Pagi itu, langit kota tampak bersih untuk ukuran hari kerja. Damian menyetir sendiri, sementara Rose duduk di sampingnya, diam sepanjang perjalanan. Tak ada percakapan yang berarti di antara mereka. Mungkin karena masih ada sisa-sisa luka dari hari-hari sebelumnya. Atau mungkin … karena keduanya tahu, pagi ini bukan pagi biasa. Setibanya di kantor, Damian membuka pintu mobil untuk Rose. Gerakan kecil itu seperti usahanya untuk memperbaiki hubungan, meski masih terasa kaku. Rose mengangguk singkat dan melangkah lebih dulu ke dalam gedung. Dan saat keduanya baru saja melewati meja resepsionis, suara Maria, sekretaris Jo, menyapa dengan nada sopan. “Pak Jo sudah menunggu di ruangannya,” katanya pada Damian. Damian mengerutkan dahi. Ia tidak menjadwalkan pertemuan pagi ini. Namun, tatapan

