Bab 4. Cemburu Buta

1139 Words
Plak! Tamparan kedua diterima Meysa yang kemudian terjatuh ke lantai. Pria itu begitu gusar karena melihat wanita itu jadi dekat dengan kakak iparnya. Belum lagi bayinya yang ternyata juga nyaman dengannya. Jika suatu hari masa lalu mereka terbuka, Damian tak mau mengambil risiko. Lebih baik ia memaksa Meysa untuk berhenti sekarang daripada menjadi duri yang bisa menusuknya kapan saja. Saat Damian hendak kembali memberikan pelajaran pada wanita itu, tiba-tiba pintu diketuk dari luar. “Mbak, Mbak Meysa baik-baik saja?” Si mbak, ART yang kebetulan tadi mendengar Meysa berteriak datang untuk memastikan keadaan wanita itu. Ia tak berpikir terlalu jauh, sebab biasanya jam segini semua orang sudah pergi ke kantor. Jadi, apa yang mungkin terjadi pada ibu s**u itu di rumah sebesar ini. “Sialan!” Damian berbisik lirih, lalu berjongkok demi mensejajarkan dirinya dengan Meysa yang terjerembab di lantai. Tangannya yang kekar terulur demi menarik dagu wanita itu kasar. Sementara matanya menatap tajam pada Meysa yang tampak pasrah. “Sekali lagi aku peringatkan. Jangan pernah coba-coba untuk membuka hubungan lama kita pada siapa pun. Atau kamu akan tahu akibatnya,” ucap Damian sebelum akhirnya bangkit dan membuka pintu ruangan itu. Saat sang tuan keluar dari ruangan itu, Murni menunduk dalam. Ia tak berani berspekulasi mengenai apa yang dilakukan Damian dan Meysa di dalam sana. Namun, setelah pria itu berlalu, wanita itu segera mendekati Meysa yang masih terduduk di lantai. “Mey, ada apa? Kamu membuat masalah?” tanya Murni seraya membantu wanita itu untuk bangkit. “Enggak ada apa-apa, Mbak. Cuma tadi aku udah bikin Tuan Damian tersinggung,” jelas Meysa dusta. Saat itu, Damian yang diam-diam mendengar percakapan mereka membuang napasnya dengan kasar. Sepertinya, peringatannya tadi berhasil. Meysa bahkan tidak mengatakan apa-apa pada Murni yang tentu saja memiliki pikiran liar mengenai apa yang mereka lakukan di dalam ruangan itu tadi. *** “Terima kasih semuanya. Rapat selesai, silakan kembali ke ruangan kalian masing-masing,” ucap Rose usai memimpin pertemuan pagi ini setelah beberapa bulan tidak datang ke perusahaan. Wajah wanita itu terlihat begitu senang karena bisa kembali menekuni passionnya dalam bisnis setelah melahirkan anak pertamanya. Saat itu, Jo yang juga menjadi salah satu yang hadir dalam rapat tersenyum puas. Sang adik memang sudah tidak bisa diragukan lagi. Rose adalah ahlinya di bidang ini. “Keren banget adikku ini,” puji Jo usai mengikis jarak dengan Rose. “Iya, dong. Siapa dulu Abangnya.” “Bisa aja. Emm … terima kasih, ya, Rose,” kata Jo kemudian. “Terima kasih buat apa ini?” “Udah terima Meysa di rumah kamu. Jujur aku juga bingung, kenapa aku bisa setertarik ini sama dia. Belum ada wanita yang bisa membuatku jadi segila ini, Rose,” jelas Jo. “Sama-sama, Bang. Lagi pula, dia orangnya bersih dan disiplin. Aku juga jadi yakin dia akan jaga Bastian dengan baik. Tapi, statusnya gimana?” tanya sang adik. Jo membuang napasnya dengan kasar. Meysa sudah menceritakan semuanya tanpa terkecuali. Jo juga sudah menyelidikinya sendiri mengenai kebenarannya. Dan, ya. Wanita itu jujur soal masa lalunya. “Dia hamil di luar nikah. Laki-laki yang menghamilinya tidak mau bertanggung jawab, jadi dia terpaksa merawat bayinya sendiri. Tapi, karena dia juga hanya yatim piatu, dia kekurangan biaya hingga membuat anaknya yang sakit meninggal tanpa penanganan,” jelas Jo. “Astaga, kurang ajar banget laki-laki itu. Nasib Meysa benar-benar miris.” “Itulah sebabnya dia seneng banget waktu aku kasih tahu kamu butuh Ibu s**u. ASI-nya terus keluar dan dia masih menyesali kepergian anaknya.” Rose mengangguk lemah. Ia paham mengapa Meysa terlihat berbeda di mata sang kakak. Dia wanita malang yang memang butuh dibantu. Sementara itu, Damian yang menguping di belakang pintu ruang pertemuan hanya bisa mengepalkan tinjunya. Ia tak menyangka jika kebetulan itu bisa mempertemukannya dengan gadis yang ia hamili dan tinggalkan. “Meysa benar-benar menjual cerita sedihnya untuk mendekati Jo. Sialan!” umpatnya kemudian berlalu meninggalkan tempat itu. *** “Sore, Nyonya,” sapa Meysa pada Rose yang baru datang dari kantor. “Sore.” Wanita itu sudah mencuci tangan dan segera menuju ke kamar sang putra. Bastian masih terjaga. Seharian ini, Rose cemas. Karena baru hari ini ia meninggalkan sang putra seharian. “Apa dia rewel?” tanya Rose. “Tidak, Nyonya.” “Aah … aku kangen sekali. Halo, Sayang. Kamu enggak nakal, kan, hari ini?” Rose mencoba mengajak sang putra bicara. Wanita itu menggendong Bastian dan mengusapnya perlahan. “Mey, turunlah! Bang Jo menunggumu di bawah,” kata Rose saat itu. “Emm … ada apa, Nyonya?” “Dia kangen sama kamu katanya,” celetuk Rose. Wajah Meysa memerah. Ia yang awalnya tak ingin menaruh hati pada Jo lama-lama tak bisa menghindarinya. Pria itu tidak buru-buru. Bahkan terkesan lemah lembut dan menunggu. Lantas, apakah ia bisa kembali membuka hati untuk seorang pria setelah Damian memperlakukannya demikian? Sejujurnya, Meysa benci melihat kebahagiaan Rose dan Damian. Bukankah seharusnya ia juga merasakan hal yang sama. Namun, jika mengingat perlakuan pria itu padanya, Meysa tak lagi ingin memperjuangkan. Ia hanya ingin melihat pria itu mendapatkan hukuman atas apa yang diperbuat padanya dan bayinya yang telah meregang nyawa. “Sana buruan turun, kok, malah bengong.” “Ah, iya, Nyonya. Saya permisi,” ucap Meysa kemudian. Wanita itu kemudian keluar dari kamar dan hendak turun melalui tangga. Saat itu, ia berpapasan dengan Damian yang menuju ke kamarnya. Keduanya bersirobok, tapi Meysa memilih untuk membuang pandangan ke arah lain dan langsung turun. Sementara Damian memperhatikan langkah wanita itu sampai akhirnya Meysa menyapa Jo yang duduk di ruang tengah. “Sialan! Kenapa mereka makin dekat,” bisik Damian ketika melihat keduanya saling melempar senyum. Hatinya panas, entah karena apa. Namun, ia sama sekali tak bisa berbuat apa-apa. Sementara Jo kemudian mengajak Meysa duduk dan mengobrol. Pria itu merasa sangat senang karena melihat wajah wanita itu yang cerah. “Kenapa ngeliatin aku begitu, sih? Ada yang salah, ya, sama wajahku?” tanya Meysa yang merasa jengah. “Enggak. Aku seneng banget lihat kamu jadi semangat begini. Terus senyum kayak gini, ya,” kata Jo. Meysa menatap Jo dengan saksama. Wanita itu mencoba mencari jejak-jejak kebohongan di matanya. Namun, pria itu begitu tulus. Tidak ada hal buruk yang bisa Meysa lihat. Wanita itu kemudian menunduk, lantas menganyam jarinya sebelum akhirnya membuka suara. “Jo, aku–” “Iya, aku tahu, Mey. Aku enggak akan buru-buru. Aku akan membebaskan waktumu sampai kamu benar-benar bisa menerimaku sepenuhnya,” ucap Jo. Hati Meysa menghangat. Entah apa yang akan Jo lakukan jika ia tahu bahwa sebenarnya Meysa telah memanfaatkannya agar bisa masuk ke keluarga ini dan membalas Damian. Sementara itu, Damian yang sejak tadi memperhatikan mereka dari lantai 2 hanya bisa mengetatkan rahang. Buru-buru ia berlalu dan menemui Rose di kamar Bastian dan mengadukan semuanya. “Sayang, ini enggak bisa dibiarin. Bang Jo enggak boleh deket sama Meysa. Apa kata orang nanti? Seorang CEO jatuh cinta sama pengasuh?” katanya tanpa tedeng aling-aling.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD