Merry terlihat sangat kacau, dia masih menangis sambil meminta Edbert untuk menikah lagi. Wajah Edbert terlihat memerah menahan amarah, dia sangat kesal dengan apa yang diucapkan oleh istrinya.
Edbert menghampiri Merry, dan mencengkram kedua bahunya dengan kuat. Merry terlihat meringis menahan sakit, karena tanpa sadar Edbert sudah menyakiti istrinya.
"Katakan, Sayang! Apa maksud dari perkataanmu?!" seru Edbert.
Dia benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang diminta oleh istrinya, apakah istrinya itu mengira jika pernikahan adalah sebuah pemain, pikirnya.
"A--aku sakit, aku menderita kanker rahim stadium empat," jawab Merry terbata.
Edbert nampak limbung, dia bahkan sampai menjatuhkan tubuhnya di lantai. Sedangkan Indira nampak syok dengan apa yang dia dengar, ini terdengar menyakitkan.
Seorang istri mengemis pada suaminya agar mau menikah lagi, alasannya karena sakit. Sungguh miris, pikir Indira.
Merry langsung meluruhkan tubuhnya ke atas lantai, lalu dia memeluk Edbert dengan erat. Dia tau kalau suaminya sangat terpukul, begitupun dengan dirinya.
"Maafkan aku, Honey," ucap Merry penuh sesal.
Edbert menatap Merry dengan penuh cinta, tidak ada orang yang bersalah karena terdeteksi memiliki penyakit. Semua itu adalah rencana Tuhan, dia menggelengkan kepalanya lalu berkata.
"Kita keluar negeri, aku akan melakukan pengobatan yang terbaik untuk dirimu," ucap Edbert.
Merry nampak menggelengkan kepalanya, bukannya dia tidak mau pergi ke luar negeri untuk berobat. Namun, penyakitnya benar-benar sudah sangat parah dan sulit untuk disembuhkan.
"Aku memang bisa sembuh, jalan satu-satunya dengan operasi. Rahim aku harus di angkat, aku tidak punya kesempatan untuk memberikan kamu keturunan, Honey."
Edbert nampak menjambak rambutnya beberapa kali, baru saja dia bertekad untuk selalu setia pada satu perempuan saja. Akan tetapi, Tuhan seakan tak meridoinya.
Dia sangat sadar, jika dia menikah lagi mungkin saja bisa memiliki keturunan. Namun, akan ada hati yang tersakiti di dalam rumah tangga mereka.
"Tapi, Sayang. Aku takut, kamu akan terluka jika aku menikah lagi," ucap Edbert lemah.
Merry menggenggam tangan Edbert dengan begitu erat, dia berusaha untuk menguatkan hati suaminya. Lebih tepatnya dia berusaha untuk menguatkan dirinya sendiri.
"Aku yang memintanya, Honey. Aku rasa Indira adalah sosok wanita yang pas, dia wanita baik dan belum terjamah. Bahkan pacaran pun belum pernah, kamu pasti akan merasa beruntung jika menikah dengan Indira," ucap Merry dengan penuh permohonan.
Hatinya merasa tercabik setelah mengatakan hal itu, tetapi dia merasa bangga karena bisa menemukan perempuan yang baik untuk dinikahkan dengan suaminya.
Edbert menghela napas berat setelah mendengarkan penuturan dari istrinya, tahukah Merry jika hati Edbert benar-benar terasa perih mendengar permintaan dari istrinya.
"Jika aku bersedia, apakah Indira akan mau menikah denganku?" tanya Edbert.
Indira yang merasa namanya disebut, langsung bangun dan menghampiri Merry dengan Edbert. Dia hanya wanita biasa, dia mempunyai perasaan. Indira tidak mungkin menjadi duri dalam rumah tangga orang lain.
"Maaf Tuan, maaf Nona. Saya tidak bisa, saya hanya orang biasa. Orang kaya seperti kalian pasti menginginkan keturunan dari wanita yang berada dengan tingkat sosialita yang tinggi, bukan wanita miskin seperti saya. Maaf, saya tidak bisa," ucap Indira.
Mendengar ucapan Indira, Marry langsung memeluk kedua kaki Indira. Dia pun berlutut dan meminta kepada Indira dengan penuh permohonan.
"Aku, mohon Indira. Menikahlah dengan suamiku, aku janji, aku akan memberikan apa saja yang kamu minta," pinta Merry.
Edbert merasakan hatinya sangat sakit melihat istrinya yang memohon seperti itu, karena pada kenyataannya dia juga tidak ingin menikah kembali dengan wanita mana pun.
"Sayang," panggil Edbert.
Edbert tidak menyangka, jika Merry akan mengemis kepada Indira. Dia tidak menyangka jika istrinya benar-benar ingin menikahkan suaminya dengan wanita lain.
Edbert benar-benar kecewa, tapi di satu sisi Edbert juga mengerti. Bahwa Merry ketakutan. Merry takut dicap sebagai wanita tidak berguna oleh keluarganya, karena tidak bisa memberikan keturunan.
Setelah dia berpikir dengan begitu keras, akhirnya Edbert berkata.
"Baiklah, aku akan menikah lagi dengan Indira. Itu pun jika Indira mau menikah dengan aku dan aku juga punya sarat dengan pernikahan itu," ucap Edbert pada akhirnya.
Mata Merry langsung berbinar, dengan cepat dia pun memeluk suaminya dan menghujani wajah suaminya dengan ciuman.
"Terima kasih, Honey. Terima kasih, karena kamu sudah sangat baik terhadapku, dan mau mengabulkan permintaanku," ucap Merry.
Setelah puas dengan jawaban dari suaminya, Merry pun langsung bangun dan memeluk Indira. Dia mengelus lembut punggung Indira dan kemudian melerai pelukannya.
"Aku mohon Indira, menikahlah dengan suamiku. Aku mau Edbert mempunyai keturunan, mempunyai anak kandung dari dirimu. Karena aku benar-benar tidak bisa mengabulkan permintaan dari keluarga Law, aku sudah dipastikan tidak bisa memberikan keturunan untuk mereka," jelas Merry.
Indira nampak terdiam, dia bingung, dia tidak tahu harus berbuat apa. Apakah dia harus menuruti keinginan dari nona mudanya, atau tidak?
Tapi jika melihat wajah Merry yang terlihat begitu memelas, Indira merasa tak tega. Akan tetapi, dia juga tidak mungkin harus mengorbankan masa mudanya dengan menikahi suami orang.
"Come on, Indira. Aku pasti akan memberikan apa pun permintaanmu," ucap Merry.
Setelah menimang-nimang semuanya, Indira pun dengan berat hati akhirnya berkata.
"Baiklah Nona, saya mau menikah dengan Tuan Edbert. Tapi, saya tidak mau orang-orang tahu akan pernikahan yang kami lakukan. Aku juga mau setelah melahirkan nanti aku bisa langsung pergi dari kehidupan kalian."
Indira meminta dengan sangat kepada tuan dan nona mudanya, dia memang mau membantu mereka agar mendapatkan keturunan. Akan tetapi dia juga tidak mungkin berada di antara rumah tangga mereka.
Itu akan sangat menyakitkan nantinya, dengan berat hati dan dengan banyaknya pertimbangan akhirnya hal itulah yang bisa Indira ucapkan.
Edbert nampak tersenyum dengan permintaan Indira, dengan permintaan Indira tersebut Edbert merasa beruntung. Karena dia tidak perlu mempublikasikan pernikahannya dengan Indira. Dengan begitu, posisi Merry juga akan tetap aman.
Karena semua keluarga Edbert akan menyangka jika Merry lah yang melahirkan keturunan untuk mereka, bukan Indira atau wanita mana pun.
"Baiklah kalau begitu, besok kita akan pergi ke luar negeri. Kita akan menikah di sana dan kita akan hidup di sana. Biar tidak ada satu orang pun yang tahu jika nanti kamu hamil anak aku," ucap Edbert.
"Baik, Tuan," ucap Indira.
"Sekarang kamu pulang dan bersiap, karena besok pagi-pagi sekali kita akan pergi. Aku tidak mau kalau ada orang yang mengetahui tentang rencana kita," ucap Edbert pada Indira, Indira pun menurut.
Indira nampak keluar dari ruangan Edbert, kemudian dia pun berkemas dan segera pergi ke kostan Melly. Dia harus segera bersiap, agar besok dia bisa pergi bersama dengan tuan dan nona mudanya.
Selepas kepergian Indira, Merry langsung memeluk tubuh Edbert dengan erat. Dia merasa begitu bahagia karena suaminya mau menuruti keinginannya, ini adalah hal yang benar-benar di luar dugaan.
"Terima kasih, Honey. Karena kamu telah menuruti permintaanku, aku tidak tahu apa yang akan keluargamu katakan, jika tahu bahwa aku tidak bisa memberikan keturunan kepada mereka," ucap Merry.
Edbert tidak menjawab perkataan Merry, dia langsung keluar dari ruangannya dan pergi begitu saja. Merry hanya bisa menatap kepergian suaminya dengan tatapan nanar.