Bab 45. Aku Pergi

1191 Words

Langit meredup di balik tirai tipis apartemen. Suara langkah pelan dan bunyi klik cardlock membuka pintu menyambut kembalinya Meysa—sendirian, dengan bayang-bayang berat di matanya. Begitu pintu tertutup, tubuhnya ambruk ke lantai. Punggung bersandar pada dinding, kedua lutut ditarik mendekat ke d**a. Dan akhirnya, tangis itu pecah. Isak yang lama ditahan di taman bersama Rose tumpah dengan sesak. Meysa menggigit bibir, menahan suara agar tak menggema terlalu keras. Air mata mengalir tanpa bisa dicegah, membasahi pipi yang mulai memucat karena kelelahan emosi. “Kenapa semuanya harus jadi serumit ini?” bisiknya lirih. “Kenapa aku harus ada di antara mereka.” Ia menatap jemari sendiri yang gemetar, seolah-olah bisa menemukan jawaban dari kulitnya yang dingin. Rasa bersalah merayap perlah

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD