Bab 9. Membasahimu

1135 Words
“Pak, ini data yang Bapak mau,” kata anak buah Jo saat itu. Sore itu juga, Jo mendapatkan apa yang ia ingin cari tahu selama ini. Ketika tadi ia bertemu dengan Nita dan wanita itu mengatakan hal yang tidak-tidak mengenai Meysa, ia telah menaruh curiga. Dan hari ini, ia akan menemukan jawabannya. “Oke, terima kasih atas kerja kerasmu. Aku akan transfer sisa pembayarannya sekarang,” ucap Jo. “Terima kasih, Pak.” Jo mengambil ponsel, lantas memainkan jarinya di layarnya beberapa saat. Usai menyelesaikan transaksi pembayaran, pria itu kemudian membuka flashdisk yang diberikan oleh orang suruhannya tadi demi melihat isinya. Sejenak Jo terdiam. Ia terus membaca semua data yang ada di sana beserta foto yang mereka berikan. Sampai akhirnya, pria itu memejamkan mata dan melempar tubuhnya ke punggung kursi. Jarinya mengetuk-ngetuk meja demi menenangkan dirinya. Ketika kemudian pintu ruangannya terbuka dari luar tiba-tiba. “Bang, kamu belum balik?” Rose muncul di ambang pintu dengan wajah semringah. Agaknya, pembicaraannya dengan klien tadi membuahkan kesepakatan yang menguntungkan bagi perusahaan mereka. Saat itu, Jo langsung menutup laptopnya dan tersenyum kecil. “Belum. Nungguin kamu, mau mampir ke rumah,” sahut Jo. “Ish, ketahuan benget modusnya. Ayo, deh.” Jo mengangguk. Pria itu menarik flashdisk yang menancap di laptopnya dan beranjak dari ruangan itu. Ia mengekor pada Rose yang ternyata menghampiri Damian di resepsionis. “Ayo, Mas. Bang Jo mau mampir ke rumah juga,” katanya seraya menggandeng lengan suaminya. Damian menoleh ke arah sang kakak ipar dan tersenyum kecil. Walaupun jujur, hatinya agak kesal mendengar Jo ingin mampir ke rumah. Tentu saja, pria itu akan menemui Meysa. Dan itu membuatnya menjadi sedikit gila. Apa lagi membayangkan apa yang terjadi selanjutnya. Dan seperti yang sudah direncanakan, sesampainya di sana Jo langsung diizinkan Rose masuk ke ruangan di mana Meysa dan Bastian berada. Saat itulah, ucapan pria itu membuat Meysa mendadak kaget. “Aku akan membantu melenyapkannya,” ucap Jo. “Me–melenyapkan?” kata Meysa mengulangi ucapannya. “Melenyapkannya dari pikiranmu, dari hatimu juga,” katanya. Senyum wanita itu terbit. Ia pikir Jo sudah mengetahui apa yang terjadi padanya dan Damian di masa lalu. Namun, andaipun pria itu tahu, Meysa tidak akan segan menceritakannya. Toh, selama ini Jo sudah sering membantunya. “Mey, aku bertanya serius. Apa kamu masih menyimpan perasaan pada pria itu?” tanya Jo memastikannya. Meysa mantap menggeleng. Wanita itu telah mati rasa pada apapun yang ada pada Damian. Niatnya datang ke sini hanya untuk membalas semuanya. Walaupun Meysa tidak tahu, bagaimana memulainya. Jika dengan menggoda dan menghasut Damian bisa membuat pria itu hancur, ia akan melakukannya. “Tidak sama sekali, Jo. Semuanya sudah selesai dan akan kupastikan, sisa hidupku di dunia ini hanya untuk mendoakan pria itu tidak bahagia,” jelas Meysa. Meysa menatap jauh ke depan. Matanya berapi-api. Ia tak mau lagi jadi wanita lemah yang bisa dihancurkan hanya dengan kata cinta. Baginya, kematian sang buah hati adalah kehancuran cinta selamanya. “Kalau begitu, buka hatimu sekarang. Aku akan melindungimu apapun yang terjadi, Mey,” ucap Jo. Kali ini, pria itu menyentuh dagu Meysa lembut dan mengarahkan tatapan wanita itu padanya. Ia mau meyakinkan Meysa jika di sampingnya, tidak ada yang perlu ia cemaskan. Termasuk memberikannya kebahagiaan. Meysa diam saja. Ia masih mencoba menyelami perasaan Jo yang benar-benar tulus padanya. Tatapan pria itu begitu hangat. Bahkan sampai menyentuh hatinya yang sepertinya susah sekali melupakan rasa sakit yang Damian berikan. Sampai akhirnya, pria di depannya itu mendekatkan wajahnya. Meysa refleks memejam ketika kemudian bibir keduanya bersentuhan. Tangan wanita itu mencengkeram lengan Jo karena setelah sekian lama tak merasakan hal semacam itu, Meysa jadi tegang. Napas Meysa mulai memburu. Menyadari hal itu, Jo mengendurkan kecupannya dan melepaskan diri perlahan. Saat itu, Meysa langsung menunduk. Ia mencoba mengatur detak jantungnya yang bergemuruh keras. Ia tak berani mendongak, sedangkan senyum Jo terbit setelah semuanya selesai. Jemari pria itu terulur demi mengusap bibir Meysa yang basah karena air liurnya. Yang tadi itu, astaga ia benar-benar kelepasan. “Terima kasih, ya, Mey. Maaf, tadi aku enggak izin dulu sama kamu,” bisik Jo. Meysa mendongak dengan malu-malu. Ia benar-benar merasa jengah ketika mata mereka saling bertemu. Baru saja, Meysa menyerahkan hatinya tanpa kata. Hanya sebuah ciuman biasa yang membuat wanita itu merasa begitu berharga. “Jangan diulangi,” bisik Meysa. “Beneran enggak mau lagi?” kelakar pria itu. “Jo.” “Ha-ha-ha, iya, bercanda. Ada yang mau kamu bilang ke aku?” tanya pria itu kemudian. Meysa membuang napasnya dengan kasar. Ia mencoba memikirkan satu hal. Jika ia jujur mengenai Damian, apakah Jo masih akan tetap bersikap baik padanya? Namun, pria itu sudah terlalu baik untuknya. Sudah sepatutnya ia mengatakan niatnya berada di sini sesungguhnya. “Apa kamu enggak mau tahu, siapa pria yang sudah pernah membuatku hancur?” tanya Meysa kemudian. Senyum Jo terbit. Ia mengusap rambut Meysa yang panjang dan menggeleng lemah. “Aku akan mengatakannya kalau kamu mau tahu,” imbuh Meysa. “Aku bisa mencari tahunya sendiri kalau mau, Mey. Aku menghargai perasaanmu. Aku enggak mau kamu mengingat kesakitan yang pernah kamu rasakan. Tapi, andai kamu butuh sesuatu, mungkin membuat pria itu jera, aku pasti akan bantu,” jelas Jo. Meysa menggeleng lemah. Tidak-tidak. Ia akan melakukannya sendiri. Meysa akan membuat Damian jatuh pada permainan kotornya sendiri. “Jangan mengotori tanganmu dengan hal-hal seperti itu. Sudahlah, jangan bahas hal itu. Ini sudah malam. Pulang dan istirahatlah,” kata Meysa. “Kamu ngusir aku?” ucap Jo. “Aku enggak enak sama Nyonya Rose. Ini udah malam,” kata Meysa kemudian. Jo tersenyum, lalu mengangguk. Benar. Selain cantik, Meysa benar-benar profesional. Baiklah, ia mengalah. Ini memang sudah malam dan wanitanya juga harus beristirahat saat ini. Sementara itu, Damian yang ada di kamar tidak bisa tenang. Ia tampak gelisah duduk di tepi ranjang. Pikirannya terbang pada kamar sang putra di mana Meysa dan kakak iparnya ada di sana. Jadi, bagaimana ini? Apa yang harus ia lakukan? Saat itu, Rose yang sudah selesai membersihkan diri merasa heran dengan suaminya. Damian tampak cemas, bahkan dasi dan kemejanya saja belum dilepas. “Mas, kamu kenapa?” tanya Rose. “Sayang, Bang Jo belum keluar dari kamar Bastian. Kalau mereka ngapa-ngapain di sana gimana?” tanya pria itu. “Ya, udah, sih. Biar aja. Mereka, kan, udah dewasa,” kata Rose. “Tahu, tapi enggak baik untuk mental Bastian. Dia masih sangat kecil untuk melihat adegan seperti itu. Aku akan melihat mereka,” ucap Damian seraya beranjak. Rose hendak mencegah, tapi pria itu sudah hendak berlalu. Jadi, ia mengekor. Tepat ketika keduanya sampai di ambang pintu, Meysa dan Jo juga berada di depan pintu kamar Bastian. Pria itu tampak menyematkan kecupan di kening Meysa lembut. Dan Damian bisa melihatnya dengan jelas. Tangan pria itu terkepal. Api cemburu membara dalam hatinya ketika melihat adegan itu. Sampai akhirnya Damian membuka suara. “Apa yang kalian lakukan?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD