Happy Reading ^_^
***
Selama beberapa detik waktu terasa melambat. Laras berada dalam posisi yang cukup dekat, bahkan bisa dibilang dadanya resmi menempel dengan d**a Faisal yang dibalut kemeja pas body. Matanya bertemu pandang dengan manik mata kelam milik Faisal. Dan bukan hanya matanya, Laras pun bisa melihat keseluruhan wajah Faisal dalam posisi yang terbilang cukup dekat. Dari mata turun ke hidung, bibir, dan jakun pria itu naik-turun dengan menggodanya.
Menggoda? Apa menggoda yang dimaksud olehnya adalah semacam seksi? Sadsr bahwa ini salah -apalagi setelah sadar pikirannya melantur- Laras langsung buru-buru menarik diri. Pipi Laras langsung bersemu merah. Jantungnya berdebar, begitu juga dengan jantung Faisal. Ini memalukan!! pikir Laras dengan frustrasi.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Faisal dengan sopan.
Dan Laras langsung kebingungan. Fisiknya memang baik-baik saja, tapi tidak dengan hatinya. Perempuan itu langsung menyalahkan Faisal atas apa yang dirasakannya saat ini.
Laras mungkin terdengar tidak sopan, tapi jujur saja dia tidak akan jatuh karena permainan egrang ini. Bukan--bukan karena dia merasa sombong, tapi karena Laras memahami teknik permainan ini dengan baik.
Selain keberanian dan keseimbangan, dalam diri pemain egrang pasti akan tertanam sikap waspada. Mereka sadar tidak akan selamanya bisa berdiri di atas pijakan bambu sekokoh apa pun itu. Dia pasti akan jatuh. Dan karena adanya sikap waspada itulah kala tubuhnya terasa terancam, si pemain akan melepaskan egrang begitu saja agar kakinya bisa sesegera mungkin berpijak pada tanah dan tidak jatuh membentur tanah.
Dan itulah yang dilakukan oleh Laras juga makanya dia merasa tidak membutuhkan pertolongan Faisal sebenarnya. Tapi nyatanya hal ini sudah terjadi dan Faisal sudah menolongnya, oleh karena itu dia tidak punya pilihan selain berterima kasih untuk kesopanan.
"Nggak apa-apa kok. Makasih ya, Pak Faisal."
Tapi kemudian Laras sadar kalau posisi tadi lumayan riskan untuk dijadikan bahan gosip. Oleh karena itu sesaat setelah berterima kasih Laras langsung mengedarkan kepalanya. Dan Laras langsung bisa menghela napas lega ketika Sania sebagai satu-satunya saksi dewasa ternyata tidak ada di tempatnya. Hanya ada bocah-bocah kecil yang menertawainya karena jatuh, bukan dengan tujuan menggoda selayaknya orang dewasa yang disuguhkan kedekatan yang lumayan dekat dan tak terduga seperti tadi.
"Laras, Fayyola di mana? Saya mau ajak dia pulang karena udah sore. Dia harus mandi."
Laras mengangguk. "Oh, iya--" matanya langsung mengedar mencoba mencari di mana Fayyola berada. Dan setelah menemukannya, dia langsung menunjuknya. "--itu Fayyola. Saya susul dia dulu."
Faisal mengangguk dan Laras langsung melakukan apa yang direncanakannya. Dia menyusul Fayyola dan mengajak bocah kecil itu untuk pulang. Dari tatapan matanya, Laras tahu kalau Fayyola agak tidak rela. Sepertinya bocah kecil itu sudah mulai terpengaruh budaya bermain bocah di desa ini yang tidak akan pulang kalau belum dijemput oleh orang tuanya. Tapi karena Papanya sudah datang, jadi mau tidak mau bocah kecil itu mengembalikan barbie kertas yang tadi dipinjamkan padanya. Dia akan pulang. Dan sebelum itu dia mengucapkan terima kasih karena mereka sudah mau bermain dengannya.
Sepanjang perjalanan pulang, Laras hanya mampu berjalan satu langkah di belakang bapak dan anak tersebut. Dia memerhatikan interaksi keduanya yang bisa dibilang pulang. Memang benar kalau tangan Faisal menggandeng tangan mungil Fayyola--tapi ya hanya itu saja. Tidak ada kehangatan di dalamnya selayaknya Papa yang peduli pada anak perempuannya.
"Fayyola suka nggak tadi main barbie kertas sama temen-temen barunya?" celetuk Laras untuk mencairkan suasana.
Dan Laras melihat Fayyola melihat ke arahnya terlebih dahulu sebelum menjawabnya. Ada jejak bahagia di wajahnya.
"Suka, Tante."
Laras tersenyum.
"Kalo gitu besok mau lagi?" tawar Laras yang langsung membangkitkan rasa bahagianya. Tapi kemudian jejak bahagia itu hilang saat bocah kecil itu sadar ada sosok sang Papa di sebelahnya. Sehingga alih-alih langsung mengiyakan, Fayyola dengan sopan bertanya pendapat Papanya.
"Boleh, Papa?"
Faisal mengangguk. "Boleh. Tapi tetep harus tahu waktu ya? Mainnya di pagi hari aja, terus siangnya pulang untuk tidur siang. Sore sampe malem di rumah aja untuk belajar, oke?" Faisal melirik putrinya yang berada di sampingnya. "Dan nggak perlu yang jauh-jauh ya, nak. Mainnya di deket-deket rumah aja."
Fayyola mengangguk. "Iya, Papa."
Tapi meskipun Fayyola menerimanya, justru Laras lah yang kebingungan. Sepertinya Faisal tidak paham jam bermain bocah-bocah yang tidak kenal waktu pagi, siang, atau sore. Kalau Faisal mematok hanya boleh pagi saja, lantas bagaimana kalau bocah-bocah lain ingin bermainnya di siang hari atau di sore hari saja seperti hari ini? Karena sejatinya, tujuannya bermain adalah bertemu kawan-kawan, bukan masalah apa saja yang dimainkan oleh mereka nantinya.
Bukankah ini sama saja melarang dengan cara yang halus? pikir Laras dengan masam.
Tapi kemudian dia menggelengkan kepalanya untuk menepis segala pemikiran yang merasuk. Dia orang baru dan tentunya single juga. Jadi rasa-rasanya sangat tidak pantas kalau dia mengkritik pola asuh seorang pria yang sudah menjadi Papa sejak beberapa tahun silam.
Sesampainya di rumah orang tua Laras, Faisal langsung menyuruh putrinya masuk ke mobil terlebih dahulu sementara dirinya mengangkut kembali semua yang dibawa Fayyola tadi pagi. Secara naluriah Laras langsung membantu Faisal berberes.
"Nggak usah, Laras. Biar saya aja."
"Nggak apa-apa, saya bantu." Laras bersikeras dan Faisal tak punya pilihan selain menerimanya.
"Makasih ya atas bantuannya menjaga Fayyola dari pagi sampai sore ini. Dari kemarin dia ngerengek pengen main sama kamu dan saya nggak punya pilihan selain menurutinya."
"Nggak apa-apa kok. Selama saya senggang dan bisa membantu ya saya pasti membantu." jawab Laras seolah-olah dia sudah lupa dengan keberatannya tadi pagi.
Faisal mengangguk sambil memunguti mainan Fayyola lagi. "Lain kali kalo kamu butuh bantuan saya, chat aja ya. Kamu punya kan nomor WA saya?"
Laras mengangguk walau ragu. Lalu cengiran malu-malunya terbit tanpa sepatah kata pun terucap. Faisal hanya bertanya apakah Laras punya nomornya atau tidak. Dan jawabannya sudah pasti punya. Pria itu pernah men-chat-nya duluan. Tapi perlu diketahui bahwa nomor itu tidak di save oleh Laras, jadi bisa dipastikan kalau nomornya pasti sudah tenggelam ke dasar jurang dunia per-w******p-annya. Atau tunggu... sudahkah dia melakukan penghapusan chat karena saking penuhnya dunia per-w******p-annya? Entahlah. Kita lihat saja nanti.
"Saya pamit dulu, Ras. Makasih atas hari ini."
Duh, kok kesannya kayak ada something special gitu sampai seorang laki-laki berkata seperti ini padanya? Laras bergidik.
Laras mengangguk. Tapi kemudian lidahnya gatal ingin mengatakan sesuatu. Pada akhirnya dia memanggil Faisal lagi.
"Pak Faisal..."
"Ya, Laras..."
Faisal menunggu kalimat Laras selanjutnya, tapi si bodoh yang membuat keputusan memanggil Faisal malah terlihat ragu-ragu. Sepertinya Laras sudah menyesali keputusannya. Dia terlalu impulsif. Tapi sudah terlanjur...
"Fayyola anak yang cantik dan manis. Dan penurut juga. Tapi menurut saya, dia terlalu... terkekang." Laras mengakhiri kalimatnya dengan ringisan malu. "Semoga ke depannya Pak Faisal nggak terlalu menekan Fayyola di usianya yang masih belia ini. Dan luangkan waktu untuk family time dengan Fayyola. Dia sebenarnya anak yang seru untuk diajak jalan-jalan dan mengobrol."
Ingin rasanya Laras menepuk bibirnya yang sudah kelewatan. Sekali lagi benaknya bertanya... memang siapa dirinya sampai berani berkomentar seperti ini? Dia bukan ibu Fayyola. Bahkan dibandingkan Faisal yang sudah mengalami pahit manisnya kehidupan sebagai seorang pria yang berumah tangga, Laras tetap bukan apa pun. Dia single. Bahkan bisa dibilang dia dicampakkan.
Dia membenci orang-orang yang ikut campur dalam urusan hidupnya, tapi tanpa disadari dia pun turut ikut campur dalam hidup orang lain. Dalam hal ini kehidupan yang dia campuri adalah kehidupan keluarga Faisal. Apa begini memang hakikatnya manusia, yakni tanpa disadari juga sering ikut campur dalam kehidupan orang lain? Bedanya, ada orang yang terang-terangan dan ada yang hanya membatin saja.
"Menurut kamu saya terlalu mengekang Fayyola?"
Dan bodohnya lagi Laras masih menganggukinya dengan tanpa dosa. Batin Laras meratapi kebodohannya.
"Tapi bagi saya ini adalah hal yang wajar, Laras. Hidup kan memang harus punya batasan agar nggak terjerumus dalam hal-hal yang buruk. Dan karena Fayyola masih kecil makanya saya mencoba untuk membiasakannya. Kalau dimulai dari dia dewasa pasti akan lebih sulit karena dia udah mendapat banyak pengaruh dari luar."
"...."
"Meskipun menurut kamu saya mengekang Fayyola, tapi percayalah kalo rasa sayang saya ke dia pun sama besarnya. Hanya saja caranya berbeda dengan kebanyakan orang di luar sana."
Dan Laras merasa ingin menghilang detik ini juga. Dia malu sudah ikut campur dalam rumah tangga orang padahal dia dan keluarga Fayyola. Ibarat kata, dia belum mengenalnya dengan baik tapi sudah mengkritik dengan tajam. Sangat tidak sopan.
TBC