Cincin berlian itu kini bertengger manis di jari manis kiri Jelita, memantulkan cahaya pagi yang masuk dari jendela kamar. Kilauannya bukan hanya sekadar pantulan cahaya, tetapi juga pantulan dari sedikit kepercayaan diri yang mulai tumbuh di hati Jelita.
Ia memutar-mutar jarinya, sesekali memandanginya, teringat bagaimana Dani dengan canggung namun tulus menyelipkan cincin itu.
Ia seolah masih tak percaya.
Itu adalah kebaikan tak terduga, hadiah yang melampaui segala bentuk kontrak. Hatinya menghangat setiap kali memikirkannya, meskipun ia berusaha keras untuk tidak terlalu berharap. Perasaan baru ini, kecil dan samar, perlahan mulai bersemi.
Suasana rumah pagi itu diwarnai tawa riang Kakek Wijayanto. Ia duduk di kursi rodanya di ruang tengah, sambil menyeruput teh hangat. Ia memperhatikan interaksi Dani dan Jelita yang kini sedikit lebih cair, sesekali bertukar pandang atau tersenyum samar.
“Kakek gembira sekali melihat kalian berdua!” seru Kakek, tiba-tiba. “Kalian harus sering-sering keluar bersama. Biar Kakek tidak kesepian di rumah.”
Dani mengernyit. “Maksud Kakek?”
Kakek Wijayanto menaruh cangkirnya, tangannya melambai ke arah Jelita. “Jelita, sebagai istri yang baik, kau sebaiknya harus belajar memasak. Setidaknya agar suamimu ini tidak terlalu sering makan di luar, menghabiskan waktu di luar sana. Setidaknya kau harus bisa menyajikan beberapa hidangan yang sederhana.”
Kakek Wijayanto tampak berpikir sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya, “Eum ... bagaimana dengan menu ayam panggang dengan bumbu rahasia dari resep keluarga Wijayanto, misalnya? Tapi sepertinya tidak hanya dirimu, Kakek ingin kalian berdua yang mencari bahan-bahannya.”
Jelita pun terkejut dibuatnya. “Tapi, Kek, kami punya asisten yang bisa—”
“Tidak, tidak!” Kakek menggeleng cepat. “Ini misi. Misi ‘bahan-bahan rahasia’. Kakek ingin kalian berdua yang cari. Pastikan kalian menemukan ramuan rahasia yang tepat! Kalian harus pergi ke pasar tradisional, pasar yang ramai, tempat Kakek dulu sering berbelanja. Rasakan sendiri sensasinya! Pasti romantis, kan, Dani?” Kakek menyeringai jenaka, menyikut Dani pelan.
Dani memijat pelipisnya. Ide Kakek memang selalu unik dan sulit ditolak. “Baik, Kek,” jawab Dani pasrah. Jelita hanya bisa menahan senyum geli.
Siang harinya, Dani dan Jelita sudah berada di tengah hiruk pikuk pasar tradisional. Dani mengenakan kemeja kasual dan Jelita memakai celana kain sederhana, berusaha membaur. Namun, aura mereka yang berbeda tetap menarik perhatian. Kakek telah memberi mereka daftar belanjaan yang aneh dan spesifik: jahe merah dari gunung, kunyit yang baru dipanen, dan beberapa rempah yang namanya sulit dilafalkan.
“Ini jahe merah atau jahe biasa, sih?” gumam Dani, memegang sepotong jahe dengan ekspresi bingung. Ia terlihat canggung di tengah keramaian.
Jelita tertawa kecil. “Itu jahe biasa, Dani. Jahe merah warnanya lebih gelap dan aromanya lebih kuat.” Ia menjelaskan dengan sabar, menunjukkan perbedaan antara rempah-rempah. Dani memandang Jelita, terkejut dengan pengetahuannya.
Mereka berpindah dari satu lapak ke lapak lain, tawar-menawar harga dengan canggung, dan sesekali salah mengambil barang.
Dani mencoba membantu, tapi justru malah membuat kekacauan kecil. Ia tak sengaja menjatuhkan sekeranjang bawang merah, membuat mereka berdua harus berjongkok untuk memungutnya. Kepala mereka hampir berbenturan, dan tawa tulus keluar dari bibir Jelita. Dani tersenyum tipis, ikut tertawa kecil. Ini adalah tawa yang lebih santai dari yang pernah Jelita dengar darinya.
Saat mereka beranjak dari lapak sayur, tiba-tiba seorang pedagang membawa gerobak sayuran dengan cepat. Jelita yang sedang sibuk memilah rempah di sebuah lapak kecil di sisi jalan, tidak menyadarinya. Gerobak itu pun meluncur ke arahnya.
Dani secara spontan mengulurkan tangan, menarik lengan Jelita dengan cepat, menariknya menjauh dari jalur gerobak. Tubuh Jelita terhuyung, bersandar pada d**a Dani sesaat. Aroma tubuh Dani yang maskulin, bercampur aroma rempah pasar, menyergap indra penciuman Jelita. Jantungnya berdegup kencang, begitu pula Dani. Kontak fisik singkat itu terasa begitu nyata, begitu kuat.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Dani, suaranya sedikit serak.
Jelita mengangguk, masih terkejut. Ia mengangkat kepalanya, menatap mata Dani. Untuk sesaat, dunia di sekitar mereka seolah berhenti. Hanya ada mereka berdua, detak jantung yang berpacu, dan perasaan yang membingungkan. Perasaan yang jelas-jelas melampaui kontrak. Dani merasakan dorongan aneh untuk memeluk Jelita lebih erat, sementara Jelita merasakan pipinya memerah.
Tak jauh dari mereka, di balik kerumunan, Beni mengamati dengan ponsel di tangan. Ia berhasil mengambil beberapa foto Dani yang menarik Jelita, dan tawa mereka di pasar. Senyum sinis terukir di bibirnya.
“Mainan baru, ya?” gumam Beni. “Lihat saja seberapa lama mainan itu bisa bertahan. Aku akan tunjukkan seberapa busuk kalian sebenarnya.”
Ia sudah mulai mengorek-ngorek masa lalu keluarga Wijayanto. Rumor lama tentang sengketa tanah atau kecurangan bisnis Kakek Wijayanto puluhan tahun lalu. Jika ia bisa menemukan sesuatu yang cukup besar, itu akan merusak reputasi mereka di mata publik, dan menghancurkan Jelita bersama mereka.
Beni puas dengan hasil pengawasannya hari ini. Foto-foto kebersamaan “romantis” Dani dan Jelita di pasar bisa menjadi bahan bakar untuk rumor baru yang ia siapkan.
Setelah misi belanja yang sukses, atau setidaknya lucu, Jelita kembali ke rumah dengan perasaan campur aduk. Ia masih memikirkan sentuhan tangan Dani, dan degup jantungnya sendiri. Apakah ini normal? Apakah ini bagian dari sandiwara?
Malam itu, setelah Dani kembali ke ruang kerjanya, Jelita menemukan sebuah kotak kado kecil di ambang pintu kamarnya. Tidak ada nama pengirim, hanya pita merah muda yang terikat rapi. Ia mengernyitkan dahi, merasa sedikit cemas, namun juga penasaran.
Dengan hati-hati, Jelita membuka kado itu. Di dalamnya, sebuah album foto lama yang terlihat usang dan wangi kertas tua. Ini bukan ancaman, melainkan sesuatu yang sangat personal. Ia mengenali album itu; itu adalah album foto masa kecilnya bersama mendiang ayahnya. Air matanya hampir menetes melihat foto-foto ayahnya yang tersenyum hangat.
Namun, saat ia membalik beberapa halaman, senyumnya memudar. Ada beberapa foto yang janggal. Foto-foto mendiang ayahnya bersama sosok Daria dan Sania di sebuah lokasi yang tidak ia kenali, mungkin sebuah kantor lama atau pabrik. Ekspresi mereka di foto itu ... terlihat mencurigakan. Ada yang sedang berbisik-bisik sambil melihat dokumen, ada yang tersenyum licik, dan ada pula yang terlihat sedang berdebat sengit. Ayahnya terlihat lelah dan stres di beberapa foto tersebut.
Jantung Jelita berdegup kencang. Ia tidak pernah melihat foto-foto ini sebelumnya. Ini bukan kenangan yang ia miliki. Ada apa ini? Apakah ini berhubungan dengan masa lalu ayahnya, yang ia pikir sudah ia ketahui semuanya?
Jelita memegang erat album itu, matanya terpaku pada ekspresi mencurigakan Daria dan Sania di foto. Sebuah pertanyaan besar mengusik benaknya: Apa lagi yang tidak ia ketahui tentang masa lalu ayahnya dan hubungannya dengan dua wanita itu?