Harus Bangkit!

1297 Words
Malam itu, dinginnya kamar Jelita tak mampu mengusir gejolak dalam hatinya. Album foto lama itu tergeletak terbuka di pangkuannya, menyajikan potongan-potongan teka-teki yang menyakitkan. Foto-foto mendiang ayahnya yang tersenyum hangat, bercampur dengan sosok Daria dan Sania di latar belakang yang asing, dengan ekspresi licik yang membuat perut Jelita mual. Apa lagi ini? Apa yang tidak ia ketahui tentang masa lalu ayahnya, dan hubungan mereka, dengan dua wanita ular itu? Kepalanya berputar, mencoba menyusun kepingan memori yang tercerai-berai. Suara ketukan pelan di pintu membuat Jelita terlonjak. Dani berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan tatapan lembut. “Belum tidur?” Jelita menggeleng, tangannya refleks meremas album foto. “Ada yang ingin kubicarakan.” Dani masuk, menutup pintu di belakangnya, dan duduk di tepi ranjang. Ia melihat album di tangan Jelita. “Ada apa?” Jelita menghela napas panjang, menunjuk foto-foto janggal itu. “Aku menemukan ini. Di dalam album lama ini. Aku tidak pernah melihatnya. Ada Ayah ... bersama Daria dan Sania di tempat yang tidak kukenal. Mereka terlihat ... mencurigakan.” Nada suaranya penuh keraguan dan kecurigaan. “Apa lagi yang mereka sembunyikan? Apakah ada rahasia lain tentang Ayah yang belum kuketahui?” Dani mengambil album itu, matanya menyipit saat meneliti setiap detail foto. Kerutan muncul di dahinya. “Ini memang aneh. Ekspresi mereka ... seperti sedang merencanakan sesuatu.” Ia membalik halaman, melihat tanggal di balik foto yang buram. “Ini jauh sebelum skandal videomu. Jauh sebelum Ayahmu meninggal.” Jelita menunduk. “Aku takut, Dani. Aku sudah lelah dengan semua rahasia dan kebohongan ini. Aku hanya ingin tahu kebenarannya.” Dani menutup album itu, lalu meletakkannya di samping Jelita. Ia menoleh, menatap mata Jelita lekat-lekat. Ada ketulusan yang mendalam di matanya. “Jangan takut, Jelita! Kau tidak sendirian. Kita akan mencari tahu kebenarannya, apa pun itu. Aku janji akan membantumu menyelidiki ini sampai tuntas.” Sentuhan Dani di bahunya, meskipun singkat, terasa begitu menenangkan. Ada kekuatan dalam janjinya, yang membuat Jelita merasa sedikit lebih ringan. Kepercayaan di antara mereka, yang dibangun perlahan dari setiap sentuhan, tatapan, dan kata-kata tulus, kini semakin kokoh. *** Pagi berikutnya, Kakek Wijayanto melihat Dani dan Jelita berbisik-bisik di ruang tamu, dengan album foto lama di antara mereka. Senyum jenaka langsung terukir di wajah keriputnya. “Wah, wah! Pengantin baru, pagi-pagi sudah romantis sekali melihat album foto?” seru Kakek, menghentikan kursi rodanya tepat di hadapan mereka. “Lihat apa itu?” Jelita tersipu malu, sementara Dani hanya menghela napas. Mereka menunjukkan album itu kepada Kakek. Mata tua Kakek menyipit saat melihat foto-foto yang ditunjuk Jelita. Ia mengambil kacamata bacanya dan mendekatkan album itu ke wajahnya. “Hmm ... ini ....” Kakek mengernyitkan dahi. Ia menunjuk salah satu foto. “Ini kan ... gedung lama perusahaan Pratama? Sebelum dia mendirikan PT. Rasa Nusantara.” Ia menunjuk orang-orang di latar belakang. “Beberapa wajah ini juga familiar. Mereka dulu adalah staf keuangan Pratama yang paling dipercayai.” Kakek terdiam sejenak, tampak berpikir keras. “Aku ingat pernah mendengar rumor samar tentang sengketa di perusahaan awal Pratama. Ada desas-desus tentang manipulasi laporan keuangan dan perebutan saham minoritas. Tapi kemudian Pratama tiba-tiba menutup perusahaan itu dan mendirikan PT. Rasa Nusantara dengan modal baru.” Kakek menggelengkan kepala. “Aku tidak pernah tahu detailnya. Pratama selalu diam tentang hal itu.” Informasi dari Kakek Wijayanto adalah petunjuk berharga. Jelita dan Dani saling bertukar pandang. Itu artinya, Daria dan Sania mungkin terlibat dalam lebih banyak hal buruk daripada yang mereka duga, jauh sebelum skandal video. Sementara itu, jauh dari rumah Wijayanto, Beni tersenyum puas di balik layar komputernya. Ia sudah melacak setiap pergerakan Jelita dan Dani. Melihat mereka berdua sibuk dengan album foto lama, ia tahu mereka mulai menggali masa lalu. Ia harus bertindak cepat. Beni mulai menyebarkan rumor baru di beberapa akun media sosial anonim yang ia kelola. Rumor itu menggambarkan Jelita sebagai “penggali kubur” yang serakah, yang tidak puas dengan pernikahannya, dan kini mencoba “mengorek aib orang mati” demi menguasai warisan yang bukan haknya. Pesan-pesan itu disertai hashtag provokatif seperti #JelitaPenggaliHarta dan #AibKeluargaWijayanto. Dalam hitungan jam, rumor itu menyebar seperti api. Komentar-komentar negatif membanjiri laman gosip, menyebut Jelita wanita manipulatif yang hanya mengincar kekayaan. Jelita, yang sesekali memeriksa ponselnya, merasa sangat tertekan. Hinaan dan tuduhan itu terasa menusuk, apalagi kali ini menyeret nama baik ayahnya. Ia menghela napas berat, mencoba menahan air mata. Tekanan sosial ini luar biasa. Namun, di tengah keputusasaannya, ada bara api yang menyala di hatinya. Tekadnya untuk membersihkan nama ayahnya, dan membuktikan dirinya tidak seperti yang mereka katakan, semakin kuat. Melihat Jelita murung dan tertekan oleh rumor di media sosial, kemarahan Dani kembali membuncah. Ia tahu ini ulah Beni, Daria, dan Sania. Dengan informasi dari Kakek Wijayanto sebagai titik awal, Dani segera menghubungi tim investigasi pribadinya. “Aku ingin kalian menyelidiki semua transaksi dan dokumen PT. Pratama Sejahtera,” perintah Dani melalui telepon, menyebut nama perusahaan lama ayah Jelita. “Fokus pada periode sebelum penutupannya. Cari tahu semua pihak yang terlibat, terutama Daria dan Sania. Aku juga ingin kalian menyelidiki semua sengketa atau rumor kecurangan keuangan yang pernah terjadi di sana!” Tim investigasi bergerak cepat. Dalam beberapa hari, Dani menerima laporan awal yang mengonfirmasi kecurigaannya. Ada pola transaksi yang mencurigakan, pengalihan aset, dan penutupan perusahaan yang tergesa-gesa. Daria dan Sania memang tercatat sebagai pemegang saham minoritas di perusahaan itu, dan ada beberapa bukti keterlibatan mereka dalam keputusan keuangan yang merugikan Pratama Santosa. Dani menatap laporan itu dengan serius. Ini bukan hanya tentang Jelita. Ini adalah kejahatan terorganisir yang telah merugikan ayah Jelita dan merusak reputasinya. Meskipun tekanan semakin meningkat, Jelita menemukan kedamaian di dapur. Setelah ia mencoba resep ayam goreng keluarga Wijayanto, ia pun mulai menghabiskan lebih banyak waktu di sana, bereksperimen dengan resep-resep ayam gorengnya. Bau rempah dan aroma ayam yang gurih memberinya rasa nyaman. Ini adalah dunianya, tempat ia bisa menuangkan seluruh energinya, mengubahnya menjadi perlawanan yang nyata. Dani sering menemukannya larut malam di dapur, dengan tangan penuh tepung atau bumbu. Ia tidak banyak bicara, hanya sesekali mengulurkan bantuan. Terkadang, ia hanya duduk di meja, mengamati Jelita bekerja. Ada kekaguman yang tersembunyi di matanya. Ia melihat kegigihan Jelita, semangatnya yang tak padam, dan determinasi untuk bangkit. Suatu malam, Jelita sedang menyiapkan adonan bumbu untuk ayam. Tanpa sengaja, ia menyenggol wadah bumbu bubuk, membuat bumbu itu tumpah dan mengotori mejanya. Jelita menghela napas. “Sini biar kubantu,” kata Dani, tiba-tiba berdiri di sampingnya. Ia mengambil kain lap dan mulai membersihkan meja. Jelita tersenyum tipis. “Terima kasih.” “Ini bentuk perlawanan terbaikmu,” ujar Dani, matanya menatap adonan bumbu. “Bangun bisnismu! Buat mereka bungkam dengan kesuksesanmu.” Kata-kata Dani memberikan kekuatan baru bagi Jelita. Ia tahu Dani tulus mendukungnya. Ini bukan lagi sekadar pernikahan kontrak, ini adalah aliansi. Aliansi yang mulai terasa seperti ... rumah. Di tengah fokus Jelita pada persiapan restoran dan penyelidikan Dani yang semakin intens, laporan baru tiba di meja Dani. Tim investigasinya menemukan sebuah dokumen rahasia yang tersembunyi. Dokumen itu adalah catatan akuntansi tersembunyi dari PT. Pratama Sejahtera yang tidak pernah terungkap dalam audit resmi. Isi dokumen tersebut menunjukkan bukti kuat tentang manipulasi dana dan penggelapan aset yang dilakukan Daria dan Sania, bersama dengan pihak lain yang tidak disebutkan namanya secara langsung, dan melibatkan sejumlah besar uang yang lenyap. Namun, laporan itu juga menyatakan bahwa dokumen asli tersebut tidak berada di tangan timnya. Mereka hanya menemukan salinannya yang sebagian rusak. Dokumen asli itu, menurut sumber mereka, disimpan di sebuah lokasi yang sangat rahasia dan dijaga ketat oleh pihak tak dikenal, seolah-olah menjadi kartu as terakhir yang disembunyikan oleh Daria dan Sania. Dani membaca laporan itu, rahangnya mengeras. Ia akhirnya menemukan kunci untuk mengungkap semua kejahatan mereka. Namun, pertanyaan terbesarnya sekarang adalah: di mana dokumen asli itu berada, dan siapa yang menjaganya? Ia tahu ini akan menjadi pertarungan yang jauh lebih besar dan berbahaya dari yang ia bayangkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD