“Ada orang mendekat ke kamar ini,” batin Meysa.
Wanita itu melihat bayangan di bawah pintu. Ia yakin ada yang datang. Jadi, ketika Damian memperlakukannya dengan kasar, ia hanya manut dan menunggu reaksi pria itu ketika kepergok oleh Rose.
“Emm … aku …. cuma mau lihat Bastian, Sayang. Kan, biasanya aku selalu masuk ke kamarnya sepulang kerja,” jawab Damian terbata-bata.
Untungnya, ia langsung membentang jarak ketika mendengar kenop pintu ditekan. Jadi, tidak ada alasan lain selain karena sang putra.
“Kamu itu dari luar, Damian. Masih kotor, banyak kuman. Harusnya mandi dulu. Baru kamu lihat anak kita,” ucap Rose sedikit geram.
Pikirannya tidak sampai pada hal-hal buruk mengenai suaminya karena ia yakin, Damian tidak bisa hidup tanpanya.
“Iya, maaf. Ini aku mandi dulu. Udah hilang capekku pas lihat Bastian tidur dengan nyaman begitu,” katanya.
Rose mengangguk lemah. Ia kemudian melepas Damian berlalu dari kamar sang putra dan langsung mendekati Meysa dan Bastian. Bocah kecil itu benar-benar tidur dengan pulas saat ini dalam gendongan Meysa. Rose tidak perlu cemas dan khawatir ketika nanti ia harus kembali bekerja.
Tangan wanita itu terulur demi mengusap kening putra kesayangannya lembut. Lantas, menatap Meysa lekat.
“Tidurkan dia. Aku mau bicara denganmu,” kata Rose kemudian.
“Baik, Nyonya.”
Meysa menuruti titah sang majikan. Wanita itu bangkit dari duduk dan bersiap menidurkan bayi kecil itu di ranjang. Setelah selesai, ia kembali menemui Rose yang sudah menunggunya di balkon kamar itu.
“Iya, Nyonya.”
Rose menoleh. Ia yang awalnya sibuk memperhatikan jalanan kini menatap Meysa dari atas sampai bawah dengan saksama. Senyum wanita itu terbit. Lantas, baru membuka suara mengenai apa yang ia pikirkan.
“Jadi … apa kamu punya hubungan spesial dengan Bang Jo?” tanyanya langsung pada inti pembicaraan.
“Em … maaf, Nyonya. Maksudnya bagaimana?”
Meysa mencoba meminta penjelasan pada Rose mengenai apa yang tadi ia tanyakan. Walaupun sejujurnya, ia paham betul ke mana arah pembicaraan ini.
“Ayolah, Mey. Abangku itu tidak mudah dekat dengan orang sembarangan. Dia bahkan hanya bicara dengan beberapa orang saja. Lantas, dia mengenalmu dan merekomendasikanmu tanpa ragu kepadaku. Apakah aku harus pura-pura tidak tahu semuanya?” jelas Rose.
Wanita itu tersenyum tipis. Sejujurnya, kasta bagi keluarganya teramat berharga. Tidak akan mungkin pelayan menjadi permaisuri. Namun, melihat antusias sang kakak mengenai wanita di hadapannya, Rose akan mengabaikan semua batasan. Asalkan Jo bisa membuka diri untuk seorang wanita.
“Tapi sungguh, Nyonya. Saya dan Jo, em … maksudnya Pak Jo hanya teman. Mungkin Pak Jo hanya kasihan kepada saya saja,” tutur Meysa.
Rose mengangguk lemah. Ya, ia paham. Pasti mereka masih pada tahap pendekatan. Jadi, Meysa masih belum berani mengatakan yang sebenarnya. Baiklah, ia tak akan memaksa. Namun, dengan kehadiran Meysa, Rose berharap Jo bisa melupakan masa lalunya yang kelam dengan mantan tunangannya yang berkhianat.
“Baiklah kalau begitu. Mulai besok, aku akan kembali ke kantor. Tugasmu hanya menjaga Bastian. Selebihnya sudah ada ART. Makan makanan yang aku berikan. Aku mau air susumu sehat dan bergizi untuk anakku,” jelas Rose.
“Baik, Nyonya.”
Wanita itu pun berlalu meninggalkan Meysa yang kemudian mengambil duduk di tepi ranjang untuk menjaga Bastian. Sementara di balkon samping kamar itu, Damian mengetatkan rahangnya usai mendengar percakapan istrinya dan Meysa. Ia tak tahu jika kakak iparnya ternyata tertarik dengan mantan kekasihnya.
“Jadi begitu cara Meysa masuk ke rumah ini. Aku akan tunjukkan jalan keluarnya kalau begitu,” bisiknya.
Sejujurnya, bukan hanya rasa kesal yang bersarang di hati Damian. Ada sedikit cemburu ketika mengetahui hubungan antara Meysa dan Jo. Bagaimanapun, pernah ada perasaan cinta yang dalam untuk wanita itu. Walaupun pada akhirnya ia memilih masa depan terjamin dengan Rose.
***
“Pagi.”
Meysa menoleh ketika suara yang menyapanya itu terdengar tidak asing. Jo datang pagi itu mengunjungi Meysa yang baru sehari bekerja di kediaman sang adik. Senyumnya terkembang ketika melihat wanita yang ternyata diam-diam telah mencuri hatinya yang lama beku.
“Pagi, Jo. Eh, Pak Jo,” ucapnya terbata-bata.
“Kenapa jadi panggil Pak segala?” tanya pria itu.
“Aku enggak enak sama Nyonya Rose. Sekarang, kan, aku kerja di sini. Masak manggil kamu pakai nama,” jelas Meysa.
Jo tersenyum kecil, lalu mengikis jarak dengan Meysa lebih dekat. Dari sekian banyak wanita yang pernah ia kenal, baru Meysa yang bisa melunakkan hatinya. Lantas, apakah wanita itu tak merasakannya? Namun, Jo tak mau terburu-buru. Meysa punya banyak trauma yang mungkin membutuhkan waktu yang lama untuk sembuh. Jadi, ia akan pelan-pelan mendekatinya.
“Iya, aku paham. Lakukan itu ketika ada orang lain. Waktu kita hanya berdua begini, panggil aku seperti biasanya,” kata Jo.
Meysa mengangguk lemah. Senyumnya terbit begitu indah bagi pria yang kini memaku pandangan padanya. Pertemuan mereka memang tidak disengaja. Dan Jo yakin jika semuanya telah diatur takdir.
“Kamu udah sarapan?” tanya Jo kemudian.
“Aku–”
“Udah, Bang. Jangan khawatir soal itu. Aku menjamin kesehatan Meysa karena dia yang memberikan ASI pada Bastian.”
Keduanya menoleh ketika tiba-tiba Rose menyahut dari pintu samping rumah itu. Meysa langsung menunduk ketika majikannya itu datang. Sementara Jo mendekati sang adik kemudian memeluknya sekejap.
“Abang jangan cemas. Meysa enggak akan pernah kelaparan di sini,” imbuh Rose.
“Aku percaya padamu, Rose,” sahut Jo.
“Aku yang enggak percaya sama kamu, Bang. Biasanya sebulan sekali kamu baru datang ke sini. Ini baru sepekan udah di sini lagi,” katanya.
“Aku akan sering datang. Jadi, setelah ini jangan kaget,” sahut Jo.
Rose terkekeh. Sementara Meysa malah menunduk dalam. Ia tak mau memberi harapan lebih atau sebaliknya. Hidupnya kali ini hanya untuk membalas sang mantan.
“Ya, ya, aku tahu. Kita berangkat sekarang, ya. Aku udah enggak sabar untuk kerja,” kata Rose.
“Dasar gila kerja. Baiklah. Kita pergi sekarang. Emm … Damian mana?” tanya Jo pada Rose.
Sebab, sejak tadi ia tak melihat kehadiran adik iparnya itu, jadi ia bertanya.
“Dia bilang akan telat. Dia harus mampir mengisi bahan bakar mobilnya,” kata Rose.
Jo mengangguk lemah. Rose kemudian pamit pada sang putra dan menitipkannya pada Meysa. Sementara Jo sempat menyentuh jemari wanita lembut sebelum akhirnya berlalu bersama sang adik.
Dari atas balkon, Damian menyaksikan semua itu dan jadi makin geram. Ia tak suka melihat kedekatan Meysa dan kakak iparnya. Ia tak suka obrolan mereka, bahkan semua yang terjadi di bawah tadi. Jadi, setelah Rose dan Jo berlalu, ia menunggu Meysa naik dan langsung menarik tubuh wanita itu untuk masuk ke kamarnya.
Meysa tentu saja syok melihat sikap sang mantan yang tiba-tiba kasar. Bahkan Bastian hampir saja terjatuh dari gendongannya karena sikap Damian yang demikian.
“Apa yang mau kamu lakukan?” tanya Meysa kesal.
“Diam kamu, Mey. Aku muak lihat tingkah kamu di depan Rose dan Jo,” katanya.
“Kenapa? Kamu takut semua dosa kamu terungkap di depan mereka? Hah?”
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Meysa. Saat itu, ia sudah meletakkan Bastian ke tempat tidur di mana tadi Damian menarik dirinya. Sementara pria di depannya makin kalap. Damian hendak melampiaskan kemarahannya ketika tiba-tiba pikiran gilanya muncul saat melihat tubuh Meysa yang menggoda. Setelan pelayan yang diberikan oleh Rose tersingkap di bagian paha. Dan itu membuat Damian tidak bisa menahan dirinya.
“Dengar! Aku akan tunjukkan ke kamu bagaimana aku bisa berkuasa,” katanya.
Meysa mulai ketakutan. Damian benar-benar tidak terkendali saat ini. Hatinya yang panas bercampur rasa cemburu yang tak terungkap membuatnya jadi hilang akal. Sementara wanita itu hanya bisa terdiam. Ketika kemudian Damian memulai aksinya.
“Jangan, Damian!”