Dengan langkah santai seorang pria keluar dari gedung kedutaan, kepalanya mendongak menatap matahari yang begitu menyengat. "Eh kok buru-buru sekali?" Seseorang di belakang nya menepuk pundaknya pelan. "Ustadz. Hehe maafkan Rey." "Kamu sudah makan belum?" "Belum." Rey memegang perutnya yang terasa kosong. " Kita makan bareng yuk." "Boleh tad." "Rey mau dimana?" "Terserah ustadz saja,Rey manut ustadz aja." Memasang wajah innocent nya dan berhasil membuat sang guru tersenyum. Keduanya kemudian berjalan menuju sebuah cafe yang tak jauh dari tempat tadi, memilih duduk di pojokan agar lebih leluasa menatap jalanan yang terpampang dibalik kaca. "Jakarta makin hari makin rame ya." Rayhan menghela nafas panjang melihat padatnya kendaraan yang melintas di depan mereka. "Kalo Jakarta udah

