Merry benar-benar terlihat kacau hari ini, hampir seharian dia menghabiskan waktu untuk menangis di dalam kamarnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, dengan gerakan cepat Merry langsung mengguyur tubuhnya agar bisa lebih segar dan lebih tenang.
Setelah selesai, Merry langsung merias wajahnya. Dia tidak mau jika Edbert melihat wajahnya yang kini sudah mulai terlihat memucat.
Setelah puas dengan hasil riasannya, Merry langsung melangkahkan kakinya menuju ruang tamu. Dia ingin menunggu suaminya pulang, dia harus terlihat biasa saja. Jangan sampai Edbert curiga dengan keadaannya saat ini.
Tidak lama kemudian, lelaki yang kini sudah menjadi suaminya tersebut datang dan menghampiri Merry.
Edbert langsung menjatuhkan tubuhnya di samping Merry, Memeluknya dan melabuhkan sebuah ciuman hangat di bibir istrinya.
"Kangen, aku pengen di sini," ucap Edbert.
Merry terlihat kelabakan, dia belum siap mengatakan semuanya pada suaminya itu. Dia bingung harus beralasan seperti apa kepada Edbert.
Edbert sudah mulai menyusupkan tangannya ke dalam baju yang Merry kenakan, tapi dengan cepat Merry menahannya. Mereka tidak boleh melakukannya, dia masih ingat pesan Elsa.
"Maaf, aku datang bulan," ucap Merry penuh sesal.
Bukan menyesal karena datang bulan, tapi menyesal karena merasa sudah tidak sempurna lagi sebagai seorang istri.
Bahkan, hanya untuk memberikan hak kepada seorang suami pun Merry sudah tidak bisa. Wajah Edbert nampak kecewa, saat mendengar istrinya mengatakan jika dia sedang datang bulan.
Padahal, dia sangat menginginkan istrinya, dia sangat mendambakan penyatuan dengan istri tercintanya itu.
"Padahal aku pengen banget," ucap Edbert dengan mata sendunya.
"Maaf," ucap Merry penuh sesal.
"Tidak apa, Sayang. Masih ada lain kali," ucap Edbert membesarkan hatinya sendiri.
Merry pun nampak tersenyum dan langsung memeluk suaminya itu dengan erat, Edbert dengan senang hati langsung membalas pelukan dari istrinya.
"Terima kasih karena sudah mau mengerti," ucap Merry.
"Ya, Sayang. Sekarang, aku mau kamu mandiin aku. Bisa?"
Merry pun langsung terkekeh mendengar permintaan suaminya, dengan senang hati Merry langsung membantu suaminya untuk mandi sore itu.
Edbert benar-benar seperti bayi besar yang manja. Saat memandikan Edbert, Merry bisa melihat jika milik suaminya menginginkan lebih dari sekedar dimandikan.
Dengan penuh pengertian, Merry langsung berjongkok dan menundukkan kepalanya di depan milik Edbert.
Sore itu menjadi kebanggaan tersendiri untuk Merry. Walaupun tidak bisa melayani suaminya di atas ranjang, tetapi dia masih bisa memuaskan suaminya dengan cara lain.
Bahkan Edbert terlihat begitu menikmatinya, setiap sentuhan Merry begitu berbeda dengan perempuan yang selalu dia bayar.
Ternyata benar apa kata pepatah, jika melakukan kemesraan dengan pasangan halal sangatlah nikmat tiada tara. Tidak seperti melakukan itu dengan wanita panggilan, atau sejenisnya.
Setelah Merry memuaskan Edbert, Edbert pun segera mengguyur tubuhnya dan menyelesaikan mandinya. Setelah itu, Edbert pun langsung menggendong Merry dan menurunkannya dengan perlahan di tempat tidur mereka.
"Tunggu di sini ya, Sayang. Aku akan ganti baju dulu," ucap Edbert, Merry pun menurut.
Tidak lama kemudian, Merry melihat Edbert yang sudah terlihat sangat tampan. Walaupun hanya memakai baju rumahan.
Sore itu mereka habiskan dengan bersantai di taman belakang rumah, sambil menikmati camilan dan juga secangkir teh hangat.
*
Hari telah berganti, kini Edbert sudah memulai aktivitasnya kembali. Bekerja di perusahaan LT Corp, perusahaan kebanggaan keluarganya.
Edbert bekerja dengan sangat serius, sampai di baru sadar jika waktu sudah menunjukan pukul sebelas siang.
"Sudah jam sebelas siang rupanya," ucap Edbert lirih.
Edbert mengambil ponselnya, dia memandang wajah cantik istrinya yang dia jadikan wallpaper layar ponselnya.
Dia usap layar ponselnya, kemudian Edbert tersenyum. Dia masih merasa tak percaya, jika wanita culun yang selalu dia kata-katai saat kuliah dulu malah menjadi jodohnya.
"Kamu cantik, Sayang. Kamu membuat hidupku jadi lebih berwarna, I love you," ucap Edbert lirih.
"Ehm!"
Edbert langsung memalingkan wajahnya saat mendengar seseorang yang sudah mengagetkannya, mengagetkan dirinya dengan suara dehemannya.
"Sayang," panggil Edbert.
Edbert baru sadar, jika Merry sudah berada di ambang pintu seraya menyilangkan kedua tangannya. Edbert segera menghampiri Merry, lalu dengan cepat dia mengajak istrinya untuk duduk di atas sofa.
"Kenapa cemberut, hem?" tanya Edbert seraya mencuil dagu istrinya.
"Kamu bilang i love you sama siapa, Honey?"
Merry, terlihat pura-pura merajuk dengan tingkah manjanya. Edbert langsung terkekeh, lalu dia pun mulai menjelaskan.
"Tentu saja sama kamu, Sayang," ucap Edbert.
"Sekarang katakan, jika kamu mencintaiku," pinta Merry, Edbert pun menurut.
"I love you, Sayang. Terima kasih sudah mau menjadi istriku, terima kasih sudah menerimaku yang banyak kekurangan ini. Terima kasih karena sudah membawa kebahagiaan, di dalam hidupku." Edbert berucap dengan tulus.
Hati Merry langsung meleleh dengan apa yang diucapkan oleh suaminya, dia sangat bahagia.
"Oh, Honey. Mee too," ucap Merry yang langsung memeluk Edbert dengan posesif.
Edbert pun langsung terkekeh melihat tingkah istrinya. Bahkan Edbert langsung menghujani wajah Merry dengan ciuman. Edbert sangat suka dengan tingkah Merry yang begitu manja dan terkesan sangat membutuhkan dirinya.
Di dalam ruangan Indira.
"Berkas-berkas yang sudah seperti kekasihku ini, sudah selsai aku kerjakan. Sekarang saatnya untuk menyerahkannya pada tuan Edbert, semoga saja tidak ada yang salah," ucap Indira.
Indira langsung membereskan semua berkas tersebut, lalu dia bangun dan keluar dari ruangannya. Dia berniat untuk menyerahkan semua berkas tersebut kepada Tuan Edbert.
Tanpa Dia duga, Indira malah melihat Edbert yang sedang bermesraan dengan Merry istrinya. Indira, kaget. Dia mendadak jadi gugup dan segera membalikan tubuhnya, Indira pun hendak pergi.
Namun, baru saja Indira, akan melangkahkan kakinya Merry malah memanggil Indira, Indira pun dengan cepat menghampiri Merry.
"Duduklah, Indira." titah Merry, Indira pun menurut.
Edbert nampak mengernyit heran, saat mendengar ucapan Istrinya.
"Kenapa malah menyuruh Indira, duduk?"
"Honey, menikahlah dengan Indira?"
Duuaar !!!!
Bagai tersambar petir di siang hari, Edbert benar-benar tidak menyangka dengan apa yang diucapkan oleh istrinya.
Begitupun dengan Indira, dia tidak menyangka, jika seorang istri akan menyuruh suaminya untuk menikah lagi.
Edbert pun langsung memeluk Merry dan mengecup bibirnya beberapa kali, dia merasa jika istrinya sedang berusaha untuk mengerjai dirinya. Atau mungkin, istrinya sedang berusaha untuk menguji rasa cintanya kepada Merry, pikirnya.
"Apa maksud kamu, hem? Kita baru saja menikah, kamu mau mengerjai aku?" tanya Edbert.
Merry nampak menggeleng.
"Mommy ke rumah, dia meminta cucu."
Merry berucap dengan mata yang memerah, dia menahan tangisnya agar tak pecah. Edbert bisa melihat jika Merry terlihat sedang sedih. Bahkan bibir Merry, kini sudah mulai bergetar. Hal itu membuat Edbert makin tak nyaman.
"Katakan, Sayang. apa maksudnya? Jika hanya ingin cucu, aku sanggup lembur tiap malam untuk membuatmu hamil," ucap Edbert percaya diri.
"Aku--"