Bab 36. Menangkap Biang Keladi

1308 Words

Rumah itu sunyi. Terlalu sunyi untuk pagi hari. Bastian sudah dititipkan ke Mbak Yuni, ART mereka, dan pintu kamar Rose tertutup rapat sejak kejadian tadi. Tak ada satu suara pun keluar dari baliknya—kecuali sesekali isak yang ditelan dinding. Rose terduduk di ujung ranjang. Punggungnya membungkuk, tubuhnya bergetar, dan tangis yang selama ini ditahannya meledak begitu saja. Hancur. Berantakan. Tidak beraturan. Seolah-olah semua beban yang selama ini dikumpulkan di d**a meledak dalam satu waktu. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Napasnya tersengal. Bahunya naik-turun. Perih itu menyeruak dari hati yang tercabik—bukan hanya karena pengkhianatan, tapi karena ia merasa seluruh hidupnya adalah kebohongan. “Kenapa … harus aku?” gumamnya dengan suara serak. Air mata terus jatuh, memb

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD