“Aku harus melakukan sesuatu,” ucap Damian usai meeting dengan semua karyawan selesai.
Pria itu segera keluar dari ruang pertemuan untuk kembali ke ruangannya. Ia mengecek pekerjaannya sebentar, lalu mengendap keluar. Usai memastikan sang istri sibuk dengan pekerjaannya, ia memberi tahu sekretaris Rose mengenai dirinya.
“Nanti kalau Ibu tanya saya ke mana, bilang pergi ke bengkel untuk service mobil. Oke,” kata Damian.
“Baik, Pak.”
Damian berlalu dengan cepat. Ia pergi ke parkiran dan melajukan kendaraan menuju ke rumah. Ia harus menyembunyikan Meysa sebelum mamanya datang. Setidaknya, Nita tidak boleh tahu jika saat ini Meysa menjadi ibu s**u untuk sang cucu. Semuanya bisa berantakan.
Sesampainya di rumah, Damian berlari usai mematikan mesin mobilnya. Ia menuju ke ruangan Bastian dan masuk tanpa mengetuk pintu. Saat itu, bayi mungil itu tengah disusui oleh Meysa. Wanita itu juga terkejut ketika mantan kekasihnya sekaligus majikannya itu kini berdiri di ambang pintu dan menatapnya dengan jengah.
“Emm … ada apa?” tanya Meysa kemudian.
Suara wanita itu menarik pria itu dari kelana angan. Hal gila yang terlintas ketika melihat Meysa menyusui sang anak adalah hubungan mereka di masa lalu. Ya Tuhan, rasanya Damian ingin sekali menggantikan si bayi mungil yang tampak nyaman dalam dekapan Myesa. Sampai akhirnya ia menunduk. Jelas ini bukan saatnya ia memikirkan hal demikian. Jadi, ia langsung mengatakan maksudnya.
“Berhenti menyusui Bastian, Mey. Mama akan datang ke sini hari ini. Kalian enggak boleh ketemu,” ucap Damian kemudian.
Aah …jadi itu alasannya. Meysa dan Nita sudah bertemu waktu Damian memacari wanita itu. Bahkan Meysa juga menemui wanita itu ketika mengandung benih Damian. Namun, seperti yang sudah ia pikirkan, Nita menolak mentah-mentah wanita itu dan menginginkan menantu kaya seperti Rose. Ya, dan impiannya tercapai dengan jalan yang entah seperti apa. Lantas, jika kali ini mereka bertemu, apa yang akan terjadi?
“Lalu aku harus bagaimana, Damian? Bastian masih sangat kecil untuk ditinggal sendiri. Aku punya tanggung jawab untuk menjaganya,” kata Meysa.
“Sudahlah. Yang penting kita keluar dulu dari rumah ini,” jelas Damian yang kemudian membantu Meysa berdiri.
Ia merangkul wanita itu untuk diajaknya keluar dari rumah. Sialnya, saat itu Nita sudah datang. Tepat ketika wanita paruh baya itu masuk, Damian terlihat bersama Meysa.
“Apa-apaan ini Damian?” teriak Nita saat itu.
Saking kerasnya, Bastian yang tadinya anteng langsung terkejut dan menangis. Meysa mencoba menenangkannya, sedangkan Damian membuang napasnya dengan kasar. Akhirnya, Nita mengetahuinya. Jadi, tidak ada cara lain selain menjelaskan semuanya.
“Apa ini? Kenapa wanita ini ada di sini dan menggendong cucuku?” tanya Nita.
“Ma, Mama tenang, dong! Kalau Mama teriak-teriak begini, Bastian jadi keganggu. Kita bicara di luar,” kata Damian yang kemudian merangkul bahu sang mama.
“Enggak. Jelaskan di sini. Mau mau tahu alasan wanita ini ada di sini saat ini,” kata Nita seraya bersedekap.
Wanita itu menepis tangan sang putra dan mulai mendekati Meysa yang menggendong Bastian. Nita memperhatikannya dari atas sampai bawah, sampai akhirnya kembali membuka suara.
“Jalang kamu, ya. Sudah ditolak, masih saja mencari jalan lain untuk mendekati Damian. Kamu pikir ini akan berhasil. Aku tidak akan membiarkan rumah tangga anakku berantakan karena kehadiranmu,” ucap Nita.
“Saya di sini bukan untuk Damian, tapi saya bekerja,” jawab Meysa tenang.
Ia sudah pernah berhadapan dengan wanita di depannya. Ia pernah dengan gila mengemis kasih sayang dan harapan. Namun, Nita mengabaikannya begitu saja. Namun, kali ini tidak lagi. Ia tak gentar sedikitpun menghadapinya. Jika Damian tidak membungkam mulut mamanya juga dan Rose mengetahui semuanya, segalanya akan sama saja. Ia juga tidak akan menutupi sedikitpun apa yang terjadi di masa lalu.
“Halah, alasan saja. Setelah tidak berhasil dengan kehamilan kamu, sekarang kamu pakai alibi lain. Keluar kamu dari sini! Berikan Bastian kepadaku,” kata wanita itu masih tidak percaya.
Meysa menoleh ke arah Damian yang sejak tadi diam saja. Apakah pria bodoh itu tidak ingin melakukan sesuatu? Saat itu, Damian langsung paham. Buru-buru ia maju dan menarik lengan sang mama agar tidak melakukan tindakan yang membahayakan sang putra.
“Ma, udah. Kita keluar.”
“Damian, kamu malah belain wanita ini. Kamu–”
“Ma, Meysa memang harus di sini. Rose sendiri yang mempekerjakannya. Kalau Mama terus teriak-teriak enggak jelas begini, yang ada Rose akan tahu semuanya. Meysa hanya kerja dan dia tidak akan membuka masalah hubungan kita di masa lalu,” jelas Damian seraya menoleh ke arah mantan kekasihnya itu.
“Kamu … kamu tidak terpengaruh dengan wanita ini, kan, Damian? Kamu enggak jatuh cinta lagi sama dia, kan?” ucap Nita mulai cemas dengan ucapan sang putra.
Mati-matian ia memisahkan mereka dan menjadikannya suami orang kaya, kenapa Damian masih membela Meysa?
“Mama ngomong apa, sih? Enggak mungkinlah aku begitu,” jawab Damian.
Sejujurnya, ia sendiri meragu dengan pernyataan itu. Ia tidak yakin jika memang cinta sudah benar-benar pergi dari hatinya. Meysa adalah gadis yang dulu sangat ia cintai. Walaupun pada akhirnya ia harus menyerah dengan logika yang mengajaknya untuk ke masa depan karena harta.
“Mama pegang kata-kata kamu, Damian. Jangan mengorbankan apapun demi wanita tidak tahu diri ini. Kamu sudah punya segalanya. Jangan pernah memikirkan hal gila dengan wanita selain Rose,” ucap Nita keras.
“Iya, Ma,” sahut Damian sekenanya.
Nita masih menatap Meysa dengan nyalang ketika kemudian memutuskan untuk meninggalkan kediaman sang putra. Damian mengantarnya sampai ke halaman. Sebelum benar-benar pergi, Nita kembali mewanti-wanti sang putra mengenai Meysa dan hubungan masa lalu mereka.
“Mama akan awasi kamu. Jangan sampai kamu main-main lagi dengan wanita itu. Paham!” katanya.
“Iya, Ma. Mama tenang aja,” ucap Damian sekenanya.
Pria itu kemudian mencarikan taksi untuk sang mama dan masuk kembali ke dalam rumah usai taksi yang ditumpangi Nita berlalu. Damian menemui Meysa yang saat ini duduk di tepi ranjang kamar Bastian yang saat ini sudah kembali tidur.
“Maaf soal Mama,” kata pria itu pelan.
Meysa hanya mengangguk lemah. Sejujurnya, ia masih kesal. Namun, Meysa akan memikirkan cara untuk membuat wanita itu kapok karena dulu pernah menolaknya. Ya, itu adalah hal yang pantas diterima oleh Nita.
“Kamu … masih marah sama Mama?” tanya Damian seraya mendekati Meysa yang sedang menunduk.
Meysa memang sengaja menarik perhatian Damian agar ia juga bisa mengendalikan pria itu. Setidaknya, ia juga harus merasakan kehancuran sama seperti dirinya yang telah kehilangan sang buah hati.
“Tidak ada gunanya marah, Damian. Semua sudah terjadi.”
Meysa mendongak demi menatap Damian yang tampak begitu merasa bersalah. Tentu saja, ia memanipulasi tatapannya agar pria itu benar-benar hanyut dalam iba.
“Kenapa kamu begitu baik, Mey? Aku jadi merasa sangat bersalah sekarang. Andai saja–”
“Jangan melihat ke belakang. Hanya ada penyesalan di sana. Bukankah lebih baik menatap ke depan?” ucap Meysa seraya membasahi bibirnya dengan air liur.
Sementara Damian hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar. Apakah ia yakin tidak tergoda kepada mantan kekasihnya ini jika demikian? Saat pria itu hendak mengikis jarak, ponselnya berdering dengan keras. Buru-buru ia merogoh saku celananya dan melihat siapa nama yang ada di layarnya.
“Rose,” bisiknya.
Damian kemudian mundur dan memilih untuk menyisih sejenak. Saat ia mengangkat telepon, suara kesal Rose terdengar dari seberang telepon.
“Cepat balik ke kantor. Mamamu ada di sini dan dia membuat keributan,” kata Rose.