Bab 26. Hanya Sebagai Boneka

1597 Words

Pintu rumah terbuka pelan. Meysa melangkah masuk dengan kepala sedikit tertunduk, seolah-olah udara di rumah ini lebih berat dari biasanya. Ia menanggalkan sepatunya dengan gerakan ragu, seperti anak kecil yang pulang terlambat dan takut dimarahi. Dari arah ruang tengah, suara langkah Rose terdengar lebih dulu. Tak lama, Damian juga muncul, menyusul dengan tatapan waspada yang sulit diterjemahkan—antara marah, curiga, dan ingin tahu. “Kemana saja kamu sama Bang Jo?” tanya Rose lebih dulu. Nadanya lembut, paham jika wanita di depannya adalah kesayangan sang kakak. Meysa mengangkat wajah. Ia mencoba tersenyum, meskipun senyum itu seperti sehelai daun kering yang sewaktu-waktu bisa hancur jika disentuh. “Tadi Pak Jo ngajak jalan sebentar. Katanya ada yang mau dibicarakan. Tapi … enggak pe

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD