Bab 37. Memberi Pelajaran Pada Meysa

1757 Words

Pagi itu berlarut menuju siang. Matahari memantulkan cahaya hangat lewat jendela besar kamar Rose, tapi tidak cukup untuk menghangatkan suasana. Jo duduk di tepi ranjang adiknya, menatap layar ponselnya yang kosong. Sudah hampir satu jam sejak Meysa pergi, tapi belum ada satu pun pesan masuk. Tidak "aku sudah sampai", tidak juga sekadar "jangan khawatir". Jemarinya berulang kali menyentuh layar, membuka aplikasi pesan, lalu menutupnya lagi. Hatinya gelisah, tapi wajahnya berusaha tetap tenang di hadapan Rose yang sedang pulih dari guncangan semalam. Rose yang awalnya bersandar lemas di balik bantal, memiringkan wajahnya sedikit. Tatapannya menemukan gurat resah di dahi Jo. Ia mengenal betul kakaknya. Jo hanya seperti itu kalau ia benar-benar mengkhawatirkan seseorang. “Bang . …” panggi

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD