja sendiri." ucapku ketus. Kevin tertawa, tapi kelihatannya dia belum puas.
"Berat lu berapa?" tanya Kevin lagi.
"Kamu mau ngapain sih nanya aneh-aneh?" dengan kesal aku plototin anak ini.
"Ya mau ngecek aja, supaya tau baju lu pas nggak sama gue?" balas Kevin. Aduh, lama-lama bikin ribet si Kevin, dia kan cuma mau numpang di kamarku, bukan jalan-jalan. Lagian baju tidur juga nggak ada pengaruhnya, mau kekecilan atau kegedean sama saja, asal jangan robek aja, kesannya kayak gembel.
"Oke-oke, nggak apa-apa deh. Plis, jangan mandangin gue gitu." dengan sigap Kevin menanggapi tatapanku, tampaknya dia sudah hafal banget kalau batas kesabaranku sudah habis, rasain lu.
Aku dan Kevin kembali ke asramaku, setelah melepaskan kostum marching band kami langsung ke kamar mandi, hanya ada beberapa siswa yang sedang asik di shower, dan beberapa lagi di toilet. Ada juga yang nyuci pakaian, aneh bukannya besok mau pulang sempat-sempatnya nyuci, kenapa nggak dibawa pulang aja nyuci di rumah.
Aku dan Kevin langsung mandi di shower yang kosong, (sendiri-sendiri loh, walaupun tempat mandinya terbuka dan tidak bersekat). Kami mandi tidak terlalu lama karena suasananya sepi dan langsung kembali ke kamar. Ada beberapa baju kaos dan celana boxer aku serahkan ke Kevin, ternyata pakaianku cukup pas sama kakak kelas yang lebih tinggi dariku itu.
Kami mulai membereskan barang-barangku usai makan malam, hanya butuh waktu satu jam seluruh barang-barang sudah siap. Buku-buku pelajaran kami satukan dalam kardus, soalnya koperku sudah sesak, sedangkan tahun ini aku lumayan rajin beli buku-buku bacaan tambahan terutama yang tidak ada kaitannya dengan pelajaran hahahaaha.
Kami bersantai sambil bercerita hingga larut malam, tentang kenangan-kenangan saat tahun pertama aku masuk ke sini, tidak terasa sudah empat tahun, dan sebentar lagi masuk tahun kelima. Kevin juga bercerita tentang awal dia masuk ke sekolah ini. Banyak hal yang aku baru tau, dia tidak pernah bercerita, bagaimana kisahnya masuk ke sekolah Asrama, karena kami sibuk membahas tentang aku.
Tahun pertama Kevin di sini ternyata tidak jauh berbeda dengan apa yang kami alami dulu. Ada rasa tidak betah, nggak ada teman, kena hukum karena pelanggaran dan hal-hal lainnya yang menjadi bumbu sedap dalam menjalankan hidup di sekolah berasrama.
"Rick, ini buat lu" Kevin mengulurkan sebuah kotak persegi kepadaku yang dibungkus kertas cokelat. Tumben ngasih aku kado, padahal liburan-liburan dulu dia nggak pernah begitu. Dengan semangat aku bangkit dari ranjangku, Kevin masih berbaring di ranjang Irfan.
"Kok pake ngasih-ngasih kado sih, isinya apaan?" ucapku senyum-senyum, soalnya ini pertama kali kadonya dibungkus.
"Kapan lagi gue ngasih kado, buka aja." jawab Kevin santai, sekarang dia sudah duduk di meja belajarku.
"Jam tangan, ini kan jam tangan yang sering kamu pakai." ucapku pelan. Ini jam tangan kesayanganya, aku tau. Dia pernah cerita beberapa waktu lalu, hadiah dari papanya. Saat itu kami tampil di Yogyakarta mengikuti Hamengkubuwono Cup, papa Kevin nonton dan dia dibelikan jam tangan itu sebagai hadiah ulang tahun.
"Kamu ngasih barang sepenting begini seperti mau berpisah aja," ucapku dengan menatap sahabat di depanku itu.
"Rick, kita tidak selamanya sekolah di sini kan?" balas Kevin pelan, nada suaranya berbeda.
Aku tersedak. Aku baru menyadari ucapannya. Kevin sekarang tamat sekolah, tentu saja dia akan pulang dan tidak akan pernah kembali ke sini. Ini tahun terakhirnya. Aku tidak berani memalingkan pandanganku dari jam tangan yang ku genggam. Suasana sunyi. Inikah alasan Kevin ingin menemaniku? atau seharusnya aku tau diri, aku yang harus menemaninya, karena ini bisa jadi pertemuan terakhir kami.
Terpikir olehku, apakah aku sahabat yang baik? kenapa dalam persahabatan kami selalu tentang Ricko? Aku bertanya pada diriku sendiri, pernahkan aku bertanya tentang Reno dan masalahnya? Idris dan kehidupannya? Kevin dengan jalan ceritanya? Atau barangkali sahabatku Dion dengan beban-bebanya? Tidak, aku sibuk dengan urusanku, pribadiku, egoku.
Batinku berbisik bahwa aku belum hadir di tengah mereka seutuhnya.
Tuhan berikan aku waktu, untuk memperbaiki sikap-sikapku, agar aku mampu melengkapi mereka sebagaimana mereka selalu hadir melengkapiku, menjadi jembatan bagi mereka agar dapat menyeberang sebagaimana mereka menjadi perahu bagiku di tengah samudra. Aku ingin menjadi penunjuk arah ketika mereka tersesat sebagaimana mereka menjadi cahaya ketika aku terjebak dalam kegelapan. Tuhan, aku hanya ingin menjadi teman yang seutuhnya bagi mereka.
Kevin tersenyum, dia tau aku sedang berpikir keras, memahami apa sebenarnya yang aku hadapi. Dia melangkah ke ranjang Irfan untuk beristirahat.
Tanpa berkata aku menarik tangannya.
"Di sini saja." bisikku pelan.
Kevin menurut, kupandang wajahnya yang biasanya ceria, selalu gembira dan tertawa. Wajah itu malam ini meneteskan air mata pertamanya, aku tidak pernah melihat Kevin menangis sedih, bahkan ketika kakeknya meninggal beberapa waktu lalu.
Kevin merebahkan tubuhnya di ranjangku, tepat di sebelahku. Aku tidak membuka lagi mulutku, aku juga tidak ingin memikirkan apapun, aku sudah kehilangan Dion awal tahun ini tanpa mampu memberikan semangat padanya, aku juga telah kehilangan pacarku tanpa ada kata-kata perpisahan, dan sekarang aku akan kehilangan salah seorang sahabat untuk kedua kalinya. Tapi kali ini aku tidak ingin melepasnya tanpa perpisahan, aku memang terkejut. Aku memang tidak menyadari Kevin akan tamat tahun ini, tapi aku sudah tau ini pasti akan terjadi ketika pertama kali menginjakkan kaki di sekolah ini, ketika Pak Romi membagikan kelas kami empat tahun lalu, bahwa semua akan berpisah pada akhirnya, karena kami hanya sebentar di sini, ternyata enam tahun memang waktu yang singkat.
"Kak" bisikku pelan
Kevin membalikkan tubuhnya sehingga kami saling berhadapan. Kupeluk erat Kevin dalam dekapanku, sahabat dan teman yang mengisi hari-hari yang kosong, yang menyebarkan aura positif dan senyuman. Kami tertidur pulas dalam pelukan, memasuki dunia mimpi, sejenak beristirahat dari penatnya kehidupan, karena esok kami akan melanjutkan jalan masing-masing.
GOOD NIGHT KEVIN.
Bersambung