Jumi terdiam sebentar. Jantungnya berdebar semakin kencang saat Kevin menatapnya dengan lembut. Jawaban Kevin baru saja semakin membuat Jumi tak paham. Bukan karena ia salah memahami maksud yang Kevin sampaikan, hanya saja mengapa? Mengapa Kevin memasak untuk dirinya? Kenapa lelaki yang baru ia kenal belum lama ini melakukan hal itu?
Melihat Jumi yang masih terdiam, Kevin pun menunjukkan beberapa makanan yang telah ia buat. Kevin menunjukkannya satu persatu pada Jumi yang hanya menatapnya ragu. Jumi merasa tak asing dengan makanan yang Kevin bawa. Makanan itu terlihat sama dengan yang Kevin makan waktu itu. Hanya saja, di sini makanannya terlihat berantakan.
"Loh, kenapa Mas? Kok masak buat Jumi? Jumi enggak pernah minta, loh." Jumi bertanya dengan sungkan. Ia merasa tidak enak membuat Kevin kerepotan bahkan sampai melukai wajahnya. Lelaki itu pasti sangat kesulitan karena sekali lihat saja, Jumi bisa menyimpulkan jika Kevin tidak bisa memasak. Bukan berarti Jumi suka sekali membuat kesimpulan sendiri, ya, hanya saja berdasarkan cerita yang ia dapat dari mbok Irah, Kevin memang tidak bisa memasak. Ingat bukan jika Jumi pernah pulang bersama mbok Irah? Nah, pada saat itulah Jumi berusaha meruntuhkan tembok penghalang antara dirinya dan mbok Irah. Sudah dapat dipastikan jika Kevin akan terbawa ke dalam pembicaraan mereka. Maka dari itu, Jumi tahu sedikit tentang Kevin.
"Enggak apa-apa. Saya mau masak ini buat kamu. Saya tahu kemarin kamu pasti penasaran sama rasa makanan ini, kan? Kamu ngeliatin saya terus soalnya," tebak Kevin tepat sasaran. Jumi yang ditanya seperti itu pun menjadi saling tingkah. Ia memang beberapa kali melihat makanan yang Kevin makan saat itu. Ia kira Kevin tidak menyadarinya. Rupanya ia salah. Lelaki itu bahkan menangkap basah dirinya. Memalukan.
"Eeeuumm itu..., Jumi minta maaf, Mas. Habisnya makanan Mas Kevin aneh banget, sih. Jumi baru liat. Makanya Jumi nanya ini itu pas Mas Kevin nganterin Jumi pulang. Maaf, ya," sesal Jumi meminta maaf. Ia menundukkan kepalanya. Ia takut Kevin berpikir bahwa dirinya tidak sopan karena terus memperhatikan Kevin. Terlebih lagi Kevin jadi repot karena membuatkan makanan yang sama untuk dirinya. Sumpah demi apa pun, Jumi hanya penasaran dan aneh saja kemarin. Ia sama sekali tidak ingin mencoba mencicipinya. Yaa, kecuali tadi. Kalau tadi ia benar-benar ingin mencoba. Rasa penasaran dan laparnya menggebu-gebu. Namun, ia masih bisa mengendalikannya.
"Enggak masalah, Jumi. Nih, sekarang makan makanan ini. Saya udah buatin susah-susah, loh, sampe muka ganteng saya ini jadi terluka," ujar Kevin sembari membalikkan tubuh Jumi dan memintanya berdiri. Seakan teringat sesuatu, Kevin bergegas untuk mengambil sebuah tas yang berisi tikar kecil. Jumi semakin terperanjat di tempatnya. Ia tidak menyangka Kevin akan mempersiapkan kejutan sematang ini. Terlebih lagi ia bukan siapa-siapa bagi Kevin.
"Duduk sini." Kevin menepuk tempat di sampingnya. Lelaki itu menarik tangan Jumi lembut karena sejak tadi Jumi hanya terdiam kaku. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Dia diperlakukan sedemikian rupa oleh Kevin. Meski terkesan sederhana, tetapi Jumi merasa senang. Ia bahkan rasanya ingin menangis jika ia tidak akan malu nanti. Jumi duduk dengan pelan. Ia duduk berseberangan dengan Kevin yang dengan setia sibuk bersama tepak-tepaknya.
Kevin membawa lima tepak sekaligus. Tiga tepak untuk Jumi, satu tepak untuk dirinya, dan satu tepak lagi berisi buah-buahan yang akan mereka makan bersama. Jumi berusaha menahan senyumnya. Ia takut Kevin menilainya terlalu kampungan, padahal ia memang kampungan. Jumi sendiri masih heran kenapa Kevin mau berteman dengannya.
"Nah, ini makanan untuk Jumi. Ini untuk saya dan satu tepak lagi untuk cuci mulut kita," ucap Kevin saat telah selesai membagi-bagi tepak tersebut. Ia menyodorkan tiga tepak sekaligus kepada Jumi yang membulatkan matanya. Banyak sekali! Ia tidak akan habis. Lagi pula bagaimana cara memakannya? Ia terbiasa makan menggunakan tangan dan seingatnya, Kevin kemarin memakan makanan ini dengan sendok, garpu, dan pisau.
"Ayo dimakan, Jum!" ajak Kevin sembari menyuapkan spaghetti yang dia buat. Jumi hanya diam menatapnya. Gadis itu menatap pisau dan sendok yang tergeletak di depannya. Ia tidak bisa menggunakan pisau itu. Kalau sendok Jumi masih mampu menggunakannya. Namun, Jumi tidak bisa menggunakan pisau ini. Kevin memejamkan matanya. Enak juga masakannya. Meski rasanya tidak sama dengan restaurant bintang lima yang selalu ia kunjungi, setidaknya ini mampu memuaskan dirinya sendiri. Di percobaan pertama ia berhasil.
Kevin terlalu menikmati makanannya sendiri sampai ia tidak menyadari jika Jumi sedari tadi hanya menatapnya melas. Gadis itu masih belum mampu memakan steak yang Kevin sodorkan padanya. Mau mengganti dengan tepak yang lain, ia malu. Masa memakan steak saja ia tidak bisa. Saat Kevin akan mengambil minumnya, ekor matanya tanpa sengaja melirik Jumi yang masih belum memakan makanannya. Kevin mengernyitkan dahinya.
"Loh, kenapa enggak dimakan Jumi steak-nya? Nanti kalau udah dingin itu enggak enak, loh. Nanti Jumi jadinya mual," tanya Kevin. Jumi menunjuk pisau yang berada di dekatnya. Ia menjawab Kevin dengan malu-malu.
"Jumi enggak bisa makannya, Mas. Ini, kan, harus dipotong pake pisau. Jumi enggak bisa motongnya, takut salah." Jumi mengerucutkan bibirnya. Ia kesal dengan dirinya sendiri yang kampungan. Ia jadi sering merepotkan Kevin. Mendengar jawaban Jumi, Kevin pun tersenyum lebar. Lelaki itu berusaha memahami Jumi. Jumi banyak sekali tertinggal kemajuan zaman dan akan sangat merugikan bagi Jumi. Jumi layak mendapatkan lebih dari ini. Bukan maksud Kevin untuk mengejek, hanya saja mengikuti perubahan zaman itu juga penting. Kita bisa meningkatkan kualitas hidup kita.
"Loh, bilang dari tadi, dong! Kamu jadi enggak makan-makan, kan. Sini tepaknya, saya potongin dagingnya." Kevin menyodorkan tangannya. Ia meminta Jumi untuk memberikan tepak itu agar ia bisa memotong daging steak yang telah ia masak. Jumi menurut. Ia memberikan tepak makan itu pada Kevin dan langsung meringis setelahnya. Ya ampun, dia ini benar-benar memalukan.
Kevin dengan telaten memotong dagingnya. Setelah selesai, ia kembali menyerahkan tepak itu pada Jumi dan menjelaskan cara memakannya. Jumi mendengarkan dengan patuh. Ia langsung mengambil sendok dan garpunya mengikuti arahan yang Kevin berikan. Saat satu suapan berhasil masuk ke dalam mulutnya, Jumi tersenyum lebar. Ia bahkan tertawa kecil karena dirinya sendiri. Ia sangat senang. Terlebih lagi saat daging itu telah ia kunyah. Rasanya terasa sangat enak. Jumi bahkan makan dengan lahap mengabaikan Kevin yang terkekeh melihatnya. Gadis itu terlihat sangat lapar dan rakus saat ini.
"Enak, Mas!" komentar Jumi sembari mengacungkan jempolnya. Kevin balas mengacungkan jempolnya. "Habisin kalau gitu. Jangan kasih sisa!" titah Kevin yang langsung diangguki oleh Jumi. Kalau makanannya seenak ini, Jumi pasti akan menghabiskannya.
Setelah steak-nya habis, Jumi beralih pada spaghetti dan memakannya dengan cepat. Kali ini, Jumi tidak perlu meminta arahan dari Kevin karena ia hanya tinggal memakannya menggunakan garpu. Potongan daging dan sosis yang bercampur dengan keju parut di atasnya menambah rasa nikmat yang Jumi rasakan. Ia bahkan makan dengan belepotan tanpa memperhatikan Kevin yang sejak tadi menatapnya. Kevin bahkan tidak menyadari bahwa ia melupakan makanannya sendiri. Lelaki itu sibuk memandangi Jumi yang makan dengan rakus.
Tak butuh waktu lama bagi Jumi untuk menghabiskan spaghetti-nya. Ia bahkan sudah beralih pada makanannya yang ketiga. Kini, ia memakan ayam tepung yang sempat ia tanyakan pada Kevin kemarin. Suara kriuk-kriuk yang dihasilkan dari ayam yang ia gigit itu berhasil membuat Jumi tertawa. Selama ini ia hanya tahu kerupuk saja yang memiliki sensasi kriuk-kriuk.
"Kenapa, kok, ketawa?" tanya Kevin saat menyadari Jumi yang tertawa saat sedang memakan ayamnya. Jumi hanya menggeleng pelan. Ia masih saja tertawa kecil. Kevin yang melihat hal itu pun merasa penasaran. Akhirnya, ia mendekatkan wajahnya dengan Jumi sehingga membuat Jumi dengan spontan menelan daging ayam yang belum halus ia kunyah. Jumi terbatuk-batuk setelahnya. Gadis itu kini dengan cepat meminum air yang Kevin sediakan. Kevin menjauhkan wajahnya. Ia menatap Jumi bersalah. Sungguh, ia tidak bermaksud untuk menyakiti Jumi.
"Aduh, maaf Jum! Saya enggak tahu kalau kamu jadi tersedak ayak gini. Maaf, ya," ucap Kevin tak enak hati. Kevin bantu menepuk-nepuk punggung Jumi pelan. Ia menatap Jumi bersalah. Melihat Kevin yang muram, Jumi pun menggeleng di tempatnya. Kevin tidak salah. Ini salahnya yang sering sekali bereaksi berlebihan.
"Eh, enggak apa-apa, Mas. Salah aku juga yang makannya enggak hati-hati." Jumi tersenyum kikuk. Ia menaruh potongan ayamnya di tepak dan menatap makanan Kevin yang masih banyak. Berkat tepukan lelaki itu di punggungnya, ia merasa lebih baik. Jumi menatap Kevin yang masih muram. Ia harus segera mengalihkan pembicaraan.
"Mas, kok, makanannya masih banyak?" tanya Jumi telak. Kevin menggerakkan bola matanya gelisah. Dia ketahuan! Kenapa tadi dia tidak ikut makan saja, sih? Malu kalau ia harus ketahuan memperhatikan Jumi sejak tadi.
Kevin hanya menggeleng pelan. Ia menatap Jumi lucu. "Enggak apa-apa. Mas makannya malu dilama-lamain. Hitung-hitung nikmati pemandangan di sini. Udah, Jumi lanjut makan, gih!" ujar Kevin sembari menatap air sungai yang jernih. Tempat duduk mereka di dekat sungai membuat Kevin dengan mudah mencari alasannya. Jumi yang mendengar hal itu pun mengangguk polos.
"Mas Kevin juga lanjut makan!" pinta Jumi sembari tersenyum lebar. Kevin yang melihat itu pun ikut tersenyum dan mengangguk pelan.
*****
Saat ini, Jumi dan Kevin telah selesai makan. Mereka duduk berdampingan di bebatuan sungai dan merendam kaki mereka di sungai. Jumi menggerakkan kakinya pelan. Ia terkekeh senang saat air sungai yang deras sesekali terciprat ke wajahnya. Kevin pun demikian. Bedanya ia hanya memandangi wajah Jumi yang tampak sangat bersinar. Sesekali ia menyipratkan air sungai pada Jumi yang balas menyiprati dirinya.
"Mas Kevin, udah, ih!" pinta Jumi sembari melindungi wajahnya yang terus menjadi sasaran Kevin sedari tadi. Gadis itu bergerak tidak karuan. Ia bahkan menggoyangkan kakinya dengan kencang karena sibuk menghindari serangan yang Kevin berikan. Kevin enggan menyerah. Ia terus berusaha untuk menyerang Jumi yang sudah kewalahan menghadapi dirinya.
"Mas, Jumi mau nanya," ucap Jumi dengan tiba-tiba sehingga membuat Kevin yang ingin menyipratkan air ke wajah Jumi pun menurunkan tangannya. Ia menatap Jumi dengan serius. Sepertinya topik yang akan mereka bahas kali ini cukup serius sampai-sampai Jumi menatapnya lekat.
"Nanya apa, Jum? Serius banget kayaknya," tanya Kevin sembari tersenyum lebar. Kevin menaikkan kakinya dan langsung duduk bersila menghadap Jumi yang ikut duduk seperti dirinya. Senyuman yang Kevin berikan membuat Jumi terpukau. Gadis itu terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaannya.
"Enggak serius juga, sih. Jumi cuma penasaran aja." Jumi menjawab dengan pelan, tetapi masih dapat Kevin dengar. Kevin memaklumi tingkah Jumi. Mungkin gadis itu sungkan bertanya padanya.
"Yaudah, tanya aja," ucap Kevin mempersilahkan. Jumi menggigit bibir bawahnya takut. Ia takut menyinggung perasaan Kevin nanti. Namun, ia juga tidak bisa menahan rasa penasarannya. Ia benar-benar ingin tahu alasan Kevin berada di sini.
"Mas Kevin betah di sini? Maksudnya, kata mbok Irah Mas Kevin itu tinggal di sini karena proyek. Nah, Mas itu ngerasa terpaksa enggak, sih, tinggal di sini? Soalnya di sini, kan, enggak kayak di kota, Mas!" tanya Jumi pelan sembari menunduk takut. Ia takut Kevin merasa tersinggung karena secara tidak langsung ia meremehkan Kevin yang mungkin saja sebenarnya tidak senang tinggal di sini. Mendengar tak ada jawaban, Jumi pun mendongakkan wajahnya dan menatap wajah Kevin yang tampak tersenyum kecil. Ya ampun, senyumnya saja sudah berubah. Jangan bilang jika Kevin benar-benar marah padanya.
"Mas, maafin Jumi, ya. Jumi lancang, ya?" tanya Jumi tak enak hati. Jumi pikir diamnya Kevin karena lelaki itu sedang marah. Namun, lain lagi dengan Kevin. Lelaki itu bahkan sama sekali tidak merasa tersinggung. Menurutnya pertanyaan Jumi wajar untuk diajukan. Kevin diam karena sedang berusaha menyusun jawaban. Ia bingung ingin mulai bercerita dari mana pada Jumi.
"Enggak, kok. Saya cuma bingung harus cerita dari mana." Kevin menggaruk kepalanya pelan. Ia kehabisan kata-kata untuk bercerita pada Jumi mengenai asal mula ia tinggal di sini. Rasanya Kevin tidak ingin menjawabnya. Namun, wajah Jumi yang penasaran membuatnya tidak tega.
"Cerita aja, Mas. Jangan bingung, ada Jumi di sini," ucap Jumi berniat menghibur Kevin. Kevin terkekeh di tempatnya saat melihat Jumi yang menepuk dadanya bangga. Ia berusaha memperlihatkan pada Kevin bahwa dia pun bisa membantu Kevin.
"Saya datang ke sini itu karena proyek ayah saya. Ayah saya mau membangun resort di desa yang masih asri dan dia ingin membuat nuansa berbeda dari resort pada umumnya. Ayah saya pengen resort dengan suasana yang benar-benar alam tanpa perlu alam buatan. Selain itu, ayah saya juga ingin menjangkau desa-desa kecil untuk dijadikan targetnya," jelas Kevin pelan sembari menatap wajah Jumi yang mendadak berubah. Jumi merasa khawatir tiba-tiba. Dari yang ia dengar, pengusaha sangat rakus dan jahat. Mereka hanya mementingkan diri mereka sendiri. Jumi jadi takut jika Kevin akan melakukan hal itu pada dirinya.
"Kenapa, Jum?" tanya Kevin saat menyadari perubahan raut wajah Jumi. Gadis itu menatapnya was-was dan hal itu membuat Kevin bertanya-tanya. Apa ada yang salah dengan ucapannya?
"Mas Kevin enggak bakal ngerusak desa, kan?" tanya Jumi was-was. Awas saja jika Kevin berani merusak desanya. Ia akan menjadi orang pertama yang membalas kejahatan Kevin nantinya. Mendengar hal itu, Kevin pun menatap Jumi terkejut. Ia tidak menyangka Jumi akan mengucapkan hal seperti itu. Namun, Kevin berusaha memakluminya.
"Ya enggaklah. Justru itu tujuannya, pembangunan resort di desa terpencil kayak gini untuk membuka lapangan kerja yang lebih luas. Warga desa di sini bisa kerja di resort dan meningkatkan perekonomian. Mas lihat di sini banyak yang laki-lakinya nganggur, yang kerja malah perempuannya. Nah, ini harus diatasi. Makanya dengan adanya resort di desa ini, mereka bisa kerja di sana. Toh, pekerja resort akan lebih baik dari lingkungan sekitarnya agar saat ada tourist, mereka bisa memandunya dengan baik. Tapi bukan berarti pekerja dari luar daerah berbeda, ya, mereka sama, kok." Jumi terperangah mendengar penjelasan Kevin. Benar juga, di desa ini banyak laki-laki yang hanya mengandalkan perempuan untuk bekerja. Sedangkan lelaki itu sendiri bekerja seadanya, terkadang mereka hanya malas-malasan di rumah. Di perkebunan pun lebih didominasi pekerja perempuan.
"Wah, keren! Mas Kevin bener juga." Jumi bertepuk tangan riang. Ia menatap Kevin dengan matanya hang menyipit karena senyumnya yang lebar membuat Kevin ingin meleleh di tempatnya. Gila, Jumi manis sekali!