Siang yang gerah menyelimuti halaman rumah Damian dan Rose saat suara bel rumah berdenting tajam. Meysa buru-buru turun dari lantai atas, menyeka tangannya dengan handuk kecil, lalu membuka pintu. Sebab, ART sedang berbelanja ke pasar pagi ini. Jadi, karena Bastian sedang tertidur, ia membuka pintu untuk tamu yang mungkin saja penting. Namun, yang berdiri di depan sana bukan kurir atau tetangga. Melainkan Nita. Dengan wajah masam dan kacamata besar yang sengaja tak dilepas, Nita menatap tajam ke arah Meysa. Tanpa basa-basi, dia langsung melangkah masuk tanpa diundang. “Kamu masih kerja di sini?” tanyanya ketus begitu menjejak ruang tamu. Meysa sempat kaget dengan kedatangan mendadak itu, tapi ia segera menutup pintu dan mengatur napas. “Iya, Bu.” Nita membalikkan badan, menatapnya pen

