Malam sudah larut. Udara dingin menusuk, tapi tidak lebih menusuk dari bara di d**a Jo. Mobilnya berhenti mendadak di depan pagar rumah besar itu. Rumah milik keluarga Damian—tempat segala luka bermula. Lampu luar masih menyala. Sunyi. Tampak biasa. Namun, Jo tahu, di balik dinding tenang itu, sesuatu yang kelam sedang terjadi. Ia keluar dari mobil tanpa ragu. Langkahnya cepat. Genggaman pada ponsel erat, seolah-olah benda itu satu-satunya yang menahannya dari meledak terlalu cepat. Pintu pagar ia buka paksa. Tak peduli. Tak peduli pada aturan, tak peduli pada etika. Malam ini, satu-satunya yang penting adalah Meysa. Jo mengetuk pintu depan—keras. Bertalu-talu. Sampai suara langkah terdengar di balik pintu, lalu daun pintu terbuka setengah. Damian. Wajah itu muncul, setengah mengantu

