4. MIRIS

1853 Words
Happy Reading ^_^ *** Ketika manusia melakukan apa yang disukainya, waktu pasti akan bergulir dengan cepat. Hal ini sering terjadi pada Laras saat melakukan packing pesanan online shop-nya. Sepagi apa pun dia memulai, maka waktu akan lekas berganti hingga akhirnya pihak ekspedisi akan melakukan pick up di sore hari. Cepat sekali. Tapi lain cerita kalau Laras melakukan hal yang tak disukainya. Tak perlu ditanya seberapa sering dia melirik jam, namun waktu terasa lambat sekali. Laras bahkan sampai menepuk-nepuk jamnya untuk memastikan apakah jamnya benar-benar masih berfungsi dengan baik atau tidak. Dan hal ini persis yang dilakukannya sekarang. Laras bukannya tidak suka mengasuh seorang anak, tapi dia dan anak itu tidak saling mengenal sama sekali. Dan karena tidak kenal, dia tidak punya topik ringan yang bisa dibahasnya dengan bocah itu. Belum lagi dengan kebiasaan mereka yang bertolak belakang--Laras pusing sekali. Tapi mengabaikan seorang anak kecil yang terlihat kesepian juga terasa sangat jahat, makanya Laras masih bertahan sampai detik ini. "Fayyola mau nggak main keluar sama Tante? Kita jalan-jalan sambil jajan. Tante bosen di rumah terus." ajak Laras karena mulai jenuh seharian ini menemani seorang bocah yang hobinya main monopoli dan barbie. Tindakannya ini memang kekanakan dan sangat bertolak belakang dengan usianya. Karena kalau menurut usia, seharusnya Fayyola-lah yang merengek karena ingin main di luar. Tapi tidak apa-apa, pikir Laras, karena dari penglihatannya tampak jelas sekali bagaimana 'anak rumahannya' Fayyola. Sangat berbanding terbalik dengan Laras yang melewati masa seusianya dengan main di sawah yang tak jauh dari rumahnya. Meski awalnya Fayyola terlihat ragu, tapi syukurnya tak lama berselang bocah itu menganggukkan kepalanya. Dia setuju dan hal ini membuat Laras kegirangan. Pasalnya dia benar-benar jenuh sekali dan butuh hiburan. Dia harus keluar dan berhenti memandang monopoli serta bonekanya Fayyola. Pada akhirnya keduanya berjalan-jalan keluar. Kebetulan juga sekarang sudah sekitar pukul tiga sore sehingga matahari sudah tidak terlalu seterik tadi siang. Sehingga cukup amanlah untuk ukuran anak rumahan seperti Fayyola untuk jalan-jalan seperti sekarang. "Laras!!" Sebuah teriakan membuat Laras dan Fayyola menghentikan langkahnya. Kepala Laras celingukan mencari sumber suara tersebut. Dan matanya langsung berbinar saat tahu siapa orang yang meneriakinya itu. Orang tersebut adalah teman satu almamaternya, baik di sekolah menengah atas dan juga perguruan tinggi--Sania Khalilah. Melihat kawan lama yang sulit sekali ditemui, niat mengajak Fayyola untuk beli jajanan di perempatan jalan depan sana sirna sudah. Pada akhirnya dia berbelok dan menyapa sang sahabat yang kebetulan ada di rumah ibunya hari ini. "Apa kabar, San? Udah lama banget ya nggak ketemu." ujar Laras dengan sapaan hangat. Tangannya yang bebas terulur untuk menggelitiki dagu bayi Sania yang saat ini berada dalam gendongan Sania. Terakhir kali dia bertemu Sania adalah saat tasyakuran bayi Sania yang kedua. Saat itu bayi Sania baru berumur empat puluh hari dan sekarang tampak lebih gembul dari waktu itu. Yah, beginilah realita perempuan berumur seperti dirinya. Satu per satu kawannya berpacaran, bertunangan, menikah, dan akhirnya punya anak. Tidak seperti Laras yang sampai detik ini bahkan belum jelas di mana jodohnya. Maksudnya, Laras memang pernah berada di fase berpacaran, tapi tidak pernah sampai pada fase bertunangan atau pun menikah. Dan jangankan menikah, Laras justru dicampakkan dengan segudang harapan. Menyedihkan? Memang. Laras sampai bertanya-tanya kenapa kisah cinta orang lain terasa begitu mudah dan indah. Tapi kemudian dia sadar kalau tindakannya adalah hal yang tidak benar. Dia tidak boleh membanding-bandingkan hidupnya dengan hidup orang lain. Haram hukumnya. Bisa jadi apa yang dilihatnya bukanlah hal yang sebenarnya terjadi. Dia tidak tahu bagaimana pengorbanan Sania sampai akhirnya memutuskan menikah dengan orang yang dijodohkan ibunya sesaat setelah dirinya lulus dari perguruan tinggi. "Iya, Ras, udah lama banget. Aku baik, kamu sendiri gimana?" Laras mengangkat bahunya dengan cuek. "Alhamdulillah baik juga." "Ini siapa, Ras? Jangan bilang anak kamu ya..." Pertanyaan setengah bergurau itu dijawab Laras dengan gelak tawa. Dia melirik Fayyola yang secara tiba-tiba masuk dalam obrolan mereka. "Ya bukanlah. Ketemu jodohnya aja belum, masa udah punya anak sih? Dia itu cucunya Bu Hesty. Aku disuruh babysitting aja hari ini." "Cucunya Bu Hesty? Berarti dia anaknya anak laki-laki Bu Hesty ya?" Laras mengangguk. Tidak ada kecurigaan sama sekali karena mereka satu kampung jadi wajar sekali untuk tahu siapa anaknya Bu Hesty meski nama anaknya sendiri tidak diketahui. "Dia kan duda. Hayoooo..." Mata Laras langsung membulat. Kenapa tiba-tiba topik santai ini berubah jadi seperti ini ya? Dia melirik Fayyola dengan tidak nyaman. "Fayyola, ayo salaman dulu sama temen Tante. Kenalin dulu namanya siapa." Laras mencoba mengalihkan pembicaraan mereka dengan menggunakan Fayyola. Dan semoga saja setelah ini topik itu tidak diungkit-ungkit lagi. "Namanya siapa, nak?" "Fayyola, Tante." jawab Fayyola singkat. "Pinternya..." ujar Sania dengan maksud memuji betapa pekanya anak seusia Fayyola yang langsung mengambil tangannya begitu diminta untuk salaman dan memperkenalkan diri. Biasanya bocah seusia Fayyola kan susahnya minta ampun daat bertemi orang baru. Dramanya banyak sekali padahal hanya diminta untuk salaman dan menyebutkan nama. Tapi kemudian mata Sania melirik Laras dengan penuh makna. Kekehan usil terbentuk di wajahnya. "Tapi ada lho, Ras, yang jodohnya aja belum fix tapi udah dipastikan kalau dia udah punya anak..." Laras mengernyitkan keningnya. Maksudnya apa? "... nikah sama duda." Sania menambahkan kalimat terakhirnya dengan gaya seperti ibu-ibu rumpi yang hendak bergosip. Suaranya dipelankan dan tubuhnya agak dimajukan sedikit seperti hendak menyampaikan rahasia penting. Tapi nyatanya suara Sania tidak sepelan itu. Bahkan Laras yakin Fayyola yang kini sudah berada di sebelahnya pun turut mendengarnya. Tinggal bocah itu bisa memahami maksudnya dengan baik atau tidak. Dan semoga saja Fayyola memang tidak menyadarinya. "Ada-ada aja sih. Aku kenal anak laki-lakinya aja nggak, San. Aku tuh cuma kenal sama bocah ini sama neneknya aja." Laras berkilah. Tapi kemudian pikirannya bertanya-tanya kenapa dia harus berkilah seperti ini. Maksudnya... apa yang dilakukannya adalah urusannya. Dan dia tidak perlu menjelaskan apa pun, entah itu untuk pembenaran atau pun penyangkalan. Ini urusannya. "Kan nggak tahu, Ras. Apalagi kita udah jarang ketemu ya, jadi kan aku nggak tahu gimana perkembangan kisah cinta kamu. Tapi kamu beneran belum ada rencana menikah tahun ini gitu?" Duh, gustiiiii! "Kan jodohnya aja belum jelas, jadi ya belum tahun kapan nikahnya." "Jangan lama-lama, Ras. Udah umur segini juga kan ya." Seketika Laras menyesal sudah berbelok ke rumah orang tua Sania demi menjumpai Sania yang sulit sekali ditemui. Dia ingin silaturahmi. Niatnya baik, lalu kenapa bukannya bernostalgia tapi Sania malah sibuk mengurusi hidupnya? Sania sudah menjadi ibu-ibu, lantas apakah kutukan ibu-ibu yang selalu berghibah -everytime, everywhere- adalah hal yang nyata? Laras tidak suka ketika ada yang mencoba mengurusi hidupnya sampai ke tahap-tahap penting seperti pernikahan, anak, dan lain sebagainya. Itu adalah urusannya. Tapi kemudian dia sadar kalau dirinya sekarang tinggal di wilayah yang orang-orangnya selalu penasaran akan hidup orang lain dan senang mengatur hidup orang lain dengan dalih menasehati. Miris. "Fayyola mau jajan, nak?" Laras menawarkan dengan dalih untuk mengalihkan pembicaraan. Dan syukurnya Fayyola tidak menolak sama sekali. Begitu Fayyola mengangguk, Laras langsung menggandeng Fayyola untuk masuk ke warung milik orang tua Sania. Dia mengajak Fayyola memilih jajan untuk mengurangi -atau syukur-syukur bisa menghilangkan- rasa dongkolnya karena hidupnya mulai diusik lagi. Setelah mendapatkan jajan yang diinginkan Fayyola, Laras langsung membayar pada ibunya Sania yang kebetulan sedang menjaga warung di dalam. Setelahnya dia berniat pergi dengan alasan sudah sore, tapi kemudian niatnya jadi tertunda karena dia melihat kumpulan bocah-bocah yang bermain di halaman luas rumah orang tua Sania. Seru sekali, pikir Laras. Meski kadang suka jengkel saat kembali ke kampungnya karena merasa hidupnya terlalu diurusi oleh orang-orang yang tak berkepentingan, tapi nyatanya kampung Laras tetap menyisakan rindu yang dalam kala Laras memutuskan merantau. Momen keakraban seperti inilah yang dirindukannya. Di kota-kota besar mana ada kumpulan bocah-bocah yang main sampai lupa waktu hingga ibunya datang menjemput dengan sapu? Tidak ada. Dan jangan lupakan mainan yang dibawa bocah-bocah tersebut. Ada yang membawa kelereng, gasing, dan juga egrang. Bahkan beberapa anak perempuan juga membawa barbie kertas dan sekarang tengah sibuk membangun rumah namun dengan tanah. Terlihat seru sekali bukan jika dibandingkan robot-robotan mahal yang terkena debu sedikit saja langsung rusak? Tergelitik dengan momen ini, Laras berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Fayyola. Dia menatap Fayyola. "Fayyola mau main sama mereka?" tawar Laras. Pada titik ini Laras melihat binar ingin tahu di mata Fayyola. Hanya saja karena belum terbiasa jadi Fayyola terlihat ragu-ragu. Laras paham Fayyola mungkin tidak terbiasa dengan momen ini. Bocah itu terbiasa dengan permainan yang bersih dan seorang diri atau ditemani pengasuhnya. "Fayyola mau main yang mana? Tante temenin deh. Fayyola juga nggak akan dimarahin kok, percaya deh..." kata Laras lagi untuk meningkatkan keberanian Fayyola. Dan ternyata benar--Fayyola baru berani menunjuk permainan yang dipenasarinya setelah Laras berkata seperti. "Itu, Tante..." Fayyola menunjuk dua orang anak perempuan yang tengah bermain barbie kertas dan juga membangun rumah dari tanah. Tanpa banyak berkomentar Laras langsung mengajak Fayyola ke kumpulan tersebut "Kakak-kakak, Fayyola mau ikut gabung ya..." kata Laras seramah mungkin pada dua bocah perempuan yang tengah sibuk membangun rumah-rumahan dari tanah. Dan karena kepolosan mereka, dua bocah itu pun mengangguk tanpa merasa risih karena kedatangan orang baru. "Tuh, Ras, udah cocok kan jadi ibu." Laras langsung menatap Sania dengan kekehan yang dipaksakan. Padahal dia hampir lupa, tapi sahabat lamanya ini malah mengingatkannya lagi. Dasar tidak memahami perempuan jomlo sekali, pikir Laras masam. Tapi Laras tak ingin moodnya buruk lagi, jadi dia fokus untuk menemani Fayyola bermain. Dia ikut membantu dua bocah kecil tadi membuat rumah-rumahan dari tanah sekaligus mencontohkan pada Fayyola agar lebih berani lagi. Dia ingin menunjukkan bahwa meskipun kotor, tapi kegiatan ini sangat seru dan pantas untuk dilakukan. Hingga pada akhirnya Fayyola yang tadi hanya berdiri di depannya kini ikut berjongkok dan membantu membuat rumah-rumahan dari tanah juga. Laras tersenyum senang melihat hal ini. Setelah memastikan Fayyola membaur dengan baik -bahkan sekarang Fayyola sudah berani berceloteh bersama kawan barunya- Laras memutuskan untuk menjauh sedikit. Tadinya dia pikir Fayyola akan panik, tapi ternyata tidak. Bocah itu benar-benar sudah asyik berdialog bersama kawan barunya sebagai barbie kertas yang dipinjamkan kawan-kawannya tadi. Merasa aman, Laras memutuskan untuk mencicipi permainan egrang yang sudah lama tak dilakoninya. Pertama-tama dia bertindak sebagai pengamat, dan ketika sudah yakin barulah dia bertindak sebagai pemain. Itu pun dia lakoni karena bocah laki-laki yang tadi dilihatnya menantangnya dengan kesombongan khas bocah-bocah. Laras menerima tantangannya, lalu mengambil egrang tersebut. Pertama-tama dia mengelap tangannya yang agak kotor dan berkeringat ke celana jeans yang dipakainya lalu setelahnya dia mulai memijakkan kaki kanannya terlebih dahulu. Laras menarik napas pelan dan setelah mantap barulah dia menaikkan kaki kirinya dan mulai berjalan dengan egrang setinggi 150 cm itu. Kunci dari permainan egrang adalah keberanian dan keseimbangan. Dan Laras berhasil pada keduanya karena belum jatuh setelah lima kali melangkah seperti yang diejek bocah yang tadi mengajarinya. Dah hal ini memicu rasa bangga pada dirinya. Dia terus berjalan sambil menjulurkan lidahnya pada kumpulan bocah yang menantinya untuk jatuh. Ini adalah bentuk kesombongannya. Tapi Tuhan tidak pernah suka orang-orang sombong, sehingga kejayaan Laras tidak berlangsung lama. Tak lama berselang setelah menjulurkan lidahnya, egrang yang dipakai Laras tanpa sengaja menginjak batu hingga tidak seimbang lagi. Laras akan terjatuh dan sudah siap. Lalu matanya membulat. Bukan--bukan karena dia jatuh dan tubuhnya membentur tanah dengan memalukannya, melainkan tubuhnya membentur d**a kokoh seorang pria yang baru dikenalnya beberapa hari lalu. Dialah Faisal Mahardika. Tuhan, bisakah Kau buat aku pingsan detik ini juga? Aku malu menatap matanya, batin Laras. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD