ISTRIKU BUNUH DIRI (?) 4
Hari ini hari pertama tanpa Selna. Semalaman aku tak bisa tidur karena menjaga si kembar. Lagi pula hatiku juga terasa hampa tanpa Selna. Meski malam aku jarang tidur berdua sejak kembar lahir, tapi tetap saja melihat Selna seakan pelangkap hidupku.
Kevin dan Kenan juga masih sangat rewel, niatnya aku akan membawa mereka ke klinik pagi ini, menyesal kemarin aku tidak mendengar kata-kata Selna. Selna, maafkan Mas, Dek. Ternyata mengurus anak sakit itu sangat melelahkan, apalagi ini ada dua dengan usia yang sama.
Aku sudah ijin kepada Pak Rudi atasanku, untuk mengerjakan pekerjaan dari rumah sementara waktu. Sampai aku mendapat seorang pembantu yang bisa menjaga anak-anak. Kepercayaanku pada Ibu dan Ningsih, pupus sudah. Tak menyangka jika selama ini Ibu mendzolimi Selna, memfitnah bahkan mengadu-dombaku dengan istriku sendiri. Kalau bukan orang tua dan adik sendiri, sudah kuusir mereka.
"Kamu mau kemana, Yon?" tanya Ibu.
Aku diam saja, saat ini aku sedang mengganti baju Kevin dan Kenan, setelah mengantar kakak-kakaknya sekolah. Seharusnya hari ini hari berkabung karena Bunda mereka telah tiada, tapi aku tak ingin membuat mereka down. Nanti, setelah aku merasa kuat, mereka akan kuberi tahu dan sama-sama ke makam Selna.
"Ditanya diam aja sih, Yon? Selna meninggal kan bukan salah Ibu. Kenapa kamu malah mendiamkan Ibu." Sungut Ibu. Tak tampak sama sekali raut sedih di wajah Ibu atas kepergian Selna. Dugaanku makin kuat jika Ibu hanya pura-pura suka pada istriku itu.
"Bu, apa Ibu tak sedih sama sekali, Selna meninggal?" tanyaku.
"Sedih lah, tapi ibu tak seperti kamu. Ibu cepat move on, kalau perlu segera cari ganti, yang sudah tiada tak perlu ditangisi." sahut Ibu dengan entengnya.
"Iya lho, Bang. Cepet move on, Temanku ada tuh, Riska namanya, cantik dan pasti bisa membahagiakan Abang." Aku mengabaikan Ningsih, gampang sekali dia bicara hal seperti itu. Tidak tau gimana rasanya ditinggal istri.
"Kamu kira segampang itu, Ning. Kamu belum menikah, dan belum merasakan punya anak. Kalau Abang egois ga mikirin anak-anak mungkin gampang untuk menikah lagi. Kini setelah Selna pergi, hidup Abang hanya untuk anak-anak. Abang tak mau ada yang menyakiti mereka, siapapun itu, kalau nekat mereka akan berhadapan dengan Abang."
Aku tau Ningsih dan Ibu saling pandang.
"Dan Abang tak segan-segan mengusir orang yang menyakiti anak Abang, meski itu kamu sendiri, Ning!" Ucapku dengan nada tegas.
Ningsih menunduk. Dia pikir aku akan mau saja disetir olehnya. Tak akan!
Aku akan menjaga anak-anak sepenuh hati. Sebagai bukti betapa aku menyesal telah menyia-nyiakan istriku yang telah berlelah letih untuk mereka.
***
Pesan di ponselku sahut-sahutan. Mulai dari rekan kerja hingga teman-teman Selna yang pernah kukenal. Intinya ucapan belasungkawa atas meninggalnya Selna. Aku menutup lagi benda pipih itu, belum sanggup membalas pesan mereka, bahkan kematian Selna masih kuanggap mimpi buruk saat ini.
Kevin dan Kenan sudah kuminumkan obat sepulang dari klinik tadi, mereka menangis terus memanggil Bundanya. Beruntung mereka mau minum obat setelah kurayu. Pekerjaan kantor sama sekali belum kepegang, kini aku harus belanja. Karena tadi kulihat isi kulkas kosong. Ibu dan Ningsih entah kemana. Rumah di tinggal dalam keadaan berantakan. Huff, sungguh terlalu mereka. Ada aku saja begini, apalagi tidak ada.
Usai belanja pekerjaan rumah satu-satu kukerjakan. Membersihkan ruangan lalu lanjut memasak, walau hanya masak Sop ternyata melelahkan juga. Merebus daging iga lalu membersihkan sayuran hingga memotongnya. Belum lagi menghaluskan bumbu, menumis dan memasukkan ke dalam rebusan daging tadi.
Dua jam bertempur di dapur aku kembali ke depan, niatnya ingin selonjoran. Namun, yang kulihat, lantai penuh dengan mainan. Tak ada lagi bekas kerapihan tadi, bantal kursi berantakan tak beraturan. Sementara dua putraku asik bermain berdua, mungkin badannya sudah mulai enakan. Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya, mengisi rongga d**a yang terasa sesak. Lelah belumlah hilang, tapi keadaan seakan kembali ke awal lagi. Mungkin inilah yang dirasakan oleh Selna setiap hari. Kegiatan yang melelahkan namun, tak pernah mendapat penghargaan.
Ya Allah, jahatnya aku.
Ibu dan Ningsih baru saja pulang, namun aku tak hiraukan.
"Ningsih, jaga Kevin dan Kenan!" ketusku.
Aku meraih kunci motor hendak menjemput Keyla dan Khalisa. Terpaksa panas-panasan karena mobilku sudah tak bisa lagi diperbaiki, sembilan puluh persen keadaannya rusak parah.
"Bang, lapar!" rajuk Ningsih. Entah terbuat dari apa hatinya, bisa-bisanya minta makan yang mana seharusnya dialah yang masak untukku.
"Tuh, makan sop iga di dapur."
Tanpa menunggu jawaban Ningsih, aku sudah melaju cepat, aku takut anak-anak telat dijemput.
***
Suasana diruang makan senyap, anak-anak tampak tak berselera.
"Bunda kemana sih, Yah? Kenapa tak pulang-pulang?" rengek Kenji.
"Iya, tak biasanya Bunda meninggalkan kita lama-lama seperti ini." sahut Keyla
Khalisa yang sudah agak besar mengerti, aku meminta dia untuk merahasiakan semua dari adik-adiknya. Gadis itu mengusap air matanya dengan ujung baju.
"Sekarang makan dulu, ya. Nanti akhir pekan kita bertemu, Bunda." Meski hatiku begitu luka mengucapkan itu. Khalisa menatapku dengan tatapan penuh kesedihan. Aku tertunduk, maafkan ayah!
"Horeeee! bener ya, Yah!"
Aku menganggukkan kepala. Mereka pun menyuap makanan yang telah kusiapkan. Baru saja masuk satu suapan.
"Hueeek!" Ketiganya serentak melepeh makanan dimulut mereka ke piring.
"Kenapa?" tanyaku heran.
"Ga enak! Asin, hueeek!"
Aku mencoba masakan itu dan hal yang sama kulakukan, rasa sop itu luar biasa. Benar-benar diluar nalar, entah apa saja yang kumasukkan, rasanya sudah sesuai petunjuk Mbah Gugel, kenapa bisa salah.
Perut yang lapar tak mengenal kompromi. Aku pun memesan makanan via online. Tak ada waktu lagi untuk memasak ulang.
Setengah jam kemudian pesanan kami datang, ayam bakar kesukaan anak-anak.
"Hmmm... Mirip masakan Bunda." Teriak anak-anak. Masakan Selna memang sangat enak, tak ada duanya.
Aku pun semangat menyendokkan nasi ke piring, lalu mengambil satu potong ayam untukku.
"Bismillah," lirihku saat satu suapan baru saja hendak masuk.
"Ayaaah, epin pup, au ayah, au!" kata Kenan mengadukan kembarannya yang buang air besar dan bau.
Ya Allah, Selna.
Aku lapar, Sayang.