Bab 22. Kemenangan Damian

1078 Words

Air dingin menampar kulitnya. Tidak peduli seberapa panas suhu di pemanas air, tubuh Meysa tetap menggigil. Mungkin bukan karena suhu. Mungkin karena jijik. Mungkin karena rasa muak pada dirinya sendiri yang sudah terlalu dalam terjebak. Ia berdiri mematung di bawah pancuran, membiarkan air menghantam wajah, leher, dan d**a—bagian tubuh yang beberapa jam lalu disentuh lelaki yang sama … yang pernah ia cintai, lalu benci, lalu entah apa lagi sekarang. Meysa memejamkan mata. Tangannya naik perlahan, mengusap payudaranya sendiri dengan keras. Ia menggosok, menggosok, dan terus menggosok, seakan-akan bisa menghapus jejak bibir Damian yang tadi mendarat begitu gila di sana. Tapi tidak bisa. Sentuhan itu tetap tinggal. Bekasnya tidak kelihatan, tapi terasa. Melekat seperti luka bakar yang tak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD