Pagi masih lembab oleh embun sisa subuh. Di sebuah rumah bergaya semi-klasik di kawasan elit, Nita duduk di ruang makan sambil menggulir layar ponselnya. Kuku-kukunya yang sudah dipoles merah marun mengetuk-ngetuk meja tak sabar, sementara kopi di cangkir keramiknya sudah dingin sejak lima belas menit lalu. Di seberangnya, seorang perempuan seusianya dengan rambut dicat cokelat madu sedang menyodorkan selembar brosur berisi penawaran investasi properti luar negeri. “Ini proyek real estate di Malaysia. Cepat balik modal, Nit. Aku udah taruh dua ratus juta, minggu lalu langsung dapat balik lima belas persen.” Mata Nita membelalak kecil, tapi ekspresinya tetap elegan. “Kamu yakin ini bukan penipuan, Rini?” “Yakin dong! Aku kenal pemilik perusahaannya. Ini orangnya nih,” ujar Rini sambil m

