Bab 8. Hampir Saja

1122 Words
“Aku harus berbuat sesuatu. Aku enggak mau rumah tangga Damian berantakan gara-gara wanita itu. Aku bisa gila kalau sumber hartaku hilang hanya karena Meysa. Aku akan menemui Rose sekarang. Iya, begitu saja,” ucap Nita usai keluar dari kediaman Damian. Wanita itu meminta sopir untuk berbalik arah dan menuju ke kantor sang menantu. Ya, ia akan meyakinkan Rose jika ASI ibunya jauh lebih baik daripada ASI orang lain. Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Damian, Nita tidak boleh membocorkan mengenai hubungan sang putra dan Meysa di masa lalu. Sesampainya di kantor, Nita langsung menemui resepsionis dan bertanya di mana sang menantu berada. Saat itu, Rose sedang ada klien, tapi Nita memaksanya untuk bertemu. “Di, aku udah bilang aku enggak mau diganggu. Ada apa ini?” tanya Rose yang terpaksa keluar menemui sang sekretaris usai wanita itu memberikan kode. “Maaf, Bu. Mertua Ibu datang dan memaksa saya untuk memanggilkan, Bu Rose. Padahal saya sudah bilang kalau Bu Rose enggak bisa diganggu,” jelas Dian. Rose membuang napasnya dengan kasar. Lantas, mengurut keningnya untuk mencari solusi dari masalah ini. “Pak Damian ke mana?” tanya Rose saat itu. “Pak Damian ke bengkel, Bu. Katanya service mobil,” katanya. “Ah, sialan!” Rose mengambil ponsel, lalu mencoba menghubungi sang suami. Saat tersambung, suara Damian langsung terdengar tak lama kemudian. “Cepat balik ke kantor. Mamamu ada di sini dan dia membuat keributan,” kata Rose. “Apa? Iya-iya. Aku ke kantor sekarang,” jawab Damian. Rose langsung mematikan sambungan telepon. Ia membuang napas dalam kemudian memberi titah ada sekretarisnya. “Aku balik ke dalam. Sebelum klien pulang, jangan biarkan siapa pun mengganggu lagi. Paham kamu!” “Iya, Bu.” “Minta Damian mengatasi mertuaku itu,” titah wanita itu lagi. Sang sekretaris mengiakan. Rose kemudian mengubah mimik wajahnya yang kesal sebelum masuk lagi ke ruangannya. Sementara Jo yang mendengar sang adik tampak kesal akhirnya menghampiri Dian untuk bertanya apa yang terjadi. “Mertuanya Bu Rose datang, Pak. Dia maksa ketemu. Padahal sedang ada klien penting,” jelasnya. Jo melirik ke arah ruang tamu kantor. Pada ruangan itu, Nita tampak menunggu dengan cemas dan tidak sabar. Entah apa yang hendak wanita itu sampaikan. Jadi, demi mengurangi rasa penasarannya, pria itu menghampiri Nita setelahnya. “Tante Nita, apa kabar?” ucap Jo ketika sampai di ambang pintu. “Ah, Jo. Tante baik. Kamu gimana? Sehat, kan?” “Sehat, Tante. Tante ada masalah apa? Kenapa sampai datang ke kantor?” tanya Jo usai mengempaskan tubuhnya di sofa, tepat di depan Nita. “Itu, Jo. Soal Ibu s**u Bastian. Kenapa Rose enggak menyusui sendiri, sih? Tante cemas sama kesehatan cucu Tante,” jelas Nita. “Iya, Rose memang menyewa Ibu s**u untuk Bastian karena dia mau balik kerja lagi, Tante. Tante tahu, kan, dia gila sama kerjaan. Jadi, cuti sebulan saja usai melahirkan sudah membuatnya bosan,” jelas Jo. “Iya, Tante tahu, Jo. Rose itu memang pekerja keras. Tante juga bangga sekali punya mantu seperti itu. Tapi memangnya dia tahu seluk beluk dari ibu s**u anaknya itu. Jo, Tante tahu siapa wanita itu sebenarnya,” ucap Nita. Jo agak terkejut mendengar ucapan Nita. Walaupun pernyataan itu agak janggal, tapi Jo mencoba mendengarkan apa yang hendak Nita katakan. “Memangnya dia kenapa, Tante?” tanya pria itu. “Dia itu w************n. Dia pernah hamil di luar nikah, kan? Dia pasti wanita kotor. Apa enggak cemas kalau sampai Bastian dapat ASI dari dia?” ucap Nita. Kali ini, Jo mulai sedikit merasa aneh. Kata Meysa, hanya ia dan keluarga pria yang menghamilinya yang tahu soal dirinya. Lantas, apakah Nita terlibat di dalamnya? “Oh, ya. Tante tahu dari mana?”tanya Jo lebih lanjut. “Ada yang kasih tahu Tante.” “Tante tahu siapa yang menghamilinya?” “Ta … em, enggak, Jo. Tante hanya tahu soal aibnya saja. Untuk apa mengurusi sampai ke dalam-dalam. Yang jelas, Meysa itu wanita tidak baik. Tante mau mengatakan hal itu sama Rose, tapi kayaknya dia sibuk banget,” jelasnya. Jo tersenyum, lalu mengangguk lemah. Ia mencium sesuatu yang tidak beres saat ini. Jadi, ia mencoba menjelaskan apa yang terjadi di dalam. “Ada klien yang sangat penting yang tidak bisa ditinggal, Tante. Jadi, lebih baik lain waktu saja Tante kembali ke sini,” kata Jo. “Hah, mana bisa begitu? Ini soal anaknya, loh. Masak Rose enggak mau nemuin aku?” “Tante, dia sedang–” “Ma. Ya, ampun. Mama ngapain, sih, ke sini?” tanya Damian yang tiba-tiba datang. Nita hendak menjelaskan ketika kemudian Damian menarik lengan wanita itu untuk diajaknya berlalu. Sementara, Jo merogoh ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang. “Iya, Pak.” “Cari tahu di mana Meysa bekerja sebelum hamil dan siapa saja yang pernah berhubungan dengannya,” ucap pria itu. “Siap, Pak.” *** Malam itu, Jo sengaja mampir ke kediaman Rose untuk bertemu dengan Meysa. Ia meminta izin pada Rose untuk langsung masuk ke kamar Bastian demi bisa menemui wanita itu. “Iya, sana masuk. Jangan macem-macem, ya, Bang,” celetuk Rose sambil tersenyum. “Iya. Takut banget kamu aku apa-apain Meysa.” “Ya, gimana? Kan, udah lama Abang enggak dibelai. Nanti kebablasan lagi,” kelakar wanita itu. “Hey, jangan gila. Sudah sana mandi, aku izin ketemu Meysa, ya,” ucap Jo. “Iya.” Keduanya berpisah di anak tangga teratas. Rose masuk ke kamarnya, sedangkan Jo ke kamar Bastian. Sementara Damian yang sejak tadi mengekor pada mereka hanya bisa mengetatkan rahangnya. Apa sebenarnya yang hendak dilakukan Jo bersama Meysa di sana? Alih-alih mencegah, Damian akhirnya memutuskan untuk menyusul sang istri ke kamar. Sementara Jo yang berdiri di ambang pintu melongok ke dalam. Tampak Meysa baru saja menidurkan Bastian dan terkejut ketika tiba-tiba pria penolongnya itu datang. “Malam, Mey.” “Malam, Jo. Kamu … sendirian?” tanya Meysa seraya melihat ke belakang punggung Jo. “Iya, sendirian. Kenapa? Kamu takut?” kelakar pria itu. Meysa hanya tersenyum kecil. Sejujurnya, ia merasa tak enak hati melihat kebaikan pria itu. Entah apa yang dipikirkan Jo jika tahu bahwa pria yang menghamilinya dulu adalah Damian. Jo kemudian mengikis jarak. Kali ini, ia memberanikan diri untuk menggenggam jemari Meysa yang sejak tadi dianyam sendiri. Walaupun terkesiap, tapi wanita itu diam saja. “Mey, apa kamu masih ingat dengan pria yang sudah membuatmu terpuruk itu?” tanya Jo. Meysa terkesiap, lalu mendongak demi menatap mata Jo. Kenapa tiba-tiba pria itu bertanya demikian? “Kenapa kamu tanya begitu, Jo?” tanya Meysa balik. Jo tersenyum, lalu menyibak anak rambut wanita itu ke belakang telinga dan menjawab pertanyaan Meysa cepat. “Aku akan membantumu melenyapkannya,” kata pria itu kemudian. Meysa tentu saja terkejut mendengar ucapan Jo. Apakah pria itu tahu siapa pria yang sudah membuatnya menderita?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD