Kedatangan Nathan

945 Words
ISTRIKU BUNUH DIRI (?) 5 "Kenjiiii ...! Ini bantal, kakak!" "Ini bantalku!" Suara gaduh datang dari dalam kamar. Keyla dan Kenji saling kejar-kejaran memperebutkan bantal. "Yon! Anak kamu berantem tuh! brisik banget!" adu Ibu, saat ini aku sedang sibuk mengerjakan laporan yang harusnya tadi aku serahkan kepada Pak Rudi melalui email. "Tolong ditengahi Bu, Zion sedang membuat laporan, takut telat nanti malah Pak Rudi marah." kataku memelas. "Anak kamu itu, emang nakalnya kebangetan. Ibu ga bisa, kamu aja sana! Makanya Ibu bilang apa, jangan banyak-banyak bikin anak, brisik dan merepotkan!" sungut Ibu. "Bu, berhenti mengatakan anakku merepotkan, kalau Ibu tak mau direpotkan silahkan Ibu kembali ke kampung!" dadaku terasa terbakar mendengar perkataan Ibu, sehingga tak sadar mengatakan hal itu. "Kamu mengusir, Ibu?" suara Ibu bergetar menahan tangis. "Abang ngusir, Ibu? Tega Abang!" Ningsih yang selalu hadir ketika terjadi kesalahpahaman itu mengusap pundak Ibu. "Maafkan Zion, Bu." kataku menyesal. Bagaimanapun Ibu adalah ibu kandungku yang seharusnya kuhormati. "Zion, lagi banyak pikiran, Bu. Zion tak bersungguh-sungguh mengatakan itu." Aku mendekati Ibu dan meraih tubuh tua itu dalam dekapan. "Ibu memaafkan kamu, Yon. Jangan ulangi lagi." Aku mengangguk mengiyakan, walau dalam hati perasaanku bertolakbelakang. Tak lama terdengar salah satu dari anak-anak menangis, aku mengurai pelukan itu dan bergegas ke kamar mereka. Beginilah drama setiap malam yang selalu dilewati oleh Selna. Bedanya Selna mampu membuat keributan menjadi canda tawa, berbeda denganku. Anak-anak akhirnya tidur dalam isak tangis karena kucubit, aku capek. *** Hari kedua. Pagi ini aku bangun lebih cepat memasak sarapan untuk anak-anak, menggoreng sosis juga naget. Sementara untukku kubuat nasi goreng saja. Ibu dan Ningsih masih di kamar, entah apa yang mereka lakukan. Bersyukur anak-anak telah diajarkan mandiri oleh Bundanya, sehingga mereka semua bisa bersiap ke sekolah tanpa kubantu. "Kata Bunda, jangan terlalu sering makan makanan olahan, Ayah." kata Kenji. "Iya, ga baik untuk kesehatan!" lanjut Keyla. "Sudah!kalian makan saja! bersyukur ayah masakin!" Bentakku yang membuat mereka terdiam. Aku menghela nafas, melihat wajah-wajah itu tertunduk, aku merasa bersalah. Waktu aku mencela masakan Selna, perempuan itu tak pernah marah, hanya diam sambil meneteskan air mata. Ya, Allah kini baru terasa, ternyata hanya diprotes begitu saja oleh anak-anak hatiku sakit. Kebayang sakit hatinya Selna saat itu. Usai makan aku pun mengantarkan anak-anak kesekolah. "Maafkan Ayah, Sayang." lirihku sambil mencium puncak kepala mereka satu-persatu. "Ayah, kami mau Bunda segera pulang." Jawab mereka yang makin membuat hatiku ngilu. Akupun kembali pulang, ternyata rumah sudah disapu oleh Ningsih. Ibu pun sudah mencuci piring, aku tersenyum. Semoga seterusnya seperti ini. "Makasih ya, Bu." "Emang sudah pekerjaan, Ibu. Kemarin Ibu hanya lelah, waktu ada Selna Ibu tak ada waktu untuk bersantai, karena itu ketika dia tak ada kesempatan Ibu dan Ningsih untuk libur dari pekerjaan rumah yang tak ada habisnya ini." Aku tertegun, apa iya seperti itu? Ah, biarkan sajalah. Saat ini yang jelas aku bisa mengambil laptop dan menyelesaikan pekerjaanku. Wangi masakan tercium dari dapur. Ternyata Ibu juga sekalian masak. Sekitar jam sepuluh, sebuah mobil masuk ke halaman rumahku. Aku mengintip dari jendela siapa yang datang. Seorang laki-laki berkaca mata hitam turun dari mobil. Di ikuti oleh perempuan mengenakan kerudung dan dua wanita muda yang aku tak tau siapa. Aku berlari menyambut kedatangan mereka, Mas Nathan dan Mbak Sinta, kakak Selna. "Mas ..." Aku mengulurkan tangan hendak bersalaman. Tapi, laki-laki itu diam saja. "Saya kesini cuma mau mengambil semua milik Selna yang sudah dia amanahkan pada saya untuk dijaga nanti buat anak-anaknya." katanya ketus. "Sekalian saya mau mengurus asuransi kendaraan Selna. Semua dokumen dan persyaratan sudah ada ditangan saya. Jadi kamu tak perlu repot-repot!" Belum sempat mengatakan apapun, sebuah mobil masuk lagi ke halaman. Tiga orang laki-laki bertato keluar. "Ambilkan semua barang-barang adik saya di dalam. Termasuk laptop, serta buku-buku yang ada disana." "Mas, apa-apaan ini! Kalian tak bisa seenaknya!" "Seenaknya? apa kamu ga malu berkata seperti itu? Adikku kau nikahi, lalu kau sia-siakan. Setelah banyak pengorbanan yang dia lakukan? Pernah kau mendengar keluhannya? Pernah kau membantunya merawat anak-anak kalian. Kau yang telah membunuh Selna, Zion! Kalau tau begini tak akan kubiarkan kau mendekati adikku dulu." Wajah Mas Nathan memerah marah. "Kalian cepat ambil semua baju-baju dan barang-barang milik Selna di dalam. Dek, bantu Mereka." seru Mas Nathan pada tiga laki-laki itu lalu kepada istrinya, mbak Sinta. Aku tak berkutik. Apa yang dikatakan Mas Nathan semuanya benar. Aku yang telah membunuh istriku sendiri. "Zion, ini apa-apaan!" Teriak Ibu. Namun, tak ada yang peduli, barang-barang Selna dibawa semua. Termasuk perlengkapan kosmetiknya di meja rias. "Kamu tau, Zion. Selna itu punya potensi besar menjadi orang terkenal. Kamu yang membatasi. Kamu yang membuat dia mengubur impiannya. Puas kan kamu sekarang." Suara Mas Nathan tak lagi setinggi tadi. Tapi, sama-sama membuat hatiku berdarah-darah, penyesalan begitu menyiksa batinku. "Ini Maya dan Rini, mereka yang akan merawat anak-anak disini. Tak usah takut untuk mengeluarkan uang membayar gaji mereka. Biar saya yang mengeluarkan. Kamu takut kan mengeluarkan uang? sehingga kamu mengajak orang tua dan adik kamu sebagai pembantu gratisan disini, tapi itu tak berguna. Justru Selna makin menderita dengan adanya mereka!" Telunjuk Mas Nathan tepat mengarah ke Ibu dan Ningsih yang berdiri di depan pintu menyaksikan semua. Rahangku mengeras bagaimanapun aku tak suka ada yang menghina Ibu dan Ningsih. "Kamu pasti sudah membaca tulisan Selna di chat pribadinya dengan saya kan? Dan diary yang dia tulis dalam aplikasi word disana?" Aku tersentak, aku benar-benar lupa memeriksa ponsel Selna. Karena terlalu sibuk dengan anak-anak. Disana pasti akan kutemukan apa yang Mas Nathan katakan. Mas Nathan pun pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi. "Kamu bodoh, Zion!" Maki Ibu. "Iya, Bu! Zion bodoh karena terlalu mempercayai Ibu!" rutukku sambil berlalu. Di ikuti oleh Maya dan Rini yang nanti akan membantu menjaga anak-anak. Perasaanku sekarang benar-benar kacau. Satu tujuanku saat ini memeriksa ponsel milik Selna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD