6. KAMU INI PEREMPUAN MACAM APA SIH?

1847 Words
Happy Reading ^_^ *** Laras adalah tipe orang yang paling tidak suka melakukan kesalahan. Tolong dicatat, tidak suka bukan tidak pernah. Dan dua hal tersebut berbeda sekali maknanya. Laras tidak suka melakukan kesalahan bukan karena ingin merasa sebagai manusia yang paling benar, tapi dia tidak nyaman dengan sensasi 'menyesal' yang kerap timbul setelahnya. Atau kalau pun dia terlanjur melakukan kesalahan, Laras harus menyelesaikannya detik itu juga agar dadanya plong. Atau kalau pun tidak selesai detik itu, paling tidak Laras tahu salahnya di mana dan langsung meminta maaf. Semua itu Laras lakukan agar tidak ada penyesalan di belakang yang mengekorinya. Tapi hari ini sepertinya Laras tidak diperkenankan untuk melakukan hal yang sesuai dengan prinsipnya. Ya, Laras mengakui kalau sikapnya pada Faisal yang mengomentari masalah keluarganya adalah hal yang salah. Tidak seharusnya dia melakukan itu. Namun saat hendak meminta maaf via pesan WA, betapa terkejutnya dia karena ternyata Laras baru saja membersihkan chat-nya. Laras hanya bisa meringis saat menyadari kebodohannya. Dan karena hal itu juga Laras dilanda perasaan tidak tenang malam ini. Dia harus bagaimana untuk menuntaskan rasa tidak nyamannya? Merasa tak punya pilihan, Laras memutuskan untuk mendatangi rumah keluarga Faisal saja. Toh jaraknya juga tidak terlalu jauh. Mungkin terkesan berlebihan karena sampai seperti ini, tapi bagi Laras ini adalah hal yang wajar. Orang salah memang harus meminta maaf kan? Dan sepertinya juga semesta ingin Laras meminta maaf secara langsung, bukan via pesan w******p atau aplikasi lainnya. Pada akhirnya Laras bergegas pergi meski waktu sekarang sudah menunjukkan pukul sembilan malam lebih sedikit. Mungkin terkesan berlebihan karena dia datang ke rumah seorang pria malam-malam begini karena masalah sepele--tapi demi Tuhan Laras tidak akan tenang sebelum mengutarakan apa yang berada di pikirannya. Laras berfikir karena rumah Faisal tidak terlalu jauh makanya hal ini masih tergolong wajar. Anggap saja dia sedang melalukan silaturahmi yang kemalaman. Dan karena letak rumah Faisal tidak terlalu jauh, lima belas menit kemudian Laras sampai di depan rumah Faisal dengan berjalan kaki. Sesampainya di sana pun Laras tidak langsung memencet bel. Alih-alih memencet bel dan mempersingkat waktu, Laras malah mengintip melalu celah-celah pagar minimalis rumah Faisal. Matanya mengedar dan mencari-cari, tapi tidak ada siapa pun yang terlihat. Kan udah malem, Yas, ya wajar kalo nggak ada siapa pun. Kamu aja yang bego karena masih maksain, batin Laras mengejek dengan pedasnya. Tapi setelah dipikir pun batinnya memang ada benarnya juga. Seharus-harusnya dia meminta maaf, tapi apakah harus malam ini juga? Faisal itu dokter, jadi sudah jelas pria itu pasti sibuk sepanjang hari ini. Dan saking sibuknya, bukan tidak mungkin bagi pria itu untuk memaksimalkan waktu istirahatnya di malam hari. Lalu apa yang diharapkannya kalau seperti ini? Dia saja yang kurang kerjaan sampai mendatangi rumah Faisal di waktu sekarang ini. Laras meringis sambil mengeratkan kardigan rajut yang tadi dia sambar secara serampangan. Pada momen ini Laras benar-benar merasa menyesal tidak menamai nomor WA Faisal dan menghapus daftar chat-nya begitu saja. Setidaknya kalau dia punya nomor pria itu maka dia bisa menghubungi Faisal terlebih dahulu sebelum senekat ini. Tapi sudahlah... toh sudah terjadi juga. Seraya meratapi kebodohannya, Laras bergegas untuk pergi. Dia bisa meminta maaf keesoka harinya saja. Atau kalau besok masih tidak sempat juga, maka biarkan Tuhan yang menyampaikannya. Terdengar sok agamis, tapi ya mau bagaimana lagi? Tapi kemudian Laras dikagetkan dengan gerbang rumah keluarga Faisal yang terbuka secara tiba-tiba. Matanya mencari-cari pelakunya dengan panik. Meski terlihat strong, tapi Laras lumayan takut juga kalau berbau hal-hal mistis. Apalagi dia sendirian dan berada di tempat yang tidak terlalu ramai juga. Tapi syukurnya apa yang ditakutkan Laras tidak terjadi. Sosok yang membuka gerbang masih terbukti manusia jika dilihat dari kakinya yang menapak tanah. Dan saat dia mendongak, dia menjumpai sosok Faisal mengerutkan kening ke arahnya. "Laras, kamu ngapain ke sini malam-malam begini? Mana kayak maling yang ngintip-ngintip lagi." Laras meringis kala mendengar dirinya dicurigai sebagai maling oleh anak si pemilik rumah. Tapi setelah dipikir-pikir pun ya ada benarnya juga. Kalau memang niat bertamu ya dia tinggal memencet bel, bukan mengintip seperti tadi. Untungnya yang memergokinya adalah Faisal sendiri dan bukannya orang lain. Bisa habis Laras kalau sampai orang lain yang memergokinya. Bisa-bisa bukan teguran lagi yang didapatkannya, melainkan seretan untuk dibawa ke kantor polisi. Laras bergidik ngeri membayangkannya sendiri. Mengabaikan seluruh pikiran negatifnya, Laras menunjukkan cengiran polosnya. "Saya bingung. Kayaknya kalo bertamu malem-malem itu nggak sopan." jawab Laras dengan malu-malu. Mendengar itu, Faisal langsung menipiskan bibirnya. "Kalau sudah tahu nggak sopan, kenapa masih datang?" Padahal hanya pertanyaan sepele, tapi kenapa dia segemetar ini sih? "Saya mau ngucapin maaf, Pak Faisal." "Faisal, Laras. Nggak usah pake kata 'Pak'. Saya nggak suka." Laras memutar bola matanya karena lagi-lagi Faisal malah mengoreksi panggilannya alih-alih topik yang sedang mereka bahas saat ini. "Iya, itu pokoknya..." jawab Laras sekenanya. Kemudian dia melanjutkan dengan serius. "Tujuan saya kemari adalah untuk meminta maaf karena kelancangan saya ngurusin masalah keluarga bapak. Saya baru banget sadar kalau itu adalah hal yang sangat tidak sopan. Itu bukan ranah saya, tapi saya malah ikut campur." "Oke, iya. Tapi sekarang saya tanya--harus banget malam ini ya? Nggak bisa besok? Nggak bisa via pesan w******p? Bukan nggak menghargai usaha kamu lho, Ras, tapi ini tuh udah malem. Nggak seharusnya perempuan seperti kamu masih berkeliaran di malam hari seperti ini." Laras meringis kala salah satu aplikasi untuk chatting didengungkan Faisal. Dia berdehem sekali untuk menetralisir rasa gugupnya. "Saya tahu kok. Tapi ya mau gimana lagi kalo ini udah berkaitan dengan prinsip? Saya nggak nyaman ngerasa bersalah tanpa ada tindakan yang dia lakukan untuk menebus rasa bersalahnya. Dan masalah nomor w******p--" Laras meringis. Tangannya secara spontan menggaruk sudut bibirnya dengan malu-malu. "--nomornya hilang. Beberapa hari lalu saya ngebersihin room chat dan ya udah deh ke hapus semuanya." "Dan kamu belum save nomor saya?" tebak Faisal yang dibalas Laras dengan cengiran polosnya. Faisal geleng-geleng kepala sebagai tanda dia tak habis pikir dengan cara Laras berfikir. " Laras... Laras... ada-ada aja sih?" Faisal menjeda karena benar-benar tidak habis pikir dengan cara berfikir Laras yang berbeda dari kebanyakan orang. Pertama, dia terlalu berani. Saking beraninya, dia keluar dari rumah malam-malam begini bahkan tanpa adanya kontak yang bisa dihubungi, dalam artian nomor WA-nya. Kalau ada apa-apa, lalu dia mau menghubungi siapa? Dan kedua, setelah semua keberaniannya, ternyata alasannya pun sangat sepele, yaitu demi meminta maaf padanya. Baiklah, meminta maaf secepat mungkin memang hal baik yang patut dicontoh, tapi kalau sampai mengabaikan keselamatan dirinya di malam-malam seperti ini--apakah itu pantas? Dan inilah yang Faisal sayangkan. Padahal bagi Faisal hal itu bukan sesuatu yang urgent sekali sampai harus dilakukan malam ini juga. Tak ingin memperkeruh suasana, Faisal pun berujar, "Saya maafin kamu, Laras. Masalah selesai kan?" "Iya, eh..." Laras kebingungan dengan respon Faisal yang hanya seperti ini. "Pak Faisal nggak marah sama saya?" tambah Laras dengan hati-hati untuk mengukur reaksi lawan bicaranya. "Saya tersinggung, tapi nggak marah." Laras meringis. "Memang beda ya, Pak?" Faisal menghela napas pelan. Kedua tangannya yang sejak tadi dia masukkan ke dalam celana kini dia lipat di depan d**a. Matanya menatap langit malam ini yang bersih tanpa satu pun bintang di langit yang tertangkap oleh matanya. "Ras, saya hidup di desa yang mana ada lebih banyak mulut yang akan mengomentari segala tindak-tanduk saya daripada tangan untuk merangkul kelemahan saya dalam berkeluarga. Ini resiko hidup bersosial--dan ya sudah. Memangnya mau bagaimana lagi?" Faisal menyampaikan pendapatnya dengan santai. Meski dia bilang tersinggung, nyatanya Faisal memang tidak terlihat seperti orang yang tersinggung sama sekali. Dia terlalu santai untuk ukuran orang yang katanya tersinggung. "Asal kamu tahu--kamu itu bukan orang pertama yang mengomentari hidup saya. Ada banyak. Dan saking banyaknya ya saya memilih nggak mau ambil pusing. Daripada saya stres kan? Toh ini adalah keluarga saya. Yang tahu kondisi sebenarnya di dalam ya hanya saya. Orang lain nggak perlu tahu kalau karena mereka juga nggak akan ngerti." Kalimat Faisal terdengar terlalu cuek, tapi anehnya Laras malah terenyuh. Kondisi Faisal persis sekali seperti Laras dalam artian kehidupan mereka banyak dikomentari karena sebuah kekurangan. Padahal kan yang namanya manusia punya kekurangan itu wajar. Tapi bedanya Faisal sudah sampa tahap masa bodoh dengan semua omongan orang-orang, berbanding terbalik dengan Laras yang masih suka bersungut-sungut kalau diceramahi lagi. "Tapi sebenarnya saya penasaran dari sudut mana saya terlihat seperti seorang Papa yang pengekang. Kan kamu juga baru ketemu saya. Ibarat kata, kamu tuh orang baru masuk dalam kehidupan saya, tapi kok udah menilai seperti itu gitu?" "Saya tanya sama Fayyola." cicit Laras. "Kamu sepenasaran itu terhadap saya sampe nanya-nanya tentang saya ke Fayyola?" Laras langsung mendongak. Dia menggeleng sambil mengibaskan kedua tangannya saat mendengar ada maksud lain dari pertanyaan itu. Faisal tidak boleh salah paham. "Bukan begitu, Pak Faisal. Saya nanya ke Fayyola tuh karena sikap dia benar-benar terlalu dewasa untuk anak seusianya. Saya penasaran gimana kalian mendidiknya dan ya udah deh saya tanya-tanya. Cuma ya gitu ada beberapa jawaban yang membuat saya berfikir kalo Pak Faisal udah mendidik Fayyola dengan terlalu keras sampai bocah itu takut melakukan kesalahan sekecil apa pun. Dia terasa seperti anak yang tertekan." "Dan kamu menganggap kalo saya benar-bensr mengekang dia?" potong Faisal dengan cepat. Laras tertunduk lesu. "Iya--maaf." "Saya nggak akan menjelaskan panjang lebar untuk membenarkan diri saya, tapi Laras--Fayyola adalah anak saya. Catat baik-baik--dia anak kandung saya..." ulsng Faisal dengan penuh penegasan. "... dan saya menyayangi anak saya dengan cara saya. Sampai sini paham?" Secara spontan Laras langsung mengangguk. Luar biasa. Faisal dan aura mengintimidasinya memang tak bisa dilawan. "Paham sekali." "Kalau paham, saya harap kamu nggak kayak ibu-ibu cerewet yang tahunya hanya menasehati tanpa mau mendengar kenyataan yang sebenarnya." Sekali lagi, Laras mengangguk. "Dan kalau sudah paham, sebaiknya sekarang kamu pulang. Sudah malam, Laras. Kalo ada apa-apa gimana saya tanggung jawabnya?" Laras hanya tersenyum kecil kala mendengar itu perkataan Faisal. Karena hal itu juga Laras hendak pergi, tapi beberapa saat kemudian langkahnya ditahan lagi oleh Faisal. Laras kebingungan dan menatap Faisal penuh dengan tanda tanya. "Catet nomor WA saya lagi." Laras pun langsung mengambil ponselnya dan mengetikkan nomor yang disebutkan Faisal. Tapi kemudian perempuan itu sadar kalau dia tidak harus melakukan ini. Kan masalah mereka sudah selesai. Faisal pun bilang tidak mempermasalahkannya lagi. Tapi kenapa dia masih harus menyimpan nomor pria itu? Maksudnya.... untuk apa gitu? Apa akan ada chat-chat lain di kemudian hari? Laras jadi bingung sendiri. "Save, Laras." "Iya..." lirih Laras tanpa ada niatan untuk menyimpan nomor Faisal. Dan menyadari tindak-tanduknya, Faisal pun mengambil ponsel Laras dan menyimpan namanya sendiri. "Kalau kayak gini pas membutuhkan kan jadinya lebih mudah. Jadi jangan ada cerita kamu dateng ke rumah saya karena hal sepele." Laras meringis. Duh... memang apa sih yang dia butuhkan sampai perlu menyimpan nomor Faisal? Entahlah. Kita liat saja. "Sekarang kamu pulang. Dan bisa sendiri kan? Saya nggak bisa nganter soalnya." Mendengar itu Laras langsung tersenyum canggung. "Nggak perlu. Saya bisa sendiri kok." Faisal mengangguk. "Kalau begitu saya pamit ya, Pak Faisal. Selamat malam." "Selamat malam, Laras." Laras bergegas pergi, begitu juga Faisal yang bergegas masuk ke dalam area rumahnya. Tapi kemudian setelah kondisi aman, secara diam-diam Faisal keluar lagi dan memerhatikan sosok Laras. Meski tidak bisa mengantarnya secara langsung, tapi dia mengamati perempuan itu sampai tubuhnya menghilang di perempatan jalan. Baru setelahnya Faisal masuk ke dalam rumahnya sambil bertanya-tanya... sebenarnya Laras itu perempuan macam apa sih? TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD