Episode 13 Bagian 1

4440 Words
Mataku sembab, sudah tiga hari aku tidak masuk kelas dengan alasan sakit. Hasil ujian semester pertama sudah keluar dan nilai-nilaiku tetap bagus, ternyata jurusan IPA sebagaimana keinginan mama tidaklah sesulit anggapanku sebelumnya. Mungkin aku bisa naik kelas XI A IPA tahun depan, naik satu tingkat dari tahun ini. Hmmmmm, tapi untuk sekarang itu tidak penting, bahkan untuk melanjutkan pendidikanku di sekolah ini pun terasa tak menarik lagi. Sebagai siswa SMA seharusnya sangat menyenangkan, selain pelajaran baru, teman-teman dan suasana juga baru. Tentu menjadi siswa paling senior di asrama sangat menguntungkan dan memudahkan segala urusan, aku bisa minta tolong junior untuk mengerjakan sesuatu atau sekedar menggoda anak-anak SMP yang ketahuan melanggar aturan. Kadang kalau lagi bosan ikut ngejahilin mereka di ruang ganti (tentu masih dalam tahap wajar). Namun menjelang semester dua ini, air mata dan kesedihan menyelimuti jiwa ragaku. Peristiwa ini menjadi kesedihan yang mencabik-cabik hati. Aku tak lagi dapat merasakan sesuatu, serasa hidup di kegelapan, tak ada suara yang terdengar, tak ada semangat untuk bangkit, bahkan aku tidak tau sudah berapa lama tidak makan dan minum, aku juga tidak mandi. Mandi bukan urusan yang penting lagi, pakaian kotor menumpuk dalam lemari, mengantarkannya ke laundry yang berada di lantai satu pun aku tak ingin. Tumpukan buku di atas meja berserakan tak karuan, tas cokelat yang biasa aku bawa ke kelas masih sama seperti hari terakhir aku sekolah. Ketidakpedulian dan kekacauan hidupku sudah pada tahap akut, bahkan tidak ada rasa takut sedikitpun untuk melanggar lusinan peraturan yang ada di sekolah ini. Mulai dari tidak masuk kelas, tidak ikut absen malam, tidak ikut kegiatan pramuka, puluhan rutinitas asrama aku abaikan, PR yang lumayan banyak tidak aku kerjakan, hingga peraturan kecil seperti membuang sampah sembarangan dan perbuatan tidak sopan terhdap pengurus asrama. Rasanya bila ada yang sengaja memancing emosiku, akan aku tantang berkelahi bahkan pengurus OSIS atau guru sekalipun. Aku tidak peduli akibat atau sanksi yang akan menimpaku, aku tak peduli. Dengan rasa malas aku bangkit dari tempat tidur, jam dinding di kamar yang memiliki 4 ranjang ini menunjukkan pulu 09.55. Dengan pelan aku melangkah ke sudut ruangan, sedikit mengintip ke halaman asrama kami melalui jendela panjang, tampak beberapa guru berjalan menuju gedung-gedung belajar, suasana terlihat lengang karena sebagian siswa telah masuk kelas. Perlahan air mata menetes lagi, teringat peristiwa siang itu, empat hari lalu seluruh siswa dikumpulkan di aula pertemuan setelah jam makan siang. Pengumuman disampaikan oleh Bagian Penerangan dan Jurnalistik OSIS melalui speaker toa yang tersebar di setiap sudut kampus. Aku dan beberapa temanku mengambil posisi duduk asal-asal saja, karena belum tau penyebab seluruh siswa dikumpulkan di aula. Biasanya ada masalah serius sehingga seluruh penghuni kampus ini harus dikumpulkan. Dalam waktu kurang dari lima belas menit semua siswa sudah berkumpul. Suasana sangat ramai, banyak pertanyaan-pertanyaan muncul tidak tau diarahkan kepada siapa. Seorang siswa kelas IX yang duduk di sampingku sempat bertanya ada masalah apa sehingga kami dikumpulkan, aku hanya menggeleng saja tanda tak tahu sama seperti sebagian besar siswa yang hadir. Tidak lama beberapa orang siswa kelas 3 SMA berperawakan tegap, berambut cepak dan bermuka masam masuk melalui pintu-pintu aula dan berdiri menghadap seluruh siswa kelas VII sampai kelas XI. Tidak ada senyum di wajah kakak-kakak Bagian Keamanan OSIS itu. Semua siswa tanpa komando diam, suasana sunyi, hanya suara berisik dari soundsistem dan mikrofon yang sedang disiapkan Bagian Penerangan dan Jurnalistik yang terdengar. Kakak-kakak Bagian Keamanan memandangi seluruh siswa seperti seorang komandan perang sedang menakuti-nakuti tahanannya. Benar-benar mencekam dan menakutkan (menurutku begitu). Seorang remaja berpakaian rapi menggunakan seragam SMA dengan rambut tidak berbeda dengan Bagian Keamanan berjalan menuju tengah ruangan, semua mata tertuju pada remaja muda tersebut. Dengan tinggi badan yang ideal dan wajah yang lumayan tampan dia berdiri di tengah ruangan tepat di podium, sesaat dia tersenyum tipis sambil mengamati seluruh aula dengan tenang. Matanya hitam dengan pandangan sangat tajam dan fokus, bahkan cenderung mengintimidasi menurutku, remaja 17 tahunan itu adalah siswa paling populer dan pastinya dikenal semua siswa di sekolah ini. Dia adalah Mahendra Adif Parayoga, Ketua OSIS angkatan 2011/2012 yang merupakan siswa paling berpengaruh. Kami semua memandanginya tanpa berkedip, menunggu penjelasan atas semua peristiwa yang janggal. Di tengah keheningan kak Mahendra mulai bicara menggunakan mikrofon, dengan suara yang tegas menambah kewibawaannya. "Adik-adik sekalian, pada siang ini adik-adik dikumpulkan di aula ini karena ada pengumuman penting level satu yang akan disampaikan" ucap remaja asal Surabaya itu. Banyak siswa saling berbisik saat kata-kata "pengumuman level satu" diucapkan ketua OSIS. Beberapa siswa SMP kelas 1 tampak bingung, tapi bagi kami siswa SMA yang telah beberapa kali mendengarnya sudah paham, semua menjadi bergidik mendengarnya, maklum saja pengumuman level satu adalah pengumuman penting terkait status siswa yang dengan pelanggaran berat dan sangat berat, semua saling menoleh dengan raut wajah penuh tanda tanya. "Bagian Penerangan dan Jurnalistik akan membacakan surat keputusan. Selaku ketua OSIS saya berharap adik-adik menyimak dengan seksama dan mengambil pembelajaran dari hal tersebut. Karena dengan menjadikan peristiwa ini pembelajaran, adik-adik tidak akan bertindak ceroboh dalam melakukan sesuatu. Ingatlah tujuan utama adik-adik ke sini, ingat pesan orang tua kita yang ingin anak-anaknya sukses. Yayasan ini bukan benci pada mereka-mereka yang diberi sanksi, tetapi itu bentuk evaluasi agar semua siswa paham betul betapa pentingnya nilai-nilai yang ada di sekolah ini." lanjut Kak Mahendra. Seluruh siswa tidak ada yang bersuara, semua menyimak kata per kata dari Ketua OSIS. Aku memutar kepalaku, memandang sekeliling, di setiap pintu masuk aula pertemuan yang berjumlah 10 pintu, kakak Bagian Keamanan masih berdiri dengan posisi dan raut wajah yang tidak berubah, menjadikan suasana saat itu semakin tegang. Setelah ketua OSIS menyampaikan pengantar, dua orang pengurus Bagian Penerangan dan Jurnalistik maju ke tengah ruangan masing-masing dengan membawa sebuah map berwarna merah. Kakak yang berpostur lebih pendek maju ke podium dan mulai membacakan surat yang ada dalam map tersebut, sedang yang satunya lagi tetap berdiri di belakangnya sambil membuka map serupa, mungkin menyimak setiap bacaan agar tidak keliru. Pandanganku gelap setelah surat keputusan itu dibacakan. Bahkan saat seluruh siswa bubarpun aku tak sadar. Aku juga tak merasakan apapun ketika Kevin, Idris dan Reno memelukku dan mengantarkanku kembali ke asrama. Hari itu sangat kelam, tak ada cahaya. tak ada warna, tak ada suara. Aku berada dalam ruangan kosong, sendiri. Jam lima sore aku terbangun dari tidur, hanya mata yang membuka, aku tak bergerak, bahkan tak ada keinginan untuk bergerak, mulutku diam. Kevin, Idris dan Reno duduk di tepi tempat tidurku. Mereka tidak bertanya, tidak bicara, tidak pula tersenyum. Mereka hanya diam. Sesaat kulihat Kevin, wajahnya begitu cemas, aku tak tau apa yang membuatnya begitu, dan menurutku saat ini tak ada yang ingin aku cari tau. Reno dan Idris pun sama saja, entah sudah berapa lama mereka di sini. Mataku kembali kupejamkan, bukan untuk tidur, hanya untuk kembali ke dalam keputusasaan, mengingat Fikri pacarku, bagian dari hidupku. Aku tak pernah merasa seperti ini. Aku pernah sakit, demam, tidak ada selera makan, dan banyak hal lagi. Tapi rasa ini, ketika Fikri meninggalkan kampus, tanpa ada tanda, tanpa ada persiapan, tanpa ada kata-kata perpisahan, mungkin sama rasanya ketika orang yang kita sayang meninggalkan dunia ini. Begitu menyakitkan. Rasa ini betul-betul menyiksa, aku pecah berkeping-keping, bagai batu yang hancur menjadi debu, ibarat pohon kering yang lapuk, tumbang dihembus angin yang tak diundang, tak ada kuasa manusia yang mampu membangkitkannya kembali. Aku tak pernah ingin bertanya apa yang dilakukan pacarku sehingga dia dikeluarkan dari kampus ini, aku marah kenapa dia meninggalkanku tanpa ada kata-kata, bahkan kemarahanku menjadi semakin besar ketika aku tak sempat bertemu untuk terakhir kalinya. Aku tidak ingin mendengar alasan, rasa yang ada adalah kemarahan, kekecewaan, kebencian, kesedihan, rasa sayang yang dalam, kerinduan yang memuncak dan penyesalan yang terlambat. Aku membenci kakak pengurus OSIS, aku benci Kepala Sekolah bahkan aku membenci Ketua Yayasan. Aku tak peduli apakah ada cukup alasan untuk membenci mereka. Tidak! Tidak perlu ada alasan. Aku membenci mereka, itu saja. Luka ini telah menjadikanku bukan diriku, aku ingin berteriak dalam ruang hampa yang mengurungku, aku ingin melampiaskan apapun, aku ingin semua ini berakhir, dan aku ingin ini tidak nyata, ini hanyalah mimpi. Namun setiap aku membuka mata seakan dunia ini mengejekku, "Ini nyata Ricko, ini bukan mimpi!" Suara itu menggema tepat di jantungku, membuat aku sesak, rasanya ingin kumuntahkan semua isi perutku, tapi apakah itu ada gunanya? Apakah penderitaan ini akan berakhir? Tidak! takdir itu kembali mengejekku. Entah berapa lama hidupku berantakan, aku tidak melakukan apapun kecuali tidur, berbaring, duduk dan sama sekali tidak keluar dari kamar, bahkan semua surat-surat izin sakit yang diserahkan ke kelasku adalah buatan Idris, aku tidak lagi memikirkan baik dan buruk, benar dan salah, yang ada hanyalah kekacauan. Aku tidak peduli dengan aturan-aturan kampus, menurutku itu semua omong kosong, tidak berguna, dan aku tidak takut untuk melanggarnya. Iya, aku sangat siap untuk dikeluarkan juga dari sekolah ini. ************** Hari ini tepat satu minggu Fikri meninggalkan kampus, aku tidak pernah bertanya apa yang terjadi, mengapa bisa sampai begini, yang ada hanyalah bagaimana aku harus bertemu pacarku itu. Terbersit dalam benakku untuk pindah sekolah ke Bekasi agar bisa bertemu Fikri dan satu sekolah dengannya. Bagaimana caranya? Apa ada alasan untuk meminta kepada papa dan mama? Oke, seandainya aku memaksa untuk tidak melanjutkan di sekolah ini tentu papa akan mencarikan SMA di Bandarlampung, artinya sama saja, aku tidak akan bisa bertemu pacarku. Selain itu aku juga tidak tahu apakah Fikri melanjutkan sekolah di Bekasi. Mungkin juga dia melanjutkan sekolah di tempat lain, Bandung misalnya, karena dia punya paman di sana, atau juga Bali di sana juga ada sekolah yang punya asrama, dan dekat dengan neneknya yang super disiplin (Fikri sering menceritakannya padaku), semua mungkin saja terjadi mengingat dia telah dikeluarkan secara tidak hormat dari kampus, artinya tanpa surat pindah. Mungkin orang tuanya malu bila dia sekolah di Bekasi, jadi bisa saja dimasukkan ke sekolah asrama lainnya. Respon orang tuanya juga aku tak tau, mungkinkah orang tua Fikri akan menerima dan memahami masalah ini begitu saja? Atau malah mereka akan menambah hukuman lagi untuk pacarku itu? Entahlah, aku tak sanggup untuk memikirkannya. Aku kembali duduk di pinggir ranjangku, udara kamar ini terasa pengap, padahal jendela-jendela kamar sudah dibuka semua. Aku membayangkan seandainya aku dikeluarkan karena pelanggaran berat, mungkin papa dan mama akan marah besar. Aku tak tau, bagaimana menjelaskan kepada papa dan mama, apalagi dengan kasus masuk ke kafe dan melakukan perbuatan tidak pantas seperti pacarku. Perbuatan tidak pantas, apa maksudnya? Setelah pembacaan surat keputusan di aula pertemuan aku tidak ingin tahu apa yang terjadi, namun beriring waktu, pikiran ku perlahan mulai terang. Apa persisnya yang dilakukan pacarku dan teman-temannya sehingga dikeluarkan dari kampus secara tidak hormat. Ya, melakukan perbuatan yang tidak pantas dilakukan siswa Tridarma dengan wanita penghibur kafe. Sebenarnya apa yang tidak pantas? Kenapa tidak dibacakan saja secara spesifik sehingga kami tidak menduga-duga. Tujuh hari aku berkutat dengan keputusasaan, seakan-akan tidak mungkin bangkit lagi. Hanya ada satu yang berkembang di kepalaku, bagaimana caranya agar bertemu dan hidup bersama pacarku. Tapi hari ini, secara perlahan, puing-puing yang hancur itu mulai terang, mencari arah yang benar, untuk menemukan sebuah tujuan. Kekacauan dan kehancuran telah menjadikanku buta, semua gelap, namun seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit cahaya mulai masuk, membuat aku mulai berpikir realistis. Keluar dari SMA ini sekarang bukanlah pilihan tepat, karena tidak ada jaminan aku akan bertemu pacarku, bahkan bisa saja papa menyelidiki apa sebenarnya yang terjadi (mengingat lidik dan sidik adalah keahlian papa). Bukan bertemu pacar, nanti malah papa dan mama tau hubunganku dengan Fikri. Aku juga mulai berpikir bagaimana dengan Fikri. Bagaimana dia menjelaskan pada keluarganya, pasti berat. Membayangkan apa yang dihadapinya sudah cukup membuat aku menangis dan kembali ke dalam kesuraman. Apakah dia mengingatku? Mungkin Fikri tidak bisa mengingatku saat ini, karena dia dalam masalah besar, sangat egois dan tidak pantas bagiku untuk menuntut Fikri memikirkanku, dia punya beban sendiri dan mungkin juga dia sedang stres berat. Tapi hatiku menuntut. Aku bisa meringankan bebannya. Andai saja aku di sisinya, kami bisa berbagi beban, dia tidak harus menghadapi ini sendirian. Fikri tidak butuh aku membantunya menjelaskan apapun pada keluarganya, karena akupun tak tau harus menjelaskan apa, tapi keberadaanku dapat memberi semangat padanya, kami bisa menghabiskan waktu bersama, berdua dan selamanya. Sungguh ironis aku berfikir bahwa Fikri menginginkan itu, alih-alih ingin menjadi penyemangat bagi Fikri, tapi sebenarnya akulah yang tidak ingin berpisah, aku yang tidak mau kehilangan dan aku yang tidak mampu untuk sendirian. Kenangan tentang kebersamaan kami selalu muncul, potongan-potongan peristiwa yang begitu nyata, ketika dia menciumku, ketika kami makan berdua lalu ketika kami duduk bersama teman-teman yang lain, semua tampak masih begitu jelas. Kebersamaan saat mencari buku tentang cinta remaja di toko buku, perdebatan kecil kami, canda dan tawa kami, kejahilan kami dan perbuatan-perbuatan konyol yang senantiasa menghiasi hari-hari dalam hidup kami. Sungguh moment yang sangat mengesankan. Aku selalu ingat saat-saat itu, aku merindukannya seperti aku merindukan Fikri. Aku bangkit dari ranjang yang beberapa hari ini setia menemaniku, bediri di depan cermin memandang seorang remaja 16 tahun di depannya. Dengan baju kaos tipis yang sudah 2 hari tidak diganti, rambut yang tidak karuan lagi bentuknya, wajah kusut dan celana basket yang sudah kumal. Aku berdiri cukup lama memandang diriku sendiri dalam cermin kamar. Aku menarik nafas panjang, beginilah perasaan telah membuatku tak berdaya, Fikri adalah pacarku, dan sampai saat ini dia masih pacarku. Sekarang tidak ada gunanya lagi aku terus begini, aku tidak akan bertemu dengan Fikri dengan cara ini, aku harus melangkah, bertanya pada teman-temannya apa yang terjadi, dan tentu saja mencari teman-temanku untuk mengadu, mencari kehangatan dan meminta semangat yang selalu ada buatku, karena mereka adalah sahabat-sahabat terbaik. Dan yang paling penting lagi dari semuanya, aku harus mandi. Dan itu bukanlah sesuatu yang sulit. ******************************************* Kevin menatapku cukup lama, dia tersenyum. Reno dan Idris berdiri di sampingnya. Aku melangkah menghampiri ketiga sahabatku, dan memeluk mereka satu persatu. Ini adalah satu perubahan yang terjadi setelah kepergian Fikri. Kevin, Reno dan Idris jadi lebih akrab. Mungkin mereka sering bertemu untuk membahas keadaanku, apa yang harus dilakukan dan bagaimana caranya agar aku dapat sembuh dari luka yang begitu dalam. Kalau aku ingat-ingat ketiga temanku itu selalu ada di saat aku menjalani masa-masa sulit beberapa hari ini. Mereka telah bersikap sebagai teman sejati. Aku tidak begitu ingat apa saja nasehat, support dan motivasi yang mereka sampaikan agar aku tetap tegar, karena bagiku bukan kata-kata saja yang aku butuhkan tapi kehadiran merekalah yang membuatku bisa melanjutkan hidup di kampus ini. Mereka juga cukup bijak untuk tidak mengungkit-ungkit masalah Fikri secara langsung denganku bila aku tidak memulainya lebih dulu. Dan bila aku membahas Fikri, berkeluh kesah, meratapi kesedihanku, mereka mampu menjadi pendengar yang baik, tidak menyelaku, tidak menyalahkan siapapun, dan itu sungguh membuatku beruntung memiliki mereka. Keberuntungan tampaknya masih memihakku. "Tumben lu mandi" celetuk Kevin ketika kami mengambil posisi duduk mengitari meja makan di sudut ruangan. Ini hari pertama aku keluar kamar dengan tampilan seperti biasanya, Reno dan Idris kelihatannya masih ragu mau menyapaku seperti apa adanya. Mungkin mereka berdua masih membaca situasi dan emosiku, apakah sudah stabil atau masih galau. "Ya harus mandi, kalau nggak mandi gimana aku bisa dapet pacar baru"' jawabku asal saja. Kevin mengembangkan senyumannya yang artinya dia tau aku bercanda, Reno dan Idris malah tertawa. Tawa mereka menyiratkan kebahagiaan yang luar biasa. "Akhirnya kamu kembali Rick" timpal Idris. Dia menatapku dengan lega. Dia menatapku, tatapan seorang teman yang telah lama rindu untuk bertemu. Ya, aku telah kembali. "Namanya juga Ricko, dia kan yang paling tua di antara kita, pasti dia akan bangkit" ucap Reno menyemangatiku. "Gue baru nyadar, elu udah tua ya Rick?" celetuk Kevin sambil menatapku dengan usil. Padahal aku belum sempat mencerna ucapan Reno. "Ouch, Sorry, maksudku dewasa" sela Reno rada malu. Dia menunduk sambil tersenyum, tampaknya Reno sengaja mau mancing-mancing keusilan Kevin agar suasana terasa hidup dan cair. "Iya, aku udah tua. Tapi tetap seksi kan?" jawabku ketus, seperti jawabanku biasanya ketika Kevin mulai bertindak konyol. "Kalau hari ini lumayan, tapi kalau kemaren lu nggak ada seksi-seksinya." lagi-lagi Kevin menyela dengan intonasi serupa. Aku kangen suasana ini, Kevin lanjutkan nak! "Karena aku masih merana." ucapku singkat dengan ekspresi yang menyedihkan. "Tapi hari ini sudah enggak kan?" timpal Idris hati-hati, kayaknya dia masih belum yakin dengan perubahanku. Reno dan Kevin jadi diam mendengar pertanyaan kecil Idris, mereka bertiga menatapku, suasananya jadi sunyi dan serius, sebenarnya ada ide yang muncul tiba-tiba, yaitu ingin ngerjain teman-temanku ini, tapi mengingat mereka sudah cukup berat menghadapiku beberapa hari ini, sebaiknya aku tidak merusak suasana yang sudah mulai nyaman begini. "The show must go on." ucapku singkat. Mereka bertiga tersenyum pertanda mereka mendukungku. "Aku tidak bisa terus-terus mengurung diri di kamar kan. Selain itu aku harus mencari tau apa sebenarnya yang terjadi." ucapku pelan. "Hemmmmmmm, sebenarnya kami, er, hmmmmm sudah cari-cari info" ucap Idris pelan. Aku tidak terlalu terkejut, karena pasti masalah Fikri dan teman-temannya telah menjadi konsumsi siswa, dan tentunya banyak yang bertanya apa yang terjadi. Seperti keputusan-keputusan lainnya yang pernah dibacakan di aula, setiap pelanggaran siswa yang dikeluarkan dari kampus pasti cerita-cerita pelanggaran itu menyebar bak semut yang diinjak sarangnya. Kabar yang tersiar sering berganti bak musim dengan banyak versi sesuai keinginan si pembawa berita, siapa lagi kalau bukan biang gosip. "Ini info valid kok Rick" tambah Kevin, kelihatannya sahabatku ini menyadari kalau aku kurang yakin dengan info dari Idris. Aku tersenyum kecil sebagai tanda Kevin dapat melanjutkan informasinya. "Sekretaris OSIS teman gue tahun lalu. Namanya Arya Tomi." lanjut Kevin. Reno dan Idris memperhatikan ekspresiku yang tampaknya mulai tertarik dengan ucapan Kevin. Bila benar Kevin dapat informasi dari Sekretaris OSIS tentu cerita ini tidak bisa diragukan begitu saja, mengingat Sekretaris adalah Kepala Kantor OSIS. Semua arsip terkait siswa, prestasi dan pelanggaran-pelanggarannya ada di arsip OSIS, dan dialah sang pemegang kunci. Apalagi posisi Sekretaris OSIS adalah orang penting kedua di kalangan siswa sekolah ini. "Tidak lama setelah kejadian hari itu gue berusaha bertanya sama Arya, dan tentu saja itu bukan hal mudah. Dia gak mau ngomong, karena itu rahasia. Tapi gue terus kejar, kayak wartawan gitu, kitakan sama-sama kelas 3 SMA, jadi dia gak bisa jaim sama gue, apalagi kita sama-sama dari Jakarta, yang ada dia gerah dan risih gue buntutin terus" Kevin diam sesaat ketika beberapa siswa melewati meja kami. Aku memandang sekeliling ruang makan, tidak ada siswa yang memperhatikan kami, soalnya nggak enak juga karena banyak siswa yang tahu hubunganku dengan Fikri. Untungnya mereka semua sibuk dengan urusan mereka masing-masing, ngobrol dan makan. Kami bertiga kembali menatap Kevin, artinya dia dapat melanjutkan infonya yang super valid itu. "Akhirnya dia mau juga cerita, dengan syarat gue gak ngasih tau yang lain. Gue iyakan aja, padahal gue ngorek cerita ini kan buat diceritain sama elu. Reno dan Idris juga, malah udah lebih dulu gue ceritain. Abisnya Reno terus aja ngorek-ngorek" Reno dan Idris mengangguk, pertanda setuju dengan kata-kata Kevin. Aku mengangguk singkat, supaya Kevin cepat melanjutkan ceritanya. "Mereka berlima semua pengurus asrama. Asramanya beda-beda, tapi mereka satu kelas tahun lalu, waktu kelas 1 SMA. Jadi memang sudah berteman dari tahun lalu dan berlanjut sampai tahun ini." lanjut Kevin, dan anak ini berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya. "Iya, aku kenal dengan beberapa orang dari mereka." ucapku datar. Aku tidak terlalu hafal nama-nama teman pacarku itu, tapi tahun lalu kami sempat kumpul dan nongkrong bareng. "Menurut pengakuan mereka berlima, ide keluar dari kampus datang dari Rio, dia memang orang Semarang kan, jadi hafal banget sama kota Semarang dan seluk beluknya. Mereka berlima keluar kampus setelah absen malam. Dan tiga orang di antara mereka, tidak termasuk Fikri sudah beberapa kali keluar tanpa izin dan tidak ketahuan, padahal mereka tidak sadar bagian Keamanan OSIS sudah curiga, karena mereka sudah dapat informasi dari warga masyarakat yang kerja sama dengan kampus." "Maksud kamu seperti mata-mata gitu? Siapa?" potongku ketika mendengar penjelasan Kevin. "Nggak tau siapa, tapi yang jelas masyarakat. Mungkin tukang ojek pangkalan, atau penjaga trayek terminal, bisa siapa saja. Yang jelas mereka melaporkan aktivitas Rio dan teman-temannya ke bagian Keamanan. Nah malam itu, Rio dan teman-temannya keluar lagi tanpa izin, dan saat itu Fikri ikut untuk pertama kalinya." Aku seperti mau tersedak ketika nama Fikri diucapkan oleh Kevin. Kenapa juga dia harus ikut, itu adalah perangkap bagian Keamanan untuk menangkap basah mereka semua. Andai waktu bisa diputar, tentu saja aku akan melarangnya pergi. "Menurut Arya, kesalahan Fikri dengan keluar tanpa izin satu kali sanksinya hanya pemanggilan orang tua dan paling berat skorsing 1 tahun itu pun atas persetujuan wali kelas. Gue awalnya jadi salting mendengar ucapan Arya, gue kira dia tau secara spesifik gue mau cari tau tentang Fikri, tapi ternyata itu dugaan gue aja." sambung Kevin ketika melihat reaksiku. "Maksudmu dugaan bagaimana?" tanyaku penasaran. "Gue kira Arya cerita tentang Fikri lebih detail karena dia tau gue dekat sama pacarnya Fikri, tapi dari kelanjutan ceritanya ternyata nggak begitu. Arya menyayangkan karena Fikri siswa yang berpotensi, dia cerdas dan punya leadership, hanya terpengaruh teman-temannya, apalagi tekanan menjadi pengurus asrama bukanlah hal yang ringan." jelas Kevin. Aku mencerna cerita Kevin, tentang pendapat Arya, sekretaris OSIS itu. Bila dipikir memang tugas pengurus asrama itu berat. Sepintas terlihat menyenangkan, bisa menghukum anggota asrama, dihormati adik-adik kelas, tapi lebih dari itu ada tanggung jawab yang melekat. Belum lagi disiplin yang ketat, setiap hari minggu malam seluruh pengurus asrama dikumpulkan oleh Ketua OSIS dan bagian Keamanan untuk mendapatkan pengarahan, selain itu juga evaluasi atas pelanggaran-pelanggaran siswa asramanya. Dalam evaluasi itu tidak jarang para pengurus asrama mendapat hukuman atas kesalahan anggota asramanya. Selain itu waktu istirahat juga berkurang, sedangkan tugas-tugas sekolah tetap banyak sama seperti siswa-siswa lainnya yang tidak menjadi pengurus asrama. Jadi dengan beban yang begitu banyak, wajar saja mereka perlu refreshing dan keluar ke kota merupakan pilihan yang tepat. Masalahnya bila dilakukan tanpa izin dan persetujuan bagian Keamanan OSIS dan guru pengasuh itu menjadi pelanggaran disiplin. Kevin menatapku, dia sadar aku sedang mencerna ceritanya, dan Kevin berhenti sejenak. Reno dan Idris masih duduk di posisi semula, menyimak kata demi kata. "Masalahnya pelanggaran mereka tidak hanya sebatas keluar tanpa izin, tapi masuk diskotik dan memesan wanita penghibur menjadikan semua masalah jadi runyam" lanjut Kevin hati-hati. "Memesan wanita penghibur?" tanyaku terkejut. "Iya, wanita penghibur." jawab Kevin singkat. "Bukan wanita penghiburnya yang aku tanyakan, maksud memesan itu apa?" tanyaku penasaran. aku sudah tau wanita penghibur itu maksudnya apa, tapi memesan apa maksudnya? "Hmmm, Arya nggak mau menjelaskan lebih rinci lagi, gue udah paksa." jawab Kevin datar. Aku diam, berpikir keras, untuk apa mereka memesan wanita penghibur? Apakah mereka mau ditemani tidur? Namun lanjutan cerita Kevin menjawab pertanyaanku itu. "Tapi ketika gue tanya apakah mereka menggunakan jasa wanita penghibur itu untuk melakukan tindakan seksual? Arya menjawab tindakan seksual yang bagaimana? Terus gue bilang misalnya ML gitu, Arya malah tertawa, dengan ringan dia jawab itu perzinahan, dan pernah siswa kelas XII dikeluarkan karena kasus itu dan disebutkan pelanggarannya karena perzinahan, Arya pernah baca arsip suratnya di sekretariat OSIS, Sebagai Sekretaris OSIS tentu dia tau semua kejadian-kejadian masa lalu." "Jadi kesimpulannya?" tanyaku ingin tahu, jujur saja aku masih ingin tahu lebih detail lagi. "Hmmm, kesimpulan gue, mungkin mereka minta ditemani aja. Dan dari jawaban Arya, ada indikasi aktivitas seksual, tapi tidak sampai berzinah, tebakan gue sih paling oral seks gitu." tambah Kevin dengan sedikit mengernyitkan mata, tanda dia minta maaf kalau ada yang tersinggung. Aku menatap Reno dan Idris, keduanya tersenyum tipis, malah kesannya minta maaf atas kesalahan mereka, padahal mereka tidak salah, aku malah ingin ketawa lihat reaksi mereka begitu. Oral seks? Cukup memalukan juga seandainya kata-kata itu yang dibacakan oleh bagian Penerangan dan Jurnalistik di aula, apalagi di hadapan semua penghuni kampus ini. "Jadi itu yang membuat mereka dikeluarkan" ucapku pelan seraya menarik nafas. "Rick, itu adalah versi resmi OSIS, dan sesuai pengakuan mereka saat diinterogasi" sela Reno, tampaknya dia tidak ingin aku menduga lebih jauh lagi. "Tapi jelas versi itu benar, buktinya mereka mengaku. Mengapa Fikri tidak pernah bercerita, mengapa dia bertindak sejauh itu, apa yang ada di pikirannya." balasku dengan senyum sinis. Reno terdiam, Idris yang semula ingin bicara juga ikut diam. "Rick, elu berhak bertanya dan marah. Tapi akan lebih baik bila elu sudah dapat penjelasan dari Fikri." ucap Kevin berusaha menenangkanku yang sudah mulai kesal. "Menjelaskan? Bagaimana bisa menjelaskan, dia telah dikeluarkan, dan tidak tahu kapan bertemu, dan mungkin juga tidak akan pernah ada penjelasan itu, jadi untuk apalagi mencari penjelasan." bantahku asal saja. Entah apa yang membuatku jadi marah begini, mungkin rasa kesal atas kecerobohan pacarku, andai saja dia tidak keluar malam itu, tapi semuanya sudah terjadi. Penyesalan yang tak berarti. "Gini Rick, dalam proses interogasi bagian Keamanan hanya bertanya dan menganggap penting alasan mereka keluar serta pengakuan mereka saja, tapi bagian Keamanan tidak pernah peduli mengapa mereka melakukan itu. Pasti ada sebab. Ada asap pasti ada api." Kevin meyakinkanku. Ucapan Kevin ada benarnya. Tentu saja Keamanan hanya menegakkan disiplin, mereka tidak akan mencari penyebab siswa-siswa itu melanggar, karena itu tugas yayasan sebagai pemangku kepentingan dan pembuat kebijakan. "Iya, aku tau. Tapi setidaknya dia bisa menceritakan beban-bebannya padaku" ucapku lirih dan air mata sudah menetes. "Karena dia menyayangimu, dia tidak ingin terlihat lemah di hadapanmu." tambah Reno yang matanya juga sudah berkaca-kaca. "Saat ini kita hanya dapat menduga karena kita belum mendengar alasan Fikri, kita juga tidak bisa menyalahkan teman-temannya, karena belum tentu mereka mempengaruhi Fikri keluar kampus tanpa izin, meskipun ada kemungkinan itu" Reno menambahkan dengan bijak. "Iya, aku tak akan menuntut apapun. Aku masih mencintainya dan dia masih pacarku. Aku juga tidak tahu apakah kami akan bertemu lagi, tapi yang pasti aku harus tetap melanjutkan hidupku di sini." balasku pelan, itu adalah hal yang bisa aku lakukan sekarang. "Iya, itu harus, dan itu keinginan kita semua Rick" timpal Idris yang dari tadi lebih banyak diam. Aku tersenyum mendengar ucapannya. Mungkin karena dia yang paling muda jadi tidak banyak bicara. Padahal aku tetap menghargai pendapat dan masukannya. "Ketahuannya gimana?" tanyaku ke Kevin yang baru saja meneguk segelas air, "Ketika mereka pulang menjelang shubuh, bagian Keamanan sudah menunggu di asrama masing-masing. Mereka berlima masuk lewat celah di tembok utara, yang dekat sama lahan praktek pertanian." jawab Kevin cepat, tangannya masih memegang gelas. "Yang ditanamin jagung itu?" balasku singkat. "Iya, bener banget. Nah, setelah sampai asrama masing-masing, ternyata bagian Keamanan OSIS sudah siap menangkap mereka, dan langsung dibawa ke kantor guru pengasuh untuk di interogasi. Paginya Ketua OSIS, Sekretaris OSIS, Ketua Siswa perwakilan Daerah Jabodetabek dan daerah terkait lainnya, bersama bagian keamanan berkumpul. Surat Keputusan dibuat dan diserahkan kepada Kepala Sekolah untuk diteruskan pada Direktur Yayasan, setelah semua ditandatangani, kelima siswa diantar ke asrama masing-masing untuk mengepak barang-barangnya, dan mobil sekolah sudah menunggu untuk diantarkan ke Semarang, ada yang pulang menggunakan bus ada juga yang pake pesawat. Semua biaya ditanggung yayasan dan setiap siswa didampingi guru sekaligus membawa petikan surat keputusan direktur itu." Jelas Kevin panjang lebar, gayanya sekarang sudah mirip Dion, ouch jadi ingat Dion. Seandainya ada Dion, banyak hal ingin aku ceritakan padanya, sahabatku itu pasti punya banyak jawaban dan nasehat, tapi ketiga sahabat yang ada di hadapanku saat ini, juga tidak kalah dari Dion, tentu dengan cara yang berbeda, you are all my best friend.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD