3. PAPA YANG KEJAM?

1190 Words
Happy Reading ^_^ *** "Yas! Ayas!" Laras membuka mata dengan kaget dan langsung terduduk. Pintu kamarnya digedor dengan tidak manusiawi yang membuatnya terbangun dengan tidak manusiawi juga. Pada detik yang sama kepalanya langsung berdenyut nyeri. Inilah akibatnya kalau dia dibangunkan dengan cara seperti ini. Memang apa susahnya membangunkannya dengan cara yang lebih manusiawi sih? Apalagi saat dia tahu dengan pasti siapa pelakunya. Dari suaranya yang khas, jelas sekali kalau itu adalah gedoran mahadasyat dari tangan ibunya. Laras cemberut. Beginilah akibatnya kalau dia pulang ke rumah orang tuanya yang ada di Bogor. Bangun siang sedikit maka akan ada gedoran luar biasa yang memekakkan telinganya. "Nah, bangun juga perawan satu ini..." Ibunya menggerutu saat Laras memunculkan wajah setengah mengantuknya melalui celah pintu. "Kenapa sih, Bu? Ini baru jam enam pagi lho." jawab Laras ikut-ikutan menggerutu. Pasalnya ini tergolong masih pagi bagi Laras untuk dibangunkan dengan cara seperti ini. Biasanya dia punya toleransi sampai jam tujuh pagi baru pintunya akan digedor dengan cara tak manusiawi seperti ini. Tapi hari ini berbeda. Ada apakah gerangan? "Iya, Ibu tahu masih jam enam. Cuma ibu gemes banget karena gadisnya Ibu kalah sama bocah. Liat Fayyola pagi-pagi gini udah rapi dan cantik. Tapi kamu yang udah gede aja masih kucel." Tunggu--siapa bocah yang dikatakan Ibunya tadi? Fayyola? Anaknya Faisal dong! Laras mengikuti lirikan mata ibunya dan menemukan ada sepasang mata yang memerhatikannya dengan sopan. Dialah Fayyola Mahardika. Mata Laras langsung membulat dengan tatapan tak percaya. Kenapa anaknya Faisal ada di sini? Batinnya dengan gemas. Dan tentunya dengan sedikit malu. Benar kata ibunya--Fayyola yang masih bocah saja sudah rapi, cantik, dan wangi padahal masih sepagi ini. Sedangkan dirinya? Tak perlu dijelaskan lagi. "Kamu ngapain di sini?" tanya Laras dengan gemas. "Mau main sama Tante." Laras terbatuk-batuk. Sudah berapa kali sih dia bertemu dengan Fayyola? Seingatnya baru sekali. Itu pun tanpa obrolan panjang lebar yang menunjukkan kalau mereka cocok. Dengan kedekatan seminim itu, lalu kenapa dua hari kemudian bocah itu mencarinya dan bilang ingin bermain dengannya? Apa ini masuk akal? Tapi dibilang tidak masuk akal pun sosok mungil itu ada di depannya. Pikiran bocah kecil memang benar-benar tak terduga. "Tapi ini masih pagi banget, nak..." lirih Laras dengan kekehan malu-malu. Bukannya tidak ingin, tapi bolehkah ditunda dulu? Paling tidak satu jam saja. Dia masih ingin rebahan. "Udah, mending sekarang kamu mandi dan rapi-rapi, Yas. Nggak malu apa diliatin bocah yang udah rapi dan cantik begini, hm?" "..." "Mandimu kan juga lama tuh, jadi mending sekarang kamu mandi aja. Bentaran lagi juga udah jam tujuh pagi. Mau merem lagi pun cuma nanggung doang." Kalau ibunya sudah bertitah seperti itu, maka Laras pun tidak punya kuasa selain menurutinya. Nasib tinggal di rumah orang tua ya begini. *** Laras memerhatikan anaknya Faisal Mahardika lekat-lekat. Fayyola bukan jenis anak yang rewel. Bahkan, pikir Laras, dia terlalu patuh untuk ukuran anak seusianya. Fayyola adalah tipe anak yang tidak akan bertindak kalau tidak diizinkan. Anaknya sopan dan selalu mengucapkan terima kasih saat diberi sesuatu. Seperti tadi saat ibu Laras menawarkan ingin sarapan dengan apa, Fayyola tidak meminta makanan yang tidak ada di atas meja. Bocah kecil itu juga makan dengan lahap cah kangkung dan tempe goreng sederhana buatan ibunya. Dan yang membuat Laras terpana adalah bocah itu tidak menyisakan makanannya sedikit pun. Bahkan saat dia ingat sudah dibekali nasi dan rollade daging oleh neneknya, dia pun memakannya sampai habis. Benar-benar tidak ada makanan yang terbuang dan hal ini membuat Laras kagum. Laras sampai bertanya-tanya bagaimana cara Faisal mendidik anaknya sampai sepatuh ini. Sebagai orang tua tunggal--Laras pikir itu sangat luar biasa. "Fayyola kalo di rumah mainnya sama siapa?" tanya Laras di sela-sela waktunya menemani Fayyola bermain. Sekarang mereka sedang bermain monopoli dan Fayyola terlihat sedang mengocok dadu. Laras sebenarnya bosan, tapi dia tidak punya pilihan selain menunaikan tugasnya untuk babysitting. Tapi tunggu... kenapa dia merasa harus menunaikan tugas ini? Padahal dia kan bukan siapa-siapanya Fayyola. Sekedar dititipi oleh Faisal untuk menjaga Fayyola pun tidak. Laras jadi bingung sendiri dengan kesediaannya yang tak diganjar oleh apa pun. "Kalo di rumah Nenek ya mainnya sama Nenek. Sama Mbak juga. Tapi kalo di rumah Papa mainnya sama Bibi." "Papa nggak ngajak main?" "Papa kerja." Laras langsung terdiam. Faisal terlihat seperti orang tua yang menyayangi putri satu-satunya. Tapi kenapa dari sudut pandang Fayyola sang ayah justru terkesan seperti tidak terlalu menyayanginya? Dia mengabaikan Fayyola. Atau lebih tepatnya terlalu sibuk bekerja sampai tidak bisa bermain dengan Fayyola.Tapi kemudian Laras menggeleng saat prasangka buruk memenuhi kepalanya. Dia sadar kalau dirinya tidak punya hak untuk mengomentari hal ini. Apalagi Fayyola masih kecil, bisa saja dia salah memilih kalimat hingga makna aslinya jadi tidak kelihatan. "Tapi Papa sering ngajak Fayyola main kan? Ke pantai, piknik, atau ke taman bermain gitu-gitu kan?" Fayyola mengangguk dan membuat Laras mengelus dadanya secara spontan. Batinnya langsung menyerukan rasa maaf karena sudah salah menilai seorang Faisal Mahardika. "Tapi kalo jalan-jalan Bibi diajak, jadi aku mainnya tetep sama Bibi." Laras langsung terdiam. Ini... maksudnya gimana sih? Jadi ayah dan anak ini tidak pernah family time begitu? Karena secara gamblang pun Fayyola masih bermain dengan 'Bibinya' meski posisinya dia sedang diajak keluar oleh Papanya. "Ini giliran Tante," Fayyola memperingatkan sambil mengelus pucuk kepala boneka barbie yang sejak tadi menemaninya main monopoli. Laras terhenyak, lalu menunjukkan cengiran bodohnya. "Tapi Papa nggak pernah marahin Fayyola kan? Papa... baik kan?" tanya Laras lagi untuk memastikan kalau sosok Faisal bukanlah sosok Papa seperti yang Laras bayangkan. Meski tangannya sibuk mengocok dadu, tapi tak mengurungkan niat Laras untuk mencari tahu. Dia benar-benar penasaran. Fayyola dengan polosnya mengangguk. "Papa baik, tapi Papa sibuk..." Laras ingin mengangguk penuh kelegaan seperti sebelumnya, tapi kemudian dia sadar kalau kalimat Fayyola belumlah selesai. Masih ada yang tertahan di tenggorokan dan tak berani dia utarakan. Laras menunggu dalam harap-harap cemas. Semoga saja jawabannya bukan jenis jawaban yang akan membuat Laras berprasangka buruk pada ayahnya Fayyola lagi. "... tapi kalo aku nakal, Papa bakal marah." Tidak ada yang aneh. Wajar kalau seorang anak nakal dan sebagai orang tua akan menegurnya. Tapi anehnya dari ekspresi Fayyola sendiri malah terlihat sedih. "Tapi Fayyola nggak pernah nakal kan?" pancing Chrystal dengan tawa kering yang menghiasi tenggorokannya. "Nggak pernah, Tante. Fayyola nggak mau Papa marah." Dada Laras berdesir. Tidak pernah nakal adalah hal yang bagus. Artinya sang anak punya kesadaran diri untuk menjadi orang yang baik di mana pun dan kapan pun. Tapi alasan Fayyola yang menurut Laras agak ganjil. Fayyola takut pada Papanya makanya dia selalu berusaha untuk jadi anak yang baik. Ini hal yang baik. Tapi kalau terlalu terbebani, bukankah ini hal yang tidak baik untuk tumbuh kembang Fayyola? Sontak saja pertanyaan mengenai bagaimana Fayyola bisa menjadi anak yang sebaik ini terjawab. Semua ini karena dia takut pada Papanya. Tapi yang masih menjadi tanda tanya adalah bagaimana cara Faisal mendidik Fayyola sampai si anak merasa seperti ini? Apa Faisal adalah jenis Papa yang galak hingga Fayyola begitu takut untuk berbuat salah? Tapi kemudian Laras teringat pujiannya pada Fayyola tadi mengenai kepintaran dan kepatuhannya. Tidak--Fayyola tidak sepintar itu. Bahkan Fayyola pun tidak sepatuh itu. Dia hanya berusaha pintar dan patuh sebisanya agar tidak dimarahi Papanya. Dia tertekan. Atau bisa juga dia ketakutan. Lalu sebenarnya seperti apa sosok Faisal Mahardika sebagai seorang Papa selama ini? TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD