Kembali lah, Sayang.

791 Words
ISTRIKU BUNUH DIRI (?) 3 Aku pulang dengan perasaan hampa. Jenazah Selna sudah dibawa ke Bandung memakai ambulance, Mas Nathan yang mengantar tanpa mengijinkan aku untuk ikut, melihat wajah istriku terakhir kalinya pun tidak boleh. Ketika melewati lorong rumah sakit, sekilas aku mendengar obrolan suster-suster. "Kasian ya, Adiknya dokter Nathan. Masih muda, cantik, mana penulis hebat. Bisa depresi lalu memutuskan bunuh diri. Ga habis pikir aku, ga nyangka Kehidupan seorang Selna Hapsari Wijayanti, ternyata begitu. Padahal, yang aku lihat Mbak Selna itu orangnya periang, lho. Ternyata dia pandai menyimpan luka." "Iya, aku juga ga nyangka, padahal novel terakhir ini lagi naik daun dan dilirik sebuah rumah produksi," "Sayang, sekali ya. Kariernya berakhir disini." "Hu'um, kamu lihat ga, tadi ketika dimandikan, wajahnya bersih. Ih, lakinya beruntung banget dapat istri kayak gitu. Cuma aneh aja, apa ya kira-kira yang membuat Mbak Selna bunuh diri dengan nekat menabrak dinding jalan sampai masuk sungai gitu." "Entahlah, kita lihat aja nanti perkembangan kasusnya. Tuh, ada Dokter Sinta." Mereka pun kembali pura-pura memeriksa laporan pasien ditangannya. Mbak Sinta yang menuju ke arahku berjalan makin cepat. "Mbak, Mbak Sinta ..." ternyata Mbak Sinta berbelok ke lorong persis di depanku. Mbak Sinta mengentikan langkahnya. "Ada apa, Zion? Saya harus buru-buru banyak hal yang harus saya laporkan, terkait kematian Selna. "Mbak, saya akan berangkat ke Bandung." Suaraku terdengar berat. Rasa mimpi semua yang terjadi. "Nanti, sabar dulu. Mas Nathan sedang tak bisa diganggu, dia sangat syok mendengar kematian Selna." "Mbak, Selna istri saya, Mbak. Kenapa semua seolah disembunyikan dari saya." Mbak Sinta menarik nafas berat. "Zion, sebelum Selna meninggal dia sempat mengirim pesan kepada Mas Nathan. Intinya dia sudah lelah, dia capek dan dia sangat depresi." Aku mengernyitkan dahi, karena depresi kenapa? Bukankah ketika dia diminta pembantu ada ibu dan Ningsih yang membantu di rumah. Dan aku juga tidak pernah membatasi saat dia menulis, dan menyalurkan hobinya. "Maaf mbak depresi kenapa? Rumah tangga kami baik-baik saja. Selna juga tidak pernah curhat kepada saya apalagi mengeluh." Seingatku selama ini Selna tidak pernah mengeluh, walau sering dia melakukan semua pekerjaan dalam diam. Memang kuakui aku jarang membantunya di rumah. Itu semua disebabkan karena aku sendiri lelah setelah pulang bekerja. "Bukalah ponsel istrimu itu, semua ada jawaban ada di sana. Ponsel itu sengaja diminta oleh Mas Nathan kepada pihak Polisi. Agar kamu membaca sendiri isi hati istrimu." Aku mengenggam kencang ponsel Selna yang ada di tangan. "Baiklah Mbak." Jawabku lemah. Mbak Sinta sudah pamit hendak melakukan pekerjaannya. Tinggalah aku sendiri, merenung seakan berada dalam alam mimpi. Saat ini yang terpikirkan olehku harus segera pulang. Aku memikirkan anak-anak. Terlebih Kevin dan Kenan sedang tidak sehat. Ya Allah, gimana Aku menghadapi hari-hari ke depan tanpa Selna. Selama ini Selna-lah yang mengurus semuanya. Mataku terus saja berkabut. Entah bagaimana caranya memberitahu kepada anak-anakku jika Ibunda mereka sudah tiada. Tak terasa Aku sudah sampai di halaman rumah sakit. Segera saja aku memesan taksi online dan bergegas pulang. Hari ini hidupku terasa sangat kacau, ingin memaki tapi entah pada siapa. Sesampainya di rumah, keadaan tak jauh berbeda Ketika tadi aku tinggalkan. Rumah seperti kapal pecah, Kevin dan Kenan masih terus menangis. Kenji juga merajuk tak mau makan dan akhirnya tertidur. Padahal ini sudah menjelang Maghrib. "Kamu dari mana sih, Zion!" Sambutan ibu dengan marah. "Selna ... Selna meninggal dalam kecelakaan, Bu." dadaku terasa seperti dihimpit beban berat, sesak sekali. Tanpa terasa air mataku mengalir lagi. "Meninggal? Jangan bohong kamu, Zion! Kalau meninggal mana jasadnya?" ucap Ibu tak percaya. "Jasad Selna dibawa Mas Nathan ke Bandung. Dimakamkan di dekat makam kedua orang tua Selna." jawabku. Ibu tercenung. "Ayah, ayah bilang Bunda meninggal?" Khalisa putriku yang paling besar sudah berdiri tak jauh dariku. "Sini, Nak." Khalisa mendekat, aku meraih tubuh kecil itu lalu memeluknya. Wajah Selna sangat mirip dengan Khalisa. "Bunda sudah ke Surga, Khalisa harus sabar, ya." suaraku bergetar menahan tangis. Bagaimana mungkin aku menyuruh Putri ku bersabar, sedangkan hatiku sendiri belum mampu menerima kenyataan ini. "Oh tidak, Zion! Kenyataan macam apa ini. Jadi siapa yang akan merawat anak-anakmu?" Dengan mata berkaca dan hati terluka aku menatap Ibu kecewa. "Ibu, bukankah menurut Ibu selama ini, Ibu yang kecapean merawat anak-anak. Sementara Selna sibuk menulis? Selna pemalas yang mengandalkan Ibu dan Ningsih." "Benar kok, Bang!" potong Ningsih yang baru datang sambil menggendong Kenan. "Lalu apa masalahnya, anggap saja Selna masih menulis di kamarnya." Dadaku bergemuruh mengucapkan itu. Ibu dan Ningsih terdiam. Aku membawa Khalisa ke kamar, dimana Keyla dan Kenji sedang tertidur. "Ayah, adik-adik belum makan. Sejak pulang sekolah selalu dimarahin nenek sama Tante, kita disuruh gendong Kevin dan Kenan. Khalisa mau bunda kembali, Ayah." Runtuh sudah air mataku. Aku tergugu, air mata makin menderas mendengar ucapan Khalisa. Hati seakan diremas ketika melihat anak-anak tertidur dalam keadaan capek dan lapar. Selna, Sayang ... Kami butuh kamu ... Kembali lah ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD