Pada sebuah ruangan remang di rumah besar yang sunyi, Damian bersandar di kursi dengan tubuh terlempar malas. Cahaya lampu kuning pucat menggantung di langit-langit, menyoroti wajahnya yang tirus dan sorot matanya yang redup—tapi bukan karena lelah, melainkan oleh dendam yang membara dalam diam. Di tangannya, sebuah ponsel bergetar. Layar menyala. Jo - Calling… Damian menatapnya. Bibirnya membentuk senyum miring, dingin, penuh kemenangan yang getir. Ia tak menjawab. Hanya membiarkan getaran itu terus berdentam di telapak tangannya, seolah-olah menikmati suara sunyi yang tercipta dari keputusasaan seseorang. "Lihat kamu sekarang, Jo," gumamnya lirih, nyaris seperti bisikan yang ditujukan pada dirinya sendiri. "Kamu pikir kamu pahlawan, ya? Datang, sok-sok nolongin cewek yang bahkan kamu

